FATWA ULAMA TENTANG SALON DAN RIAS PENGANTIN WANITA
diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
السؤال
الثالث من الفتوى رقم ( 9499 ) س: ما حكم الإسلام في عروس تزينت في
الكوافير؟ ج: لا يجوز؛ لما في الذهاب إليها من الإسراف والتبذير، واحتمال
وقوع ما لا تحمد عقباه، مما يفسد الأخلاق. وبالله التوفيق، وصلى الله على
نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
Pertanyaan yang ke-3 pada fatwa no 9499:
Pertanyaan: Apakah hukum Islam tentang pengantin yang dirias di salon?
Jawab:
Tidak diperbolehkan. Karena pergi ke
tempat tersebut termasuk bagian berlebih-lebihan dan pemborosan, dan
adanya kemungkinan terjatuh pada sesuatu yang tidak terpuji akibatnya,
yang bisa merusak akhlak. Wa billaahit taufiq. Wa shollallahu ala
Nabiyyinaa Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam. Al-Lajnah
ad-Daaimah lil Buhuuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz
Wakil : Abdurrozzaq Afiifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
الفتوى
رقم ( 16965 ) س : إنني فتحت كوافير للسيدات ، ويشهد علي الله بأنني لم
أنمص الحواجب ، ولم أصل الشعر ، حتى الصبغات ، ولكن الآن أزين العرائس
المحجبات والمتبرجات ، وبعض الأخوات قالوا : إن تزيين العروسة المتبرجة
حرام ، وأنا يا أخي في عذاب الضمير والخوف من الله ، وذهبت إلى بعض الإخوة
في فارسكور البعض قال : هذا حرام وعليك أن تزيني العروسة المحجبة ، والبعض
الآخر قال : ليس حرام ، لأنك تزيني العروسة لزوجها . ج : فتح محلات لعمل
(الكوافير) للنساء لا يجوز ؛ لما يفضي إليه من الإسراف والتبذير ، ووقوع ما
لا تحمد عاقبته مما يفسد الأخلاق ، ويوقع في التشبه بالكفار ، وأما إذا
كانت المرأة سافرة متبرجة أمام الأجانب فهذا زيادة في الإثم ، وارتكاب ما
حرم الله ورسوله صلى الله عليه وسلم ، فعليك بالتماس عمل بديل ، والله أعلم
. وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم . اللجنة
الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء عضو … عضو … عضو … عضو … الرئيس بكر أبو
زيد … عبد العزيز آل الشيخ … صالح الفوزان … عبد الله بن غديان … عبد
العزيز بن عبد الله بن باز
Fatwa no 16965 Pertanyaan:
Sesungguhnya saya membuka salon untuk
wanita. Dan Allah bersaksi untuk saya bahwa saya tidak mencabut bulu
alis, menyambung rambut, dan tidak mewarnai (rambut). Akan tetapi saya
sekarang merias pengantin baik yang berhijab maupun yang mutabarrijah
(berhias membuka wajah dan rambutnya,pent).
Sebagian saudara-saudara wanita
menyatakan: Sesungguhnya merias pengantin yang tidak berhijab adalah
haram. Dan saya wahai saudaraku merasa tersiksa batin saya dan takut
kepada Allah. Saya pergi ke sebagian ikhwah di Farsakur (sebuah daerah
di Mesir, pent).
Sebagian mereka menjawab : Hal itu haram
bagimu. Hendaknya engkau merias wanita yang berhijab (saja). Sebagian
menyatakan: Itu tidak haram, karena engkau merias pengantin untuk
suaminya. Jawab: Membuka salon untuk wanita tidak boleh. Karena hal itu
membawa pada sikap berlebih-lebihan dan pemborosan. Dan bisa terjatuh ke
dalam keadaan yang tidak terpuji akibatnya dan hal-hal yang merusak
akhlak. Dan terjatuh ke dalam sikap tasyabbuh kepada orang-orang kafir.
Sedangkan jika wanita (yang dirias)
adalah wanita yang tidak tertutup wajahnya dan berhias di hadapan
laki-laki yang asing (bukan mahram, pent), itu adalah tambahan dalam
dosa, dan terjatuh pada hal yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya
shollallahu alaihi wasallam. Hendaknya anda mencari pekerjaan lain
sebagai gantinya. Wallaahu A’lam. Wa billaahit Taufiq. Wa shollallahu
ala Nabiyyinaa Muhammad wa Aalihi wa shobihi wa sallam. Al-Lajnah
ad-Daaimah lil Buhuuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz
Wakil : Abdullah bin Ghudayyan
Anggota: Sholih al-Fauzan, Abdul Aziz Aalusy Syaikh, Bakr Abu Zaid Fatwa Syaikh Ibn Utsaimin:
[
السؤال ] ما حكم ذهاب النساء إلى (الكوافير) مع العلم أن بعضهن يشبهها
بالماشطة التي كانت على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ الجواب: إذا كان
التحسين تحسيناً جائزاً فلا بأس به، وهذا هو المشط الذي كان على عهد
الرسول عليه الصلاة والسلام. وإن كان محرماً فلا يجوز، فمثلاً: إذا كانت
تنقش بالمنقاش شعر الوجه فهذا حرام، بل ومن كبائر الذنوب؛ لأن النبي صلى
الله عليه وسلم لعن النامصة والمتنمصة؛ والنمص: نتف شعر الوجه، ولكن نقول:
نتف شعر الوجه هذا أمرٌ معروف أنه نمص، لكن أحياناً يظهر للمرأة في محل
الشارب شعر حتى يخضر شاربها في بعض الأحيان، فمثل هذه لا بأس أن تزيله
بالأدهان المعروفة التي تزيل الشعر. أما بقية الجسم فإن أخذ شعره محل نظر،
فمن العلماء من قال: لا يجوز؛ لأن هذا داخلٌ في قول الله تعالى عن الشيطان:
وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ [النساء:119]، ومنهم من
أباح ذلك، وذلك أن الأخذ من الشعر ينقسم إلى ثلاثة أقسام: قسم مأمور به،
وقسم منهيٌ عنه، وقسم مسكوتٌ عنه. قسم مأمورٌ به: مثل العانة والإبط
والشارب، هذا مأمور بإزالته، لكن الشارب يقص قصاً ولا يحلق حلقاً؛ لأن حلق
الشارب تشويه، حتى إن بعض العلماء قال: ينبغي أن يؤدب فاعله، أما قصه وحفه
فهذا من السنة، الإبط يسن فيه النتف، العانة يسن فيها الحلق، هذه ثلاثة
شعور مأمور بإزالتها، أو تخفيفها بالنسبة للشارب. قسم آخر منهيٌ عنه: وهو
اللحية، منهيٌ عنها، يحرم على الإنسان أن يحلق لحيته، والعجب الذي لا ينقضي
أنك ترى كثيراً من المسلمين اليوم يحلقون لحاهم مع أن إعفاء اللحية هدي
من؟ هدي الرسل عليهم الصلاة والسلام، فها هو رسول الله صلى الله عليه وسلم
له لحية كثة، وها هو هارون قال لموسى: يَا ابْنَ أُمَّ لا تَأْخُذْ
بِلِحْيَتِي وَلا بِرَأْسِي [طه:94] وحلق اللحية هدي من؟ هدي المجوس
والمشركين، فيا سبحان الله! أنت مؤمن بالله ورسوله أتفضل هدي المجوس
والمشركين على هدي سيد المرسلين؟!! لا والله، ولهذا ننصح إخواننا بالكف عن
هذا العمل الذي يعلن الإنسان فيه مخالفته لله ولرسوله، لأن اللحية في
الوجه، كل إنسان يلاقيك وهو حالقٌ لحيته يقول: أشهدك أني قد خالفت الرسول
-أعوذ بالله- وهذا خطير خطيرٌ جداً، فحلق اللحية حرام. ومن ذلك أيضاً ما
أشرنا إليه: النمص: وهو نتف شعر الوجه، هذا من المحرم. بقي علينا المسكوت
عنه كشعر الذراع وشعر الصدر وشعر الساق هذا مسكوت عنه، فمن العلماء من
يقول: إنه لا بأس بأخذه؛ لأن ما سكت الله عنه ورسوله فهو عفو. ومنهم من
قال: إنه يكره، ومنهم من قال: يحرم؛ لأنه من تغيير خلق الله، ولكني أرى أن
الأولى ألا يأخذه إلا إذا كان مشوهاً، لكن كثرة الشعر في الرجال رجولة، أما
في النساء ربما يكون مشوهاً للمرأة، فالرجل لا يحب أن يرى امرأته وعليها
شعرٌ كثير في الساق والذراع فتخففه ولا بأس. والكوافير إذا كانت تنمص فهذا
حرام، وإذا كانت كان لا تنمص ينظر: هل أجرتها بقدر عملها أو أكثر؟ فإن كان
أكثر فيكون هذا من الإسراف. وليُعلم أن العروس الحسنة ألقى الله المحبة
بينها وبين زوجها فهي لا تحتاج إلى كوافير، وإن كانت الأخرى فهي لو تُجمل
أجمل تجميل ما نفعها ذلك، ونسأل الله أن يجمع بين العروسين على كل خير، وأن
يوفق الجميع لما فيه الخير والصلاح ( دروس وفتاوى الحرم المدني لابن
عثيمين (1-190)
Pertanyaan: Apakah hukum para wanita
pergi ke salon yang sebagian mereka menyamakan hal itu dengan orang yang
menyisir (rambut) yang ada di masa Rasulullah shollallahu alaihi
wasallam.
Jawaban:
Jika upaya mempercantik itu dengan cara
yang boleh, maka yang demikian tidak mengapa. Seperti menyisir yang ada
di masa Rasulullah alaihis sholaatu wassalaam. Jika caranya haram, maka
tidak boleh. Contoh: mencabut rambut wajah. Ini adalah haram. Bahkan
termasuk dosa besar. Karena Nabi shollallahu alaihi wasallam melaknat
wanita yang mencabut bulu wajah dan wanita yang meminta dicabutkan bulu
wajahnya. Akan tetapi kita katakan: mencabut bulu wajah adalah sesuatu
yang dikenal dengan anNamsh (itu yang tidak diperbolehkan).
Kadangkala pada seorang wanita muncul
rambut di tempat kumis, hingga banyak kumisnya pada sebagian waktu. Yang
demikian ini tidak mengapa dihilangkan dengan minyak yang sudah
dikenal, yang bisa menghilangkan rambut. Sedangkan bagian tubuh yang
lain, apakah boleh diambil rambutnya, dalam hal ini perlu dilihat
(dikaji). Sebagian Ulama ada yang menyatakan: tidak boleh, karena ini
termasuk dalam firman Allah Taala tentang Syaithan (yang berkata):
dan sungguh-sungguh aku akan perintahkan mereka (manusia) hingga mereka benar-benar merubah ciptaan Allah (anNisaa’: 119).
Sebagian Ulama ada yang membolehkan hal
itu. Karena mengambil rambut itu (hukumnya) ada 3 macam: Macam yang
diperintahkan (untuk diambil), macam yang dilarang, dan macam yang
didiamkan.
Macam yang diperintahkan: contohnya bulu
kemaluan, bulu ketiak, dan kumis. Ini diperintahkan untuk dihilangkan.
Akan tetapi, kumis dipotong bukan dicukur. Karena mencukur (habis) kumis
menyebabkan wajah terlihat buruk. Bahkan sebagian Ulama menyatakan:
orang yang mencukur (habis) kumisnya hendaknya dita’diib (dihukum agar
beradab). Adapun memotongnya, maka ini adalah Sunnah. Bulu ketiak
sunnahnya dicabut. Bulu kemaluan sunnahnya dicukur. Ini adalah 3 rambut
yang diperintahkan untuk dihilangkan, atau dikurangi (jumlahnya) seperti
kumis. Macam yang lain adalah yang terlarang (untuk diambil): yaitu
jenggot (bagi laki-laki). Ini dilarang. Haram bagi seorang manusia untuk
mencukur jenggotnya. Yang mengherankan adalah anda melihat kebanyakan
manusia dari kalangan kaum muslimin hari ini mencukur jenggot mereka.
Padahal membiarkan tumbuhnya jenggot adalah petunjuk siapa? Petunjuk
Rasul alaihimus sholaatu was salaam. Rasul shollallahu alaihi wasallam
memiliki jenggot yang lebat. (Nabi) Harun berkata kepada Musa: Wahai
putra ibuku, janganlah engkau memegang jenggot dan kepalaku (Q.S Thoha:
94).
Mencukur jenggot itu petunjuk siapa?
Petunjuknya kaum Majusi dan musyrikin! Subhaanallah! Anda beriman kepada
Allah dan RasulNya, apakah mendahulukan petunjuk Majusi dan musyrikin
di atas petunjuk Sayyidul Mursalin (pemukanya para Rasul)? Tidak, demi
Allah. Karena itu, kami nasehatkan kepada saudara kami agar berhenti
dari perbuatan ini (mencukur jenggotnya) yang merupakan bentuk
terang-terangan menyelisihi Allah dan RasulNya. Karena jenggot itu di
wajah. Setiap manusia yang bertemu dengan anda dan dia mencukur
jenggotnya, (seakan-akan) ia mengatakan: aku mempersaksikan anda bahwa
aku telah menyelisihi Rasul! – A’udzu billah- ini adalah sangat sangat
berbahaya! Mencukur jenggot adalah haram. Termasuk yang demikian juga
(rambut tubuh yang tidak boleh diambil) adalah apa yang telah kami
isyaratkan (sebelumnya) yaitu anNamsh yaitu mencabut bulu wajah. Ini
haram.
Tersisa bagi kita (macam ketiga yaitu)
sesuatu yang didiamkan (tidak dilarang atau diperintah syariat untuk
menghilangkannya, pent). Seperti rambut tangan, rambut dada, rambut
betis. Ini adalah yang didiamkan. Sebagian Ulama ada yang menyatakan:
sesungguhnya tidak mengapa mengambilnya. Karena yang didiamkan oleh
Allah dan RasulNya adalah sesuatu yang dimaafkan. Sebagian Ulama ada
yang menyatakan: Itu makruh. Sebagian menyatakan: haram. Karena termasuk
merubah penciptaan Allah. Akan tetapi saya melihat bahwasanya yang
lebih utama adalah jangan mengambilnya kecuali jika hal itu memperburuk
tampilan. Namun, banyaknya rambut pada laki-laki menampakkan sisi
maskulin. Sedangkan pada wanita mungkin hal itu memperburuk tampilannya.
Laki-laki tidak suka jika melihat wanita yang banyak rambutnya di
betis, tangan, maka yang demikian mengurangi jumlahnya tidak mengapa.
Salon-salon kecantikan jika mencabut
bulu wajah (alis) maka yang demikian haram. Jika tidak mencabut bulu
wajah, maka dilihat: apakah upahnya sesuai kadarnya dengan pekerjaannya
atau lebih banyak? Jika lebih banyak, maka ini termasuk isroof
(berlebih-lebihan). Dan yang perlu diketahui adalah bahwa pada
pernikahan yang baik Allah memberikan perasaan cinta antara kedua
mempelai, tidak butuh untuk ke salon. Kalau seandainya tidak ada
perasaan cinta itu, seandainyapun diperindah tampilannya itu tidak akan
memberikan manfaat. Kami meminta kepada Allah untuk menggabungkan setiap
pengantin dalam kebaikan. Dan agar Allah memberikan taufiq kepada
semuanya kepada hal-hal baik (Duruus wa Fataawa al-haram al-madaniy
libni Utsaimin (1/190))
Syaikh Sholih al-Fauzan hafidzhahullah menyatakan:
خلق
الله سبحانه شعر رأس المرأة جمالاً وزينة لها، وحرم عليها حلقه؛ إلا
لضرورة، بل شرع لها في الحج أو العمرة أن تقص من رؤوسه قدر أنملة، في حين
إنه شرع للرجل حلقه في هذين النسكين، مما يدل على أنه مطلوب من المرأة
توفير شعرها وعدم قصه؛ إلا لحاجة غير الزينة، كأن يكون بها مرض تحتاج معه
إلى القص، أو تعجز عن مؤنته لفقرها، فتخفف منه بالقص؛ كما فعل بعض أزواج
النبي صلى الله عليه وسلم بعد موته . أما إذا قصته من باب التشبه بالكافرات
والفاسقات؛ فلا شك في تحريم ذلك، ولو كثر ذلك بين نساء المسلمين، مادام أن
أصله التشبه؛ فإنه حرام، وكثرته لا تبيحه؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : (
من تشبه بقوم؛ فهو منهم )
Allah Yang Maha Suci menciptakan rambut
wanita sebagai keindahan dan perhiasan baginya. Diharamkan untuk
memotongnya kecuali karena darurat. Bahkan disyariatkan dalam haji dan
umroh untuk memotong rambut kepalanya seukuran ujung jari (saja).
Padahal dalam keadaan itu disyariatkan bagi laki-laki untuk mencukur
rambutnya pada dua manasik ini. Itu menunjukkan bahwa yang diharapkan
bagi wanita adalah memperbanyak rambutnya dan tidak memotongnya. Kecuali
untuk suatu keperluan yang bukan dalam rangka berhias. Misalkan karena
sakit, sehingga butuh untuk dicukur. Atau karena berat menyangga
bebannya karena kelemahannya. Maka yang demikian bisa dikurangi
rambutnya dengan dipotong. Sebagaimana yang dilakukan sebagian istri
Nabi sepeninggal beliau. Adapun kalau ia memotongnya dengan tujuan
menyerupai para wanita kafir dan fasiq, tidak diragukan lagi
keharamannya. Meskipun hal itu banyak dilakukan wanita muslimah. Selama
asalnya adalah tasyabbuh, maka itu haram. Banyaknya orang yang
melakukannya tidaklah menyebabkannya menjadi boleh. Berdasarkan sabda
Rasulullah sholllahu alaihi wasallam : Barangsiapa yang menyerupai suatu
kaum, maka mereka bagian dari kaum itu (al-Muntaqo min Fataawa
al-Fauzan (61/10)).
Syaikh Sholih al-Fauzan juga menyatakan:
وكذا
لا يجوز المغالاة بتكاليف تسريحه، والذهاب إلى الكوافير التي ربما يكون
العاملون فيها من الرجال أو النساء الكافرات، وإنما تصلح المرأة شعرها في
بيتها؛ لأن ذلك أستر لها وأيسر تكلفة
Demikian juga tidak boleh berlebihan
dalam mengurai rambut, dan pergi ke salon yang bisa saja pekerjanya
adalah laki-laki atau wanita kafir. Wanita (muslimah) seharusnya
memperbaiki keadaan rambutnya di rumahnya karena yang demikian lebih
tertutup baginya dan lebih mudah (al-Muntaqo min Fataawa al-Fauzan
(61/9))
Review / Koreksi