HUKUM-HUKUM TERKAIT MASJID
Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
Masjid adalah tempat yang dikhususkan
untuk pelaksanaan sholat. Tempat yang dimulyakan dengan pelaksanaan
ibadah, dzikir, baca al-Quran dan kajian ilmu Islam. Berikut ini adalah
hukum dan adab-adab terkait dengan masjid.
Tidak Berbuat Kesyirikan di Dalamnya
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
Dan sesungguhnya masjid-masjid
adalah hanya milik Allah, maka janganlah berdoa (beribadah) bersamaan
dengan kepada Allah juga kepada yang lainnya (Q.S al-Jin:18)
Adab yang paling awal dan harus
diutamakan di dalam masjid adalah mentauhidkan Allah. Tidak
mensekutukanNya dengan suatu apapun. Larangan mensekutukan Allah
bersifat umum, baik di masjid maupun di luar masjid. Namun, di masjid
lebih ditekankan lagi, karena itu adalah rumah Allah.
Janganlah seseorang berdoa di masjid kepada selain Allah, misalkan kepada arwah (ruh orang yang sudah meninggal) dengan ucapan: Wahai fulaan, tolonglah aku….engkaulah penolongku. Dengan bahasa apa saja, baik bahasa Arab ataupun yang lain.
Tidak Boleh Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid
لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
Laknat Allah terhadap orang Yahudi
dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para Nabi-Nabi mereka sebagai
masjid (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah dan Ibnu Abbas)
عَنْ
عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ
ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ
فَذَكَرَتَا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ
أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى
قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ فَأُولَئِكَ
شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari Aisyah –radhiyallahu anha-
Ummul Mukminin bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah keduanya menceritakan
kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam apa yang mereka lihat berupa
gereja di Habasyah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar. Maka Nabi
shollallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya mereka itu jika ada
seorang shalih yang meninggal mereka membangunkan masjid pada kuburnya
dan mereka menggambar dengan gambar-gambar itu. Mereka itu adalah
seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat (H.R al-Bukhari dan
Muslim)
Tidak Berbuat Kebid’ahan di Dalam Masjid
Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud pernah
mengingkari dengan keras perbuatan sekelompok orang yang mengadakan
dzikir berjamaah di masjid. Dzikir yang dikomando oleh satu orang dengan
jumlah bilangan tertentu.
Dalam sebuat hadits dinyatakan:
عَمْرُو
بْنُ يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا
نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلَاةِ
الْغَدَاةِ فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَاءَنَا
أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بَعْدُ قُلْنَا لَا فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ فَلَمَّا
خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى يَا أَبَا
عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا
أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا خَيْرًا قَالَ فَمَا
هُوَ فَقَالَ إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ قَالَ رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ
قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ
رَجُلٌ وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ كَبِّرُوا مِائَةً
فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً فَيَقُولُ هَلِّلُوا مِائَةً فَيُهَلِّلُونَ
مِائَةً وَيَقُولُ سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً قَالَ
فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ قَالَ مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ
رَأْيِكَ وَانْتِظَارَ أَمْرِكَ قَالَ أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا
سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ
ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ
الْحِلَقِ فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ
تَصْنَعُونَ قَالُوا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ
التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ قَالَ فَعُدُّوا
سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ
شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ
هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ
مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ قَالُوا وَاللَّهِ يَا
أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ قَالَ وَكَمْ
مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حدثنا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ
لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ
أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ
سَلَمَةَ رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ
النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ
‘Amr bin Yahya berkata: saya
mendengar ayahku menyampaikan hadits dari ayahnya: Kami duduk di depan
pintu rumah Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud) sebelum sholat Subuh.
Kalau nanti beliau keluar, kami akan berjalan bersama beliau ke masjid.
Kemudian datang kepada kami Abu Musa al-Asy’ariy dan berkata: Apakah Abu
Abdirrohman (Ibnu Mas’ud) telah keluar menuju kalian? Kami katakan:
Tidak. Maka beliau (Abu Musa al-‘Asy’ari pun duduk bersama kami) hingga
keluarnya Ibnu Mas’ud. Ketika Ibnu Mas’ud telah keluar, kami semua
bangkit kemudian Abu Musa berkata: Wahai Abu Abdirrohman, aku baru saja
melihat di masjid suatu perkara yang aku ingkari. Dan aku tidak melihat,
Alhamdulillah kecuali kebaikan. Ibnu Mas’ud bertanya: Apa itu? Abu Musa
mengatakan: Kalau nanti engkau masih hidup, engkau akan melihatnya. Aku
melihat di masjid ada lingkaran-lingkaran (majelis) mereka duduk
menunggu sholat. Pada setiap lingkaran itu ada seorang yang di tangannya
memegang kerikil kemudian berkata: Bertakbirlah 100 kali. Maka jamaah
di lingkaran itupun bertakbir 100 kali. Dia berkata: ucapkan tahlil 100
kali, merekapun bertahlil 100 kali. Dia berkata: ucapkan tasbih 100
kali, merekapun bertasbih 100 kali. Ibnu Mas’ud bertanya: Apa yang kau
katakan kepada mereka? (abu Musa) berkata: Aku tidak berkata apa-apa
karena menunggu pendapat dan perintahmu. Ibnu Mas’ud berkata: Mengapa
engkau tidak memerintahkan mereka untuk menghitung saja
kesalahan-kesalahan mereka, dan engkau jamin bahwasanya
kebaikan-kebaikan mereka tidak akan sia-sia. Kemudian berlanjutlah
perjalanan itu hingga ketika Ibnu Mas’ud telah mendatangi salah satu
lingkaran (majelis) itu beliau berdiri di dekat mereka kemudian berkata:
Apa ini yang kalian perbuat? Mereka berkata: Wahai Abu Abdirrohman,
kerikil-kerikil ini kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan
tasbih. Ibnu Mas’ud berkata: Hitunglah keburukan-keburukan kalian. Aku
menjamin bahwa kebaikan-kebaikan kalian tidak akan sia-sia. Celaka
kalian wahai umat Muhammad, sungguh cepat kebinasaan kalian. Para
Sahabat Nabi kalian shollallahu alaihi wasallam masih banyak.
Pakaian-pakaian beliau masih belum basah, bejana-bejana beliau beliau
rusak. Demi (Allah) Yang jiwaku di TanganNya, apakah kalian (merasa)
berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk dibandingkan agama
Muhammad, ataukah kalian membuka pintu kesesatan?! Mereka berkata: Demi
Allah, wahai Abu Abdirrohman, kami tidaklah menginginkan kecuali
kebaikan. Ibnu Mas’ud berkata: Betapa banyak orang yang menginginkan
kebaikan tidak bisa mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah shollallahu
alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami bahwa suatu kaum membaca
al-Quran tapi (bacaannya) tidak sampai melewati kerongkongannya. Demi
Allah, aku tidak tahu apakah kebanyak mereka adalah termasuk di antara
kalian. Kemudian Ibnu Mas’ud berpaling dari mereka. ‘Amr bin Salamah
berkata: Kami melihat kebanyakan mereka yang ikut majelis itu berperang
melawan kami pada hari Nahrowan bersama para Khowarij (H.R ad-Daarimi)
Segala macam bentuk pelanggaran syar’i
(kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan) tidak boleh dilakukan di mana
saja, apalagi di masjid yang suci yang merupakan rumah Allah.
Review / Koreksi