Oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits
Bulan Dzul Qa’dah sudah di ambang pintu.
Kota Madinah masih sibuk sebagaimana biasa. Sesudah Makkah berada dalam
pangkuan Islam, kabilah-kabilah Arab dan beberapa raja kecil di sekitar
Hijaz mengirim utusan mereka. Ada yang menerima Islam dan menganutnya,
ada pula yang masih memilih keyakinan lamanya, tetapi bersedia
mengirimkan jizyah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam belum pernah menunaikan ibadah haji (Haji Islam) selain pada 10 H ini. Haji ini dikenal dengan Haji Wada’, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
menitipkan pesan-pesan kepada kaum muslimin dan tidak berhaji lagi
sesudah itu. Dinamakan juga haji penyampaian, karena beliau menyampaikan
syariat Allah Subhanahuwata’ala dalam urusan haji ini dengan ucapan dan
perbuatan.
Ketika muncul keinginan untuk menunaikan haji, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
memberitahukannya kepada seluruh kaum muslimin bahwa beliau n akan
berangkat haji. Mendengar berita ini, tidak hanya para sahabat yang di
Madinah dan sekitarnya yang bersiap-siap, mereka yang di Makkah juga
mempersiapkan diri menyambut kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan saudara-saudara mereka yang ingin berhaji.
Siang hari, Sabtu 26 Dzul Qa’dah, seusai shalat zhuhur empat rakaat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertolak dari Madinah.
Pada hari keberangkatan, ribuan kaum muslimin bertemu dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam di sebuah jalan. Mereka pun bergabung bersama rombongan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Lautan manusia, mengelilingi Rasulullah di depan, belakang, kanan dan
kiri beliau. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang di atas kendaraan
mereka.
Baitullah yang telah bersih dari kotoran
syirik dan budaya syirik seolah-olah memanggil orang-orang yang dahulu
‘memuliakannya’ dengan adat jahiliah agar menggantinya dengan pemuliaan
di atas ajaran tauhid.
Gurun sahara dan bukit-bukit cadas turut gembira menyambut berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
akan menuju Makkah menunaikan haji. Kabilah-kabilah Arab pun segera
bersiap dan datang dari seluruh pelosok, ingin meraih kemuliaan dengan
haji bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tanggal 25 Dzul Qa’dah tahun sepuluh hijriyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin menghadapkan wajah kendaraan mereka ke arah Masjidil Haram, dan mulai bertolak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membawa semua istrinya. Seolah-olah merasakan semakin dekat ajalnya.
Seakan-akan Allah Subhanahuwata’ala mengilhamkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam haji ini sebagai tanda akan berakhirnya perjanjian beliau n di dunia ini.
Dari mana lautan manusia ini, dan ke mana mereka menuju?
Empat tahun lalu, bersama sahabatnya
beliau berangkat untuk umrah, tetapi Quraisy menghalangi. Bukan kehinaan
yang mereka peroleh, melainkan kemuliaan.
Peristiwa Hudaibiyah.
Ketika mereka satu dalam tekad membela
Allah dan Rasul Allah, kemudian menuntut darah Utsman yang diberitakan
tewas di tangan Quraisy. Hati-hati yang menyatu, bertekad tidak akan
mundur setapak pun, walau harus berkalang tanah. Lahirlah Bai’atur
Ridhwan di bawah sebatang pohon.
Di saat-saat seperti itu, Suhail bin ‘Amr yang ketika itu menjadi duta Quraisy mendesak agar beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kembali bersama para sahabat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menerima. Bagaimana dengan para sahabat?
Meski sempat kecewa, mereka tetap tunduk
dan yakin bahwa di balik ini pasti ada kemenangan. Memang, bahkan
kemenangan yang agung. Islam tersebar ke seluruh penjuru tanah Arab.
Dari berbagai pelosok, mulai orang biasa hingga para kepala suku dan
raja kecil datang bertanya tentang Islam serta menerima.
Kemenangan mana lagi yang lebih hebat dari ini?
Setahun sesudah peristiwa agung itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kembali mengarahkan kendaraan mereka menuju Baitullah.
‘Umratul Qadha, semakin menampakkan
kewibawaan dan keagungan Islam, bahkan keperkasaan para pembelanya.
Nyali Quraisy bertambah lemah melihat kekuatan muslimin. Bukan fisik
mereka saja, melainkan hati yang ada di balik tubuh kasar itu.
Hati yang terisi iman yang murni.
Kekuatan itulah yang akhirnya meluluhlantakkan kesombongan jahiliah yang
masih bersemayam di hati sebagian bangsa Quraisy dan orang-orang Arab
di sekitar mereka.
Akhirnya, sepuluh ribu orang tentara
Allah Subhanahuwata’ala datang ke Makkah untuk membersihkan Baitullah
dari ratusan berhala dan tempat-tempat pemujaan.
Fathu Makkah, benar-benar kemenangan yang agung.
Kini, di tahun kesepuluh, kerikil dan
pasir sahara kembali terkesima menyaksikan ribuan kaki yang akan
melintasi mereka. Ke mana gerangan?
Baitullah. Itulah tujuan mereka. Rumah
Suci pertama yang diletakkan Pencipta jagat semesta ini seolah menanti
ucapan salam para pemujanya.
Bait Suci yang telah kembali kesuciannya itu seolah mempercantik dirinya menyambut para tamu agung yang datang ….
Namun, kenangan itu segera buyar, ketika
mereka tiba di Dzul Hulaifah. Asma’ bintu Umais yang sedang mengandung,
mulai merasakan tanda-tanda kelahiran.
Tak lama, bayi mungil putra pasangan Abu Bakr ash-Shiddiq dan Asma’ lahir. Bayi itu diberi nama Muhammad.
Selesai melahirkan, Asma’ datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya, “Apa yang harus saya kerjakan?”
Rasulullah bersabda, “Mandi dan ketatkanlah kainmu kemudian letakkan kain di tempat keluarnya darah dan berihramlah.”
Dari situlah, Dzul Hulaifah, setelah mereka bermalam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memulai berihram. Kaum muslimin pun ihram mengikuti junjungan mereka.
Tiba di al-Baida’ dengan pakaian yang
sama, keadaan yang sama, kepala-kepala yang terbuka di bawah sengatan
matahari, mereka mengenakan sarung dan rida’ (pakaian ihram), dari lubuk hati paling dalam, semua melantunkan talbiyah bersama:
لَبَّيْكَ
اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ
الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ
“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah,
aku penuhi. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.
Sesungguhnya pujian dan kenikmatan itu adalah milik-Mu, (begitu juga)
kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Enam mil dari Makkah, di Saraf, Rasulullah mengumumkan kepada para sahabatnya, “Siapa yang tidak membawa hadyu (hewan kurban) dan ingin menjadikannya umrah, silakan, tetapi siapa yang membawa hadyu, tidak.”
Mereka tiba di Makkah pada hari keempat di bulan Dzul Hijjah.
Jamaah haji yang mulia itu mulai mendekati Ka’bah.
Jabir mengisahkan, “Ketika kami sudah
tiba di Baitullah (Ka’bah), beliau menyentuh rukun (Hajarul Aswad) lalu
berlari kecil tiga kali dan berjalan biasa empat kali.
Sesudah itu, beliau menuju Maqam
Ibrahim, lalu shalat dua rakaat. Beliau kembali menuju rukun dan
menyentuhnya. Kemudian beliau keluar menuju bukit Shafa. Saat mendekati
Shafa, beliau n membaca firman Allah Subnahuwata’ala:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah.” (al-Baqarah: 158)
Saya memulai dengan apa yang Allah Subhanahuwata’ala memulai dengannya.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki Shafa hingga melihat Ka’bah, lalu menghadap kiblat, mentauhidkan Allah dan bertakbir, serta mengucapkan:
لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ
الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
[وَحْدَهُ] أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ
وَحْدَهُ
“Tidak ada sesembahan yang haq selain
Allah, satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya-lah kekuasaan
(Kerajaan) dan segala pujian, dan Dia atas segala sesuatu Mahakuasa.
Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, satu-satunya, Dia telah
memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan pasukan yang
bersekutu sendirian.”
Kemudian beliau berdoa di antara bacaan itu dan mengucapkan seperti itu juga tiga kali.
Setelah itu, beliau turun menuju Marwah hingga ketika kedua kaki beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
sudah menginjak perut lembah, (sekarang diberi tanda hijau), beliau
melakukan sa’i sampai ketika sudah naik, beliau berjalan hingga datang
ke Marwah, lalu mengerjakan amalan sebagaimana yang beliau lakukan di
atas Shafa.
Selesai sa’i, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Orang-orang yang tidak membawa hadyu, sudah boleh melepas pakaian ihramnya.”
Akhirnya, kaum muslimin yang tidak membawa hadyu melakukan tahallul. Rasulullah n menambahkan, “Seandainya saya menghadapi urusan yang saya tinggalkan ini, tentu saya tidak akan membawa hadyu, dan menjadikan amalan ini sebagai umrah dan saya juga ber-tahallul.”
Pada hari tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah), mereka menuju Mina. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
menaiki kendaraannya, shalat di sana; Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan
Subuh. Kemudian beliau tinggal di sana sebentar sampai terbit matahari,
lalu bertolak menuju Arafah.
Di Arafah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
mendapati sebuah kubah sudah dibuatkan untuk beliau di Namirah (sebuah
desa dekat Arafah). Beliau n lalu singgah di sana. Ketika matahari sudah
condong (ke barat), beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam minta dibawakan al-Qushwa lalu disiapkan untuk beliau.
Kemudian beliau menuju perut lembah dan berkhutbah di hadapan manusia.
Ribuan manusia, satu hati, satu tujuan, mengagungkan Pencipta mereka, tunduk sambil melantunkan talbiyah. Hilang sudah kesombongan jahiliah.
Setelah memuji Allah, mengucapkan syahadatain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
menyampaikan pesan-pesannya. Seolah-olah itu adalah pesan terakhir,
ungkapan perpisahan dan pernyataan selesainya tugas dan tanggung jawab
mengemban risalah Dzat Yang Mahaagung, Allah Subhanahuwata’ala.
“Hai sekalian manusia, dengarlah. Saya tidak tahu apakah akan bertemu lagi dengan kalian sesudah tahun ini di tempat ini.
Hai sekalian manusia, sesungguhnya semua
urusan jahiliah ada di bawah telapak kakiku ini. Demikian pula urusan
darah ala jahiliah, semua gugur dan tidak bernilai. Adapun darah pertama
yang saya gugurkan adalah darah kami Rabi’ah bin al-Harits, yang
menyusu di Bani Sa’d lalu dibunuh oleh orang-orang dari suku Hudzail.
Riba jahiliah juga dinyatakan batal,
tidak ada nilainya. Riba pertama yang saya gugurkan adalah riba kami,
riba Abbas bin Abdul Muththalib. Semua gugur, tidak ada nilainya.
Hai manusia, bertakwalah kalian dalam
urusan wanita. Sungguh, kamu telah memiliki mereka dengan amanah dari
Allah. Kalian telah menjadikan halalnya kehormatan mereka dengan kalimat
Allah.
Di antara hak kalian yang harus mereka
penuhi adalah tidak membiarkan siapa saja yang kalian benci menginjakkan
kaki di permadani atau lantai rumah kalian. Kalau mereka melanggarnya,
pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.
Kaum wanita (para istri kalian) juga
mempunyai hak yang wajib kalian penuhi, berupa pakaian dan rezeki dengan
cara yang baik (dan pantas).
Hai manusia, telah aku tinggalkan pada
kalian, sesuatu yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang
teguh dengannya, yaitu Kitab Allah Subhanhuwata’ala.
Dan…
Kalian semua akan ditanya tentang aku, maka apa jawaban kalian?”
Barisan muslimin serempak menjawab,
“Kami bersaksi bahwa engkau sudah menyampaikan risalah, menunaikan
amanah, dan memberi nasihat.”
Mendengar jawaban mereka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
mengangkat telunjuknya ke langit lalu menudingkannya ke arah ribuan
jamaah haji yang mulia itu sambil berkata, “Ya Allah, saksikanlah,” tiga
kali.
Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menuju tempat wukuf dan membiarkan perut untanya menyentuh pasir, sementara gunung Musyah di hadapan beliau.
Beliau tetap dalam keadaan wukuf hingga terbenam matahari. Setelah itu beliau membonceng Usamah dan bertolak.
Kepala beliau menunduk sampai menyentuh
punggung al-Qushwa. Beliau berkata kepada jamaah haji itu,
“Perlahan-lahan. Perlahan-lahan, wahai manusia.”
Setiba di Muzdalifah, beliau shalat
Magrib dan Isya dengan satu kali azan dan dua iqamat, tanpa mengerjakan
shalat selain itu. Setelah itu beliau berbaring sampai terbit fajar,
lalu shalat Subuh.
Kemudian beliau menaiki al-Qushwa dan menuju Masy’aril Haram, lalu bertakbir dan bertahlil (mengucapkan La ilaha illallah). Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap dalam keadaan wukuf sampai terang tanah.
Sebelum matahari terbit, beliau
berangkat sambil membonceng al-Fadhl bin Abbas. Di saat itulah mereka
berpapasan dengan rombongan wanita. Al-Fadhl melihat ke arah mereka,
tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam segera memalingkan wajah al-Fadhl ke arah lain.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bergerak perlahan menuju tempat melontar jumrah al-kubra
di dekat Masjidil Haram. Di sini beliau melempar dengan tujuh butir
kerikil sebesar ujung jari sambil bertakbir pada setiap lemparan.
Setelah itu beliau menuju tempat
penyembelihan dan menyembelih enampuluh tiga ekor unta, lalu menyerahkan
sisanya kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu’anhu.
Setelah memakan sebagian sembelihan itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertolak menuju Baitullah dan shalat Zhuhur di sana.
Kemudian beliau menemui Bani Abdul
Muththalib yang bertugas memberi minum dari air Zamzam dan berkata,
“Inzi’u (???) Bani Abdul Muththalib. Kalau bukan karena kalian akan
didominasi oleh manusia atas tugas ini pastilah aku naza’tu (???) bersama kalian.” Lalu mereka memberi beliau seember air dan meminumnya.
Dalam kesempatan itu juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan bahwa setan tidak pernah berhenti menyesatkan manusia. Kata beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Sesungguhnya setan sudah putus asa untuk disembah di negeri kalian
ini, tetapi dia senang jika diikuti dalam hal-hal lain yang kalian
anggap remeh.
Sesungguhnya, zaman telah kembali
sebagaimana diciptakan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi.
Jumlah bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan. Empat di
antaranya adalah bulan-bulan haram; tiga bulan berturut-turut; Dzul
Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram. Satu yang terpisah, yaitu Rajab
Mudhar, antara Jumadi (Tsani) dan Sya’ban.
Hai manusia, sesungguhnya Rabb kalian
itu satu, bapak kalian juga satu. Semua kalian berasal dari Adam dan
Adam berasal dari tanah. Yang paling mulia di antara kalian adalah yang
paling bertakwa kepada Allah. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab dari
orang ajam, selain dengan ketakwaan ….
Sampaikanlah semua ini kepada yang tidak hadir.”
Itulah sebagian khutbah yang beliau sampaikan pada haji wada’. Wasiat yang menyentuh.
Seolah-olah menyiratkan bahwa usia
beliau yang penuh berkah akan berakhir, pertemuan dan kebersamaan akan
usai. Lalu beliau n akan bersiap-siap menjumpai Kekasihnya, Allah
Subhanahuwata’ala.
Tuntas sudah, semua yang terkait dengan
ibadah haji telah beliau ajarkan melalui ucapan dan perbuatan. Bahkan,
seluruh ajaran Islam, besar maupun kecil, lahir dan batin telah beliau
ajarkan.
Selesai beliau berkhutbah itulah turun firman Allah Subhanahuwata’ala:
ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅﮆ
“Pada hari ini telah Kusempurnakan
untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)
Apakah hanya untuk hari itu? Tidak,
tetapi sampai kiamat. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun perkara agama
ini yang kurang sehingga harus ditambah, atau berlebih sehingga perlu
dikurangi.
Ingatlah, ayat ini turun pada saat
Rasulullah n masih hidup, dengan kemungkinan masih akan ada penambahan
atau pengurangan. Akan tetapi, ternyata tidak ada satu pun penambahan
atau pengurangan ajaran Islam. Walhamdulillah.
Oleh sebab itu pula, apa-apa yang di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan sebagai agama, pasti di zaman ini atau kapanpun bukan pula sebagai agama.
Selesai sudah tugas risalah dan dakwah.
Demikian pula membina masyarakat baru di atas prinsip menyerahkan
ibadah, lahir dan batin hanya kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Agaknya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
juga menyadari ajalnya sudah dekat. Perhatikanlah pesan beliau ketika
mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, “Hai Mu’adz, mungkin sesudah ini
engkau tidak bertemu lagi denganku. Engkau hanya akan melintasi masjidku
ini dan kuburanku. “
Mendengar pesan tersebut, Mu’adz menangis karena tahu akan berpisah selamanya dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Memang, pantaslah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
menangis. Bahkan kita pun seharusnya menangis. Tidak ada musibah yang
paling buruk selain berpisah dengan Rasulullah n, di dunia, apalagi di
akhirat.
Pada waktu nafar tsani—13 Dzul Hijjah—Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
bertolak dari Mina dan singgah di Abthah, di tenda Bani Kinanah sehari
semalam. Setelah itu beliau menuju Baitullah dan melakukan thawaf wada’ bersama kaum muslimin.
Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersiap-siap kembali ke Madinah, bukan untuk santai melepas lelah, melainkan bersiap untuk melanjutkan jihad di jalan Allah.
Sesudah itu, beliauShallallahu ‘alaihi wasallam pun jatuh sakit ….
Review / Koreksi