PELAJARAN PENTING UCAPAN “INSYA ALLAH” DARI KISAH TIGA NABI
Di Tulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
Ucapan Insya Allah arti secara bahasa adalah: “jika Allah menghendaki”.
Seorang muslim mengucapkan ucapan ini
ketika berjanji atau berencana mengerjakan suatu hal di waktu yang akan
datang. Ia mengucapkan InsyaAllah karena ia tidak tahu apakah hal yang
akan dikerjakannya itu akan benar-benar terjadi atau tidak. Karena semua
hal terjadi atau tidak terjadi adalah atas kehendak Allah, berdasarkan
taqdir Allah. Ucapan InsyaAllah juga mengandung doa isti’anah (minta
pertolongan) kepada Allah agar dimudahkan mengerjakan suatu hal itu.
Ada beberapa contoh kejadian yang pernah
dialami oleh para Nabi, ketika mereka tidak mengucapkan InsyaAllah
dalam mengucapkan sesuatu yang akan terjadi atau menjanjikan sesuatu,
Allah tegur mereka. Sebaliknya, saat mereka mengucapkan InsyaAllah,
Allah beri mereka kemudahan dan hasil akhir yang baik.
Dan adapula kejadian saat seorang Nabi mengucapkan InsyaAllah, namun dengan takdir Allah sesuatu itu tidak terjadi.
Dan adapula kejadian saat seorang Nabi mengucapkan InsyaAllah, namun dengan takdir Allah sesuatu itu tidak terjadi.
Contoh pertama: kejadian yang dialami Nabi Sulaiman alaihissalaam.
Nabi Sulaiman pernah bersumpah, bahwa dalam satu malam beliau akan menggilir (untuk berhubungan badan) dengan sekian puluh istrinya (sebagian riwayat menyatakan 100 atau 99, sebagian lagi 90, sebagian lagi menyatakan 70, sebagian lagi menyatakan 60), dan hasilnya semua istri itu akan melahirkan anak-anak tangguh menjadi pasukan yang akan berjihad di jalan Allah. Satu Malaikat mengingatkan agar beliau mengucapkan InsyaAllah. Namun, qoddarallah Nabi Sulaiman tidak mengucapkannya. Hingga akhirnya ketika Nabi Sulaiman melakukan hal itu ternyata yang hamil hanya satu istri dan itupun melahirkan setengah manusia. Hal ini disebutkan dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim.
Nabi Sulaiman pernah bersumpah, bahwa dalam satu malam beliau akan menggilir (untuk berhubungan badan) dengan sekian puluh istrinya (sebagian riwayat menyatakan 100 atau 99, sebagian lagi 90, sebagian lagi menyatakan 70, sebagian lagi menyatakan 60), dan hasilnya semua istri itu akan melahirkan anak-anak tangguh menjadi pasukan yang akan berjihad di jalan Allah. Satu Malaikat mengingatkan agar beliau mengucapkan InsyaAllah. Namun, qoddarallah Nabi Sulaiman tidak mengucapkannya. Hingga akhirnya ketika Nabi Sulaiman melakukan hal itu ternyata yang hamil hanya satu istri dan itupun melahirkan setengah manusia. Hal ini disebutkan dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim.
قَالَ
سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلَام لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ
بِمِائَةِ امْرَأَةٍ تَلِدُ كُلُّ امْرَأَةٍ غُلَامًا يُقَاتِلُ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ لَهُ الْمَلَكُ قُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فَلَمْ
يَقُلْ وَنَسِيَ فَأَطَافَ بِهِنَّ وَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ إِلَّا
امْرَأَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ أَرْجَى
لِحَاجَتِهِ
Sulaiman bin Dawud alaihimassalaam
berkata: Sungguh aku akan berkeliling (menggilir) 100 istriku malam ini,
sehingga tiap wanita akan melahirkan anak yang akan berjihad di jalan
Allah. Kemudian satu Malaikat mengucapkan kepada beliau: Ucapkan Insya
Allah. Tapi Nabi Sulaiman tidak mengucapkan dan lupa. Kemudian beliau
berkeliling pada istri-istrinya, hasil selanjutnya tidak ada yang
melahirkan anak kecuali satu orang wanita yang melahirkan setengah
manusia. Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam bersabda: Kalau Nabi
Sulaiman mengucapkan Insya Allah, niscaya beliau tidak melanggar
sumpahnya, dan lebih diharapkan hajatnya terpenuhi (H.R al-Bukhari dan
Muslim dari Abu Hurairah, lafadz hadits sesuai riwayat al-Bukhari).
Dalam hadits ini terkandung beberapa
faidah penting bahwa ucapan InsyaAllah jika disebutkan dalam sumpah,
kemudian ternyata tidak tercapai, maka orang itu tidak dianggap
melanggar sumpah. Faidah berikutnya, ucapan InsyaAllah adalah memudahkan
agar hajat terpenuhi.
Karena itu Allah berikan bimbingan adab
kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam agar janganlah beliau
mengucapkan: Aku akan melakukan ini besok. Dengan memastikan. Kecuali
jika beliau mengucapkan InsyaAllah.
وَلَا
تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (23) إِلَّا أَنْ
يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ
يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (24)
Dan janganlah sekali-kali engkau
mengucapkan : Sesungguhnya aku akan melakukan hal itu besok. Kecuali
(dengan mengucapkan) InsyaAllah. Dan ingatlah Tuhanmu ketika engkau
lupa. Dan Ucapkanlah: Semoga Tuhanku memberikan petunjuk pada jalan
terdekat menuju hidayah (Q.S al-Kahfi ayat 23-24).
al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah
menyatakan: Ini adalah petunjuk dari Allah kepada Rasul-Nya –semoga
sholawat Allah dan keselamatan dari Allah kepada beliau- kepada adab.
Yaitu jika beliau telah memiliki tekad untuk mengerjakan sesuatu di masa
yang akan datang, hendaknya mengembalikan hal itu kepada Masyi-ah
(Kehendak) Allah Azza Wa Jalla, Yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib.
Yang Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang/akan
terjadi, dan apa yang tidak terjadi, bagaimana kalau terjadi (Tafsir Ibn
Katsir)
Contoh Kedua: kejadian yang terjadi pada Nabi Ismail.
Saat beliau diberitahukan oleh ayahnya
bahwa ayahnya mendapat wahyu melalui mimpi untuk menyembelih beliau,
Nabi Ismail menyatakan:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Wahai ayahku, lakukanlah apa yang
diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan dapati aku InsyaAllah
termasuk orang-orang yang sabar (Q.S as-Shooffaat 102)
Nabi Ismail pasrah kepada Allah dan
menyatakan: InsyaAllah engkau akan dapati aku termasuk orang yang sabar.
Akibatnya, Allah beri hasil akhir yang baik. Beliau tidak jadi menjadi
obyek yang disembelih. Namun diganti dengan kambing.
Contoh Ketiga: kejadian yang terjadi pada Nabi Musa.
Saat bertemu Khidhr, Nabi Musa ingin
mengambil ilmu darinya. Nabi Musa juga berjanji dengan mengucapkan
InsyaAllah bahwa beliau akan berusaha sabar tidak akan bertanya-tanya
tentang apa yang dilakukan Khidhr, namun qoddarollah hal itu tidak
tercapai.
قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا
Nabi Musa berkata : Engkau akan
mendapati aku insyaAllah sebagai orang yang sabar dan tidak akan
bermaksiat terhadap perintahmu (Q.S al-Kahfi ayat 69)
Namun di akhir kisah, ternyata Nabi Musa tidak bisa bersabar hingga 3 kali. Kemudian Khidhr menyatakan:
ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
Demikianlah penjelasan dari hal-hal yang engkau tidak mampu bersikap sabar (Q.S al-Kahfi ayat 82)
Ini menunjukkan bahwa atas takdir Allah
kadangkala meski seorang sudah berupaya dan sebelumnya mengucapkan
InsyaAllah, tidak terjadi yang diharapkannya. Namun, ia harus yakin
bahwa segala yang ditakdirkan Allah adalah baik untuknya.
Dari 3 kisah Nabi di atas, kita bisa
mengambil faidah, bahwa hendaknya jika akan berjanji kita mengucapkan
InsyaAllah dengan harapan Allah akan menolong kita mendapatkan yang
diinginkan. Namun jika ada teman kita yang mengucapkan InsyaAllah dalam
janjinya kemudian tidak terpenuhi, kita berhusnudzdzhon bahwa itu memang
atas takdir Allah dan ia telah berusaha memenuhinya. Dan ucapan
InsyaAllah tidak pantas untuk dijadikan tameng oleh seorang muslim guna
bermalas-malasan atau sudah ada niatan untuk menyelisihinya.
Baarakallaahu fiikum.
Review / Koreksi