ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc
Para shahabat Nabi memiliki kedudukan
demikian tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya. Namun sungguh mengherankan,
ada orang-orang yang berani melecehkan mereka dan senantiasa berusaha
mencari kelemahan mereka. Orang-orang yang berani merendahkan para
shahabat Nabi adalah orang-orang yang tidak tahu diri, yang tidak tahu
kapasitas dirinya. Di antara tanda-tanda keselamatan seseorang di dunia
dan di akhirat, adalah kepekaannya untuk melihat dan mengintrospeksi
diri sebelum melihat dan mengoreksi orang lain. Dia akan sangat mengerti
tentang kapasitas dirinya sebelum mengerti kapasitas orang lain,
sehingga ketika mendengar sabda Rasulullah :
“Janganlah mencela para shahabatku,
janganlah mencela para shahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di
tangan-Nya (Allah), kalaulah salah seorang dari kalian berinfaq emas
sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai infaq salah seorang
dari mereka (para shahabat) yang hanya sebesar cakupan dua telapak
tangan atau setengahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540,
dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri)
Maka dia akan berupaya menahan hatinya
dari berburuk sangka kepada para shahabat dan menahan lisannya dari
mencela mereka. Karena dia sadar, bukan kapasitasnya untuk membicarakan,
menilai dan mengkritik orang-orang yang telah mendapatkan rekomendasi
dari Allah dan Rasul-Nya n itu. Namun di sisi lain, kita tak pernah lupa
akan sejarah orang-orang yang tak tahu diri. Orang-orang cebol (kerdil)
yang ingin menggapai bintang di angkasa sambil melolong dengan
lolongan-lolongan keji, berkedok kebebasan dan sikap kritis.
Lolongan kaum orientalis kafir yang
kemudian dikemas dengan kemasan sok ilmiah oleh antek-antek mereka dari
anak-anak kaum muslimin untuk mengkritik para shahabat Rasulullah n. Dan
ini bukanlah hal yang baru dalam peradaban umat manusia. Lolongan
tersebut sesungguhnya merupakan kelanjutan dari lolongan kaum Syi’ah
Rafidhah yang senantiasa berambisi menghancurkan citra Rasulullah dan
ajaran agama Islam yang dibawanya.
Al-Imam Malik bin Anas berkata : “Mereka
itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi, namun tidak
mampu. Maka mereka pun akhirnya mencela para shahabat beliau, agar
kemudian dikatakan bahwa beliau adalah orang jahat. Karena, jika beliau
itu orang baik niscaya para shahabatnya adalah orang-orang yang baik
pula.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, karya Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyyah t, hal. 580)
Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi t berkata:
“Jika engkau melihat siapa saja yang mencela seorang shahabat Rasulullah
maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Hal itu karena keyakinan kami
bahwa Rasulullah adalah haq, Al Qur`an itu haq, dan sesungguhnya yang
menyampaikan Al Qur`an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah.
Tujuan mereka dalam mencela para saksi kami (para shahabat) tidak lain
adalah menghancurkan Al Qur`an dan As Sunnah. Mereka sesungguhnya lebih
pantas untuk dicela dan mereka adalah orang-orang zindiq1.” (Al-Kifayah,
hal.49)
Para pembaca,
Semua shahabat Rasulullah adalah
orang-orang baik dan adil, yang telah mendapatkan rekomendasi dari Allah
dan Rasul-Nya. Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Allah telah memuji para
shahabat Rasulullah di dalam Al Qur`an, Taurat, dan Injil. Keutamaan
itupun telah terukir melalui lisan Rasulullah, suatu keutamaan yang
belum pernah diraih oleh seorangpun setelah mereka. Semoga Allah
menyayangi mereka dan menganugerahkan untuk mereka kedudukan tertinggi
di kalangan shiddiqin, syuhada` dan shalihin. Merekalah yang
menyampaikan ajaran Rasulullah kepada kita. Mereka menyaksikan turunnya
wahyu kepada Rasulullah, sehingga mereka benar-benar mengetahui apa yang
dimaukan Rasulullah berupa perkara-perkara yang sifatnya umum maupun
khusus, keharusan dan bimbingan. Mereka mengerti Sunnah Rasulullah, baik
yang kita ketahui ataupun yang tidak kita ketahui. Mereka di atas kita
dalam hal ilmu, ijtihad, wara’, ketajaman berfikir dan memahami suatu
perkara (berdasarkan ilmu). Pendapat-pendapat mereka lebih baik dan
lebih utama bagi diri kita daripada pendapat kita sendiri.” (Manaqib
Al-Imam Asy-Syafi’i, karya Al-Baihaqi, 1/441)
Al-Imam An-Nawawi berkata: “Para
shahabat semuanya adil, baik yang terlibat dalam fitnah (pertempuran di
antara mereka, pen.) atau yang tidak terlibat di dalamnya, menurut ijma’
ulama yang diperhitungkan kata-katanya.” (At-Taqrib ma’a Tadribirrawi,
2/190).
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Menurut
Ahlus Sunnah wal Jamaah, semua shahabat itu adil, karena adanya pujian
dari Allah di dalam Al Qur`an dan (Rasulullah) di dalam Sunnahnya
terhadap segala akhlak dan perbuatan mereka, serta terhadap apa yang
mereka korbankan berupa harta dan nyawa bersama Rasulullah, dengan
semata-mata mengharap pahala dan balasan yang mulia di sisi Allah I.”
(Al-Ba’its Al-Hatsits hal.154)
Al-Imam Ibnul Mulaqqin berkata: “Semua
shahabat Rasulullah n mempunyai kekhususan, yaitu tidak perlu ditanyakan
tentang keadilannya. Karena mereka telah mendapatkan rekomendasi di
dalam Al Qur`an dan As Sunnah serta ijma’ ulama yang diperhitungkan
ucapannya.” (Al-Muqni’ fi Ulumil Hadits, 2/492, dinukil dari
Al-Inthishar Lish Shahbi Wal Aal, hal. 218)
Al-Imam Ibnul Atsir berkata: “Para
shahabat seperti para perawi lainnya dalam semua hal itu, kecuali dalam
hal al-jarh wat ta’dil (pujian dan kritikan), karena mereka semua adalah
orang-orang yang adil, dan tidak boleh dikritik. Hal ini karena Allah
dan Rasul-Nya telah merekomendasi dan memuji mereka…” (Usdul Ghabah
1/10, dinukil dari Al-Inthishar, hal. 222)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t
berkata: “Ahlus Sunnah sepakat bahwasanya semua shahabat adalah
orang-orang yang adil, dan tidaklah menyelisihi dalam hal ini kecuali
orang-orang yang nyeleneh dari kalangan ahlul bid’ah.” (Al-Ishabah,
1/10-11)
Asy-Syaikh Mahmud Muhammad Syakir
berkata: “Bila demikian agungnya keutamaan bershahabat dengan
Rasulullah, maka seorang muslim manakah yang mampu setelah ini untuk
menjulurkan lisannya mencela seseorang dari shahabat Muhammad Rasulullah
?! Dengan lisan manakah dia meminta udzur ketika saling beragumentasi
dihadapan Rabb mereka (di hari kiamat)?! Apa yang hendak dia katakan
saat telah tegak baginya hujjah dari Al Qur`an dan Sunnah Nabi-Nya ?!
Hendak lari kemanakah dia dari adzab Allah pada hari (kiamat) itu?!”
(Majallah Al-Muslimun, edisi 3 th. 1371 H, dinukil dari kitab Matha’in
Sayyid Quthub fi Ash-habi Rasulillah n,, hal. 11).
Maka dari itu, orang-orang yang sok
menilai, mengkritik dan mencela para shahabat, tak lain ibarat seekor
kambing kerdil yang berambisi (dengan tanduknya) menghancurkan batu
besar yang sangat kokoh. Batu itu pun tetap utuh tak bergeming,
sedangkan si kambing kerdil menuai petaka. Al-Imam Ahmad bin Hanbal
berkata: “Barangsiapa melakukannya (mencela shahabat, pen.), maka wajib
diberi pelajaran dan dihukum, tidak diberi ampun, bahkan terus dihukum
hingga bertaubat. Jika bertaubat maka diampuni, namun jika bersikukuh
dengannya maka terus dihukum dan dipenjara sampai mati atau rujuk
(kembali kepada kebenaran, red.).” (Ash-Sharimul Maslul, hal. 568)
Al-Imam Malik bin Anas t berkata:
“Barangsiapa mencaci Nabi (n)maka (hukumannya) dibunuh, dan barangsiapa
mencela para shahabat maka diberi pelajaran.” (Ash-Sharimul Maslul, hal.
569)
Al-Imam Ishaq bin Rahawaih t berkata: “Barangsiapa mencela para shahabat Nabi maka harus dihukum dan dipenjara.” (Ash-Sharimul Maslul, hal. 568)
Al-Imam Ishaq bin Rahawaih t berkata: “Barangsiapa mencela para shahabat Nabi maka harus dihukum dan dipenjara.” (Ash-Sharimul Maslul, hal. 568)
Dengan demikian, apakah para pencela shahabat itu dikafirkan?
Para pembaca, berdasarkan keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Ash-Sharimul Maslul, hal. 586-587, maka dapatlah disarikan sebagai berikut:
1. Mencela shahabat, dengan diiringi pernyataan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan, atau dialah yang sebenarnya sebagai nabi dan Malaikat Jibril telah keliru dengan menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad, atau menganggap bahwa Al Qur`an kurang sekian ayat dan ada yang disembunyikan dan lain sebagainya, maka tidak diragukan lagi kekafirannya, bahkan tidak diragukan pula kekafiran orang yang ragu akan kekafiran mereka.
2. Mencela shahabat namun tidak menjatuhkan keadilan dan agama mereka. Misalnya menyifati sebagian shahabat dengan kikir, pengecut, ilmunya sedikit, atau kurang zuhud dan lain sebagainya, maka yang seperti ini berhak diberi pelajaran/dihukum dan tidak dikafirkan.
3. Melaknat dan menjelek-jelekkan mereka dengan lafadz yang umum, maka masih diragukan apakah dikafirkan ataukah tidak, karena adanya kemungkinan antara laknat kemarahan dan laknat yang bersumber dari keyakinan.
4. Mencela shahabat sampai pada tingkatan meyakini bahwa mereka telah murtad sepeninggal Rasulullah n kecuali hanya beberapa orang dari mereka saja, atau semua telah melakukan kefasikan (sepeninggal beliau), maka yang seperti ini tidak diragukan tentang kekafirannya.
Para pembaca, berdasarkan keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Ash-Sharimul Maslul, hal. 586-587, maka dapatlah disarikan sebagai berikut:
1. Mencela shahabat, dengan diiringi pernyataan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan, atau dialah yang sebenarnya sebagai nabi dan Malaikat Jibril telah keliru dengan menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad, atau menganggap bahwa Al Qur`an kurang sekian ayat dan ada yang disembunyikan dan lain sebagainya, maka tidak diragukan lagi kekafirannya, bahkan tidak diragukan pula kekafiran orang yang ragu akan kekafiran mereka.
2. Mencela shahabat namun tidak menjatuhkan keadilan dan agama mereka. Misalnya menyifati sebagian shahabat dengan kikir, pengecut, ilmunya sedikit, atau kurang zuhud dan lain sebagainya, maka yang seperti ini berhak diberi pelajaran/dihukum dan tidak dikafirkan.
3. Melaknat dan menjelek-jelekkan mereka dengan lafadz yang umum, maka masih diragukan apakah dikafirkan ataukah tidak, karena adanya kemungkinan antara laknat kemarahan dan laknat yang bersumber dari keyakinan.
4. Mencela shahabat sampai pada tingkatan meyakini bahwa mereka telah murtad sepeninggal Rasulullah n kecuali hanya beberapa orang dari mereka saja, atau semua telah melakukan kefasikan (sepeninggal beliau), maka yang seperti ini tidak diragukan tentang kekafirannya.
Akhir kata, demikianlah kesudahan buruk
bagi orang-orang yang mencela shahabat Rasulullah n. Semoga Allah I
menjauhkan kita dari akhlak tercela ini, dan tiada yang dapat kami
ucapkan kecuali sebuah harapan dari Allah I yang terukir dalam lantunan
doa:
رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا
تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ
رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan
saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan
janganlah Engkau biarkan kedengkian terhadap orang-orang beriman
bercokol pada hati kami, Wahai Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun
lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)
Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Amin ya Rabbal ‘Alamin.
1 Zindiq adalah orang yang
menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keislaman. Asal-usul mereka
adalah orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan dan meyakini
reinkarnasi serta memiliki keyakinan sebagaimana orang-orang Majusi.
diambil dari http://asysyariah.com/kesudahan-orang-orang-yang-mencela-sahabat-nabi.html
Review / Koreksi