Syaikh Muhammad al-Imām hafidzahullah ditanya:
“Kami tidak ingin memberi peluang kepada musuh dari kalangan sekuler, sosialis, dan lain- lain.”
Jawabannya :
Kami juga tidak menginginkan
musuh-musuh Allah mempunyai jalan untuk menyerang orang-orang Mukmin
namun kami katakan kepada saudara-saudara sekalian apa yang kalian telah
persiapkan untuk hal ini?
Jika kalian mempergunakan sarana yang
sama dengan mereka dan kalian tunduk kepada hukum buatan mereka, maka
kalian tidak dapat memperoleh sesuatu pun kecuali dengan banyak mengalah
dan mengalah lagi.
Kadang mereka mengatakan, kami berambisi
untuk mencapai mayoritas suara majlis perwakilan. Anggaplah kalau
kalian telah mencapai jumlah mayoritas lantas apakah kalian boleh untuk
menerapkan hukum dengan hukum mayoritas?
Jawabannya : Tidak boleh!
Sungguh kita telah mendengar paduan
suara semacam ini yakni…. mereka mengatakan: Bagaimana mungkin kita
memberi peluang kepada musuh?
Apakah kalian suka dikuasai oleh orang-orang sekuler atau sosialis atau yang lainnya?
Mereka melarang kalian untuk mengajar,
berdakwah ilallah dan menghalangi Islam? Kenyataan menegaskan kepada
kita bahw teriakan-teriakan mereka ini merupakan bentuk kampanye untuk
pemilu!…
kalau tidak maka apa hasil yang telah
dicapai selama 60 tahun ini? Sungguh mereka telah mencapai suara
mayoritas di MPR seperti di Pakistan, Turki, Yordania,Kuwait, Yaman dan
lainnya. Namun tidak pernah terjadi bahwa mereka mengubah sistem
jahiliyah, melawan para musuh dan bahkan sebaliknya mereka berkhidmat
terhadap musuh dan berkoalisi dengan mereka di kebanyakan negara!!!.
Ini terang sekali laksana terangnya matahari di siang bolong.
Adapun kami, sungguh tidak suka
dikuasai oleh siapapun kecuali orang-orang yang sholih. Jika tidak ada
orang yang sholih dan sulit terwujud yang demikian ini maka kami
bersabar terhadap penguasa yang ada. Kami nasihatkan mereka dengan Al
Quran dan As Sunnah, jika mereka memerintahkan dengan kemaksiatan kami
tidak (membalas) memaki mereka.
Kami ingatkan mereka tentang
balasan-balasan Allōh terhadap umat-umat terdahulu. Tatkala mereka
mempopulerkan kemaksiatan serta memerangi Allah dengan manhaj dan
konsepnya. Kami ingatkan mereka bagaimana Allōh telah merobohkan umat
terdahulu, melenyapkan kekuasaan mereka, dan membuat musuh menguasai
mereka.Kemudian musuh pun merampas apa yang ada dengan tangan mereka
lalu menimpakan kepad mereka bencana yang sangat dahsyat.
Kami bukanlah tipe orang yang
mengandalkan semangat bukan pula orang yang suka membikin keributan yang
suka memunculkan madharat yang lebih besar daripada manfaat. Bukan pula
orang yang suka mengetuk pintu-pintu (mengais rizqi di hadapan)
penguasa.Dan juga bukan termasuk orang yang suka meminta-minta kepada
mereka. Kami tidaklah menganggap sah penyimpangan mereka dari shirathal
mustaqim.
Seperti inilah dahulu manhaj Salaful Umat yang sebenarnya.Kita pada zaman sekarang ini telah mendapatkan banyak ujian….
Ada kaum-kaum yang jika diberi sesuatu
oleh penguasa berupa dunia dan pekerjaan mereka pun ridho. Lalu
mengatakan penguasa tersebut lebih baik daripada yang lainnya (memuji2
mereka). Namun…
Tatkala mereka tidak diberi oleh
penguasa, mereka pun marah, berlindung ke masjid- masjid, naik mimbar
untuk mengkafirkan pemerintah, menyerukan dan memprovokasi untuk
berjihad melawan mereka. Apabila kami mendakwahi mereka agar bermanhaj
Salaf –yang memerintahkan untuk menasihati penguasa dan tidak mengekspos
kezaliman mereka– maka komentar mereka :
“Itulah para kacung penguasa!”
Saya tidak tahu, demi Allōh siapa yang
paling pantas menyandang sifat ini? Apakah orang yang menghindar dari
majelis mereka (para penguasa) ataukah orang yang berdiri di pintu-pintu
mereka pada pagi dan sore hari.”
[Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah
Al Imām, dalam “Tanwir Azh-Dhzulumāt bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat
al-Intikhabāt Penerbit : Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate]
Dikutip dr Grup WA Silsilah Durus 1 via IS3
Review / Koreksi