Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
MENJALANKAN KEWAJIBAN DAN HAL-HAL YANG DISUNNAHKAN
Menyempurnakan Thoharoh dalam Ketaatan
Untuk menjalankan ibadah sholat,
seseorang harus suci dari hadats kecil dan hadats besar. Hadats kecil
seperti buang angin, kencing, mengeluarkan wadi, madzi, buang air besar, tidur nyenyak. Hadats besar seperti janabah (mengeluarkan
mani) atau haidh dan nifas bagi wanita. Untuk menghilangkan hadats
kecil cukup berwudhu’, namun untuk hadats besar harus mandi wajib.
Berwudhu’
Rukun – rukun wudhu’ adalah perbuatan
dalam wudhu’ yang jika ditinggalkan dengan sengaja atau lupa, maka
wudhu’nya batal. Rukun dalam wudhu’ bisa juga disebut kewajiban dalam
wudhu’. Rukun wudhu’ ada 6 :
- Mencuci wajah, termasuk berkumur (al-madhmadhah) dan memasukkan air ke dalam hidung (al-istinsyaq) serta mengeluarkannya.
…فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ…
“…cucilah wajah kalian…(Q.S al-Maidah: 6)
إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ
“Jika kalian berwudhu’, maka berkumurlah (H.R Abu Dawud)
إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنْ الْمَاءِ ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ
“Jika salah seorang dari kalian berwudhu’, maka hiruplah air ke dalam dua rongga hidung, kemudian keluarkanlah (H.R Muslim)
- Mencuci kedua tangan termasuk siku.
…وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ…
“…dan (cucilah) kedua tangan kalian termasuk siku…”(Q.S al-Maidah:6)
- Mengusap kepala dan telinga 1 kali.
…وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ…
…”dan usaplah kepala kalian…(Q.S al-Maidah:6)
الْأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ
“Kedua telinga adalah termasuk kepala” (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Ibnu Daqiiqil ‘Ied)
Cara mengusap kepala dan telinga adalah
mengusap dari arah depan (ubun-ubun), kemudian memperjalankan tangan di
atas rambut hingga tengkuk, kemudian dikembalikan ke arah semula (depan/
ubun-ubun). Selanjutnya telapak tangan diletakkan pada telinga: jari
telunjuk di dinding dekat lubang telinga, sedangkan ibu jari diletakkan
di atap daun telinga, kemudian ibu jari digerakkan mengusap atap daun
telinga itu dari bawah hingga ke atas.
بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ
Dimulai dari arah depan kepala
kemudian diperjalankan hingga tengkuk, kemudian dikembalikan ke tempat
bermula (H.R alBukhari dan Muslim)
ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ بَاطِنِهِمَا بِالسَّبَّاحَتَيْنِ وَظَاهِرِهِمَا بِإِبْهَامَيْهِ
Kemudian beliau mengusap kepala dan
kedua telinganya. Bagian dalam telinga dengan kedua jari telunjuk
sedangkan bagian luar dengan ibu jari (H.R anNasaai dari Ibnu Abbas,
dishahihkan Syaikh al-Albany)
- Mencuci kedua telapak kaki termasuk mata kaki.
…وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ…
…”dan cucilah kedua kaki kalian termasuk mata kaki…(Q.S al-Maidah:6)
- Berurutan, sebagaimana urutan penyebutan dalam al-Qur’an.
إِنَّهَا
لَا تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ الْوُضُوءَ كَمَا
أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَيَغْسِلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى
الْمِرْفَقَيْنِ وَيَمْسَحَ بِرَأْسِهِ وَرِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Sesungguhnya tidaklah sempurna
sholat salah seorang dari kalian sampai ia menyempurnakan wudhu’nya
sebagaimana Allah perintahkan ia cuci wajah dan kedua tangannya sampai
siku dan mengusap kedua kaki dan (mencuci) kedua kaki sampai siku (H.R
Abu Dawud, anNasaai, Ibnu Majah)
- Al-Muwaalah, yaitu tidak ada jeda yang lama antara satu rukun ke rukun berikutnya.
عَنْ
خَالِدٍ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى
رَجُلًا يُصَلِّ وَفِي ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ
يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلَاةَ
Dari Kholid dari sebagian Sahabat
Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bahwa Nabi shollallaahu ‘alaihi
wasallam pernah melihat seseorang sholat sedangkan pada punggung telapak
kakinya terdapat (sedikit) kilauan putih seukuran dirham yang tidak
terkena air. Maka kemudian Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam
menyuruhnya untuk mengulangi wudhu’ dan sholat (H.R Ahmad dan Abu Dawud)
Sunnah-sunnah dalam wudhu’ adalah
perbuatan dalam wudhu’ yang akan semakin menyempurnakan wudhu’,
menyebabkan pahala bertambah, namun tidak sampai taraf wajib. Kalaupun
ditinggalkan, tidak menyebabkan wudhu’nya batal. Sunnah –sunnah wudhu’
adalah :
- Mengucapkan bismillah di permulaan wudhu’
- Bersiwak (sikat gigi) sebelum atau setelah wudhu’
لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ
“Kalaulah tidak memberatkan umatku,
niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak bersamaan dengan
wudhu’ (H.R Malik, Ahmad, anNasaai).
- Mencuci kedua telapak tangan 3 kali di permulaan wudhu’
- Bersungguh-sungguh ketika memasukkan air ke dalam hidung, kecuali pada saat berpuasa
وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا
“dan bersungguh-sungguhlah ketika
menghirup air ke hidung, kecuali jika engkau berpuasa”(H.R Abu Dawud,
dishahihkan alHakim dan disepakati adz-Dzahaby)
- Menyela-nyela jari ketika mencuci tangan dan kaki serta menyela-nyela jenggot
… وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ…
“dan sela-selailah antara jari jemari…(H.R Abu Dawud)
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ
Dari Utsman bin Affan –radhiyallahu
‘anhu- bahwa Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam menyela-nyela jenggotnya
(ketika berwudhu’)(H.R atTirmidzi)
- Mencuci anggota tubuh yang harus dicuci (wajah, tangan, dan kaki) 3 kali.
Pada dasarnya, semua rukun-rukun wudhu’
wajib dilaksanakan minimal sekali. Jika dilakukan 3 kali, akan semakin
menyempurnakan wudhu’, bertambah pahalanya.
- Mendahulukan anggota tubuh yang kanan.
وَعَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ اَلنَّبِيُّ – صلى
الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ اَلتَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ,
وَتَرَجُّلِهِ, وَطُهُورِهُ, وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
Dari Aisyah –radliyallaahu ‘anha-
beliau berkata : Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam menyukai
mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, bersisir, bersuci, dan
pada setiap urusan (yang baik)(Muttafaqun ‘alaih)
- Hemat dalam penggunaan air
عَنْ
أَنَس بْنِ مَالِكٍ : كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –
يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ, وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ
Dari Anas bin Malik radhiyallaahu
‘anhu beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam berwudhu’
dengan 1 mud dan mandi dengan 1 sha’ sampai 5 mud (Muttafaqun ‘alaih)
Ukuran 1 mud adalah sekitar 0,5 sampai 0,75 liter. Sedangkan 1 sha’ adalah 4 mud.
- Berdoa setelahnya.
مَا
مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ
ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ
الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
Dari Umar –radliyallaahu ‘anhu-
beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Tidaklah seseorang berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya, kemudian
berdoa : “Asy-hadu an laa ilaaha illallaah wa anna muhammadan abdullahi wa rosuuluh
“ kecuali akan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan, dan ia bisa
masuk melalui pintu mana saja yang dikehendakinya (H.R Muslim)
Tata cara berwudhu’ secara sempurna yang diajarkan Nabi adalah seperti hadits Humron maula (bekas budak yang dimerdekakan) Utsman bin Affan:
عَنْ
حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِإِنَاءٍ
فَأَفْرَغَ عَلَى كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ فَغَسَلَهُمَا ثُمَّ أَدْخَلَ
يَمِينَهُ فِي الْإِنَاءِ فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ
ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ
مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ
نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا
نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Dari Humron maula Utsman bahwasanya
beliau pernah melihat Utsman (bin Affan) meminta bejana berisi air
kemudian beliau menuangkan pada telapak tangan beliau tiga kali,
kemudian beliau mencuci kedua telapak tangan tiga kali. Kemudian beliau
memasukkan telapak tangan kanan ke dalam air dan berkumur, (memasukkan
air ke hidung), kemudian mengeluarkan air (dari mulut dan hidung).
Kemudian beliau mencuci wajahnya tiga kali dan mencuci tangan hingga
siku tiga kali. Kemudian beliau mengusap kepala, kemudian mencuci kedua
kaki tiga kali. Kemudian beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi
wasallam bersabda: Barangsiapa yang berwudhu’ seperti wudhu’ku ini
kemudian sholat dua rokaat, di dalamnya tidak memikirkan urusan dunia,
maka akan diampuni dosanya yang telah lalu (H.R alBukhari dan Muslim)
Review / Koreksi