MENGGAPAI RAHMAT ILAHI DENGAN SHALAWAT KEPADA NABI
Penulis : Ustadz Askari
Salah satu sifat yang harus dimiliki
seorang yang beriman adalah mencintai Rasulullah lebih dari kecintaan
dia kepada dirinya sendiri, keluarganya, hartanya dan bahkan seluruh
umat manusia. Inilah realisasi (bentuk amaliah) dari sabda Rasulullah :
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai aku (Rasulullah)
lebih ia cintai daripada anaknya, kedua orang tuanya dan seluruh umat
manusia.” (HR. Muslim)
Dan di antara bentuk kecintaan kita
kepada beliau adalah bershalawat, sebagaimana yang diperintahkan Allah .
Allah berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang
beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya.” (Al Ahzab: 56)
Penjelasan Makna Shalawat
Di antara makna shalawat Allah kepada hamba-Nya adalah apa yang disebutkan Al Imam Al Bukhari dalam Kitab Shahih-nya dari Abul ‘Aliyah. Beliau berkata:
Di antara makna shalawat Allah kepada hamba-Nya adalah apa yang disebutkan Al Imam Al Bukhari dalam Kitab Shahih-nya dari Abul ‘Aliyah. Beliau berkata:
صَلاَةُ اللهِ ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلاَئِكَةِ, وَصَلاَةُ الْمَلاَئِكَةِ الدُّعَاءِ
“Shalawat Allah kepada hamba-Nya adalah pujian-Nya kepada hamba di
sisi para malaikat, sedangkan shalawat para malaikat adalah
mendo’akannya.”
Ibnu Hajar Al ‘Asqalani di dalam
kitabnya, Fathul Bari Bisyarhi Shahih Al Bukhari menerangkan bahwa
shalawat Allah adalah rahmat dari-Nya.
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa shalawat para malaikat maknanya adalah do’a adalah hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa shalawat para malaikat maknanya adalah do’a adalah hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
لَمْ
تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِيّ عَلَيْهِ مَادَامَ فِيْ مُصَلاَّهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللََّهُمَّ اغْفِرْلَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ
“Para malaikat senantiasa bershalawat
kepada seorang hamba selama ia berada di tempat shalatnya. (Mereka
mengatakan), “Ya Allah, berilah shalawat padanya. Ya Allah ampunilah
dia, Ya Allah rahmatilah dia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Ibnu ‘Abbas berkata: “Mereka bershalawat, maksudnya mendo’akan seorang hamba agar mendapat berkah dari Allah .”
Adapun makna dari ayat 56 dari surat Al Ahzab di atas adalah sebagai berikut:
Al Imam Ibnu Katsir berkata: “Bahwa Allah mengkhabarkan kepada para hamba-Nya tentang kedudukan hamba dan Nabi-Nya di sisi makhluk-Nya yang tinggi. Di mana Allah memujinya di hadapan para malaikat yang dekat, dan para malaikat pun bershalawat kepadanya. Kemudian (Allah ) memerintahkan penduduk jagat raya bagian bawah (penduduk bumi) agar bershalawat dan mengucapkan salam atasnya (Nabi Muhammad), sehingga berkumpul segala pujian atasnya dari dua penghuni alam jagat raya yang di atas dan yang di bawah.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/ 508)
Al Imam Ibnu Katsir berkata: “Bahwa Allah mengkhabarkan kepada para hamba-Nya tentang kedudukan hamba dan Nabi-Nya di sisi makhluk-Nya yang tinggi. Di mana Allah memujinya di hadapan para malaikat yang dekat, dan para malaikat pun bershalawat kepadanya. Kemudian (Allah ) memerintahkan penduduk jagat raya bagian bawah (penduduk bumi) agar bershalawat dan mengucapkan salam atasnya (Nabi Muhammad), sehingga berkumpul segala pujian atasnya dari dua penghuni alam jagat raya yang di atas dan yang di bawah.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/ 508)
Al Imam Al Qurthubi berkata: “Ayat ini
menunjukkan kemuliaan yang Allah berikan kepada Rasul-Nya di saat hidup
dan wafatnya. Serta menyebutkan kedudukan dan mensucikannya dari
jeleknya perbuatan orang-orang yang memiliki pikiran buruk terhadap
beliau, atau terhadap istri-istrinya dan yang semisalnya.” (Tafsir
Al-Qurthubi, 14/ 232)
Asy Syaikh As Sa’di berkata: “(Dalam
ayat ini) terdapat penjelasan tentang kemuliaan Rasulullah , ketinggian
derajatnya, mulianya kedudukan beliau di sisi Allah dan di sisi
makhluknya. Dan sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat,
yaitu memujinya di hadapan para malaikat dan kelompok makhluk yang
mulia, yang menunjukkan kecintaan-Nya kepada Nabi dan para malaikat yang
dekat (dengan Allah) memberi pujian, mendo’akan serta merendahkan diri
kepadanya. Maka wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian
kepadanya dan ucapkanlah salam dalam rangka mengikuti Allah dan para
malaikat-Nya serta sebagai balasan baginya atas sebagian hak-hak beliau
atas kalian dan untuk menyempurnakan keimanan kalian. Mengagungkannya,
mencintai dan memuliakannya, serta untuk menambah kebaikan-kebaikan dan
menghapus kesalahan-kesalahan kalian.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal.
671)
Keutamaan Shalawat Kepada Nabi
Di antara keutamaan yang Allah dan Rasul-Nya janjikan bagi orang yang bershalawat kepada Nabinya, adalah:
Di antara keutamaan yang Allah dan Rasul-Nya janjikan bagi orang yang bershalawat kepada Nabinya, adalah:
1. Allah bershalawat kepada orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad .
Rasulullah bersabda:
Rasulullah bersabda:
مَنْ صَلىَّ عَلَي
َّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ عَشْراً
َّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ عَشْراً
“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat
kepadaku satu kali, maka Allah mengucapkan shalawat kepadanya 10 kali.”
(HR. Muslim no. 408)
2. Sebagai penghapus dosa-dosa dan menambah ketinggian derajat di sisi Allah .
Rasulullah bersabda:
Rasulullah bersabda:
مَنْ
صَلَّ عَلَيَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ
وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرَ خَطَيـَاتٍ وَرَفَعَتْ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ
“Barangsiapa bershalawat kepadaku satu
kali, maka Allah bershalawat kepadanya 10 shalawat, dihapuskan darinya
10 kesalahan dan diangkat untuknya 10 derajat.” (HR. An Nasai, 3/50 dan
dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)
Bagaimana Cara Bershalawat Yang Benar?
Ada beberapa riwayat shahih dari Rasulullah tentang tata cara bershalawat kepada beliau. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari (no. 3370) dan Al Imam Muslim (no. 406) dari shahabat Ka’ab bin ‘Ujrah , ia berkata: “Rasulullah keluar menuju kami, lalu kami pun berkata: “Kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah:
Ada beberapa riwayat shahih dari Rasulullah tentang tata cara bershalawat kepada beliau. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari (no. 3370) dan Al Imam Muslim (no. 406) dari shahabat Ka’ab bin ‘Ujrah , ia berkata: “Rasulullah keluar menuju kami, lalu kami pun berkata: “Kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ آلِ
إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلىَ
مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلىَ آلِ إِبْرَاهِيمَ
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Dan diriwayatkan oleh Al Imam Muslim (no. 405) dari hadits Abu Mas’ud
. Ia berkata: “Rasulullah datang kepada kami dan kami bersama Sa’ad bin
‘Ubadah. Lalu Basyir bin Sa’ad berkata kepada beliau: “Allah
memerintahkan kami bershalawat kepadamu wahai Rasulullah, lalu bagaimana
cara kami bershalawat kepadamu?” Rasulullah pun diam sehingga kami
berangan-angan seandainya dia tidak menanyakannya. Lalu beliau bersabda:
‘Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ آلِ
إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
Al Imam An Nawawi mengatakan dalam
kitabnya, Al Adzkar: “Apabila bershalawat kepada Nabi , maka hendaklah
menggabung antara shalawat dan salam, dan tidak mencukupkan salah
satunya. Maka janganlah ia mengatakan: ‘shallallahu ‘alaihi’ saja, dan
tidak pula (hanya mengatakan) ‘alaihis salam’ saja.”
Di Mana Saja Seseorang Bershalawat, Akan Tetap Sampai Pada Rasulullah
Dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah bersabda:
Dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah bersabda:
لاَتَجْعَلُوْا
قَبْرِيْ عِيْداً وَلاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْراً وَصَلُّوا
عَليَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ
“Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai (tempat) berhari raya dan
jangan kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Dan
bershalawatlah kepadaku di manapun kalian berada karena sesungguhnya
shalawat kalian (itu) sampai kepadaku.” (HR. Abu Dawud no. 2042 dan
dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)Waktu-Waktu Yang Dianjurkan Untuk Bershalawat
1. Ketika Nama Beliau Disebut
Berdasarkan hadits Al-Husain bin ‘Ali bahwa Rasulullah bersabda:
البَخِيْلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Orang yang kikir adalah orang yang jika
disebut namaku di dekatnya, lalu ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR.
At Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al
Albani dalam Irwa’ul Ghalil, 1/5)
Dan dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Nampak kehinaan atas seseorang di mana
aku disebut di dekatnya, namun dia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. At
Tirmidzi, Al Hakim dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Al
Irwa’, 1/6)
2. Pada Hari Jum’at
Berdasarkan hadits Aus bin Aus, bahwa Rasulullah bersabda:
Berdasarkan hadits Aus bin Aus, bahwa Rasulullah bersabda:
أَكْثِرُوْا
عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ يَوْمَ اْلجُمْعَةِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ
مَعْرُوَْضَةٌ عَلَيَّ. قَالُوْا: كَيْفَ تُعْرَضُ عَلَيْكَ وَقَدْ
أَرَمْتَ؟ قَالَ: إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلىَ اْلأرْضِ أَنْ تَأْكُلَ
أَجْسَادَ اْلأَنْبِيَـاء.
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada
hari jum’at, karena sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku.”
Mereka bertanya: “bagaimana bisa disampaikan kepadamu (sedang jasadmu
telah hancur)?” beliau menjawab: Sesunggunya Allah mengharamkan tanah
untuk memakan jasad para nabi.” (HR. Abu Ishaq Al-Harby dalam Gharibul
Hadits dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’, 1/4 dan
didukung oleh hadits-hadits yang lain)
3. Ketika Masuk Masjid
Berdasarkan hadits Fathimah ia berkata: “Adalah Rasulullah bila masuk masjid bershalawat untuk diri beliau sendiri dan berkata:
Berdasarkan hadits Fathimah ia berkata: “Adalah Rasulullah bila masuk masjid bershalawat untuk diri beliau sendiri dan berkata:
رَبِّ اغْفِرْلِي ذَنْبِيْ وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
“Wahai Rabbku ampunilah dosa-dosaku dan
bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.” (HR. At Tirmidzi, 2/314 dan
dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)
4. Saat Berdoa
Berdasarkan hadits Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda:
Berdasarkan hadits Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda:
كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٌ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَى اْلنَّبِيِّ
“Setiap doa tertutup hingga bershalawat kepada nabi .” (HR. Ad Dailami, dan dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani)
5. Di Waktu Pagi Dan Petang
Berdasarkan hadits Abu Ad Darda’ bahwa Rasulullah bersabda:
Berdasarkan hadits Abu Ad Darda’ bahwa Rasulullah bersabda:
مَنْ صَلَّ عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْراً وَحِيْنَ يُمْسِي عَشْراً أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ اْلقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku
di waktu pagi 10 kali dan di waktu sore 10 kali, maka dia akan
mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” (HR. Ath Thabrani dan
dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihul Jami’)
Al-Munawi berkata: “Dalam hadits ini
terdapat dalil tentang keutamaan shalawat dan salam kepada Rasulullah
dan hal tersebut termasuk amalan yang paling afdhal dan dzikir yang
paling agung dan mengikuti (perintah) Al Jabbar (Allah ) dalam
firman-Nya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada
Nabi”, kalau sekiranya tidak ada ganjaran lain bagi yang bershalawat
kecuali mengharap syafa’atnya, maka sudah mencukupi untuk kita semua.”
(Faidhul Qadir, hal. 170-171)
6. Ketika Tasyahhud Dalam Shalat
Berdasarkan hadits Fadhalah bin ‘Ubaid, ia berkata: “Rasulullah mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya (ketika tasyahhud) tidak memuji Allah dan tidak pula bershalawat kepada Nabi . Maka beliau bersabda: “orang ini tergesa-gesa.” Kemudian beliau memanggil dan berkata kepadanya:
Berdasarkan hadits Fadhalah bin ‘Ubaid, ia berkata: “Rasulullah mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya (ketika tasyahhud) tidak memuji Allah dan tidak pula bershalawat kepada Nabi . Maka beliau bersabda: “orang ini tergesa-gesa.” Kemudian beliau memanggil dan berkata kepadanya:
إِذَ
صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ
عَلَيْهِ ثُمَّ لْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ ثُمَّ لْيَدْعُ بَعْدُ بِمَا
شَاءَ
“Jika salah seorang kalian shalat, maka
hendaklah dia memulai dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian
bershalawat atas Nabi, lalu berdoa dengan apa yang dia kehendaki.” (HR.
At Tirmidzi, Abu Dawud, An Nasai, dan dishahihkan oleh Asy Syaikh
Muqbil dalam Al Jami’ Ash Shahih, 2/124)
7. Sesudah Adzan
Berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash bahwa Rasulullah bersabda:
Berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash bahwa Rasulullah bersabda:
إِذَ
سَـمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَايَقُوْلُ, ثُمَّ صَلُّوا
عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ بِهَا
عَشْرًا, ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيْ اْلوَسِيْلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ
فِي اْلجَنَّةِ لاَتَنـْبَغِي إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ
وَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِيَ اْلوَسـِيْلَةَ
حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Jika kalian mendengar mu’adzin, maka
ucapkanlah seperti apa yang dia ucapkan lalu bershalawatlah kalian
kepadaku. Karena sesungguhnya barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu
kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali. Lalu mintalah
kepada Allah wasilah untukku karena (wasilah) itu adalah satu kedudukan
(yang tertinggi-red) dalam jannah yang tidak sepantasnya
(dimiliki)kecuali bagi seorang hamba diantara hamba-hamba Allah. Dan aku
berharap (hamba) itu adalah aku. Maka siapa yang memintakan wasilah
tersebut untukku, maka halal baginya syafa’atku.” (HR. Muslim)
Sumber:BULETIN AL ILMU jember.
Review / Koreksi