Oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits
Tiga tahun lamanya Rasulullah berdakwah
memperkenalkan Islam dari orang perorang dengan sembunyi-sembunyi.
Sedikit demi sedikit mulai banyak yang menerimanya. Mereka yang
mula-mula masuk Islam ini dikenal dalam sejarah Islam dengan As Sabiqunal Awwalun (yang lebih dahulu dan pertama-tama masuk Islam), dan terdiri dari berbagai golongan masyarakat, seperti:
Abu Bakr Ash Shiddiq, salah seorang bangsawan Quraisy yang menjadi sahabat Rasulullah.
Bilal bin Rabah, budak dari Habsyi (Ethiopia) yang kemudian dibeli dan dimerdekakan oleh Abu Bakr.
Khadijah bintu Khuwailid, isteri Rasulullah sendiri.
Zaid bin Haritsah, bekas budak Khadijah yang dihadiahkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
‘Ali bin Abi Thalib, putera paman beliau Abu Thalib.
Disebutkan oleh para ahli sejarah,
jumlah mereka hampir lima puluh orang. Sementara itu orang-orang Quraisy
belum begitu perduli dengan keadaan ini.
Kemudian turunlah wahyu Allah:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
“Maka sampaikanlah olehmu secara
terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu, dan berpalinglah
dari orang-orang yang musyrik.” (Al Hijr: 94).
Dengan ayat ini beliau mulai menjalankan
dakwah ini dengan terang-terangan. Disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin
Abdil Wahhab bahwa ketika Rasulullah mulai menyampaikan dakwah
terang-terangan ini, orang-orang musyrikin Quraisy belum mengambil
sikap menjauhi dan menentang dakwah beliau, sampai beliau mulai
menyebut-nyebut sesembahan mereka dan mencelanya. Dan ketika mereka
melihat hal ini, merekapun bersatu menunjukkan permusuhan terhadap
beliau dan dakwah beliau. (Mukhtashar Sirah Ar Rasul, hal 117).
Ibnu ‘Abbas mengisahkan: Ketika Allah turunkan ayat: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat! (Asy Syu’ara’: 214), Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam
mendaki bukit Shafa kemudian berteriak lantang membangunkan penduduk
Makkah, sehingga mereka berkumpul di sekitar beliau. Ada yang datang
sendiri dan ada yang mengutus wakilnya. Rasulullahpun berkata,”Wahai
Bani Abdil Muththalib, Wahai Bani Fihr, bagaimana pendapat kalian kalau
saya beritakan bahwa ada sepasukan berkuda di balik bukit ini siap untuk
menyerang kalian. Apakah kalian akan mempercayaiku?”
Mereka menjawab,”Ya.”
Kata beliau lagi,”Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan buat kalian sebelum datangnya adzab yang sangat pedih.”
Tiba-tiba Abu Lahab menukas,”Celakalah kau selama-lamanya. Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?”
Allah pun segera menurunkan:
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
“Celakalah kedua tangan Abu Lahab!” (Al Lahab: 1).
Diceritakan pula oleh Abu Hurairah dalam Shahih Muslim ketika turun ayat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam
berdakwah menyeru mereka secara keseluruhan kemudian beliau sebut
mereka satu persatu. Kata Rasulullah,”Wahai masyarakat Quraisy.
Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Ka’ab, selamatkan
jiwa kalian dari api neraka. Wahai Bani Hasyim, selamatkan diri kalian
dari api neraka. Wahai Bani Abdil Muththalib selamatkan diri kalian dari
api neraka. Wahai Fathimah bintu Muhammad, selamatkan dirimu dari api
neraka. Karena sesungguhnya aku, demi Allah, tidak bekuasa sedikitpun
membela kalian dari (adzab) Allah kecuali sekedar kalian itu ada
kekerabatan (denganku). Dan saya akan berusaha menyambungnya.”
Sedikit demi sedikit mulailah Islam
tersebar di kota Makkah. Dan mereka yang masuk Islam terpaksa harus
sembunyi-sembunyi. Karena tekanan kaum Quraisy mulai meningkat.
Abu Bakr yang juga sahabat beliau ikut
berjuang menyebarkan Islam dengan sembunyi-sembunyi. Beliau adalah
seorang pedagang sukses dan terpandang di tengah masyarakat Quraisy.
Mulailah ia berdakwah kepada teman-teman duduknya yang biasa
mendatanginya. Dengan izin Allah masuk Islam di tangan beliau Utsman bin
‘Affan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin ‘Awwam, ‘Abdurrahman bin
‘Auf, dan Thalhah bin ‘Ubaidillah.
Wahyu diturunkan ketika itu sedikit demi
sedikit berupa ayat-ayat pendek dengan bahasa yang begitu indah
berbicara tentang jannah dan neraka.
[Bersambung]
Review / Koreksi