Umat sejak beberapa lama justru
dibuat bingung dengan perbedaan dimulainya Ramadhan dan Syawwal. Bahkan
di satu keluarga tidak jarang terjadi perbedaan pula. Betapa indahnya
jika kita mau rukun dan bersama-sama tunduk kepada aturan Allah
Subhanahuwata’ala untuk menggunakan hilal sebagai penunjuk waktu
dimulainya Ramadhan dan Syawwal. Ingatlah bahwa kita sedang menjalankan
syariat-Nya, bukan sebatas memastikan apakah hilal sudah mencapai lebih
dari 2 derajat ataukah tidak. Jika tidak terlihat, apa mau dikata? Tentu
kita harus tunduk kepada syariat Allah Subhanahuwata’ala untuk
menggenapkan hitungan bulan menjadi 30 hari.
Alih-alih hendak memberi kemudahan
dengan hisab falaki sehingga bisa memperkirakan dimulainya Ramadhan
sejak jauh-jauh hari bahkan dalam hitungan tahun, maka di antara ormas
Islam ada yang berani mengumumkan kapan Ramadhan dan kapan Idul Fitri
sejak dua bulan sebelumnya. Sikap seperti ini justru menambah runcing
perbedaan di antara umat dan menimbulkan keresahan. Semestinya umat
diajari dan dibimbing untuk patuh kepada syariat Allah Subhanahuwata’ala
dengan menerapkan metode ru`yatul hilal (melihat hilal), bukan dengan
menutup mata darinya dan mencukupkan dengan perhitungan (hisab) yang
tidak ada landasan syar’inya.
Buku ringkas sejatinya adalah kumpulan
tulisan yang sudah lama beredar di internet. Sengaja kami kumpulkan
untuk menghimpun kandungan ilmiah dan mempermudah bagi saudara kita yang
membutuhkannya. Semoga usaha penulis risalah ini menjadi amalan shalih
yang diterima di sisi-Nya. Aamiin..
Review / Koreksi