PERKATAAN ‘SAYA MENGIKUTI MANHAJ SALAF’ BUKANLAH KESOMBONGAN DAN BERBANGGA DIRI
Di tulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
Seorang yang mengatakan: “Saya seorang
Salafy” atau “Saya adalah pengikut Manhaj Salaf” bukanlah artinya ia
meninggikan dirinya dan mengklaim dialah yang paling benar dalam
segalanya. Sesungguhnya pernyataan tersebut menunjukkan cita-cita dan
harapannya ingin sebenar-benarnya mengikuti teladan para Salafus Sholih
dengan sebaik-baiknya pada seluruh sendi Dien.
Sebagaimana seorang yang mengatakan:
“Saya muslim”. Apakah orang yang mengatakan demikian telah mengklaim
dirinya adalah orang yang telah menjalankan syariat Islam secara
sempurna? Jelas tidak. Ia mengatakan demikian dengan pengakuan dalam
hati akan kekurangan pada dirinya. Ia bercita-cita ingin menjadi muslim
yang menjalankan syariat Islam dengan baik dan terus memperbaiki
dirinya.
Sehingga, ketika seorang menyatakan:
Saya adalah pengikut Salaf, seakan-akan ia berkata: “Mari bersatu dalam
Islam ini dengan menjadikan Salaf sebagai panutan kita. Jika antum
mengetahui ada ajaran Salaf yang belum saya ketahui, sampaikan pada
saya, karena saya sangat ingin meneladani para Salafus Sholih itu dengan
baik. Namun, kami tegaskan bahwa jangan sekali-kali mengajak kami pada
hal-hal yang sudah jelas bertentangan dengan manhaj Salaf, karena kami
hanya mau mengikuti manhaj Salaf dalam Dien ini. Kamipun mengajak antum
semua untuk mengikuti manhaj Salaf, karena sesungguhnya manhaj Salaf itu
adalah Islam yang murni”.
Seorang pengikut manhaj Salaf yang haq
tidak akan pernah mengklaim bahwa ia dan orang-orang yang sekarang
bersamanya pasti akan masuk Jannah (Surga). Karena tidak ada yang tahu
akhir kehidupan seseorang kecuali Allah. Ia tidak akan pernah tahu
apakah ia akan terus menjadi pengikut manhaj Salaf hingga akhir hayatnya
atau justru berakhir menjadi pengikut hawa nafsu, wal iyaadzu billah.
Ia juga tidak akan pernah tahu apakah
rekan-rekan yang sekarang bersamanya, menuntut ilmu bersamanya, bahkan
gurunya sendiri yang masih hidup akan terus di atas manhaj Salaf hingga
akhir hayatnya. Ia juga tidak akan pernah tahu apakah amal yang ia
lakukan ini diterima oleh Allah, atau justru ia adalah orang yang
munafik, mengaku mengikuti manhaj Salaf secara lahiriah, namun secara
batin membencinya, wal iyaadzu billah. Ia tidak bisa menjamin apakah
amalnya bersih dari riya’ atau tidak. Ia sendiri bahkan tidak bisa
mengklaim bahwa satu saja amal ibadah yang telah ia lakukan sudah
diterima oleh Allah atau tidak.
Ia hanya bisa memastikan secara umum
bahwa siapapun saja yang mengikuti manhaj Salaf dengan baik hingga akhir
hayatnya, pasti masuk Jannah (Surga), sebagaimana dalil-dalil yang
sedemikian banyak menunjukkan demikian. Karena manhaj Salaf pada
hakikatnya adalah Islam yang sebenarnya. Adapun untuk orang perseorangan
atau individu, ia tidak berani menyatakan bahwa fulaan pasti masuk
surga dan fulaan pasti masuk neraka, kecuali orang-orang tertentu yang
telah dipastikan oleh Allah dan RasulNya pasti masuk Surga dan Neraka.
Ia hanya bisa selalu berdoa memohon
hidayah kepada Allah dan dikokohkan di atas manhaj Salaf, dan diberi
akhir kehidupan yang baik. Ia akan berusaha memilih rujukan dalam
bacaan, ataupun mendengarkan kajian-kajian dari orang yang sudah jelas
keilmuannya dalam manhaj Salaf berdasarkan rekomendasi dari orang-orang
yang terpercaya. Ia akan selektif memilih sumber ilmu dalam Dien ini,
sebagai bentuk penjagaan terhadap manhaj yang sangat berharga bagi
dirinya. Seorang pengikut manhaj Salaf akan selalu mengikuti dalil
al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman Ulama Salaf, dengan bimbingan
para Ulama yang nyata-nyata bermanhaj Salaf yang masih hidup sejaman
dengannya.
Ia akan berusaha dan bersemangat
menuntut ilmu yang shahih, berusaha mengamalkan, berusaha mendakwahkan
sesuai kemampuannya, dan bersabar di atas manhaj yang haq ini.
Ia mencintai kebaikan untuk saudaranya
sesama muslim sebagaimana ia suka kebaikan itu terjadi untuk dirinya.
Karena itu ia bersemangat untuk mendakwahkan Ilmu Sunnah yang telah
diketahuinya. Ia juga peringatkan saudaranya kaum muslimin dari bahaya
kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan karena cinta dan sayangnya pada
kaum muslimin.
Kadang dalam mendakwahkan manhaj Salaf
ini ia dicela dan bahkan dikafirkan oleh saudaranya sesama muslim, namun
ia tidak akan membalas mengkafirkan saudaranya itu, selama memang ia
masih muslim.
Dakwah Salaf adalah ajakan kepada
Sunnah, sehingga pada dasarnya pengikut manhaj Salaf adalah Ahlussunnah.
Dakwah Salaf bukanlah ajakan pada pribadi atau kelompok maupun golongan
tertentu secara ashobiyyah (fanatik buta). Telah disampaikan di atas
bahwa penamaan ‘Salaf’ bukanlah penamaan yang mengada-ada, tapi
sesungguhnya berasal dari ucapan Nabi, Sahabat beliau, dan para Ulama
Ahlussunnah setelahnya.
Jika di masa Nabi, cukup seorang
mengatakan: Saya muslim. Karena di masa itu hanya ada kafir dan muslim
secara dhahir. Tidak ada kebid’ahan atau hal-hal baru yang diada-adakan
di masa Nabi. Cukup seorang mengatakan : Saya muslim sebagai pembeda
dengan orang-orang kafir.
Namun, saat mulai muncul kebid’ahan,
maka para Sahabat mulai memberikan pembeda antara ajaran Islam yang
murni dengan ajaran Islam yang sudah mulai terkontaminasi dengan
kebid’ahan. Sebagaimana Ibnu Abbas memisahkan antara Ahlus Sunnah dengan
Ahlul Bid’ah dalam salah satu penafsirannya.
Saat orang-orang mulai banyak yang
senang memahami dalil al-Quran dan dalil Sunnah Nabi dengan pikirannya
sendiri, atau pemikiran para tokoh-tokoh kelompoknya, atau thoriqoh yang
dipilihnya, maka saat itulah perlu pembeda antara pengikut manhaj Salaf
dengan yang bukan. Perlu pembeda antara orang-orang yang memunculkan
hal-hal baru dalam Dien ini dengan orang-orang yang masih istiqomah
tetap mengikuti ajaran Islam yang murni terdahulu.
WA al-I’tishom
Review / Koreksi