Ditulis Oleh Ustadz Kharisman
HAKIKAT KEIMANAN
Tidak Ada Amal Kecuali dengan Iman
Al-Muzani menyatakan: dan tidak ada amal kecuali dengan Iman.
Tidak akan diterima amal baik perbuatan seseorang jika tidak beriman dengan keimanan yang benar.
Orang yang kafir dengan kufur akbar atau
melakukan syirik akbar tidak akan diterima amalannya. Bahkan amalannya
yang pernah dilakukan menjadi terhapus.
…وَلَقَدْ
أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ
لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu
dan kepada orang-orang sebelummu bahwa jika engkau berbuat kesyirikan,
niscaya akan terhapus amalanmu dan sungguh engkau termasuk orang yang
merugi (Q.S az-Zumar:65).
Seseorang harus memiliki keimanan yang
benar terhadap seluruh rukun iman yang enam jika ingin amalannya
diterima. Sebagai contoh, jika ia tidak beriman dengan takdir, amal
perbuatannya tidak akan diterima.
وَلَوْ
أَنْفَقْتَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا قَبِلَهُ
اللَّهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا
أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ
لِيُصِيبَكَ وَلَوْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا لَدَخَلْتَ النَّارَ
Kalau seandainya engkau berinfaq emas
sebesar gunung Uhud di jalan Allah, tidak akan Allah terima hingga
engkau beriman dengan taqdir, dan engkau mengetahui bahwasanya apa yang
menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak akan
menimpamu. Kalau engkau meninggal tidak dengan (akidah) ini, niscaya
engkau masuk neraka (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dishahihkan oleh
Syaikh al-Albany)
Ada juga tidak diterimanya amalan
tertentu dalam waktu tertentu karena perbuatan tertentu, seperti
seseorang yang mendatangi paranormal/dukun; tukang ramal dan sekedar
bertanya meski tidak meyakini jawabannya, maka akan tidak diterima
sholatnya 40 malam. Mungkin saja sholatnya sah dan gugur kewajiban,
namun tidak berbuah pahala sama sekali dalam jangka waktu itu.
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Barangsiapa mendatangi ‘Arrof
(mengaku mengetahui perkara ghaib), kemudian ia bertanya tentang
sesuatu, tidaklah diterima sholatnya 40 malam (H.R Muslim 4137).
Demikian juga orang yang meminum khamr atau mengkonsumsi hal-hal yang memabukkan seperti narkoba dan semisalnya, maka juga tidak diterima sholatnya selama 40 hari.
مَنْ
شَرِبَ الْخَمْرَ وَسَكِرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ
صَبَاحًا وَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ
عَلَيْهِ وَإِنْ عَادَ فَشَرِبَ فَسَكِرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ
أَرْبَعِينَ صَبَاحًا فَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ فَإِنْ تَابَ تَابَ
اللَّهُ عَلَيْهِ وَإِنْ عَادَ فَشَرِبَ فَسَكِرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ
صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا فَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ فَإِنْ تَابَ
تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَإِنْ عَادَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ
يَسْقِيَهُ مِنْ رَدَغَةِ الْخَبَالِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالُوا يَا
رَسُولَ اللَّهِ وَمَا رَدَغَةُ الْخَبَالِ قَالَ عُصَارَةُ أَهْلِ
النَّارِ
Barangsiapa yang meminum khamr dan
mabuk tidak diterima sholatnya 40 pagi, jika ia mati, maka masuk neraka.
Jika ia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Jika dia mengulangi,
minum khamr dan mabuk, tidak diterima sholatnya 40 pagi. Jika ia mati,
masuk neraka. Jika ia bertaubat, Allah akan terima taubatnya. Jika ia
mengulangi, sehingga minum dan mabuk, tidak diterima sholatnya 40 pagi.
Jika mati, masuk neraka. Jika ia bertaubat, Allah akan menerima
taubatnya. Jika mengulangi lagi, maka hak bagi Allah untuk memberinya
minum dari rodaghotul khobaal pada hari kiamat. Para Sahabat bertanya:
Apakah rodaghotul khobaal itu wahai Rasulullah? Nabi menyatakan: ampas
(sisa perasan) penduduk neraka (berupa darah, nanah, muntah, dan hal-hal
yang menjijikkan dari penduduk neraka)(H.R Ibnu Majah, dishahihkan oleh
Ibnu Hibban dan al-Albany).
Keimanan Bertingkat-Tingkat
Al-Muzani menyatakan: Kaum mukminin bertingkat-tingkat keimanannya
Orang yang beriman memiliki tingkat
keimanan yang berbeda-beda. Keimanan para Nabi dan Rasul tidak sama dan
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan keimanan orang beriman lainnya
secara umum.
Dalam Surat Faathir ayat 32 Allah
Subhaanahu Wa Ta’ala membagi orang beriman menjadi 3 bagian (tingkatan
sesuai keimanannya), yaitu : dzhalimun li nafsihi (orang yang mendzhalimi diri sendiri), muqtashid (orang yang pertengahan), dan saabiqun bil khoiroot (orang yang bersemangat/ terdepan dalam kebaikan).
ثُمَّ
أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا
فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ
بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian Kitab itu Kami wariskan
kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di
antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara
mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih
dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah
karunia yang amat besar (Q.S Faathir:32)
Dzhalimun li nafsih adalah
orang-orang beriman yang masih mengerjakan sebagian perbuatan yang
diharamkan atau meninggalkan sebagian hal yang diwajibkan. Muqtashid adalah orang-orang yang mengerjakan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan. Sedangkan Saabiqun bil khoiroot adalah orang-orang yang tidak hanya mengerjakan kewajiban namun juga mengerjakan amalan-amalan nafilah (sunnah), tidak hanya meninggalkan hal yang diharamkan namun juga hal-hal yang makruh. Muqtashid dan Saabiqun bil khoiroot adalah para Wali Allah (disarikan dari atTuhfatul Iroqiyyah fil A’maalil Qolbiyyah karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah).
Setiap orang yang beriman dan bertaqwa adalah Wali Allah.
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)
Ingatlah bahwa para Wali Allah tidak
ada perasaan takut pada mereka dan tidak pula mereka merasa bersedih.
Yaitu orang-orang yang beriman dan bertaqwa (Q.S Yunus:62)
Balasan kebaikan di surga juga bertingkat-tingkat. Secara umum, dalam surat al-Waaqi’ah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala membagi penduduk surga menjadi 2 bagian yaitu Ashaabul Yamiin dan al-Muqorrobuun. Fasilitas yang didapatkan di surga berbeda. Al-Muqorrobun tingkatnya lebih tinggi dan mendapat kenikmatan-kenikmatan yang lebih besar.
Surga bertingkat-tingkat. Antar
tingkatan jauhnya antara langit dan bumi. Seratus tingkatan disediakan
untuk orang yang berjihad di jalan Allah.
إِنَّ
فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ
وَالْأَرْضِ
Sesungguhnya di surga terdapat 100
tingkatan yang disediakan untuk orang yang berjihad di jalan Allah. Di
antara tiap tingkatan (jaraknya) bagaikan langit dengan bumi (H.R
al-Bukhari no 2581).
Sebagian riwayat (lebih dari satu) menunjukkan bahwa banyak tingkatan di surga seperti banyaknya jumlah ayat dalam al-Quran.
Sebagaimana surga bertingkat-tingkat,
neraka juga bertingkat-tingkat. Semakin besar kekafiran, kejahatan dan
dosanya di dunia, semakin rendah tingkatannya di neraka.
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا…
Dan setiap (orang) mendapatkan tingkatan sesuai (amalan) yang dikerjakannya….(Q.S al-An’aam:132)
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu
(ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu
sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka (Q.S anNisaa’:145)
Amal Ketaatan Meningkatkan Keimanan
Al-Muzani menyatakan: Amalan sholeh meningkatkan keimanan
Keimanan seseorang bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Al-Imam al-Bukhari menuliskan bab tersendiri dalam Shahihnya berjudul Ziyaadatul Imaan wa Nuqshoonihi (Bertambah dan Berkurangnya Keimanan) pada Kitaabul Iman. Pada bagian itu al-Imam al-Bukhari menyebutkan 3 ayat al-Qur’an:
…وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
…dan Kami tambahkan untuk mereka petunjuk (Q.S al-Kahfi:13, penambahan petunjuk adalah berarti penambahan iman)
…وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا…
… dan bertambahlah keimanan pada orang yang beriman…(Q.S al-Muddatsir:31)
…الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ…
…pada hari ini Aku sempurnakan agama
untuk kalian…(Q.S al-Maaidah:3, sebagian Ulama menjelaskan bahwa pada
tahun diturunkannya ayat ini, dilaksanakan ibadah haji yang pertama,
sehingga menjadi sempurnalah rukun Islam, sekaligus menyempurnakan
keimanan)
Penambahan iman juga bisa didapatkan
dengan berserah diri tunduk dan patuh terhadap keputusan Allah dan
Rasul-Nya. Sebagaimana pada saat perjanjian Hudaibiyah para Sahabat Nabi
menerima ketentuan Allah dan Rasul-Nya, maka Allah tambah keimanan
mereka karena mereka tenang menerima apa yang telah diputuskan.
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ…
Dialah Allah yang menurunkan ketenangan pada hati orang-orang yang beriman, agar keimanan mereka bertambah….(Q.S alFath:4)
Seorang yang mengingkari kemungkaran
dengan tangannya berbeda pengaruh penambahan imannya dibandingkan dengan
yang mengingkari dengan lisannya. Pengingkaran dengan lisan lebih baik
dan lebih berpengaruh pada peningkatan keimanan dibandingkan
pengingkaran dengan hati. Pengingkaran dengan hati disebut oleh Nabi
sebagai selemah-lemahnya iman (hadits riwayat Muslim no 70).
Meninggalkan kemaksiatan karena Allah
bisa menambah keimanan dan semakin bersihnya hati. Jika suatu fitnah
datang pada hati kemudian ditolak, akan menimbulkan bintik putih dalam
hati. Sebaliknya, jika fitnah itu diikuti, maka akan timbul bintik hitam
pada hati.
تُعْرَضُ
الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ
أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا
نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى
أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتْ
السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ
مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا
أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ
Fitnah-fitnah diunjukkan pada hati
bagaikan anyaman tikar, selembar demi selembar. Hati yang menyerapnya
akan diberi tanda titik hitam. Hati yang mengingkarinya akan diberi
tanda titik putih. (Jika itu terjadi terus menerus), akan terjadi 2 hati
(yang jauh berbeda). Satu hati putih cemerlang yang tidak akan
terpengaruh fitnah selama masih ada langit dan bumi, yang satu lagi
menjadi hitam legam, bagaikan mangkuk yang ditelungkupkan. Tidaklah bisa
mengenal yang baik dan tidak mengingkari yang munkar, kecuali yang
sesuai dengan hawa nafsunya (H.R Muslim no 207)
Itu semua menunjukkan bahwa keimanan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Sekedar Perbuatan Dosa (Selain Kufur atau Syirik Akbar) Tidak Mengeluarkan Seseorang dari Keimanan
Al-Muzani menyatakan: Tidaklah
mengeluarkan dari keimanan (sekedar) perbuatan dosa. Tidaklah (seorang
mukmin) dikafirkan dengan melakukan perbuatan dosa besar atau
kemaksiatan
Perbuatan dosa yang di bawah kesyirikan
seperti membunuh, mencuri, berzina, minum khomr, dan semisalnya, tidak
menyebabkan seseorang menjadi kafir. Kecuali jika ia menghalalkan
perbuatan tersebut.
Seorang yang berbuat dosa yang di bawah
kesyirikan, jika dia meninggal sebelum sempat bertaubat, ada dua
kemungkinan: Allah adzab ia dengan dosa itu atau Allah ampuni dosanya.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Sesungguhnya Allah tidaklah
mengampuni dosa kesyirikan, dan mengampuni dosa yang di bawah itu bagi
orang-orang yang dikehendakiNya (Q.S anNisaa’:48 dan anNisaa’:116).
عَنْ
عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ أَخَذَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا أَخَذَ عَلَى النِّسَاءِ أَنْ لَا
نُشْرِكَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا نَسْرِقَ وَلَا نَزْنِيَ وَلَا نَقْتُلَ
أَوْلَادَنَا وَلَا يَعْضَهَ بَعْضُنَا بَعْضًا فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ
فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَتَى مِنْكُمْ حَدًّا فَأُقِيمَ عَلَيْهِ
فَهُوَ كَفَّارَتُهُ وَمَنْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَأَمْرُهُ إِلَى
اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ
Dari Ubadah bin as-Shoomit ia
berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengambil perjanjian
(baiat) kepada kami sebagaimana beliau mengambil perjanjian kepada para
wanita, yaitu: agar kami tidak mensekutukan Allah dengan suatu apapun,
tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, atau
membunuh satu sama lain. Barangsiapa yang memenuhi perjanjian itu
maka pahalanya ada di sisi Allah. Barangsiapa yang ditegakkan padanya
hukum had, maka itu adalah penghapus dosanya. Barangsiapa yang Allah
tutup kesalahannya (tidak diketahui oleh yang lain, dan tidak ditegakkan
hukum had), maka urusannya (dikembalikan) kepada Allah. Jika Allah
berkehendak, Allah adzab dia, jika Allah berkehendak, Allah ampuni dia
(H.R al-Bukhari dan Muslim no 3224).
Karena itu, tidak benar anggapan yang
menyatakan bahwa pezina adalah kafir, pemabuk adalah kafir, orang yang
mati bunuh diri adalah mati kafir. Semua anggapan itu tidak benar.
Segala perbuatan dosa yang berada di bawah kekufuran akbar atau
kesyirikan tidaklah mengeluarkan seseorang dari keimanan. Kecuali jika
ia menghalalkan atau menganggap kemaksiatan itu adalah halal setelah
ditegakkan hujjah terhadapnya.
Review / Koreksi