Asy-Syaikh Muhammad bin bin Hady Al-Madkhaly hafizhahullah
Wahai segenap ikhwah, sesungguhnya
saling berjumpa dan saling mengunjungi diantara ikhwah secara umum dan
diantara para penuntut ilmu para pengikut manhaj yang benar memiliki
berbagai faedah yang banyak, ditambah dengan apa yang baru saja kami
sebutkan berupa pahala khusus yang akan dirasakan pada agamanya.
Diantara faedah-faedah ini adalah:
# Keakraban dan ikatan yang kuat.
Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Sesungguhnya seorang mu’min terhadap mu’min yang lainnya seperti bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” [1]
Jadi sering bertemu dengan ikhwah akan
menjadikan dirimu mengenal mereka dan mereka juga mengenal dirimu,
sehingga engkau mengetahui keadaan mereka dan mereka juga mengetahui
keadaanmu. Apa yang engkau butuhkan maka mereka bisa membantumu dan apa
yang mereka butuhkan engkau bisa membantu mereka. Masing-masing bisa
membantu saudaranya, merasakan kebutuhannya, mengetahui keadaan yang
sakit, mengetahui keadaan yang lemah, mengetahui keadaan yang memiliki
kebutuhan, mengetahui siapa yang sedang tertimpa musibah, mengetahui
keadaan orang yang lemah agamanya, mengetahui keadaan orang yang lemah
keistiqamahan akhlaknya, mengetahui keadaan orang yang lemah amalnya,
dan seterusnya. Jadi sebagian ikhwah akan menjadi kuat dengan sebagian
yang lain disebabkan saling mengunjungi ini. Yang kuat akan mendorong
yang lemah, yang di depan akan menunggu yang datang belakangan, dan yang
di belakang bisa jadi dia sendiri akan bangkit semangatnya ketika dia
melihat saudara-saudaranya hampir-hampir meninggalkannya, sehingga dia
terlecut semangatnya. Ini termasuk keistimewaan dari saling berkunjung.
# Diantara keistimewaannya juga adalah saling menyayangi.
Sebagaimana yang telah kita ketahui semua bahwasanya permisalan orang-orang yang beriman:
فِي
تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا
تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.
“Dalam hal saling menyayangi dan saling
mencintai, mereka seperti satu badan, jika salah satu anggota badan
mengeluh karena sakit, maka seluruh badan akan ikut merasakannya dengan
tidak bisa tidur dan mengalami demam.” [2]
Jadi dia akan ikut merasa sedih karena
kesedihan yang menimpa saudaranya, merasa letih karena keletihan yang
menimpa saudaranya, merasa ikut sakit karena sakit yang dirasakan oleh
saudaranya, dan dia akan memiliki perhatian terhadap kebutuhan
saudaranya, sehingga dari sisi ini dia akan berdiri bersama saudaranya
sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala menghilangkan penderitaannya. Tanpa
semua itu tentu seseorang tidak akan mengetahui keadaan
saudara-saudaranya. Jadi menjaga hubungan memiliki buah yang banyak dan
besar, dan ini termasuk yang paling pentingnya.
# Menjaga ukhuwwah (persaudaraan) diantara mereka.
Karena para penuntut ilmu dan para dai
yang mendakwahkan agama Allah Jalla wa Ala mereka di atas manhaj yang
benar. Mereka adalah para penjaga dan para dai. Penjaga harta modal dan
orang-orang yang mengajak untuk memasukkan keuntungan ke dalam modal
tersebut. Jadi mereka adalah penjaga modal yang telah mereka dapatkan
dan mereka adalah anak-anak dakwah ini yang tumbuh dan terdidik dalam
dakwah. Mereka inilah yang esok hari ditunggu dari mereka agar mereka
menjadi para dai dan pengajar. Jadi mereka ini ketika sebagian mereka
saling mengunjungi sebagian mereka kepada sebagian yang lainnya maka
sebagian mereka akan menjaga sebagian yang lain. Permisalan bagi hal
tersebut telah dibuatkan untuk kita oleh pemimpin para makhluk
shallallahu alaihi was sallam dengan hewan yang paling lemah di hadapan
musuhnya yang paling buas dan paling jahat. Yaitu domba yang merupakan
hewan paling lemah di hadapan serigala. [3] sifat
serigala adalah dia tidak akan mendatangi domba yang sedang bersama
kelompoknya, tetapi dia hanya akan mendatangi domba yang tersesat dan
tercecer dari rombongannya, atau yang tertinggal paling belakang yang
hampir-hampir dianggap menyendiri atau keluar dari rombongannya. Ketika
itu serigala akan dengan mudah menerkamnya. Seandainya serigala tersebut
menerkam seekor domba di tengah-tengah gerombolannya yang banyak, bisa
jadi dia akan ditanduk oleh domba-domba yang banyak itu. Hal ini seperti
pepatah yang mengatakan:
الْكَثْرَةُ تَغْلِبُ الشَّجَاعَةَ.
“Jumlah yang banyak bisa mengalahkan keberanian.”
Walaupun domba tersebut lemah, namun
dengan teman-temannya yang banyak dia bisa menjadi kuat. Maka demikian
juga seorang muslim dia akan lemah jika mengandalkan dirinya sendiri,
namun akan kuat dengan bantuan saudara-saudaranya. Dan seorang hamba
tidak akan mengklaim dirinya memiliki kesempurnaan, tidak akan mengklaim
dirinya ma’shum, dan tidak pula dirinya merasa aman dari fitnah. Dia
tidak merasa sempurna karena barangsiapa mengklaimnya maka dia dusta,
tidak pula merasa ma’shum karena barangsiapa mengklaimnya maka dia
kafir, dan juga dia tidak merasa tidak akan terkena fitnah atau tidak
akan didatangi oleh fitnah.
Jadi jika perkaranya demikian, maka dia
membutuhkan saudara-saudaranya, dan kebutuhannya kepada
saudara-saudaranya dalam urusan agamanya lebih penting dibandingkan
kebutuhannya kepada mereka dalam urusan dinar dan dirham. Hal itu karena
saudara-saudaramu merekalah yang akan meluruskanmu, membantumu,
mengokohkanmu, dan juga menyempurnakanmu. Jika mereka melihat kekurangan
pada dirimu, mereka akan mendorongmu untuk meraih kesempurnaan dan
menutupi kekurangan tersebut. Jika mereka melihat kesalahan pada dirimu
maka mereka yang akan menunjukkan mana yang benar dan meluruskannya.
Jika mereka melihat kelemahan pada dirimu maka mereka akan membantumu,
jika mereka melihat kekurangan pada dirimu maka mereka akan menutupimu
dan mengembalikan dirimu kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Mereka
inilah saudara yang sebenarnya. Seorang saudara yang suka memberi
nasehat dialah yang kedudukannya bagi dirimu seperti kedudukan ruh,
sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Khathib (Al-Baghdady) dalam kitab
Al-Mihrawaniyat dan Ibnu Abdi Rabbih dalam kitab Al-Aqd:
هُمُوْمُ أُنَاْسٍ فِيْ فُنُوْنٍ كَثِيْرَة وَهَمِّيْ فِي الدُّنْيَا صَدِيْقٌ مُسَاعِدُ
نَكُوْنُ كرُوْحٍ بَيْنَ شَخْصَيْنِ قُسِّما فَجِسْمَاْهُمَاْ جِسْمَاْنِ وَالرُّوْحُ وَاْحِد
Kesedihan manusia muncul pada banyak perkara
Sedangkan kesedihanku di dunia adalah teman yang membantu
Kami seperti satu ruh yang dibagi untuk dua jasad
Jasad keduanya memang dua tetapi ruhnya hanya satu
Dia inilah saudaramu yang sebenarnya.
Kesedihan manusia pada banyak perkara dunia, tetapi kesedihan orang ini
apa? Saudara, teman, dan yang membantunya. Ruhnya seperti ruhmu, jiwanya
adalah jiwamu, dirinya adalah dirimu, keinginannya adalah keinginanmu,
apa yang dia hadapi adalah apa yang sedang engkau hadapi. Kami seperti
satu ruh yang dibagi untuk dua jasad, jasad keduanya memang dua tetapi
ruhnya hanya satu. Mereka itulah saudara-saudara yang jujur.
Hanya saja persaudaraan yang jujur ini
–ya ikhwati- tidak akan terwujud kecuali dengan saling menjaga ikatan,
tidak akan terwujud kecuali dengan saling memperhatikan, tidak akan
terwujud kecuali dengan selalu menanyakan, tidak akan terwujud kecuali
dengan saling bertemu, dan tidak akan mungkin terwujud kecuali dengan
hal-hal yang telah kita sebutkan berupa mengerahkan upaya nasehat,
mengingatkan, meluruskan, mengarahkan, berusaha menutupi kesalahan pihak
yang salah jika kesalahan tersebut hanya diketahui oleh dia dan
saudaranya itu atau kesalahannya tersebut tidak menyebar, kemudian
berusaha mengembalikannya ke jalan yang benar, demikianlah caranya.
Karena sesungguhnya engkau adalah seorang dai, dan seorang dai
perhatiannya yang terbesar adalah menyayangi manusia dan berusaha
memberikan hidayah bagi mereka.
Oleh karena itulah Allah Jalla wa Ala mensifati Rasul-Nya dengan firman-Nya:
بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.
“Penuh cinta dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 128)
Jadi wajib atas seorang hamba untuk
bersikap cinta dan penyayang kepada saudara-saudaranya, lembut dalam
bergaul dengan mereka dan pemurah. Sifat-sifat ini semuanya tidak akan
mungkin terwujud tanpa ikatan, tanpa jalinan, tanpa perjumpaan, tanpa
saling mengunjungi, dan tanpa saling menjaga. Tidak mungkin terwujud
tanpa ini semua, sehingga semua ini harus dilakukan.
# Termasuk dari buahnya yang terbesar di samping apa yang telah kita sebutkan adalah menutup celah bagi musuh tersembunyi yaitu syetan yang terkutuk dan para pengikutnya dari kalangan manusia yang Allah ceritakan tentang mereka:
شَيَاطِيْنَ
الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِيْ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ
غُرُوْرًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا
يَفْتَرُوْنَ وَلِتَصْغَى إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ
بِالْآَخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوْا مَا هُمْ مُقْتَرِفُوْنَ.
“Yaitu syetan-syetan dari jenis
manusia dan dari jenis jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian
yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.
Seandainya Rabbmu menghendaki niscaya mereka tidak akan mengerjakannya,
maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan itu. Dan juga
agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat
cenderung kepada bisikan itu dan merasa senang kepadanya dan supaya
mereka mengerjakan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am:
112-113)
Jadi di sana terdapat syetan-syetan dari
kalangan manusia yang sekarang ini mereka membidik anak-anak dakwah
Salafiyah yang mereka ini merupakan tentara yang dengan mereka Allah
menjaga sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi was sallam. Anak-anak dakwah
Salafiyah adalah tentaranya, sedangkan para ulama dakwah Salafiyah
adalah para pemimpinnya, dan tentara itu ada di setiap zaman dan tempat.
Musuh-musuh dakwah Salafiyah memahami betul hal itu di setiap tempat,
sehingga wahai segenap ikhwah –dan saya kira perkara ini tidak tersamar
atas banyak dari kalian– mereka pun bersatu di akhir-akhir ini dan
mereka mengadakan berbagai pertemuan dan mereka melebur menjadi satu
wadah. Hal ini tidak aneh atas mereka sejak zaman dulu. Hanya saja di
akhir-akhir ini mereka semua bersatu dengan berbagai latar belakang
kelompok dan bid’ah mereka baik yang besar maupun yang kecil. Mereka
bersatu untuk menghadapi musuh yang satu yaitu para pemikul manhaj
Salaf, para dai yang menyerukan manhaj Salaf, dan para ulama manhaj
Salaf.
Dan sangat disayangkan –saya katakan
dengan penuh kepahitan dan juga dengan tegas– kita dalam keadaan lemah
dan ada sikap meremehkan yang muncul dari kita disebabkan kelemahan kita
dan baik sangka kita terhadap diri kita, sehingga tidak sepantasnya
bagi seorang muslim untuk merasa dirinya aman dari fitnah, karena
Ibrahim alaihis shalatu was salam yang merupakan ayah dari para nabi dan
beliau adalah seorang yang ma’shum,
walaupun demikian beliau masih berdoa:
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ.
“Dan jauhkanlah diriku serta anak-anakku agar jangan sampai kami menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
Jadi beliau memohon kepada Rabbnya agar
menjaga beliau dari menyembah berhala, padahal beliau adalah seorang
nabi yang tentunya ma’shum. Maka bagaimana kiranya dengan orang-orang
yang kedudukannya di bawah beliau?! Bagaimanakah kiranya dengan
orang-orang yang tidak ma’shum.
Ibrahim At-Taimy sebagaimana yang kalian ketahui pernah mengatakan:
فَمَنْ يَأْمَنُ الْبَلَاءَ بَعْدَ إِبْرَاهِيْمَ.
“Siapa yang dirinya merasa aman dari bala’ (fitnah dan kesesatan –pent) setelah Ibrahim.”
Footnote:
[1] HR. Al-Bukhary no. 459 dan Muslim no. 4684.
[2] HR. Al-Bukhary no. 5552 dan Muslim no. 4685.
[3] Shahih Abu Dawud no. 547 dan Shahih An-Nasa’iy no. 847.
[1] HR. Al-Bukhary no. 459 dan Muslim no. 4684.
[2] HR. Al-Bukhary no. 5552 dan Muslim no. 4685.
[3] Shahih Abu Dawud no. 547 dan Shahih An-Nasa’iy no. 847.
Sumber artikel:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=119887
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=119887
Alih bahasa: Abu Almass
Selasa, 5 Sya’ban 1435 H
Selasa, 5 Sya’ban 1435 H
forumsalafy.net
Review / Koreksi