TRANSKRIP TERJEMAHAN TAUSHIYAH SYAIKH KHOLID ADZ-DZHAFIRIY KEPADA IKHWAH SALAFY SINGAPURA (RAMADHAN 1437 H) (bag1)
Penerjemah: Al Ustadz Abu Utsman Kharisman.
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam semesta. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad bin Abdillah, dan kepada keluarga, maupun para Sahabatnya seluruhnya.
Amma Ba’du.
Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam semesta. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad bin Abdillah, dan kepada keluarga, maupun para Sahabatnya seluruhnya.
Amma Ba’du.
Hayyaakumullah (semoga Allah
menghidupkan antum sekalian dalam kebaikan). Saudaraku di Singapura, aku
meminta kepada Allah agar Dia mengumpulkan kita dalam kebaikan di
dunia, dan di Jannah (Surga) yang penuh dengan kenikmatan di akhirat.
Sebagai bentuk anugerah dan pemulyaan yang diberikan olehNya (Allah)
Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.
Sebagaimana kalian ketahui, kita telah
memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Padanya terdapat kebaikan-kebaikan,
pahala yang banyak, keutamaan-keutamaan yang telah masyhur, dan
kekhususan – kekhususan yang agung.
Di antara kekhususan hari-hari terakhir
ini, Nabi shollallahu alaihi wasallam lebih bersemangat untuk beribadah
dibandingkan di selainnya. Sebagaimana dalam hadits Aisyah radhiyallahu
anha:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam
bersemangat untuk ibadah di sepuluh hari terakhir (Ramadhan) lebih
banyak tidak seperti di (waktu-waktu) yang lain (H.R al-Bukhari dan
Muslim)
Aisyah radhiyallahu anha juga menyatakan:
كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ
شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Nabi shollallahu alaihi wasallam jika memasuki sepuluh (hari terakhir
Ramadhan), beliau mengencangkan ikat sarung, menghidupkan malam, dan
membangunkan keluarganya (Muttafaqun alaih : riwayat al-Bukhari dan
Muslim)
Hadits-hadits ini menunjukkan akan
demikian besarnya keutamaan sepuluh hari terakhir ini. Nabi shollallahu
alaihi wasallam lebih bersemangat dibandingkan di waktu-waktu lain.
Semangat ini mencakup semua bentuk ibadah. Bukan khusus pada qiyaamul
lail. Itu adalah semangat dalam sholat, baik yang nafilah (sunnah)
ataupun yang wajib. Bersemangat terhadap al-Quran dalam membaca dan
berusaha memahami maknanya. Bersemangat dalam berdzikir (mengingat)
Allah Azza Wa Jalla. Bersemangat dalam shodaqoh, dan berbagai macam
ibadah lain.
Nabi shollallahu alaihi wasallam
menghidupkan malam-malam ini dengan qiro’ah (al-Quran), dzikir, qiyaamul
lail. Mengingat Allah Azza Wa Jalla dengan lisan dan anggota tubuhnya.
Hal itu karena kemuliaan malam-malam ini yang diberkahi. Di antara
kemuliaannya adalah di dalamnya terdapat Lailatul Qodr. Barangsiapa yang
melakukan qiyaamul lail di Lailatul Qodr dengan iman dan berharap
pahala, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Maka semestinya kita, wahai
saudara-saudaraku fillah, benar-benar bersemangat dalam mengisi hari
yang tersisa pada Ramadhan. Telah berlalu sepertiga Ramadhan. Demikian
juga sepertiga yang kedua. Tidaklah tersisa bagi kita kecuali sepertiga
yang terakhir. Bisa jadi 10 hari atau 9 hari. Hendaknya kita benar-benar
memanfaatkan malam-malam penuh keberkahan ini dengan ibadah.
Ini adalah kesempatan dalam usia kita.
Itu adalah ghanimah (bagaikan harta rampasan perang, pent) bagi orang
yang diberi taufiq oleh Allah Azza Wa Jalla. Tidak semestinya bagi orang
beriman yang berakal untuk melewatkan kesempatan berharga ini bagi
dirinya dan keluarganya. Tidaklah itu kecuali malam-malam yang terbatas
(sedikit jumlahnya). Bisa jadi dengan rahmat Allah, (malam-malam yang
sedikit itu) menjadi sebab kebahagiaan baginya di dunia dan akhirat.
Sesungguhnya termasuk kerugian besar dan
banyak ketika kebanyakan muslimin melewatkan waktu-waktu yang berharga
ini dengan hal-hal yang tidak berguna. Mengisi waktunya dengan hal-hal
yang batil dan main-main. Syaithan menguasai dan menyesatkannya dari
jalan Allah.
Termasuk di antara kekhususan hari-hari
ini adalah disyariatkannya I’tikaf di masjid-masjid, dengan
berkonsentrasi menjalankan ketaatan kepada Allah di masjid. Nabi
shollallahu alaihi wasallam beri’tikaf. Para Sahabat juga beri’tikaf
bersama beliau dan juga sepeninggal beliau. Nabi pernah beri’tikaf di 10
awal Ramadhan. Beliau pernah beri’tikaf juga di 10 hari pertengahan
Ramadhan. Kemudian Nabi bersabda:
إِنِّي
اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ
اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِي إِنَّهَا فِي
الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ
Sesungguhnya aku pernah beri’tikaf di
sepuluh (malam) pertama (Ramadhan) mencari malam-malam ini (Lailatul
Qodr). Kemudian aku beri’tikaf di sepuluh (malam) yang pertengahan.
Kemudian didatangkan kepadaku dan dikatakan: sesungguhnya (Lailatul
Qodr) terdapat pada sepuluh (malam) yang terakhir (H.R Muslim dari Abu
Said al-Khudriy)
Hendaknya anda sekalian beri’tikaf… beri’tikaf.
Aisyah radhiyallahu anha menyatakan:
Aisyah radhiyallahu anha menyatakan:
أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ
الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ
أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Bahwasanya Nabi shollallahu alaihi
wasallam beri’tikaf di 10 (malam) terakhir Ramadhan hingga Allah
mewafatkan beliau. Kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal
beliau (H.R al-Bukhari dan Muslim)
I’tikaf, sebagaimana dikatakan oleh
al-Imam Ahmad: “tidak diketahui adanya perbedaan pendapat dari para
Ulama bahwasanya i’tikaf itu disunnahkan”
Di antara kekhususan malam-malam 10 hari
terakhir ini adalah adanya Lailatul Qodr, yang tidak Allah berikan
kepada umat lain. Namun Allah anugerahkan kepada umat ini dengan
berlimpahnya kebaikan dari-Nya.
Allah berfirman dalam Kitab-Nya:
Allah berfirman dalam Kitab-Nya:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Quran) pada Lailatul Qodr (Q.S al-Qodr ayat 1)
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)
Sesungguhnya Kami turunkan dia
(al-Quran) pada malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kami memberikan
peringatan. Pada malam itu ditetapkan (takdir) segala perkara yang penuh
hikmah (Q.S ad-Dukhkhon ayat 3-4)
Tentang Lailatul Qodr, Allah turunkan satu surat secara utuh.
Allah Yang Maha Suci berfirman:
Allah Yang Maha Suci berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2)
Sesungguhnya Kami menurunkannya
(al-Quran) pada Lailatul Qodr (malam kemuliaan). Tahukah kalian, apakah
Lailatul Qodr tersebut?! (Q.S al-Qodr ayat 1-2)
(Firman Allah : Tahukah kalian, apakah Lailatul Qodr tersebut?) pertanyaan ini adalah bentuk pengagungan terhadap malam tersebut.
(Firman Allah : Tahukah kalian, apakah Lailatul Qodr tersebut?) pertanyaan ini adalah bentuk pengagungan terhadap malam tersebut.
Dinamakan dengan Lailatul Qodr karena
kemuliaan dan keagungannya. Dinamakan demikian juga karena ditetapkan
takdir. Karena pada malam itu Allah menetapkan takdir yang akan berlaku
selama setahun, berdasarkan Hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Kemudian
Allah berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Lailatul Qodr (malam kemuliaan) lebih baik dari seribu bulan (Q.S al-Qodr ayat 3)
(Lebih baik dari seribu bulan itu) dalam hal keutamaan, kemuliaan, dan banyaknya pahala. Barangsiapa yang melakukan qiyaamul lail pada waktu itu dengan iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
(Lebih baik dari seribu bulan itu) dalam hal keutamaan, kemuliaan, dan banyaknya pahala. Barangsiapa yang melakukan qiyaamul lail pada waktu itu dengan iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Malaikat dan ar-Ruuh turun di waktu itu.
Malaikat adalah hamba-hamba Allah yang tidak pernah sombong (enggan)
dalam beribadah kepada Allah, (terus menerus beribadah) tidak pernah
capek. Malaikat turun pada Lailatul Qodr ke bumi dengan membawa
kebaikan, keberkahan, dan rahmat. Ar-Ruuh (yang disebutkan dalam ayat
itu) adalah Jibril. Ia disebut (tersendiri) karena kemuliaan dan
keutamaannya.
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Keselamatan pada (malam itu) hingga terbitnya fajar (Q.S al-Qodr ayat 5)
(disebutkan) keselamatan pada waktu itu karena Lailatul Qodr adalah malam keselamatan bagi kaum mukminin dari segala hal yang dibenci. (Juga) karena banyaknya orang yang dibebaskan dari Neraka dan selamat dari adzabnya hingga terbitnya fajar. Hal itu menunjukkan bahwa Lailatul Qodr berakhir dengan terbitnya fajar sehingga berakhirlah (masa beraktifitas di) malam itu.
(disebutkan) keselamatan pada waktu itu karena Lailatul Qodr adalah malam keselamatan bagi kaum mukminin dari segala hal yang dibenci. (Juga) karena banyaknya orang yang dibebaskan dari Neraka dan selamat dari adzabnya hingga terbitnya fajar. Hal itu menunjukkan bahwa Lailatul Qodr berakhir dengan terbitnya fajar sehingga berakhirlah (masa beraktifitas di) malam itu.
<< file audio taushiyah tersebut bisa diunduh di: https://drive.google.com/file/d/0B8vJBR38HOyQT0RwMndWWU5KNms/view?pref=2&pli=1 >>
Review / Koreksi