Beberapa Bentuk Dzikir Tasbih, Tahmid, Takbir Setelah Sholat
Di Tulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ
وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا
وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ
وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ
وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu-
dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam: Barangsiapa yang bertasbih
selesai sholat 33 kali dan bertahmid 33 kali dan bertakbir 33 kali, itu
adalah 99, dan disempurnakan menjadi 100 dengan (ucapan) Laa Ilaaha
Illallaahu wahdahu laa syariika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa
‘alaa kulli syai-in qodiir, akan diampuni dosa-dosanya meski sebanyak
buih di lautan (H.R Muslim)
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ الْفُقَرَاءُ إِلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ
الدُّثُورِ مِنْ الْأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَا وَالنَّعِيمِ
الْمُقِيمِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَلَهُمْ
فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا وَيَعْتَمِرُونَ وَيُجَاهِدُونَ
وَيَتَصَدَّقُونَ قَالَ أَلَا أُحَدِّثُكُمْ إِنْ أَخَذْتُمْ أَدْرَكْتُمْ
مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ وَكُنْتُمْ خَيْرَ
مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ إِلَّا مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ
تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا
وَثَلَاثِينَ فَاخْتَلَفْنَا بَيْنَنَا فَقَالَ بَعْضُنَا نُسَبِّحُ
ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَنَحْمَدُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَنُكَبِّرُ
أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ تَقُولُ سُبْحَانَ
اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ حَتَّى يَكُونَ مِنْهُنَّ
كُلِّهِنَّ ثَلَاثًا وَثَلَاثِين
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu-
beliau berkata: orang-orang faqir datang kepada Nabi shollallahu alaihi
wasallam kemudian berkata: Orang-orang kaya yang banyak harta telah
pergi mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka
sholat sebagaimana kami sholat, berpuasa sebagaimana kami puasa, dan
mereka memiliki kelebihan harta. Mereka berhaji dan umrah, berjihad dan
bershodaqoh. Nabi bersabda: Maukah kalian aku tunjukkan (suatu amalan)
jika kalian lakukan akan mencapai orang-orang yang mendahului kalian,
dan kalian tidak akan dicapai oleh orang-orang setelah kalian dan kalian
adalah yang terbaik, kecuali jika ada yang beramal semisal dengan itu?
Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir selesai sholat 33 kali. Maka
kami berselisih di antara kami. Sebagian kami ada yang menyatakan:
bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali dan bertakbir 34 kali, kemudian
kami kembali kepadanya, maka ia berkata: engkau mengucapkan subhaanallah
walhamdulillah wallaahu akbar 33 kali (H.R al-Bukhari no 798 dan Muslim
no 936)
عَنْ
كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ مُعَقِّبَاتٌ لَا يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ أَوْ فَاعِلُهُنَّ
دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ ثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَسْبِيحَةً
وَثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ تَحْمِيدَةً وَأَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ تَكْبِيرَةً
Dari Ka’ab bin Ujroh –radhiyallahu anhu-
dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam beliau bersabda:
Ucapan-ucapan yang dibaca selesai sholat, tidaklah merugi orang yang
membacanya atau mengamalkannya, setiap selesai sholat wajib membaca
tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali (H.R Muslim no 937 dan
938)
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ
بِالدَّرَجَاتِ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ قَالَ كَيْفَ ذَاكَ قَالُوا
صَلَّوْا كَمَا صَلَّيْنَا وَجَاهَدُوا كَمَا جَاهَدْنَا وَأَنْفَقُوا مِنْ
فُضُولِ أَمْوَالِهِمْ وَلَيْسَتْ لَنَا أَمْوَالٌ قَالَ أَفَلَا
أُخْبِرُكُمْ بِأَمْرٍ تُدْرِكُونَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ وَتَسْبِقُونَ
مَنْ جَاءَ بَعْدَكُمْ وَلَا يَأْتِي أَحَدٌ بِمِثْلِ مَا جِئْتُمْ بِهِ
إِلَّا مَنْ جَاءَ بِمِثْلِهِ تُسَبِّحُونَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ
عَشْرًا وَتَحْمَدُونَ عَشْرًا وَتُكَبِّرُونَ عَشْرًا
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- :
Para Sahabat berkata: Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah pergi
dengan derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Nabi bertanya:
Bagaimana itu? Para Sahabat berkata: mereka sholat sebagaimana kami
sholat, berjihad sebagaimana kami jihad, dan mereka berinfaq dengan
kelebihan hartanya sedangkan kami tidak memiliki harta. Nabi bersabda:
Maukah kalian aku khabarkan dengan (suatu amalan) yang dengan itu kalian
bisa mencapai orang-orang sebelum kalian dan kalian bisa melampaui
orang-orang sebelum kalian, tidak ada orang lebih utama kecuali jika
mengamalkan seperti yang kalian amalkan? (yaitu) kalian bertasbih
setelah selesai sholat 10 kali, bertahmid 10 kali dan bertakbir 10 kali
(H.R al-Bukhari no 5854).
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ خَصْلَتَانِ أَوْ خَلَّتَانِ لَا يُحَافِظُ عَلَيْهِمَا
عَبْدٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ
بِهِمَا قَلِيلٌ يُسَبِّحُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا وَيَحْمَدُ
عَشْرًا وَيُكَبِّرُ عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ بِاللِّسَانِ
وَأَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ وَيُكَبِّرُ أَرْبَعًا
وَثَلَاثِينَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ وَيَحْمَدُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ
وَيُسَبِّحُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَذَلِكَ مِائَةٌ بِاللِّسَانِ وَأَلْفٌ
فِي الْمِيزَانِ فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهَا بِيَدِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ
كَيْفَ هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ قَالَ يَأْتِي
أَحَدَكُمْ يَعْنِي الشَّيْطَانَ فِي مَنَامِهِ فَيُنَوِّمُهُ قَبْلَ أَنْ
يَقُولَهُ وَيَأْتِيهِ فِي صَلَاتِهِ فَيُذَكِّرُهُ حَاجَةً قَبْلَ أَنْ
يَقُولَهَا
Dari Abdullah bin Amr dari Nabi
shollallahu alaihi wasallam beliau bersabda: Ada dua hal yang tidaklah
seorang hamba muslim menjaganya kecuali ia akan masuk surga. Keduanya
adalah ringan tapi yang mengamalkannya sedikit, yaitu: bertasbih setelah
selesai sholat 10 kali, bertahmid 10 kali, bertakbir 10 kali. Itu
adalah 150 di lisan dan 1500 di timbangan. Dan ketika akan tidur di
pembaringannya membaca takbir 34 kali, tahmid 33 kali dan tasbih 33
kali. Itu adalah 100 di lisan dan 1000 di timbangan.(Abdullah bin Amr
berkata) Aku melihat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menghitung
dengan jarinya. (Para Sahabat bertanya): Wahai Rasulullah bagaimana
amalan itu disebut ringan dan yang mengamalkannya sedikit? Beliau
bersabda: syaithan mendatangi kalian pada saat akan tidur dan menidurkan
kalian sebelum mengucapkan kalimat itu dan syaithan mendatangi kalian
pada waktu sholat dan mengingatkan dengan keperluannya sebelum (sempat)
ia mengucapkan dzikir itu (H.R Abu Dawud dan Ahmad, dinyatakan sanadnya
shahih oleh anNawawy dan dishahihkan al-Albany)
عَنْ
زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أُمِرْنَا أَنْ
نُسَبِّحَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَنَحْمَدَهُ
ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَنُكَبِّرَهُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ قَالَ فَرَأَى
رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فِي الْمَنَامِ فَقَالَ أَمَرَكُمْ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُسَبِّحُوا فِي دُبُرِ
كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَتَحْمَدُوا اللَّهَ ثَلَاثًا
وَثَلَاثِينَ وَتُكَبِّرُوا أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ قَالَ نَعَمْ قَالَ
فَاجْعَلُوا خَمْسًا وَعِشْرِينَ وَاجْعَلُوا التَّهْلِيلَ مَعَهُنَّ
فَغَدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَدَّثَهُ
فَقَالَ افْعَلُوا
dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu
beliau berkata: Kami diperintah untuk bertasbih selesai sholat 33 kali
bertahmid 33 kali bertakbir 34 kali. Kemudian seorang (Sahabat) dari
kalangan Anshar bermimpi ada pihak yang berkata: Apakah Rasulullah
shollallahu alaihi wasallam memerintahkan kalian agar selesai sholat
bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali dan bertakbir 34 kali. Ia berkata:
Ya. Pihak itu berkata: Jadikanlah hitungannya 25 kali dan tambahkanlah
bacaan tahlil (25 kali juga). Pagi harinya Sahabat yang bermimpi itu
menyampaikan mimpinya kepada Nabi dan beliau bersabda: Kerjakanlah (H.R
atTirmidzi, anNasaai dishahihkan Ibnu Hibban dan disepakati oleh
al-Albany)
(dikutip dari buku ‘Fiqh Bersuci dan Sholat’, Abu Utsman Kharisman)
WA al-I’tishom
Review / Koreksi