Allah berfirman:
ÙˆَØ¥ِÙ† تُØ·ِيعُوهُ تَÙ‡ْتَدُوا ۚ
“Dan jika ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (An Nur 54)
Dalam ayat ini sangat jelas bahwa
hidayah itu berkaitan langsung dengan ittiba’ kepada Rasul-Nya.
Sedangkan ghiwayah (kesesatan) berkaitan langsung dengan penyimpangan
dari Sunnah Rasul-Nya.
Hal ini ditunjukkan pula sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim dari Jabir ‘Abdillah, berkata:
“Rasulullah jika berkhutbah, matanya
memerah, suara meninggi, marahnya meningkat hingga seakan-akan dia
(sedang) mengomando satu pasukan tentara. Beliau berkata: “perhatikan
pagi dan petang kalian!” Beliau berkata pula: “Kemudian sesudah itu.
Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al Quran),
sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Dan seburuk-buruk perkara
ialah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim
Kitab Al Jum’ah 6/219 no 767)
Rasulullah juga bersabda:
“Aku wasiatkan kalian bertakwa kepada
Allah, mendengar dan taat, meskipun kepada budak Habsyi. Sesungguhnya,
siapa yang hidup dari kalian sepeninggalku, niscaya dia akan melihat
perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang
dengan sunnahku dan sunah para khulafaur rasyidin yang terbimbing.
Peganglah dan gigitlah dia dengan geraham kalian. Dan jauhilah oleh
kalian perkara-perkara yang diada-adakan. Karena sesungguhnya setiap
yang diada-adakan adalah bid’ah dan sesungguhnya setiap bid’ah itu
sesat.” (HR. Abu Daud Kitab As Sunnah 5/12 no 4607, At Tirmidzi Kitabul
‘Ilm 10/ 104 no 2676)
Beliau juga bersabda:
“Biarkanlah aku dengan apa yang aku
tinggalkan buat kalian. Karena sesungguhnya kebinasaan ummat sebelum
kalian adalah karena banyak bertanya dan berselisih dengan Nabi mereka.
Maka jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakanlah semampu
kalian. Dan jika aku melarang kalian dari sesuatu maka tinggalkanlah.”
(HR. Muslim Kitabul Hajj 9/143 no 1337)
Dari sejumlah hadits ini jelaslah bagi
kita keagungan sunnah, wajibnya mengikuti sunnah tersebut, keselamatan
bagi orang yang menempuh jalan yang digariskannya, dan menjauhi hal-hal
yang menyelisihinya. Pengertian seperti ini telah dipahami dengan tepat
dan dijaga oleh para sahabat serta tabi’in. Mereka senantiasa
menyampaikan hadits tentang berpegang dengan tuntunan Rasulullah,
man-tahdziir kebid’ahan, bertetangga dengan ahli bid’ah, orang-orang
yang mempertueutkan hawa nafsu dan orang-orang yang berpegang kepada
ra’yu (akal semata).
Perhatikan sikap ‘Umar, ketika dia berkata:
“Hati-hatilah dan jauhilah oleh kalian
orang-orang yang menggunakan ra’yunya. Kerena sesungguhnya mereka adalah
musuh-musuh As Sunnah. Mereka dilemahkan oleh hadits-hadits, hingga
tidak mampu menghafalnya. Akhirnya mereka berbicara dengan ra’yu,
merekapun tersesat dan menyesatkan (orang lain).” (Diriwayatkan oleh Ad
Daraquthni dalam Sunnahnya dan Al Lalikai).
Sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud mengatakannya pula:
“Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah. Sesungguhnya kalian telah dicukupi. Dan setiapa bid’ah itu sesat.” (Al Ibanah 1/327).
‘Umar bin Abdil Aziz berkata:
“As Sunnah ialah yang telah digariskan
oleh orang yang tahu bahwa menyelisihinya adalah penyimpangan. Mereka
untuk berdebat lebih mampu daripada kalian.” (Al Ibanah)
Imam Malik bin Anas juga menegaskan:
“Jauhilah oleh kalian kebid’ahan!” Ada yang berkata kepadanya:
“Wahai Abu ‘Abdillah, apakah bid’ah
itu?” kata beliau: “Ahli bid’ah ialah orang-orang yang berbicara tentang
Asma’ Allah, sifat-sifat-Nya, juga ilmu dan kodrat-Nya. Mereka tidak
mau berhenti dalam perkara dimana para sahabat dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik berhenti (membicarakannya).”
Tentunya, yang menyimpang dari manhaj
ini dalam dakwahnya tidak syak lagi akan membahayakan dirinya sendiri
dan masyarakatnya. Maka harus ada tahdzir terhadap jalan yang
ditempuhnya. Hal ini telah dijalankan oleh para pembela sunnah dan
imam-imam pembawa petunjuk. Sebagaimana diisyaratkan oleh Ibnul Qayyim:
“Para pembela islam dan imam-imam
pembawa petunjuk tidak pernah berhenti meneriakkan kepada ummat agar
menjauhi para penyeleweng tersebut di seluruh pelosok dunia. Mereka
mentahdziir agar meninggalkan dan tidak mengikuti jejak mereka.”……..(Insya Allah Bersambung)
( Dikutip dari buku Manhaj Dakwah Salafiyah, Pustaka Al HAURA)
Review / Koreksi