بسم الله الرحمن الرحيم
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ
تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
.1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah ?
2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka ( untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia – sia?
3. Dan dia mengirimkan kepada mereka buRung yang berbondong – bondong.
4. Yang melempari mereka dengan batu ( berasal) dari tanah yang terbakar,
5. Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan(ulat).
Dinamakan surat Al Fiil (Gajah)
kerena dimulai dengan mengingatkan kisah para penunggah gajah. AlLah
menyebutkan di surat Al Humazah tentang keadaan para pengumpat dan
pencela yang mengumpulkan harta dan merasa mulia dengan hartanya, lalu
Allah memberitaukan bahwa harta sama sekali tidak bermanfaat menghadapi
siksaan Allah.
Dalam surat ini Allah mengisahkan
ashabul-fiil ( pasukan menunggang gajah) yang lebih kuat dari mereka,
lebih banyak harta, dan lebih melampaui batas. Allah Ta’ala membinasakan
mereka hanya dengan burung yang paling kecil dan paling lemah.
Sementara harta, jumlah, dan kekuatan mereka tidak bermanfaat sama
sekali untuk membantu mereka.
Arti kosa kata
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ
“ tidak lah kamu lihat, bagaimana Rabbmu memperbuat”
Tidaklah kamu tahu? Penyampaian ini di
tujukan pada Rasul, walaupun Beliau tidak menyasikkan itu, tetapi
menyasikkan bekas-bekasnya, hingga seolah olah Beliau melihatnya.
أَصْحَابِ الْفِيلِ
“ para penunggang gajah”
Mahmud adalah gajah terbesar, besarnya tiga belas gajah yang lainya. Penuggangnya adalah Abrahah.
أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُ
“ bukankah Dia menjadikan tupi daya mereka “
Untuk menghancurkan Ka’bah.
فِي تَضْلِيلٍ
“ sia-sia “
Dalam kerugian dan kebinasaan.
طَيْرًا
“ burung”
Semua yang terbang di udara, baik besar maupun kecil.
أَبَابِيلَ
“ bergerombol – gerombol”
سِجِّيلٍ
“ tanah yang terbakar”
كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ
Seperti daun tanaman yang dimakan dan di injak-injak ulat.
Makna secara global
Surat ini mengandung pembicaraan tentang
kejadian yang terjadi dekat sebelum kelahiran Nabi Muhammad
Sholollohu’alaihiwassalam. Ringkasnya Abrahah Al Asyram gubernur Yaman
di bawah kerajaan Habasyah pernah berpendapat untuk mendirikan sebuah
rumah ibadah (gereja) di Shan’a Yaman.
Dia menyeru bangsa Arab untuk berhaji
kepadanya sebagai pengganti haji ke Baitil Haram. Tatkala dia telah
membangun gereja yang dinamakan Quallais, sebagai bangunan yang belum
pernah di kenal semisalnya dalam sejarah pembangun gereja, maka datang
seorang laki-laki Quraisy yang membuang air besar lalu melumuri diding
dengan kotoran itu disebabkan kejengkelannya.
Ketika Abrahah melihat bangunan
kebanggaanya dengan keadaan seperti itu, maka muncullah api murkanya
lalu mempersiapkan pasukan untuk memerangi Mekkah dan mengahancurkan
Ka’bah. Berangkatlah bersamanya tiga belas gajah, diantaranya gajah yang
bernama Mahmud ( Gajah Terbesar).
Mereka berjalan terus melawati sebuah
lingkungan masyarakat Arab kemudian mereka perangi dan berhasil
mengalahkannya sampai tiba di Mekkah. Terjadilah perundingan antara
mereka dengan Tokoh Mekkah yaitu ‘Abdul Muththalib ( kakek Rasulullah ).
Perundingan pun berakhir dengan hasil : Abrahah akan mengembalikan unta
Abdul Muththalib kemudian Abrahah bisa berbuat apa saja terhadap
Ka’bah.
Abdul Muththalib pun memerintahkan para
lelaki penduduk Mekkah untuk mengosongkan negeri ini menuju ke
puncak-puncak gunung membawa istri dan anak-anak mereka karena takut
terhadap pasukan yang zalim yaitu Abrahah.
Segera pasukan Abrahah bergerak, hingga
tiba di lembah Muhassar ( lembah terhina) maka tiba-tiba sekumpulan demi
sekumpulan burung datang melempari pasukan itu dengan batu seukuran
antara himsh dengan adas ( seperti kacang hijau). Mereka pun meleleh dan
berjatuhan dagingnya lalu binasa. Abrahah lari dengan dagingnya yang
berjatuhan, namun akhirya mati dalam perjalanan.
Kejadian adalah nikmat dari Allah bagi
penduduk Al Haram dan penjaga rumah-nya. Oleh karena itu, bangsa Arab
senantiasa memuliakan Ka’bah Al Haram dan penduduknya hingga sekarang.
Faedah yang dapat di ambil dari ayat ini.
- Hiburan bagi Rasulullah terhadap apa – apa yang beliau temui dari kezhaliman kuffar Quraisy.
- Mengingatkan kaum Quraisy akan tindakan Allah Ta’ala terhadap Abrahah beserta kaumnya, menakutkan dan mengancam mereka.
- Memperlihatkan kekuasaan Allah Subhanawata’ala dalam memelihara hamba – hambaNya juga meperlihatkan serangan Allah Ta’ala terhadap musuh-musuhNya
- Perlindungan Allah terhadap baitnya dari musuh-musuh AgamaNya.
- Kejadian “ gajah” menjadi sejarah yang dinamakan dengan tahun gajah ( tahun 570 M) yang juga merupakan tahun lahirnya Nabi Muhammad Sholollohu’alaihiwassalam.
Review / Koreksi