Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
Pengertian Sederhana tentang Manhaj Salaf
Salaf secara bahasa maknanya adalah
orang-orang yang mendahului kita. Sedangkan secara istilah adalah 3
generasi terbaik yang telah dijamin kebaikannya oleh Nabi shollallahu
alaihi wasallam, yaitu para Sahabat Nabi, Tabiin, dan atbaaut Tabiin
(sebagaimana telah dikemukakan pada postingan sebelumnya di group
whatsapp ini).
Seseorang yang mengikuti manhaj Salaf
adalah orang yang berusaha memahami al-Quran dan Sunnah Nabi shollallahu
alaihi wasallam dengan pemahaman para Ulama Salaf. Mereka mengikuti
bimbingan para Ulama Salaf dalam menjalani ajaran Dien ini.
Bukan artinya mereka fanatik pada individu-individu Ulama Salaf tersebut, karena secara person tiap mereka (selain Nabi) tidaklah maksum (terjaga dari kesalahan). Namun, jika Ulama Salaf telah sepakat (ijma’) tentang suatu permasalahan Dien, maka ijma’ mereka itu tidak akan pernah salah. Karena umat Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam tidak akan pernah bersepakat dalam sebuah kesalahan/ kesesatan. Para Ulama Salafus Sholih adalah ‘al-Jamaah’ yang harus diikuti.
Bukan artinya mereka fanatik pada individu-individu Ulama Salaf tersebut, karena secara person tiap mereka (selain Nabi) tidaklah maksum (terjaga dari kesalahan). Namun, jika Ulama Salaf telah sepakat (ijma’) tentang suatu permasalahan Dien, maka ijma’ mereka itu tidak akan pernah salah. Karena umat Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam tidak akan pernah bersepakat dalam sebuah kesalahan/ kesesatan. Para Ulama Salafus Sholih adalah ‘al-Jamaah’ yang harus diikuti.
إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَجْمَعُ أَمَّتِي عَلَى ضَلاَلَةٍ وَيَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ
Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah
menggabungkan umatku di atas kesesatan. Dan Tangan Allah di atas
al-Jamaah (H.R atThobarony dan lainnya dari Ibnu Umar, dishahihkan
al-Hakim dalam al-Mustadrak dan al-Albany dalam Shahihul Jami’)
Demikian juga jika ada perkataan dari
seorang Ulama Salaf yang tidak bertentangan dengan dalil (al-Quran dan
Sunnah) serta tidak diketahui adanya pengingkaran dari Ulama Salaf yang
lain, maka ucapan itu bisa dijadikan sebagai rujukan.
Penggunaan Kata Salaf dalam Hadits, Ucapan Sahabat, atau Ulama Setelahnya
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pernah berkata kepada putrinya, Fatimah: aku adalah sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu…
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh
al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda
kepada Fatimah radhiyallahu anha:
فَاتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ
…Bertaqwalah kepada Allah dan
bersabarlah, karena sesungguhnya aku adalah salaf (pendahulu) terbaik
bagimu…(H.R al-Bukhari dan Muslim)
Sahabat Nabi Zaid bin ‘Arqom
radhiyallahu anhu juga pernah menyebut istilah Salaf yang maksudnya
adalah Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam beserta para Sahabat
Nabi yang terdahulu. Beliau pernah melihat orang-orang melakukan sholat
Dhuha di awal waktunya. Sedangkan beliau berpandangan bahwa mestinya
waktu terbaik untuk melakukan sholat Dhuha bukanlah di awal waktu, namun
menunggu saat ‘anak-anak unta mulai kepanasan’.
عَنْ
زَيْد بْنِ أَرْقَمٍ أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّوْنَ بَعْدَ مَا
طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَقَالَ لَوْ أَدْرَكَ هَؤُلَاءِ السَّلَف اْلأَوَّل
عَلِمُوْا أَنَّ غَيْرَ هَذِهِ الصَّلاَةِ خَيْرٌ مِنْهَا صَلاَةُ
الْأَوَّابِيْنَ إِذا رَمَضَتِ الْفِصَالُ
Dari Zaid bin Arqom bahwasanya beliau
melihat suatu kaum yang sholat setelah terbitnya matahari. Kemudian
beliau berkata: Kalau seandainya orang-orang ini mendapati Salaf yang
pertama, niscaya mereka akan mengetahui bahwa selain di waktu ini lebih
baik bagi mereka untuk mengerjakan sholat (Dhuha)nya. Sholat para
Awwabiin (orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah) adalah pada
saat anak unta kepanasan (riwayat Abdurrozzaq dalam Mushonnafnya, para
perawinya seluruhnya adalah rijal al-Bukhari dan Muslim, hanya al-Qosim
asy-Syaibany yang rijal Muslim saja).
Al-Imam Malik (salah seorang atbaut Tabi’in) rahimahullah pernah menyebut kata Sholihus Salaf (Salaf yang sholeh/baik):
كَانَ
صَالِحُ السَّلَفِ يُعَلِّمُوْنَ أَوْلَادَهُمْ حُبَّ أَبِي بَكْرٍ
وَعُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا كَمَا تُعَلَّمُوْنَ السُّوْرَةُ أَوِ
السُّنَّةُ
Dulu para Sholihus Salaf (pendahulu yang
sholih) mengajarkan anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakr dan Umar
radhiyallahu anhuma sebagaimana mereka diajari surat (alQuran) atau
Sunnah (Musnad al-Muwattha’ karya Abul Qosim Abdurrohman bin Abdillah
al-Jauhariy dan al-Laalikaa-i dalam syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal
Jamaah)
al-Imam asy-Syafii rahimahullah juga
pernah menggunakan penyebutan kata Salaf sebagai rujukan untuk melihat
apakah suatu amalan itu dibenci atau tidak. Beliau menyatakan dalam
kitabnya al-Umm:
وَإِذَا
كَانَ لِلْمَسْجِدِ إمَامٌ رَاتِبٌ فَفَاتَتْ رَجُلًا أَوْ رِجَالًا
فِيْهِ الصَّلَاةُ صَلُّوا فُرَادَى وَلَا أُحِبُّ أَنْ يُصَلُّوا فِيْهِ
جَمَاعَةً فَإِنْ فَعَلُوا أَجْزَأَتْهُمُ الْجَمَاعَةُ فيه وَإِنَّمَا
كَرِهْتُ ذَلِكَ لَهُمْ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِمَّا فَعَلَ السَّلَفُ
قَبْلَنَا بَلْ قَدْ عَابَهُ بَعْضُهُمْ
…Jika di masjid itu ada Imam rowatib
kemudian ada satu orang atau beberapa orang yang ketinggalan sholat,
maka mereka sholat sendirian. Saya tidak suka jika mereka sholat
berjamaah di masjid itu. Jikapun mereka mengerjakannya, hal itu telah
mencukupinya dari (sholat) berjamaah. Saya hanya membenci hal itu bagi
mereka karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Salaf sebelum kita.
Bahkan sebagian mereka mencelanya…(al-Umm 1/154)).
Catatan penting: dari pernyataan beliau,
ini nampak jelas bahwa sesungguhnya al-Imam asy-Syafii adalah seorang
yang bermanhaj Salaf. Beliau menjadikan Salaf sebagai patokan untuk
menilai suatu amalan dalam Dien ini. Berdasarkan yang beliau ketahui,
tidak ada seorang Salafpun yang melakukan sholat berjamaah di masjid
setelah Imam rowatib telah menyelesaikan sholat berjamaah di masjid
tersebut. Walaupun pendapat beliau ini perlu pembahasan lebih lanjut
dalam kajian yang lain, namun kutipan pernyataan al-Imam asy-Syafii
dalam kitab al-Umm tersebut jelas menunjukkan bahwa beliau yang sangat
‘alim ini adalah bermanhaj Salaf.
Abdullah bin al-Mubarok rahimahullah
(seorang dari kalangan atbaut Tabi’in yang merupakan salah satu guru
al-Imam al-Bukhari) juga pernah menggunakan kata ‘Salaf’ yang maksudnya
adalah para Sahabat Nabi. Beliau pernah berkata:
عَنْ
عَلِيِّ بْنَ شَقِيقٍ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ
يَقُولُ عَلَى رُءُوسِ النَّاسِ دَعُوا حَدِيثَ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ
فَإِنَّهُ كَانَ يَسُبُّ السَّلَفَ
Dari Ali bin Syaqiiq beliau berkata:
Saya mendengar Abdullah bin al-Mubarok pernah berkata di hadapan para
manusia: Tinggalkanlah hadits dari perawi (yang bernama) ‘Amr bin Tsabit
karena dia mencela Salaf (dinukil oleh Imam Muslim dalam Shahihnya)
PERKATAAN ‘SAYA MENGIKUTI MANHAJ SALAF’ BUKANLAH KESOMBONGAN DAN BERBANGGA DIRI
Seorang yang mengatakan: “Saya seorang
Salafy” atau “Saya adalah pengikut Manhaj Salaf” bukanlah artinya ia
meninggikan dirinya dan mengklaim dialah yang paling benar dalam
segalanya. Sesungguhnya pernyataan tersebut menunjukkan cita-cita dan
harapannya ingin sebenar-benarnya mengikuti teladan para Salafus Sholih
dengan sebaik-baiknya pada seluruh sendi Dien.
Sebagaimana seorang yang mengatakan:
“Saya muslim”. Apakah orang yang mengatakan demikian telah mengklaim
dirinya adalah orang yang telah menjalankan syariat Islam secara
sempurna? Jelas tidak. Ia mengatakan demikian dengan pengakuan dalam
hati akan kekurangan pada dirinya. Ia bercita-cita ingin menjadi muslim
yang menjalankan syariat Islam dengan baik dan terus memperbaiki
dirinya.
Sehingga, ketika seorang menyatakan:
Saya adalah pengikut Salaf, seakan-akan ia berkata: “Mari bersatu dalam
Islam ini dengan menjadikan Salaf sebagai panutan kita. Jika antum
mengetahui ada ajaran Salaf yang belum saya ketahui, sampaikan pada
saya, karena saya sangat ingin meneladani para Salafus Sholih itu dengan
baik. Namun, kami tegaskan bahwa jangan sekali-kali mengajak kami pada
hal-hal yang sudah jelas bertentangan dengan manhaj Salaf, karena kami
hanya mau mengikuti manhaj Salaf dalam Dien ini. Kamipun mengajak antum
semua untuk mengikuti manhaj Salaf, karena sesungguhnya manhaj Salaf itu
adalah Islam yang murni”.
Seorang pengikut manhaj Salaf yang haq
tidak akan pernah mengklaim bahwa ia dan orang-orang yang sekarang
bersamanya pasti akan masuk Jannah (Surga). Karena tidak ada yang tahu
akhir kehidupan seseorang kecuali Allah. Ia tidak akan pernah tahu
apakah ia akan terus menjadi pengikut manhaj Salaf hingga akhir hayatnya
atau justru berakhir menjadi pengikut hawa nafsu, wal iyaadzu billah.
Ia juga tidak akan pernah tahu apakah
rekan-rekan yang sekarang bersamanya, menuntut ilmu bersamanya, bahkan
gurunya sendiri yang masih hidup akan terus di atas manhaj Salaf hingga
akhir hayatnya. Ia juga tidak akan pernah tahu apakah amal yang ia
lakukan ini diterima oleh Allah, atau justru ia adalah orang yang
munafik, mengaku mengikuti manhaj Salaf secara lahiriah, namun secara
batin membencinya, wal iyaadzu billah. Ia tidak bisa menjamin apakah
amalnya bersih dari riya’ atau tidak. Ia sendiri bahkan tidak bisa
mengklaim bahwa satu saja amal ibadah yang telah ia lakukan sudah
diterima oleh Allah atau tidak.
Ia hanya bisa memastikan secara umum
bahwa siapapun saja yang mengikuti manhaj Salaf dengan baik hingga akhir
hayatnya, pasti masuk Jannah (Surga), sebagaimana dalil-dalil yang
sedemikian banyak menunjukkan demikian. Karena manhaj Salaf pada
hakikatnya adalah Islam yang sebenarnya. Adapun untuk orang perseorangan
atau individu, ia tidak berani menyatakan bahwa fulaan pasti masuk
surga dan fulaan pasti masuk neraka, kecuali orang-orang tertentu yang
telah dipastikan oleh Allah dan RasulNya pasti masuk Surga dan Neraka.
Ia hanya bisa selalu berdoa memohon
hidayah kepada Allah dan dikokohkan di atas manhaj Salaf, dan diberi
akhir kehidupan yang baik. Ia akan berusaha memilih rujukan dalam
bacaan, ataupun mendengarkan kajian-kajian dari orang yang sudah jelas
keilmuannya dalam manhaj Salaf berdasarkan rekomendasi dari orang-orang
yang terpercaya. Ia akan selektif memilih sumber ilmu dalam Dien ini,
sebagai bentuk penjagaan terhadap manhaj yang sangat berharga bagi
dirinya. Seorang pengikut manhaj Salaf akan selalu mengikuti dalil
al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman Ulama Salaf, dengan bimbingan
para Ulama yang nyata-nyata bermanhaj Salaf yang masih hidup sejaman
dengannya.
Ia akan berusaha dan bersemangat
menuntut ilmu yang shahih, berusaha mengamalkan, berusaha mendakwahkan
sesuai kemampuannya, dan bersabar di atas manhaj yang haq ini.
Ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim sebagaimana ia suka kebaikan itu terjadi untuk dirinya. Karena itu ia bersemangat untuk mendakwahkan Ilmu Sunnah yang telah diketahuinya. Ia juga peringatkan saudaranya kaum muslimin dari bahaya kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan karena cinta dan sayangnya pada kaum muslimin.
Ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim sebagaimana ia suka kebaikan itu terjadi untuk dirinya. Karena itu ia bersemangat untuk mendakwahkan Ilmu Sunnah yang telah diketahuinya. Ia juga peringatkan saudaranya kaum muslimin dari bahaya kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan karena cinta dan sayangnya pada kaum muslimin.
Kadang dalam mendakwahkan manhaj Salaf
ini ia dicela dan bahkan dikafirkan oleh saudaranya sesama muslim, namun
ia tidak akan membalas mengkafirkan saudaranya itu, selama memang ia
masih muslim.
Dakwah Salaf adalah ajakan kepada
Sunnah, sehingga pada dasarnya pengikut manhaj Salaf adalah Ahlussunnah.
Dakwah Salaf bukanlah ajakan pada pribadi atau kelompok maupun golongan
tertentu secara ashobiyyah (fanatik buta). Telah disampaikan di atas
bahwa penamaan ‘Salaf’ bukanlah penamaan yang mengada-ada, tapi
sesungguhnya berasal dari ucapan Nabi, Sahabat beliau, dan para Ulama
Ahlussunnah setelahnya.
Jika di masa Nabi, cukup seorang
mengatakan: Saya muslim. Karena di masa itu hanya ada kafir dan muslim
secara dhahir. Tidak ada kebid’ahan atau hal-hal baru yang diada-adakan
di masa Nabi. Cukup seorang mengatakan : Saya muslim sebagai pembeda
dengan orang-orang kafir.
Namun, saat mulai muncul kebid’ahan,
maka para Sahabat mulai memberikan pembeda antara ajaran Islam yang
murni dengan ajaran Islam yang sudah mulai terkontaminasi dengan
kebid’ahan. Sebagaimana Ibnu Abbas memisahkan antara Ahlus Sunnah dengan
Ahlul Bid’ah dalam salah satu penafsirannya.
Saat orang-orang mulai banyak yang
senang memahami dalil al-Quran dan dalil Sunnah Nabi dengan pikirannya
sendiri, atau pemikiran para tokoh-tokoh kelompoknya, atau thoriqoh yang
dipilihnya, maka saat itulah perlu pembeda antara pengikut manhaj Salaf
dengan yang bukan. Perlu pembeda antara orang-orang yang memunculkan
hal-hal baru dalam Dien ini dengan orang-orang yang masih istiqomah
tetap mengikuti ajaran Islam yang murni terdahulu.
WA al-I’tishom
Review / Koreksi