Mengenal asy-Syaikh Shalah bin Futaini Kentusy hafizhahullah
Mengenal asy-Syaikh Shalah bin Futaini Kentusy hafizhahullah
Nama, Kelahiran, dan Kondisi Keluarga
Beliau adalah Abu Muhammad Shalah bin
Futaini Kentusy al-‘Adani. Lahir pada 7 Dzulhijjah 1374 (21 Desember
1974 M) di ‘Aden. Asal usul keluarga beliau berasal dari daerah Tuhamah
Yaman, namun kakek-kakek beliau sejak lebih dari seratus tahun lalu
telah meninggalkan daerah tersebut pindah ke kota Aden.
Kondisi Keluarga
Beliau terlahir di tengah lingkungan
keluarga yang sangat mementingkan akhlak karimah. Sejak kecil telah
tertanam pada diri beliau cinta terhadap al-Qur’an.
Sebagaimana keumuman rakyat Yaman
Selatan pada waktu itu, hidup di bawah sistem pemerintahan
sosialis-komunis. Kondisi ini membuat kaum muslimin benar-benar jauh
dari agama dan ilmu yang bermanfaat. Kehidupan beragama didominasi
dengan Shufiyyah.
Namun demikian, ada upaya dari Shalah
Kentusy kecil untuk belajar agama. Tercatat beberapa nama yang Shalah
Kentusy kecil belajar kepadanya. Hingga pada tahun 1990 M Allah
mentakdirkan terjadi perubahan suasana politik di Yaman. Kondisi itu
memberikan peluang yang besar bagi orang-orang yang haus terhadap ilmu
untuk membuka wawasan dan hubungan dengan para ‘ulama Sunnah.
Belajar ke Dammaj dan Pertumbuhan Ilmiah
Tibalah waktu yang sangat berbahagia
itu, pada tahun 1994 M Allah berikan taufiq kepada beliau untuk tiba di
Dammaj, menuntut ilmu kepada sang Mujaddid negeri Yaman al-‘Allamah
asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i.
Kepada asy-Syaikh Muqbil, beliau belajar :
- Shahih al-Bukhari
- Shahih Muslim
- Ta’liq ‘ala al-Mustadrak
- Tafsir Ibnu Katsir
- juga karya asy-SyaikhMuqbil sendiri : ash-Shahih al-Musnad mim malaisa fi ash-Shahihain,
- asy-Syafa’ah (karya asy-Syaikh Muqbil juga).
Di samping beliau juga belajar kepada
beberapa murid senior asy-Syaikh Muqbil ketika itu (beberapa di
antaranya telah menyimpang, Lahaula wala quwwata illabillah)
Kemudian setelah semakin matang dalam
thalabul ilmi dan memiliki bekal yang makin mendalam, beliau mulai
melakukan studi pustaka secara mandiri. Hasilnya beliau simpan dalam
bentuk ta’liq terhadap beberapa kitab, antara lain ta’liq terhadap kitab
:
- al-Mudzakkirah fi Ushul al-Fiqh (al-‘Allamah asy-Syinqithi),
- Kitab Shifat Shalat Nabi (asy-Syaikh al-Albani),
- Kitab at-Tauhid (asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab),
- Kitab al-Ushulats-Tsalatsah (Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab),
- Kitab al-Qawa’id al-Mutsla (asy-Syaikh al-‘Utsaimin)
- al-‘Aqidah al-Wasithiyah (Syaikhul Islam IbnuTaimiyyah),
- al-Waraqat fi Ushul al-Fiqh,
- al-Ushul min ‘ilmi al-Ushul (Asy-Syaikh al-‘Utsaimin),
- al-Luma’ fi Ushul al-Fiqh (asy-Syirazi),
- Mukhtashar “at-Tahrir” fi Ushul al-Fiqh (Ibnu Najjar),
- dll
Semuanya beliau ajarkan, sebagiannya di Dammaj, sebagiannya di ‘Aden, ada pula yang di tempat lain.
Fitnah Menerpa
Hingga sampailah waktu asy-Syaikh Muqbil
meninggal dunia, ketika itu Shalah Kentusy tidak berada di
Dammaj.Beliau benar-benar sedih dengan musibah besar itu.
Beberapa waktu kemudian, asy-Syaikh
Shalah Kentusy kembali ke Dammaj. Ketika itu yang menggantikan posisi
asy-Syaikh Muqbil adalah Yahya al-Hajuri.
Tidak lama berselang, terjadi
perselisihan antara beliau dengan Yahya al-Hajuri terkait salah satu
permasalahan ilmiah, yaitu masalah pembagian ahlul bid’ah menjadi ahlul
bid’ah yang menyeru kepada bid’ahnya dan yang tidak. Sebagaimana hal
seperti ini telah banyak terjadi antara Yahya al-Hajuri dengan
murid-murid senior asy-Syaikh Muqbil lainnya, akibat sifat-sifat dan
sikap-sikap tak terpuji pada diri Yahya al-Hajuri. Hingga kemudian
meletuslah fitnah al-Hajuri yang ditandai dengan vonis hizbi terhadap
para murid senior asy-SyaikhMuqbil, terutama terhadap ‘Abdurrahman
Mar’i.
Dalam peristiwa tersebut, Allah berikan
kepada Ahlus Sunnah untuk gigih membela al-Haq, termasuk Allah berikan
taufiq kepada asy-Syaikh Shalah Kentusy untuk kokoh di atas al-Haq dan
membelanya. Beliau menulis dua karya ilmiah dalam menyingkap fitnah
al-Hajuri :
- Tajliyyah al-Fitnah fi Haqiqati al-Fitnah
- Qawaid al-Hajuri fi Mizan al-Fitnah
“Allah selamatkan Ahlus Sunnah dari
fitnah dan kejelekan al-Hajuri. Kami pun keluar dari Dammaj, padahal ia
lebih kami cintai dari pada diri-diri kami. Kemudian kami tinggal di
negeri tercinta Aden, pada akhir 1428 H. Laluaku pindah ke Darul Hadits
di Fuyus.Awal mulanya kami bergembira karena orang-orang (yang di Fuyusy
ketika itu, pen) sangat besar hasratnya terhadap Sunnah. Hingga
kemudian muncullah dari ‘Abdurrahman Mar’i perbuatan-perbuatan yang
sangat disesalkan, yakni dia memusuhi saudara-saudaranya para penuntuti
lmu senior dan masyaikh. Namun demikian, mereka bersabar terhadapnya dan
terus berusaha memberikan nasehat setiap kali ada kesempatan.Namun dia
tidak peduli dan tidak menghargai sama sekali. Oleh karena itu
al-‘Allamah ‘Abdullah al-Bukhari mengatakan tentang ‘Abdurrahman Mar’i,
‘Padanya terdapat kerendahan. Tidak mengenal mana yang ma’ruf, dia dan
juga saudaranya (‘Abdullah Mar’i, pen). ’Dia terus menyebarkan
kejelekannya dan memerangi sunnah. Semoga Allah memberinya hidayah.”
Demikian asy-Syaikh Sholah menuturkan.
Lalu beliau melanjutkan, “Kami –
bihamdillah – senantiasa ada hubungan yang kuat dengan para ‘ulama kibar
umat ini. Seperti al-‘Allamah al-Muhaqqiq Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah dan al-‘Allamah al-Murabbi ‘Ubaid al-Jabiri, sertapara ‘ulama lain seperti beliau berdua.”
Karya Ilmiah
Di antara buah karya ilmiah beliau (di samping yang telah disebut di atas) :
- Akhtha’ al-Ushuliyyin fi al-‘Aqidah
- Akhtha’ an-Nahwiyyin fi al-‘Aqidah
- At-Tajliyyah fi Syarh al-Qawa’id al-Fiqhiyyah
- Fiqh al-Inkar ‘ala Hukkam al-Muslimin
- Thabaqat al-Ushuliyyin fi al-‘Aqidah (belum dicetak)
- Mahadzir ‘Aqadiyyah fi al-Hududwa at-Ta’rifat (belum dicetak)
- ‘Ammar al-Auqaat bi Syarh Matn al-Waraqaat (belum dicetak)
- Kabwatu al-Jawaad fi Taqsiim al-Akhbarila Mutawatirwa Ahad (belum dicetak)
Di samping beliau juga punya beberapa pembahasan lain yang masih belum selesai.
Sumber : Autobiografi yang beliau tulis pada 3/4/1347 H — 9/2/2016 M
www.daurahnasional.com
Review / Koreksi