Syaikh MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AN-NAJDI BUKANLAH KHAWARIJ (bag.2)
Di Tulis Oleh Al Ustadz Abu Utsman Kharisman
Berbeda dengan Khawarij dalam Masalah ‘Takfir’
Takfir adalah pengkafiran suatu pihak. Salah satu perbedaan utama antara Ahlussunnah dengan Khawarij adalah : Khawarij tidak membedakan antara takfir al-fi’l (kekufuran sebuah perbuatan) dengan takfir al-‘faa-‘il/ takfir al-muayyan (kekafiran orang tertentu).
Takfir adalah pengkafiran suatu pihak. Salah satu perbedaan utama antara Ahlussunnah dengan Khawarij adalah : Khawarij tidak membedakan antara takfir al-fi’l (kekufuran sebuah perbuatan) dengan takfir al-‘faa-‘il/ takfir al-muayyan (kekafiran orang tertentu).
Ahlussunnah membedakan antara keduanya.
Bisa jadi sebuah perbuatan atau ucapan adalah kekufuran, namun kita
tidak bisa memvonis orang yang melakukan perbuatan atau ucapan kekufuran
itu secara otomatis adalah sebagai orang yang kafir sebagai hukum pada
individu tersebut. Harus dilihat parameter lain. Bisa saja seseorang itu
memiliki udzur-udzur syar’i yang menyebabkan ia tidak dikafirkan atau
tidak dikatakan sebagai musyrik, karena ia tidak tahu, atau karena tidak
sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa, atau karena keliru
dalam menta’wil (bukan karena sengaja terang-terangan menentang dalil).
Kalau masih ada udzur-udzur syar’i semacam itu, ia tidak bisa dikatakan
sebagai orang kafir meski mengucapkan ucapan kekafiran atau melakukan
perbuatan kekafiran. Namun, seseorang yang secara jelas mengucapkan atau
melakukan kekufuran berdasarkan dalil al-Quran dan hadits Nabi yang
shahih, tanpa ada udzur-udzur itu: ia sangat tahu bukan tidak tahu,
melakukannya secara sadar, ingat, dan tidak dipaksa, tegas menolak
hujjah bukan menta’wil, maka orang yang demikian adalah kafir.
Takfir muayyan (menyematkan predikat
kekafiran kepada orang tertentu) tidaklah boleh dilakukan kecuali jika
telah terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang sama sekali
(tidak ada udzur).
Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab
mengikuti prinsip Ahlussunnah dalam hal ini. Beliau tidak mengkafirkan
secara keseluruhan tanpa pandang bulu, seperti banyak tuduhan yang
dialamatkan kepada beliau. Beliau tidak sama dengan Khawarij yang
menyelisihi Ahlussunnah dalam prinsip ini.
Berikut ini adalah beberapa kutipan pernyataan dari beliau yang memperjelas hal itu:
إذا
قال قولاً يكون القول به كفراً، فيقال من قال بهذا القول فهو كافر، ولكن
الشخص المعين إذا قال ذلك، لا يحكم بكفره حتى تقوم عليه الحجة
Jika seseorang mengucapkan suatu ucapan
yang itu adalah ucapan kekufuran, dan dikatakan bahwa barangsiapa yang
mengucapkan ucapan itu adalah kafir, akan tetapi bagi orang tertentu
jika mengucapkan hal itu, ia tidak dihukumi sebagai kafir hingga tegak
hujjah baginya (ad-Durar as-Saniyyah (8/244))
وأما القول إنا نكفر بالعموم فذلك من بهتان الأعداء الذين يصدون به عن هذا الدين ونقول سبحانك هذا بهتان عظيم
Sedangkan ucapan yang menyatakan bahwa
kami mengkafirkan secara umum, maka itu adalah tuduhan kedustaan dari
para musuh yang mencegah (manusia) dari Dien ini dan kami katakan: Maha
Suci Engkau (Ya Allah), ini adalah tuduhan dusta yang besar !!
(ar-Rosaail asy-Syakhshiyyah (15/101)).
وإذا
كنا لا نكفر من عبد الصنم الذي على قبر عبد القادر، والصنم الذي على قبر
أحمد البدوي، وأمثالهما، لأجل جهلهم، وعدم من ينبههم، فكيف نكفر من لم يشرك
بالله (فتاوى ومسائل ص 11)
Jika kami tidak mengkafirkan orang yang
menyembah berhala yang berada di atas kuburan Abdul Qodir, dan berhala
yang di atas kuburan Ahmad Badawi, dan semisal keduanya, karena mereka
tidak tahu, dan tidak ada orang yang memberitahu/ memperingatkan kepada
mereka, maka bagaimana (mungkin) kami mengkafirkan orang yang tidak
berbuat syirik kepada Allah ?! (Fataawa wa Masaa-il halaman 11, dan
adhDhiyaa’ asy-Syaariq karya Ibnu Sahmaan 372)
وأما
التكفير فأنا أكفر من عرف دين الرسول ثم بعد ما عرفه سبه ونهى الناس عنه
وعادى من فعله فهذا هو الذي أكفره وأكثر الأمة ولله الحمد ليسوا كذلك.
Adapun dalam hal takfir, saya
mengkafirkan orang yang mengenal agama Rasul, kemudian setelah ia
ketahui ia mencelanya dan melarang manusia darinya, ia memusuhi orang
yang mengerjakan (agama Rasul) itu. Maka inilah yang saya kafirkan. Dan
kebanyakan umat Alhamdulillah tidaklah demikian (arRosaail
asy-Syakhshiyyah hal 39)
إذا
تبين هذا فالمسائل التي شنع بها منها : ما هو من البهتان الظاهر وهي قوله :
إني مبطل كتب المذاهب، وقوله : إني أقول إن الناس من ستمائة سنة ليسوا على
شيء وقوله إني أدعى الاجتهاد، وقوله : إني خارج عن التقليد، وقوله إني
أقول : إن اختلاف العلماء نقمة، وقوله إني أكفر من توسل بالصالحين، وقوله :
إني أكفر البوصيري لقوله يا أكرم الخلق، وقوله إني أقول لو أقدر على هدم
حجرة الرسول لهدمتها ولو أقدر على الكعبة لأخذت ميزابها وجعلت لها ميزاباً
من خشب، وقوله إني أنكر زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم، وقوله إني
أنكر زيارة قبر الوالدين وغيرهم وإني أكفر من يحلف بغير الله فهذه اثنتا
عشرة مسألة جوابي فيها أن أقول : ((سبحانك هذا بهتان عظيم ))
Jika telah nampak jelas hal ini, maka
permasalahan-permasalahan yang (digambarkan) buruk (terhadap saya), di
antaranya yang merupakan tuduhan kedustaan yang jelas adalah ucapan yang
menyatakan: bahwa saya menyatakan bahwa kitab-kitab madzhab adalah
batil, dan ucapan yang menyatakan bahwa manusia sejak 600 tahun tidaklah
berarti apa-apa, dan perkataan bahwa saya mengaku (layak) berijtihad,
dan ucapan bahwa saya keluar dari taqlid, dan ucapan bahwa saya
menyatakan kalau perbedaan pendapat Ulama adalah bencana, dan ucapan
yang menyatakan bahwa saya mengkafirkan orang yang bertawassul dengan
orang-orang sholih, dan ucapan yang menyatakan bahwa saya telah
mengkafirkan al-Bushiriy karena ucapannya: Wahai makhluk yang paling
mulya, dan ucapan yang menyatakan bahwa kalau seandainya saya mampu
menghancurkan kamar Rasul, niscaya saya akan menghancurkannya, dan
ucapan yang menyatakan bahwa kalau saya mampu niscaya saya akan ganti
saluran air Ka’bah dengan kayu, dan ucapan yang menyatakan bahwa saya
mengingkari perbuatan ziarah ke kuburan Nabi shollallahu alaihi
wasallam, dan ucapan yang menyatakan bahwa saya mengingkari ziarah ke
kuburan kedua orangtua dan selain mereka, dan (ucapan yang menyatakan)
bahwa sesungguhnya saya mengkafirkan orang yang bersumpah atas selain
Allah, maka ini 12 permasalahan, yang saya jawab dengan ucapan: Maha
Suci Engkau (Ya Allah), ini adalah tuduhan kedustaan yang besar
(mengisyaratkan pada surat anNuur ayat 16)(ar-Rosaail asy-Syakhshiyyah
(1/33)).
Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab adalah Mengajak untuk Ittiba’ (Mengikuti) Rasul, Bukan Fanatik pada Individu Lain
Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab
rahimahullah mempertegas arah dakwah beliau, yang tidak lain adalah
dakwah Rasul shollallahu alaihi wasallam, dakwah Ahlussunnah wal Jamaah:
ولست
ولله الحمد أدعو إلى مذهب صوفي أو فقيه أو متكلم أو إمام من الأئمة الذين
أعظمهم مثل ابن القيم والذهبي وابن كثير وغيرهم، بل أدعو إلى الله وحده لا
شريك له وأدعو إلى سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم التي أوصى بها أول
أمته وآخرهم وأرجو أني لا أرد الحق إذا أتاني، بل أشهد الله وملائكته وجميع
خلقه إن أتانا منكم كلمة من الحق لأقبلنها على الرأس والعين، ولأضربن
الجدار بكل ما خالفها من أقوال أئمتي حاشا رسول الله صلى الله عليه وسلم
فإنه لا يقول إلا الحق
Saya Alhamdulillah tidaklah mengajak
pada madzhab Sufi, atau (madzhab) seorang faqih, atau Ahli filsafat,
atau salah seorang Imam yang saya mulyakan, seperti Ibnul Qoyyim,
adz-Dzahabiy, Ibnu Katsir, dan selain mereka. Tapi saya berdakwah kepada
Allah semata tidak ada sekutu bagiNya dan saya berdakwah (mengajak)
kepada Sunnah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam yang Nabi telah
mewasiatkan dengannya kepada seluruh umat beliau baik yang pertama
maupun terakhir. Dan saya berharap saya tidak akan menolak al-haq jika
datang kepada saya. Bahkan saya menjadikan Allah, Malaikat, dan seluruh
makhluk saksi bahwa jika datang kepada kami (hujjah) dari kalian berupa
kalimat al-haq sungguh saya akan menerimanya dengan sukarela, dan saya
akan lemparkan ke dinding ucapan para Imam saya yang menyelisihinya,
selain Rasulullah shollallahu alaihi wasallam karena beliau tidaklah
berkata kecuali al-haq (kebenaran)(Muallafaat Ibn Abdil Wahab (1/252)).
إني
ولله الحمد متبع ولست بمبتدع عقيدتي وديني الذي أدين به : مذهب أهل السنة
والجماعة الذي عليه أئمة المسلمين مثل الأئمة الأربعة وأتباعهم إلى يوم
القيامة
Sesungguhnya aku Alhamdulillah adalah
orang yang ittiba’ (mengikuti Nabi) bukan yang membuat kebid’ahan.
Akidah dan Dienku yang dengannya aku berpegangteguh (dan mengamalkan)
adalah madzhab Ahlussunnah wal Jamaah yang dijalani oleh para Imam kaum
muslimin seperti Imam 4 (madzhab fiqh,pent) dan pengikut mereka hingga
hari kiamat (arRosaail asy-Syakhshiyyah hal 149)
Bukti yang sangat jelas bahwa para Ulama
Ahlussunnah sepeninggal beliau (yang disebut sebagai ‘Wahabi’ oleh
pihak yang memusuhinya) tidak taklid buta kepada beliau adalah: jika
para Ulama itu mensyarah (memberi penjelasan) terhadap kandungan
Kitab-Kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, kemudian didapati
adanya hadits yang lemah yang beliau sebutkan, maka akan dijelaskan
bahwa hadits itu lemah menurut pendapat Ulama lain yang lebih diyakini
kebenarannya, karena hujjahnya lebih kuat. Tidak karena yang menulis
adalah seorang Imam, kemudian dia diyakini tidak akan pernah salah.
Tidak demikian. Para Ulama Ahlussunnah konsisten dalam meluruskan dakwah
itu ittiba’ kepada Rasul, bahwa Rasul satu-satunyalah yang mutlak
diikuti, sedangkan yang lain bisa diambil jika sesuai Rasul, dan ditolak
jika bertentangan dengan bimbingan Rasul.
Penutup
Nampak jelas dari paparan di atas bahwa
dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab bukanlah dakwah Khawarij. Bahkan
dakwah beliau adalah dakwah Ahlussunnah. Jika pembaca mengkaji dengan
seksama karya-karya beliau dengan bimbingan Ulama Ahlussunnah
sepeninggal beliau, maka akan semakin jelas dan terang kebenaran hal
itu. Begitu banyak karya beliau yang sarat dengan manfaat bagi kaum
muslimin, seperti Kitabut Tauhid, Tsalaatsatul Ushuul, Ushulus Sittah,
Tafsir Surat al-Fatihah, al-Ikhlash, dan al-Muawwidzatain, juga
pembahasan-pembahasan fiqh seperti Aadabul masyiyyi ilas sholaah,
Kitaabuz Zakaah, Kitaabus Shiyaam, atau pembahasan tentang dosa-dosa
besar seperti kitab beliau al-Kabaair.
Namun, jika seseorang mengkajinya
sendiri tidak dengan bimbingan Ulama Ahlussunnah, atau dia mengkaji dari
pihak yang memusuhi dakwah Tauhid, dengan menukil sepotong-sepotong
kalimat Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab, apalagi diterjemahkan secara
salah, dengan niat ingin memperburuk gambaran beliau di hadapan umat,
atau menafsirkan ucapan beliau tidak pada tempatnya, maka bukanlah
faidah ilmiyyah yang akan didapatkannya. Semoga Allah memberikan hidayah
kepadanya.
Kebanyakan tuduhan bahwa beliau suka
mengkafirkan dan berpemahaman Khawarij terjadi karena nukilan ucapan
beliau tentang takfir al-‘amal dipahami dan ditafsirkan sebagai takfir
muayyan. Hal ini sama dengan jika seseorang menukil pendapat al-Imam
Ahmad yang menyatakan:
مَنْ قَالَ : الْقُرْآنُ مَخْلُوْقٌ فَهُوَ كَافِرٌ
Barangsiapa yang berkata bahwa al-Quran adalah makhluk, maka dia kafir (diriwayatkan al-Aajurriy dalam asy-Syarii’ah no 171)).
Itu adalah takfir al-fi’il/ al-‘amal.
Sebagai suatu kaidah bahwa barangsiapa yang mengucapkan al-Quran adalah
makhluk maka ia telah mengucapkan ucapan kekafiran.
Ucapan tersebut adalah ucapan kekafiran. Lalu, apakah predikat kafir otomatis disematkan kepada setiap orang yang mengucapkannya? Tidak selalu. Harus dilihat apakah orang itu memiliki udzur atau tidak. Dan pembedaan ini diterapkan oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal.
Ucapan tersebut adalah ucapan kekafiran. Lalu, apakah predikat kafir otomatis disematkan kepada setiap orang yang mengucapkannya? Tidak selalu. Harus dilihat apakah orang itu memiliki udzur atau tidak. Dan pembedaan ini diterapkan oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal.
Imam Ahmad tidak mengkafirkan Khalifah
al-Makmun yang secara tegas menyuruh untuk menanamkan akidah bahwa
alQuran adalah makhluk dan menyiksa para Ulama’ lain yang menolak hal
itu. Jelas hal itu adalah akidah kekafiran, namun tiga Khalifah yaitu
al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq tidak dikafirkan oleh para Ulama’
pada waktu itu karena mereka memiliki syubhat dan pentakwilan yang
menyimpang karena berteman dekat dengan tokoh-tokoh Mu’tazilah. Mereka
adalah orang-orang yang sekedar ikut-ikutan, belum sepenuhnya memahami
hakikat permasalahan (Lihat penjelasan Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu
Syaikh dalam Ithaafus Saa-il bimaa fit thohaawiyyah minal masaa-il
(26/13)).
Maka jika didapati ucapan-ucapan
pengkafiran dalam karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab,
ketahuilah bahwa itu adalah takfir al-‘amal, sebagai suatu kaidah bahwa
yang melakukannya atau mengerjakannya berarti ia telah melakukan atau
mengucapkan kekufuran atau kesyirikan, bukan berarti individunya divonis
kafir/ musyrik tanpa melihat syarat dan udzur mereka. Jika seseorang
membaca karya beliau dan mengambil kesimpulan bahwa beliau berpemahaman
takfiri (suka mengkafirkan orang Islam), maka ia telah salah fatal dalam
mengambil kesimpulan.
Demikian penjelasan ini, semoga Allah
Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq, dan
pertolonganNya kepada segenap kaum muslimin…
Review / Koreksi