Komunisme Menghancurkan Keharmonisan Keluarga
Rumah tua dan bangunan masjid
yang berada di depannya seakan menjadi saksi bisu keganasan PKI.
Peristiwa Loji Gebung di Desa Katikan, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten
Ngawi merupakan peristiwa kelam yang sulit pupus dari kehidupan
masyarakat Ngawi. Loji adalah sebuah rumah besar peninggalan kolonial
Belanda. Gebung adalah nama sebuah dukuh di mana loji itu berada.
Saat Antikomunisme.com berkunjung ke Dukuh Gebung (Rabu,1/6), melalui
seorang perantara dipertemukan dengan sepasang suami istri yang sudah
lanjut usia. Sahri Budhiwiyono, demikian nama laki-laki yang nyaris
berusia 90 tahun ini biasa disebut, adalah anak Sumardi, salah seorang
korban yang selamat dari kebiadaban kaum komunis.
“Komunis itu suka memecah belah keluarga,” kata Sahri. “Kakak dan adik
dalam satu keluarga bisa saling bermusuhan. Kakak kandung saya dihasut
komunis sehingga memusuhi saya,” kenangnya. Hasutan pun tak sampai di
situ. Adik iparnya pun dihasut pula untuk membenci Sahri. Padahal,
mereka bertiga awalnya hidup rukun sebagai keluarga.
Sahri tidak menduga sama sekali bahwa di balik peristiwa Loji Gebung di
antara otaknya adalah kakak dan adik iparnya. Saat ayahnya disiksa,
diseret dan diinjak-injak, dengan mata kepala sendiri Sahri melihat
kakak dan adik iparnya berada di tengah-tengah orang-orang PKI. Sahri
tak mengetahui selama ini kakak dan adik iparnya telah terasuki
komunisme. Sungguh, dirinya tidak menyadari, yang selama ini hidup
bersama dalam satu keluarga, ternyata menjadikan ayah dan dirinya
sebagai lawan berseteru. Kakak dan adik iparnya telah dihasut untuk
membunuhnya.
Namun, dengan pertolongan Allah Ta’ala, Sumardi berhasil meloloskan diri
dari loji yang saat itu telah dibakar masa PKI. Beberapa temannya
selamat saat melompati api yang membara. Sebagian lagi tersangkut
ranjau-ranjau yang dipasang di balik kobaran api. Sumardi sempat dikejar
orang-orang PKI. Ia lari ke Walikukun, yang jaraknya sekitar 15 km dari
Gebung, Kedunggalar.
Kini Sahri hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang getir. Ia masih
mengkhawatirkan keselamatan diri dan keluarganya. Terlebih, saat para
pelaku aksi Loji Gebung masih ada yang hidup. Kini, yang menjadi
tetangganya adalah anak keturunan pelaku Loji Gebung. Sahri pun
menyimpan trauma. (abulfaruq ayip syafruddin)
www.antikomunisme.com/2016/06/02/komunisme-menghancurkan-keharmonisan-keluarga/
Review / Koreksi