بسم الله الرحمن الرحيم
MENEPIS TIPU DAYA FIRANDA, MEMBELA ULAMA SUNNAH
MENEPIS TIPU DAYA FIRANDA, MEMBELA ULAMA SUNNAH
Oleh : Luqman bin Muhammad Ba’abduh
Bagian ke-6 : Benarkah Manhaj asy-Syaikh Rabi’ Mutasyaddid? (lanjutan)
Menyambung tulisan bagian ke-5 tentang
persaksian beberapa tokoh senior Ikhwanul Muslimin yang mempersaksikan
paham takfir (pengkafiran) terhadap masyarakat muslim pada diri Sayyid
Quthb, dan bahwasanya kalimat “Jahiliyah” dalam berbagai ucapan Sayyid
Quthb yang tersebar di beberapa karyanya bermakna “kafir”, sebagaimana
kesimpulan asy-Syaikh al-’Allamah Rabi bin Hadi al-Madkhali
hafizhahullah.
Berikut ini, kita akan membaca bersama
pengakuan salah satu tokoh senior Ikhwanul Muslimin lainnya yang bernama
Farid ‘Abdul Khaliq. Dalam karyanya berjudul “al-Ikhwanul Muslimun fi
Mizanil Haq” dia berkata,
((أمعنا
فيما سبق إلى أنَّ نشأة فكر التكفير بدأت بين شباب بعض الإخوان في سجن
القناطر في أواخر الخمسينات وأوائل الستينات، وأنهم تأثروا بفكر الشهيد سيد
قطب وكتاباته، وأخذوا منها أنَّ المجتمع في جاهلية، وأنه قد كفَّر حكامه
الذين تنكَّروا لحاكمية الله بعدم الحكم بما أنزل الله، ومحكوميه إذا رضوا
بذلك )).
“Setelah kami perhatikan berbagai hal
yang telah lalu, hingga munculnya pemikiran takfir (pengkafiran terhadap
muslimin) yang mulai muncul di tengah-tengah sebagian pemuda al-Ikhwan
(IM) di penjara al-Qanathir pada akhir tahun 50-an hingga awal 60-an,
dan bahwasanya mereka (para pemuda yang berpaham takfir) telah
terpengaruhi oleh pemikiran asy-Syahid (!) Sayyid Quthb dan berbagai
kitab karyanya. Mereka mengadobsi dari berbagai karya Sayyid Quthb
tersebut (kesimpulan/pemikiran) bahwa masyarakat berada dalam Jahiliyah,
dan bahwa dia (Sayyid Quthb) telah mengkafirkan pemerintahnya yang
telah mengintervensi hak otoritas hukum Allah dengan tidak berhukum
kepada hukum yang Allah turunkan, demikian pula dia (Sayyid Quthb
memvonis kafir) terhadap rakyatnya jika mereka ridha terhadap (sikap
pemerintah)nya itu.”
Dalam pernyataannya di atas, Farid
‘Abdul Khaliq telah menegaskan bahwa pada Sayyid Quthb ada paham takfir
terhadap masyarakat muslim, yang sering diungkapkan dengan ungkapan
“Jahiliyah”. Jadi kesimpulannya, kalimat “Jahiliyah” bermakna “kafir”
dalam pandangannya.
Sekali lagi, hal ini membuktikan bahwa
kesimpulan asy-Syaikh Rabi’ yang dijadikan bahan kritikan utama oleh
saudara Firanda adalah kesimpulan yang benar. Dan justru saudara
Firanda-lah yang jatuh kepada taklid, sehingga menghalangi dia untuk
membahas permasalahan ini dengan penuh keilmiahan dan sportifitas.
Jika dengan keterangan di atas saudara
Firanda masih tetap mempertahankan ambisinya untuk menjatuhkan
kredibilitas asy-Syaikh Rabi’, maka ikutilah pernyataan Farid ‘Abdul
Khaliq berikut ini, masih dalam kitabnya yang sama,
((إنَّ
أصحاب هذا الفكر وإن تعددت جماعاتهم، يعتقدون بكفر المجتمعات الإسلامية
القائمة، وجاهليتها جاهلية الكفار قبل أن يدخلوا في الإسلام في عهد الرسول
عليه السلام، ))
“Sesungguhnya para penganut paham ini
walau berbilang jumlah kelompoknya, mereka meyakini kekufuran berbagai
masyarakat Islam yang ada, sertameyakini kejahiliyahan (masyarakat
Islam) tersebut seperti Jahiliyah kaum kafir sebelum mereka masuk ke
dalam agama Islam pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Jadi, berdasarkan keterangan Farid
‘Abdul Khaliq di atas, makna ungkapan “jahiliyah” yang sering digunakan
oleh Sayyid Quthb adalah bermakna “kafir” sama seperti jahiliyah kaum
kafir/musyrikin sebelum Islam. Sangat tidak benar kalau kejahiliyahan
dalam konteks ucapan-ucapan Sayyid Quthb diartikan jahiliyah dalam
bidang akhlak, atau sistem muamalah di antara mereka. Dengan ini kita
tahu, bahwa ungkapan Jahiliyah menurut Sayyid Quthb bukanlah seperti
ungkapan Jahiliyah dalam beberapa hadits, yang telah saya sebutkan pada
bagian ke-5.Sengaja kami ingatkan hal ini berulang kali, agar jangan ada
seorang pembaca pun yang menyamakan dua hal tersebut
Berikut ini, mari ikuti sebuah kisah
yang dibawakan oleh ‘Ali ‘Asymawi – juga tokoh senior IM sekaligus
pengikut paham Sayyid Quthb – dalam kitabnya yang berjudul “at-Tarikh
as-Sirri li al-Ikhwani al-Muslimin”
((جاءني
أحد الإخوان وقال لي: بأنه سوف يرفض أكل ذبيحة المسلمين الموجودة حالياً!،
فذهبت إلى سيد قطب وسألته عن ذلك؟ فقال: دعهم يأكلونها فيعتبرونها ذبيحة
أهل الكتاب!؛ فعلى الأقل المسلمون الآن هم أهل كتاب ))
“Telah datang kepadaku salah seorang
al-Ikhwan (pengikut IM) dan dia berkata kepadaku, bahwa dirinya akan
menolak memakan sembelihan kaum muslimin yang ada di masa ini! Maka aku
(‘Ali ‘Asymawi) pergi menemui Sayyid Quthb dan aku bertanya kepadanya
tentang hal itu? Maka dia (Sayyid Quthb) berkata, “Biarkanlah mereka
(pengikut IM) memakan sembelihan tersebut dengan menganggapnya sebagai
sembelihan ahlul kitab (Yahudi atau Nashara)! Setidaknya kaum muslimin
sekarang adalah ahlu kitab.”
Jadi, Sayyid Quthb – menurut salah satu
pengikutnya ini, yaitu ‘Ali ‘Asymawi – telah berkeyakinan bahwa
masyarakat muslim yang ada sekarang ini adalah kafir setidaknya seperti
ahlul kitab (Yahudi atau Nashara).
Itulah beberapa nukilan singkat dari
para tokoh senior al-Ikhwanul Muslimin (IM) dan pengikut paham Sayyid
Quthb yang mempersaksikan keberadaan paham takfir pada diri Sayyid Quthb
terhadap masyarakat muslim dengan ungkapan “jahiliyah”. Apakah saudara
Firanda, atau bahkan ‘Ali al-Halabi, Abul Hasan, dan para pengikutnya,
mereka masih akan mempertahankan kesombongannya dalam upaya mereka untuk
tetap menjatuhkan kredibilitas asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi
al-Madkhali hafizhahullah, serta menjauhkan umat dari beliau dan
karya-karyanya? La haula wa la quwwata illa billah!! Jika hal ini yang
terjadi, sungguh ini meyakinkan saya bahwa saudara Firanda adalah
termasuk pengekor hawa nafsu, sebagaimana pendahulunya ‘Ali Hasan
al-Halabi. Hal ini mengingatkan saya pada firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala :
{أَفَرَأَيْتَ
مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ
وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً
فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (23)}
[الجاثية: 23]
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang
menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya
berdasarkan ilmu dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya
dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan
memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa
kalian tidak mengambil pelajaran?”
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
وَقَوْلُهُ: {وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ} يَحْتَمِلُ قَوْلَيْنِ:
أحدها
وَأَضَلَّهُ اللَّهُ لِعِلْمِهِ أَنَّهُ يَسْتَحِقُّ ذَلِكَ. وَالْآخَرُ:
وَأَضَلَّهُ اللَّهُ بَعْدَ بُلُوغِ الْعِلْمِ إِلَيْهِ، وَقِيَامِ
الْحُجَّةِ عَلَيْهِ. وَالثَّانِي يَسْتَلْزِمُ الْأَوَّلَ، وَلَا
يَنْعَكِسُ.
“Firman Allah, ‘dan Allah menyesatkannya berdasarkan ilmu‘ mengandung dua kemungkinan makna,
Pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala
sesatkan dia (pengekor hawa nafsu tersebut) berdasarkan ilmu-Nya bahwa
orang tersebut memang berhak mendapatkan kesesatan.
Kedua, Allah Subhanahu wa Ta’ala
sesatkan dia (pengekor hawa nafsu tersebut) setelah sampai kepadanya
ilmu dan telah tegak hujjah atasnya.
makna kedua ini mengandung konsekuensi adanya makna yang pertama, dan tidak sebaliknya.”
Maksud pernyataan al-Imam Ibnu Katsir
rahimahullah adalah: Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ilmu-Nya yang maha
luas, meliputi segala sesuatu, yang tampak maupun tersembunyi, yang
terjadi maupun belum terjadi, telah mengetahui dengan pasti bahwa
pengekor hawa nafsu tersebut berhak mendapatkan kesesatan, sehingga
Allah sesatkan dia. Atau karena pengekor hawa nafsu tersebut tetap tidak
mau mengikuti kebenaran, walaupun telah sampai ilmu dan hujjah
kepadanya, maka Allah sesatkan dia akibat dari kesombongannya tersebut.
Sudah barang tentu, seorang yang kondisinya lebih mengedepankan hawa
nafsunya, Allah telah mengetahui dengan segala keilmuan-Nya yang maha
luas, bahwa orang tersebut tidak berhak mendapatkan hidayah, sehingga
Allah tidak berikan hidayah kepadanya. Hal ini juga mengingatkan kita
semua pada salah satu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ … الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»
“Tidak akan masuk al-Jannah (surga)
orang yang di dalam hatinya terdapat al-Kibr (kesombongan) seberat atom …
al-Kibr (kesombongan) adalah menolak al-Haq (kebenaran) dan meremehkan
manusia.” (Muslim 147 dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)
Kalau ada yang mengatakan, percuma saja
kita menasehati saudara Firanda ini jika kondisinya seperti itu. Maka
jawabannya adalah, tulisan ini saya tulis dengan beberapa tujuan dan
harapan,
Sebagai upaya Amar Ma’ruf Nahi Munkar
yang diperintahkan dalam syari’at Islam. Sehingga saya berharap Allah
menilainya sebagai amal shalih yang dapat menaikkan derajat dan
menghapuskan dosa-dosa.
Sebagai nasehat dan bekal ilmu bagi saudara-saudara saya yang memang menginginkan kebenaran, dan berupaya mencarinya, serta beramal dengannya.
Bantahan terhadap kebatilan dan tipu daya saudara Firanda yang telah ia tebarkan di tengah-tengah umat, agar dia mau rujuk dan bertaubat kepada Allah darinya.
Sebagai nasehat dan bekal ilmu bagi saudara-saudara saya yang memang menginginkan kebenaran, dan berupaya mencarinya, serta beramal dengannya.
Bantahan terhadap kebatilan dan tipu daya saudara Firanda yang telah ia tebarkan di tengah-tengah umat, agar dia mau rujuk dan bertaubat kepada Allah darinya.
Jika ternyata harapan ketiga di atas
tidak terwujud dan saudara Firanda tetap mengikuti hawa nafsunya, maka
saya sangat berharap tujuan pertama dan kedua dikabulkan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu, berikut ini saya akan
mencoba menampilkan persaksian ‘Ali Hasan al-Halabi (sang panutan manhaj
saudara Firanda) [1] tentang adanya akidah takfir pada Sayyid Quthb,
dan bahwasanya dia mengkafirkan masyarakat-masyarakat muslim. Tentunya
persaksian ‘Ali Hasan al-Halabi yang akan saya nukil ini, dia ucapkan
ketika belum ditimpa penyakit bid’ah pada manhaj dan aqidahnya. Dengan
kata lain, ini adalah ‘Ali Hasan “era lama” sebelum dia sendiri
mereformasi manhaj dan aqidahnya menuju ‘Ali Hasan “era reformasi”.
Semoga Allah melindungi kita semua dari kesesatan setelah kita berada di
atas hidayah.
Dalam karyanya yang bernama ad-Durar
al-Mutala’li’ah (hal. 34-36) dalam sebuah judul pembahasan, “Sayyid
Quthb wa Takfir al-Mujtama’at” (Sayyid Quthb dan Pengkafiran terhadap
Berbagai Masyarakat) – cetakan pertama tahun 1423 H/2002 M, ‘Ali Hasan
“era lama” berkata,
((أقول:
وهذا مع ذاك مضافان إلى ذيَّاك كله يؤكِّد كلام الدكتور يوسف القرضاوي
الحركي المشهور غفر الله له في كتابه “أولويات الحركة الإسلامية” (ص 101)
حيث قال: “ظهرت كتب الشهيد سيد قطب وهي تمثل المرحلة الأخيرة من تفكيره
والتي تنضح بتكفير المجتمعات“، وهو به خبير فهي الخارجية المستترة، بل
(الظاهرة) المعلنة، وفي مصنفات ومؤلفات أستاذنا العلامة الشيخ ربيع بن هادي
– جعله الله شوكة في حلوق المبتدعة والأعادي – النافعة المتعددة – ما
يوضِّح حقيقة ذلك، ويكشفه ويظهره بما لا يدع مجالاً لمُتشككٍ طَلَّابٍ
للحق، … ))
“Aku berkata, yang ini bersama dengan
yang itu, ditambahkan kepada yang di sana, semuanya menguatkan
pernyataan DR. Yusuf al-Qaradhawi, orang pergerakan yang terkenal –
semoga Allah mengampuninya – dalam karyanya (yang berjudul) Aulawiyat
al-Harakah al-Islamiyyah, hal 101 ketika dia berkata, ‘telah tampak
karya asy-Syahid Sayyid Quthb yang menggambarkan tahapan akhir
pemikirannya, dan yang menuangkan paham pengkafiran terhadap
masyarakat.‘
Orang ini (Yusuf al-Qaradhawi) adalah
orang yang sangat tahu tentang Sayyid Quthb. Maka ini merupakan paham
khawarij yang terselubung, bahkan telah tampak secara terang-terangan.
Dan dalam berbagai karya tulis ustadz (guru) kami al-’Allamah Rabi’ bin
Hadi yang bermanfaat dan banyak – semoga Allah menjadikan beliau sebagai
duri dalam tenggorokan ahlul bid’ah dan para musuh [2] – menjelaskan
hakekat permasalahan tersebut [3] sekaligus membongkar dan
menampakkannya, yang tidak menyisakan peluang untuk orang yang ragu yang
mencari kebenaran. … . “
Tidak cukup sampai di situ, al-Halabi memberikan catatan kaki ketika menyebutkan karya-karya tulis asy-Syaikh Rabi’,
((انظر
مثلاً كتابه “أضواء إسلامية على عقيدة سيد قطب وفكره” ص 71-107 ، تحت
عنوان [سيد قطب وتكفير المجتمعات]، وفي كتابه النافع “العواصم مما في كتب
سيد قطب من القواصم” بيان كثير من المآخذ العلمية بعامة والعقائدية بخاصة
عليه!!.
“Lihat – sebagai contoh – kitab beliau
(asy-Syaikh Rabi’) “Adhwa Islamiyyah ‘ala ‘Aqidati Sayyid Quthb wa
Fikrihi” hal. 71-107 di bawah judul “Sayyid Quthb wa Takfir
al-Mujtama’at” (Sayyid Quthb dan pengkafiran terhadap masyarakat), dan
karya beliau (asy-Syaikh Rabi’) yang bermanfaat yaitu “Al-’Awashim mimma
fi Kutub Sayyid Quthb min al-Qawashim” keterangan yang banyak tentang
berbagai kritikan ilmiah terhadapnya secara umum, dan aqidah secara
khusus. “
“era lama”
ولقد
نقلتُ بنفسي من خط أستاذنا الوالد الإمام الشيخ محمد ناصر الدين الألباني
رحمة الله عليه في آخر صفحة من نسخته الخاصة من الكتاب المذكور قوله: “كل
ما رددتَه على سيد قطب حق وصواب، ومنه يتبين لكل قارئ مسلم على شيء من
الثقافة الإسلامية: أنَّ سيد قطب لم يكن على معرفة بالإسلام بأصوله وفروعه،
فجزاك الله خير الجزاء أيها الأخ الربيع على قيامك بواجب البيان، والكشف
عن جهله وانحرافه عن الإسلام” ناصر. ))
“Sungguh aku telah menukil dari tulisan
tangan ustadz (guru) kami, ayahanda al-Imam asy-Syaikh Nashiruddin
al-Albani – rahmatullahi ‘alaih – di akhir halaman naskah khusus beliau
dari kitab yang bersangkutan (yaitu kitab al-’Awashim … ) pernyataan
beliau (asy-Syaikh al-Albani) : ‘Seluruh yang kau bantahkan kepada
Sayyid Quthb adalah benar dan tepat, dan darinya akan menjadi jelas bagi
setiap pembaca muslim yang memiliki pengetahuan tentang Islam bahwa
Sayyid Quthb tidak berada di atas pengetahuan Islam, baik pokok-pokok
dasar Islam maupun cabang-cabangnya. Semoga Allah membalas anda dengan
kebaikan wahai al-Akh Rabi’ atas upayamu melakukan kewajiban penjelasan
dan membongkar kebodohan dia (Sayyid Quthb) serta penyimpangannya dari
agama Islam.’ – (tertanda) Nashir – [4] “
Tak luput pula komentar ‘Ali al-Halabi “era lama” terhadap salah satu ucapan Sayyid Quthb dalam kitab “Fi Zhilal al-Qur`an”,
((لقد
استدار الزمان كهيئته يوم جاء هذا الدين إلى البشرية بـ (لا إله إلا
الله)؛ فقد ارتدت البشرية إلى عبادة العباد، وإلى جور الأديان، ونكصت عن لا
إله إلا الله، وإن ظل فريق منها يردد على المآذن: لا إله إلا الله؛ ))
“Sungguh roda zaman telah kembali
berputar seperti hari ketika (awal) datangnya agama (Islam) ini kepada
manusia dengan (membawa) Laa ilaha illallah. Maka sungguh telah murtad
umat manusia kepada peribadatan terhadap makhluk dan kezhaliman
agama-agama (selain Islam) dan berpaling dari Laa ilaha illallah,
walaupun sebagian manusia tersebut mengumandangkan (kalimat) Laa ilaha
illallah melalui corong-corong (tempat-tempat) adzan
‘Ali al-Halabi “era lama” menegaskan, dengan perkataannya,
((وهل ثمة قولٌ تكفيريٌ (أصرح) من قوله في ظلاله ( 2/1057) ))
“Apakah di sana ada sebuah pernyataan
takfir yang lebih jelas dari pernyataan dia (Sayyid Quthb) dalam (kitab)
Zhilal (al-Qur’an)-nya (II/1057)”
Subhanallah yang Maha Berkehendak dan
Menentukan nasib hamba-hamba-Nya. Begitu tegas ‘Ali al-Halabi
menyimpulkan pernyataan Sayyid Quthb di atas sebagai bentuk paham takfir
(terhadap masyarakat muslim) yang ada padanya. [5]
Dari pernyataan ‘Ali al-Halabi “era lama” di atas, ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil:
Al-Halabi mendukung persaksian Yusuf
al-Qaradhawi bahwa ada paham takfir pada aqidah Sayyid Quthb, bahkan
menegaskannya sebagai paham khawarij yang telah tampak nyata.
‘Ali al-Halabi menegaskan bahwa Yusuf al-Qaradhawi adalah orang yang banyak tahu tentang Sayyid Quthb. Tentu hal ini menunjukkan bahwa persaksian al-Qaradhawi merupakan salah satu sandaran utama dalam menyimpulkan aqidah takfir pada Sayyid Quthb.
‘Ali al-Halabi merujuk kepada karya-karya asy-Syaikh Rabi’ untuk menyimpulkan adanya paham takfir terhadap masyarakat muslim pada aqidah Sayyid Quthb.
‘Ali al-Halabi memuji berbagai karya asy-Syaikh Rabi’ tersebut sebagai karya yang banyak dan bermanfaat, yang telah membongkar hakekat takfir Sayyid Quthb, yang tidak menyisakan keraguan sedikitpun.
Untuk menegaskan kesimpulannya tersebut, ‘Ali al-Halabi menukil rekomendasi asy-Syaikh al-Albani terhadap berbagai bantahan asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali terhadap Sayyid Quthb, bahwa semuanya benar dan tepat. Sekaligus ucapan terima kasih asy-Syaikh al-Albani untuk beliau atas perjuangannya.
‘Ali al-Halabi mengomentari salah satu ucapan Sayyid Quthb dengan ucapannya, “Apakah di sana ada sebuah pernyataan takfir yang lebih jelas dari pernyataan dia (Sayyid Quthb) dalam (kitab) Zhilal (al-Qur’an)-nya (II/1057)”
‘Ali al-Halabi menegaskan bahwa Yusuf al-Qaradhawi adalah orang yang banyak tahu tentang Sayyid Quthb. Tentu hal ini menunjukkan bahwa persaksian al-Qaradhawi merupakan salah satu sandaran utama dalam menyimpulkan aqidah takfir pada Sayyid Quthb.
‘Ali al-Halabi merujuk kepada karya-karya asy-Syaikh Rabi’ untuk menyimpulkan adanya paham takfir terhadap masyarakat muslim pada aqidah Sayyid Quthb.
‘Ali al-Halabi memuji berbagai karya asy-Syaikh Rabi’ tersebut sebagai karya yang banyak dan bermanfaat, yang telah membongkar hakekat takfir Sayyid Quthb, yang tidak menyisakan keraguan sedikitpun.
Untuk menegaskan kesimpulannya tersebut, ‘Ali al-Halabi menukil rekomendasi asy-Syaikh al-Albani terhadap berbagai bantahan asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali terhadap Sayyid Quthb, bahwa semuanya benar dan tepat. Sekaligus ucapan terima kasih asy-Syaikh al-Albani untuk beliau atas perjuangannya.
‘Ali al-Halabi mengomentari salah satu ucapan Sayyid Quthb dengan ucapannya, “Apakah di sana ada sebuah pernyataan takfir yang lebih jelas dari pernyataan dia (Sayyid Quthb) dalam (kitab) Zhilal (al-Qur’an)-nya (II/1057)”
Sengaja kami buat beberapa kesimpulan
tersebut untuk membantu para pembaca sekalian mengenali ‘Ali al-Halabi
“era lama” dan ‘Ali al-Halabi “era reformasi”. Untuk itu ikutilah
keterangan berikut ini,
Dalam situs para Halabiyyin yang banyak
menyerang asy-Syaikh Rabi’ – dan beberapa ‘ulama Ahlus Sunnah lainnya –
telah dimuat sebuah tulisan yang mencoba menafikan keberadaan aqidah
takfir terhadap berbagai masyarakat muslim pada manhaj Sayyid Qutb
dengan ungkapannya “jahiliyah”. Dalam hal itu mereka bersandar kepada
pernyataan asy-Syaikh al-Albani dalam dialognya sebagaimana telah lalu
penjelasannya.
‘Ali al-Halabi “era reformasi” sebagai
musyrif (pengasuh) situs tersebut memberikan dukungan penuhnya terhadap
tulisan tersebut, dengan mengatakan,
((ولو
فكَّر الدكتور ربيع – وأتباع منهجه الشنيع – في هذا الكلام العلميّ
البديع: لرجعوا عما هم فيه من منهج مسخ!، ولتابوا وأنابوا!!، ولرقعوا الفتق
الذي خرقوه في الدعوة السلفية العصرية!!!، فكلام شيخنا الإمام المبرور:
يقضي – من الجذور – على ذاك السبيل الهدّام ذي الفُجور ))
“Kalau seandainya DR. Rabi’ – dan para
pengikut manhaj jeleknya – mau merenungi pernyataan (asy-Syaikh
al-Albani) yang ilmiah dan menakjubkan ini pasti mereka akan rujuk dari
manhaj pemburukkan yang mereka anut itu! Pasti mereka akan bertaubat dan
kembali!! serta sungguh pasti mereka akan menutupi celah/lobang yang
telah mereka buat dalam Dakwah Salafiyyah masa kini!!! Maka pernyataan
syaikh kami (asy-Syaikh al-Albani) al-Imam al-Mabrur meluluhlantakkan
metode penghancur yang mengandung kezhaliman tersebut hingga ke
akar-akarnya.”
Subhanallah, betapa cepatnya qalbu
manusia itu berbalik. ‘Ali al-Halabi “era reformasi” ini sudah jauh
berbeda dengan ‘Ali al-Halabi “era lama”. Kali ini dia mencela
asy-Syaikh Rabi’ dan manhajnya dengan memberikan julukan-julukan batil
dan penuh kezhaliman.
“Era lama” membenarkan keberadaan
pemikiran takfir Sayyid Quthb terhadap berbagai masyarakat muslim,
sementara pada “era reformasi” menafikannya.
“Era lama” mendukung kesimpulan asy-Syaikh Rabi’ bahwa Sayyid Quthb menganut paham takfir terhadap masyarakat muslim, sementara pada “era reformasi” memposisikan kesimpulan tersebut sebagai kesimpulan yang salah, yang semestinya – kata dia – asy-Syaikh harus Rabi’ rujuk dan bertaubat darinya .
“Era lama” memposisikan karya-karya asy-Syaikh Rabi’ sebagai rujukan ilmiah dan penuh manfaat, sementara pada “era reformasi” berupaya menjatuhkannya, dan menjauhkan ummat darinya.
Kalau “era lama” dia menukil pernyataan asy-Syaikh al-Albani yang memuji karya asy-Syaikh Rabi’ dan mendukung perjuangannya, maka pada “era reformasi” dia mengatakan bahwa manhaj asy-Syaikh Rabi’ sebagai manhaj yang buruk dan penghancur yang mengandung kezhaliman yang telah diluluhlantakkan oleh pernyataan asy-Syaikh al-Albani hingga ke akar-akarnya!!
“Era lama” mendukung kesimpulan asy-Syaikh Rabi’ bahwa Sayyid Quthb menganut paham takfir terhadap masyarakat muslim, sementara pada “era reformasi” memposisikan kesimpulan tersebut sebagai kesimpulan yang salah, yang semestinya – kata dia – asy-Syaikh harus Rabi’ rujuk dan bertaubat darinya .
“Era lama” memposisikan karya-karya asy-Syaikh Rabi’ sebagai rujukan ilmiah dan penuh manfaat, sementara pada “era reformasi” berupaya menjatuhkannya, dan menjauhkan ummat darinya.
Kalau “era lama” dia menukil pernyataan asy-Syaikh al-Albani yang memuji karya asy-Syaikh Rabi’ dan mendukung perjuangannya, maka pada “era reformasi” dia mengatakan bahwa manhaj asy-Syaikh Rabi’ sebagai manhaj yang buruk dan penghancur yang mengandung kezhaliman yang telah diluluhlantakkan oleh pernyataan asy-Syaikh al-Albani hingga ke akar-akarnya!!
Mengakhiri tulisan ke-6 ini, saya akan
menukilkan salah satu wasiat shahabat mulia Hudzaifah ibnul Yaman
radhiyallahu ‘anhu yang beliau sampaikan menjelang wafatnya,
اعْلَمْ
أَنَّ مِنْ أَعْمَى الضَّلَالَةِ أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ تُنْكِرُ أَوْ
أَنْ تُنْكِرَ مَا كُنْتَ تَعْرِفُ وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنَ فِي دِينِ
اللَّهِ فَإِنَّ دِينَ اللَّهِ وَاحِد
“Ketahuilah, bahwa di antara kesesatan
yang paling gelap adalah kamu menganggap ma’ruf (haq) sesuatu yang dulu
kamu yakini sebagai kemungkaran, atau kamu menganggap munkar sesuatu
yang dulu kamu yakini sebagai ma’ruf (haq). Berhati-hatilah kamu dari
sikap berubah-rubah warna (plin-plan) dalam agama, karena sesungguhnya
agama Allah itu satu.” (diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam
al-Mushannaf)
Kesimpulan dari berbagai keterangan di atas, mulai dari tulisan ke-5 hingga tulisan ke-6 ini, adalah :
1. Penafsiran asy-Syaikh al-’Allamah
Rabi’ bin Hadi al-Madkhali terhadap ungkapan “jahiliyah” oleh Sayyid
Quthb dengan makna “kafir” adalah penafsiran yang benar. Karena didukung
oleh :
– Berbagai pernyataan Sayyid Quthb
sendiri dalam banyak karyanya yang dia sendiri menafsirkan ungkapan
“jahiliyah” tersebut, yang telah saya nukilkan sebagian kecilnya.
– Penafsiran dan persaksian para tokoh
senior IM sendiri, dengan kesimpulan yang sama seperti kesimpulan dan
penafsiran asy-Syaikh Rabi’.
– Pengakuan ‘Ali Hasan al-Halabi “era
lama” yang membenarkan keberadaan aqidah takfir terhadap masyarakat
muslim pada diri Sayyid Quthb.
2. Dengan ini, terjawablah pertanyaan
asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam dialognya, “lantas dari mana
kita bisa menafsirkan dan menisbahkan kepada Sayyid Quthb bahwasanya ia
telah mengkafirkan masyarakat ini??” (lihat kembali tulisan bagian ke-5)
3. Sehingga dengan itu tidak benar
apabila dikatakan asy-Syaikh Rabi’ adalah seorang yang mutasyaddid
(seorang yang keras) dalam uslub (cara) beliau dalam membantah ahlul
bid’ah dan hizbiyyah. Apalagi akan dikatakan bahwa manhaj beliau
mutasyaddid.
4. ‘Ali al-Halabi telah meninggalkan manhajnya yang lama dan menggantinya dengan manhaj yang baru seperti sekarang ini.
5. Berbagai tulisan saudara Firanda
dalam mengkritisi asy-Syaikh Rabi’ dan menjatuhkan kredibilitas beliau,
sebenarnya telah banyak diwarnai oleh manhaj ‘Ali al-Halabi dan
tulisan-tulisan di situs para Halabiyyin.
6. Saya meyakini bahwa berbagai
keterangan yang telah lalu, dari tulisan bagian-1 hingga ke-6 ini, sudah
sangat gamblang untuk menjadikan seseorang yang menginginkan kebenaran
bagi dirinya dan umat ini, untuk memiliki penilaian positif terhadap
asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ al-Madkhali, juga berbagai karya dan
perjuangannya dalam menjelaskan al-Haq serta membantah ahlul bid’ah dan
hizbiyyah, sebagaimana penilaian para ‘ulama kibar terhadap beliau dan
berbagai karyanya. Oleh karena itu, sebelum saya melanjutkan tulisan ini
pada bagian-bagian berikutnya, saya menunggu sikap atau tanggapan
saudara Firanda setelah membacanya. Apakah dia,
– mau rujuk dan meninggalkan kesombongan serta akhlak jeleknya terhadap asy-Syaikh Rabi’ dan beberapa ‘ulama sunnah lainnya,
– mau rujuk dan meninggalkan tipu
dayanya terhadap umat dengan memanfaatkan ijtihad asy-Syaikh al-Albani,
untuk membenturkan para ‘ulama sunnah satu dengan lainnya.
– mau rujuk dan mengakui bahwa
kesimpulan asy-Syaikh Rabi’ tentang ungkapan “jahiliyah” oleh Sayyid
Quthb yang bermakna takfir terhadap masyarakat muslim adalah kesimpulan
yang benar.
– mau rujuk dan mengakui kesalahan kesimpulannya yang dia hembuskan di tengah umat bahwa asy-Syaikh Rabi’ mutasyaddid.
– mau mengakui bahwa ‘Ali al-Halabi sang panutannya itu telah menyimpang dari manhajnya yang lama.
Jika saudara Firanda mau rujuk dan
mengakui itu semua, maka itulah harapan kami. Jika teryata sebaliknya,
dia tetap bersikeras mempertahankan sikap-sikapnya dalam permasalahan
yang sebenarnya sudah sangat jelas dan gamblang ini, maka kita semua
melihat bahwa saudara Firanda adalah pengekor hawa nafsu yang telah
menolak kebenaran dengan penuh kesombongan. Sekaligus dari sini para
pembaca sekalian akan tahu bagaimana sikap saudara Firanda dalam
permasalahan-permasalahan lainnya.
Semoga Allah melindungi kita semua dari kesesatan. Amin
(bersambung insya Allah)
al-Faqir ila ‘afwi wa ‘auni rabbihi
Luqman Muhammad Ba’abduh
Jember, 28 Dzulhijjah 1434 H / 2 November 2013 M
[1] Saya katakan demikian karena
pembelaannya yang sangat gigih terhadap ‘Ali Hasan al-Halabi. Di samping
juga karena berbagai tulisan dan sikap manhaj saudara Firanda banyak
diwarnai oleh manhaj ‘Ali Hasan al-Halabi. Oleh karena itu, dia banyak
merujuk kepada situs kebanggaan Halabiyyun (para pengikut al-Halabi)
yang langsung di bawah pantauan ‘Ali Hasan al-Halabi.
[2] Subhanallah, doa ‘Ali Hasan “era
lama” ini tampaknya telah terkabulkan dan ternyata mengenai dirinya
sendiri. Sebagimana menimpa kepada Abul Hasan al-Ma’ribi dalam dialognya
dengan asy-Syaikh al-Albani. (lihat tulisan bag-1 dan bag-3). Terbukti,
asy-Syaikh Rabi’ – yang dia akui sebagai ustadznya –benar-benar telah
menjadi duri pada tenggorokan ahlul bid’ah dan hizbiyah, termasuk pada
tenggorokan ‘Ali Hasan al-Halabi sendiri, Abul Hasan al-Ma’ribi, dan
para pengikutnya.
{رَبَّنَا
لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ
لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (8)} [آل عمران: 8]
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau
jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk
kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau;
karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”. (QS. ali ‘Imran :
8)
«يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Wahai Yang Membolak-balikkan hati, kokohkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (at-Tirmidzi 2140)
[3] yaitu hakekat aqidah takfir (pengkafiran) terhadap masyarakat muslim yang ada pada diri Sayyid Quthb.
[4] Maksudnya adalah : “Tertanda Muhammad Nashiruddin al-Albani”
[5] Catatan : tulisan bagian ke-5 dan
ke-6 saya banyak mengambil faidah dari salah satu artikel karya
asy-Syaikh Thahir alu Ra’id hafizhahullah.
http://dammajhabibah.net/2013/11/02/menepis-tipu-daya-firanda-membela-ulama-sunnah-6/
Review / Koreksi