Telah kita fahami betapa
pentingnya keikhlasan dalam berdakwah mengajak manusia kembali kepada
Allah Subhanahuwata’ala. Hendaklah dipahami pula dakwah dengan ikhlas
akan menuntun dari seorang da’i untuk menjadi da’i yang berjalan di atas
bashirah dan cahaya Al Qur’an dan As Sunnah. Dimana keikhlasan itu akan
menumbuhkan buahnya. Sebab, melalui ilmu ini seorang da’i akan mengerti
jalan yang benar.
Maka jika seorang da’i tidak mempunyai
ilmu sedikitpun, lantas apa yang diajarkan dan di dakwahkannya kepada
manusia? Dan dari sumber mana dia akan mengambil sesuatu untuk
dakwahnya?tidak ada kekeliruan mereka tergelincir di jalan dakwah ini,
melainkan karena kebodohannya dan jauhnya dia dari cahaya ilahi yang
Allah Subhanahuwata’ala namakan ruh.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ
“ Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintahNya kepada siapa yang dikehendakiNya ( Ghafir : 15 )
Dan
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا
“ Dan demikian Kami wahyukan kepadamu wahyu ( Al Quran) dengan perintah kami ( Asy Syuara : 52)
Allah Subhanhuwata’ala jadikan sumber
kehidupan bagi hati manusia, rohani dan masyarakat seluruhnya ada ilmu
yang diwarisi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Itulah sesungguhnya sumber kekuatan dan cahaya hati, dalil ( penunjuk)
dan penuntun keridhaan Rabbnya sebagaimana firman Allah Ta’ala ;
وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“ Tetapi kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki
dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba – hamba kami. Dan
sesungguhnya Kami benar – benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus
“ ( Asy Syuara : 52 )
Allah Subhanahuwata’ala menegaskan bahwa kitab-Nya yang Dia wahyukan kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam
membawa ruh yang menjadi sumber kehidupan bagi hati manusia dan cahaya
yang membimbing menuju jalan yang lurus. Firman Allah Ta’ala berikut ini
;
أَوَمَن
كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي
النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ
“ Dan apakah yang sudah mati
kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang
terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah – tengah
masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaanya berada dalam
gelap gulita yang sekali – kali tidak dapat keluar daripadanya? “ ( Al
An’am 122 )
Imam Ibnul Qayim ketika menjelaskan pengertian dalam ayat ini yang menghimpun antara kehidupan dan cahaya mengatakan ;
“ Di Sini Allah Subhanahuwata’ala
gabungkan dua hal pokok ini, yaitu kehidupan dan cahaya, di mana dengan
kehidupan itu memperkuatkan pendengaran, penglihatan, rasa malu, iffah (
menjaga kehormatan diri ), keberanian, kesabaran, seluruh akhlak yang
mulia, dan cinta kepada yang baik atau benci kepada yang buruk.
Sehingga, semakin kuat kehidupannya, semakin kuat pula sifat – sifat
tersebut. Sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu : “
Binasalah orang yang tidak mempunyai hati yang dengan hati itu dia
menyatakan yang ma’ruf adalah ma’ruf dan mengingkari kemungkaran.”
Berikut ini adalah hal – hal yang
menjelaskan kepada kita tingginya kedudukan ilmu terutama bagi seorang
da’i yang mengajak manusia kembali ke jalan Allah :
1. Bahwasanya Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan NabiNya pertama sekali adalah dengan firman Allah Ta’ala :
1. Bahwasanya Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan NabiNya pertama sekali adalah dengan firman Allah Ta’ala :
عَنْ
أَبِي يَعْلَى شَدَّاد ابْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللهَ كَتَبَ
اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا
الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ
أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ.[رواه مسلم]
“ Bacalah dengan ( menyebut ) nama Rabbmu yang menciptakan “ ( AL ‘Alaq :1)
Demikianlah, Allah telah pula
menganugrahkan kepada seluruh makhlukNya dengan mengutus seorang Rasul
ke tengah – tengah mereka sebagai pendidik dan pembimbing, dengan
FirmanNya :
وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“ Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul
di antara mereka, yang membacakan ayat – ayatNya kepada mereka
mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka, mensucikan mereka dan
mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah ( As Sunnah )dan sesungguhnya
mereka benar – benar dalam kesesatan yang nyata” ( Al Jum’ah : 2 )
2. Allah Subhanahuwata’ala bahwa orang
yang jahil ( bodoh ) terhadap Al Qur’an dan As Sunnah sama kedudukan
dengan orang yang buta huruf yang tidak dapat melihat sama sekali.
Firman Allah Ta’ala :
أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ
“ Adakah orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan
kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? ( Ar Rad 19 )
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah
rahimahumullah telah menyingkapkan hal yang menyebabkan ketergelinciran
yang muncul dari kebodohan ditambah lagi karena jauhnya dia dari jalan
yang ditempuh oleh ahli ilmu dan ahli atsar ( hadist ) dengan mengatakan
;
“ Di antara mereka ada yang zhalim
lagi jahil, sama sekali perkataan tidak mengikuti ulama yang paling
rendah kedudukanya sekalipun. Bahkan dia berbicara sebagaimana halnya
orang awam yang sesat dan tukang – tukang cerita yang jahil. Dan sama
sekali tidak ada setitik pun dari pernyataan mereka itu mengambarkan
kebenaran apalagi jawaban terhadap suatu permasalahan, seperti layaknya
ahli ilmu, ulul albab”.
3. Bahwasannya Allah Subhanahuwata’ala
memerintahkan kaum mukminin untuk rujuk kepada ahli ilmu dalam upaya
mengenal Al Haq dan mengamalkannya. Dimana Allah Ta’ala berfirman :
وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ
“ Dan kalau mereka menyerahkan
kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang – orang yang
ingin mengetahui kebenaran ( akan dapat ) mengetahuinya dari mereka (
Rasul dan Ulil Amri ) “ ( An Nissa : 83 )
Dipertegaskan lagi dalam firmanNya
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“ maka tanyakanlah olehmu kepada orang – orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui “ ( Al Anbiya 7, An Nahl 43 )
Dalam menjelaskan ayat ini Al Alamah As Sa’di rahimahumullah mengatakan ;
“ Keumuman ayat ini mengandung
pujian tehadap ahli ilmu dan ilm yang paling tinggi adalah ilmu yang
tentang Kitab Allah ( Al Quran) yang diturunkanNya kepada RasulNya. Dan
Allah telah memerintahkan kepada siap saja yang tidak mempunyai ilmu
untuk rujuk kepada ahli ilmu dalam segenap persoalan. Disamping itu,
ayat ini memaparkan pula adanya ta’dil ( penilian adil ) bagi ahli ilmu,
tazkiyah ( penilian suci ) terhadap mereka dengan adanya perintah
bertanya kepada mereka”
Dari kedua ayat tersebut jelaslah bahwa
betapa besar bahaya kebodohan terhadap seorang muslim. Terutama yang
terjun di medan dakwah ini. Tegaknya kebodohan berarti kerusakan bagi
ummat ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadist Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu :
“ Sesungguhnya Allah tidak mencabut
ilmu ini sekaligus dari hamba – hambaNya. Akan tetapi Dia mencabut
dengan mematikan para ulama. Sehingga ketika Dia tidak menyisakan
seorang yang alim ( berilmu) manusia menjadikan orang – orang jahil (
bodoh ) sebagai pemimpin, lalu mereka di tanya dan kemudian berfatwa
tanpa ilmu. Mereka sendiri sesat dan menyesatkan orang lain” ( HR.
Bukhari Kitabul Ilm I/262 no 100 )”
Imam Ibnu Taimiyah rahimahumullah. ketika menerangkan hadist ini mengatakan :
‘” Demikian pula mereka ingin menjadikan
manusia orang yang bodoh ( jahil )sebagai pendidik dan multi bagi
manusia. Kejadian seperti ini tentunya akan mengakibatkan kerusakan di
alam ini.”
( Dikutip dari buku Manhaj Dakwah Salafiya, Pustaka Al HAURA)
Review / Koreksi