Pertanyaan : Apabila seorang
wanita telah suci dari haidh-nya setelah adzan ‘Ashr. Apa yang wajib dia
lakukan? Apakah dia cukup shalat ‘Ashr saja?
Asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri hafizhahullah menjawab :
Dia hanya mengerjakan shalat untuk waktu
yang dia suci padanya, meskipun (dia suci) pada akhir waktunya. Inilah
yang ditunjukkan oleh hadits Mu’adzah bintu ‘Abdillah al-’Adawiyyah
al-Bashriyyah, ketika dia bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
(مَا
بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ فَقَالَتْ:
أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي
أَسْأَلُ، قَالَتْ: كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ
الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ)
“Kenapa wanita haidh wajib mengqadha’ puasa namun tidak mengqadha’ shalat?”
Maka ‘Aisyah bertanya, “Apakah kamu berasal dari kelompok Haruriyyah?”
Dia (Mu’adzah) menjawab, “Aku bukan Haruriyyah. Namun aku benar-benar bertanya.”
‘Aisyah menjawab, “Dulu haidh menimpa
kami, maka demikianlah kami diperintah untuk mengqadha’ puasa dan kami
tidak diperintah untuk mengqadha’ shalat.”
Hadits ini, dengan keumuman makna, “kami tidak diperintah untuk mengqadha’ shalat.” merupakan
dalil bahwa seorang wanita tidak wajib mengqadha’ shalat yang telah
terlewatkan (tidak dikerjakan) dalam masa-masa haidh. Dia hanya wajib
mengerjakan shalat untuk waktu yang dia suci padanya.
Sebagian ‘ulama lainnya berpendapat :
Apabila seorang wanita telah suci pada waktu shalat manapun, maka dia
wajib mengerjakan shalat untuk waktu itu dan shalat yang bisa dijamak
dengannya. Maknanya, apabila dia suci pada waktu ‘Ashr, maka dia wajib
shalat Zhuhur dan ‘Ashar secara jama’. Demikian pula, apabila dia suci
pada waktu ‘Isya’, maka dia wajib shalat Maghrib dan ‘Isya’. Namun
pendapat ini lemah, berdasarkan hadits Mu’adzah di atas.
Sumber : http://ar.miraath.net/fatwah/8535
http://miratsul-anbiya.net/2014/06/04/apabila-suci-setelah-adzan-ashr-apakah-hanya-shalat-ashr-saja/
Review / Koreksi