Oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits
Kaum Anshar dan Ghanimah
Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu , beliau berkata:
لَمَّا
أَعْطَى رَسُولُ اللهِ مَا أَعْطَى مِنْ تِلْكَ الْعَطَايَا فِي
قُرَيْشٍ وَقَبَائِلِ الْعَرَبِ وَلَمْ يَكُنْ فِي الْأَنْصَارِ مِنْهَا
شَيْءٌ وَجَدَ هَذَا الْحَيُّ مِنَ الْأَنْصَارِ فِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى
كَثُرَتْ فِيهِمُ الْقَالَةُ حَتَّى قَالَ قَائِلُهُمْ: لَقِيَ رَسُولُ
اللهِ قَوْمَهُ. فَدَخَلَ عَلَيْهِ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ فَقَالَ: يَا
رَسُولَ اللهِ، إِنَّ هَذَا الْحَيَّ قَدْ وَجَدُوا عَلَيْكَ فِي
أَنْفُسِهِمْ لِمَا صَنَعْتَ فِي هَذَا الْفَيْءِ الَّذِي أَصَبْتَ
قَسَمْتَ فِي قَوْمِكَ وَأَعْطَيْتَ عَطَايَا عِظَامًا فِي قَبَائِلِ
الْعَرَبِ وَلَمْ يَكُنْ فِي هَذَا الْحَيِّ مِنَ الْأَنْصَارِ شَيْءٌ.
قَالَ: فَأَيْنَ أَنْتَ مِنْ ذَلِكَ، يَا سَعْدُ؟ قَالَ: يَا رَسُولَ
اللهِ، مَا أَنَا إِلاَّ امْرُؤٌ مِنْ قَوْمِي وَمَا أَنَا؟؟؟
قَالَ: فَاجْمَعْ لِي قَوْمَكَ فِي هَذِهِ الْحَظِيرَةِ. قَالَ: فَخَرَجَ
سَعْدٌ فَجَمَعَ النَّاسَ فِي تِلْكَ الْحَظِيرَةِ، قَالَ: فَجَاءَ رِجَالٌ
مِنَ الْمُهَاجِرِينَ فَتَرَكَهُمْ فَدَخَلُوا وَجَاءَ آخَرُونَ
فَرَدَّهُمْ فَلَمَّا اجْتَمَعُوا أَتَاهُ سَعْدٌ فَقَالَ: قَدِ اجْتَمَعَ
لَكَ هَذَا الْحَيُّ مِنَ الْأَنْصَارِ. قَالَ: فَأَتَاهُمْ رَسُولُ اللهِ
فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ ثُمَّ
قَالَ: يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، مَا قَالَةٌ بَلَغَتْنِي عَنْكُمْ
وَجِدَةٌ وَجَدْتُمُوهَا فِي أَنْفُسِكُمْ، أَلَمْ آتِكُمْ ضُلاَّلاً
فَهَدَاكُمُ اللهُ، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللهُ وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ
اللهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟ قَالُوا: بَلِ اللهُ وَرَسُولُهُ أَمَنُّ
وَأَفْضَلُ. قَالَ: أَلاَ تُجِيبُونَنِي يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ؟
قَالُوا: وَبِمَاذَا نُجِيبُكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ وَلِلهِ وَلِرَسُولِهِ
الْمَنُّ وَالْفَضْلُ. قَالَ: أَمَا وَاللهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ
فَلَصَدَقْتُمْ وَصُدِّقْتُمْ، أَتَيْتَنَا مُكَذَّبًا فَصَدَّقْنَاكَ
وَمَخْذُولاً فَنَصَرْنَاكَ وَطَرِيدًا فَآوَيْنَاكَ وَعَائِلاً
فَأَغْنَيْنَاكَ، أَوَجَدْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ يَا مَعْشَرَ
الْأَنْصَارِ، فِي لُعَاعَةٍ مِنَ الدُّنْيَا تَأَلَّفْتُ بِهَا قَوْمًا
لِيُسْلِمُوا وَوَكَلْتُكُمْ إِلَى إِسْلاَمِكُمْ، أَفَلاَ تَرْضَوْنَ يَا
مَعْشَرَ اْلأَنْصَارِ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالشَّاةِ وَالْبَعِيرِ
وَتَرْجِعُونَ بِرَسُولِ اللهِ فِي رِحَالِكُمْ؟ فَوَالَّذِي نَفْسُ
مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْلاَ الْهِجْرَةُ لَكُنْتُ امْرَأً مِنَ
الْأَنْصَارِ، وَلَوْ سَلَكَ النَّاسُ شِعْبًا وَسَلَكَتِ الْأَنْصَارُ
شِعْبًا لَسَلَكْتُ شِعْبَ الْأَنْصَارِ، اللهُمَّ ارْحَمِ الْأَنْصَارَ
وَأَبْنَاءَ الْأَنْصَارِ وَأَبْنَاءَ أَبْنَاءِ الْأَنْصَارِ. قَالَ:
فَبَكَى الْقَوْمُ حَتَّى أَخْضَلُوا لِحَاهُمْ وَقَالُوا: رَضِينَا
بِرَسُولِ اللهِ قِسْمًا وَحَظًّا. ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللهِ
وَتَفَرَّقْنَا
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
mulai membagi-bagikan ghanimah kepada beberapa tokoh Quraisy dan
kabilah ‘Arab; sama sekali tidak ada dari mereka satu pun yang dari
Anshar. Hal ini menimbulkan kejengkelan dalam hati orang-orang Anshar
hingga berkembanglah pembicaraan di antara mereka, sampai ada yang
mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamsudah bertemu dengan kaumnya kembali.”
Kemudian masuklah Sa’d bin ‘Ubadah menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
katanya: “Wahai Rasulullah. Orang-orang Anshar ini merasa tidak enak
terhadap anda melihat apa yang anda lakukan dengan harta rampasan yang
anda peroleh dan anda bagikan kepada kaummu. Engkau bagikan kepada
kabilah ‘Arab dan tidak ada satu pun Anshar yang menerima bagian.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Engkau sendiri di barisan mana, wahai Sa’d?”
Katanya: “Saya hanyalah bagian dari mereka.”
Kata Rasulullah n: “Kumpulkan kaummu di tembok ini.”
Lalu datang beberapa orang Muhajirin
tapi beliau biarkan mereka, dan mereka pun masuk. Datang pula yang lain,
tapi beliau menolak mereka. Setelah mereka berkumpul, Sa’d pun datang,
katanya: “Orang-orang Anshar sudah berkumpul untuk anda.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
pun menemui mereka, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan
pujian yang layak bagi-Nya. Kemudian beliau bersabda: “Wahai sekalian
orang Anshar, apa pembicaraanmu yang sampai kepadaku? Apa perasaan tidak
enak yang kalian rasakan dalam hati kalian? Bukankah aku datang kepada
kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi hidayah kepada kamu
melalui aku? Bukankah kamu miskin lalu Allah kayakan kamu denganku?
Bukankah kamu dahulu bermusuhan lalu Allah satukan hati kamu?”
Kata mereka: “Bahkan Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi kebaikan dan keutamaan.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menukas: “Mengapa kamu tidak membantahku, wahai kaum Anshar?”
“Dengan apa kami membantahmu, wahai
Rasulullah? Padahal kepunyaan Allah dan Rasul-Nya semua kebaikan serta
keutamaan,” jawab orang-orang Anshar.
Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Demi Allah, kalau kamu mau, kamu dapat mengatakan dan pasti kamu benar
dan dibenarkan: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan,
lalu kami yang membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan terhina,
kamilah yang membelamu. Engkau datang dalam keadaan terusir, kamilah
yang memberimu tempat. Engkau datang dalam keadaan miskin, kamilah yang
mencukupimu. Apakah kalian dapati dalam hati kamu, hai kaum Anshar
keinginan terhadap sampah dunia, yang dengan itu aku melunakkan hati
suatu kaum agar mereka menerima Islam, dan aku serahkan kamu kepada
keislaman kamu. Tidakkah kamu ridha, hai orang-orang Anshar, manusia
pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kamu pulang ke kampung
halamanmu membawa Rasulullah n? Demi yang jiwa
Muhammad di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk
salah seorang dari Anshar. Seandainya manusia menempuh satu lembah, dan
orang-orang Anshar melewati lembah lain, pastilah aku ikut melewati
lembah yang dilalui orang-orang Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang
Anshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar.”
Mendengar ini, menangislah
orang-orang Anshar hingga membasahi janggut-janggut mereka, sambil
berkata: “Kami ridha bagian kami adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi, dan kami pun bubar.
Perang Thaif
Sebagian besar pasukan Hawazin dan
Tsaqif yang melarikan diri akhirnya masuk ke benteng Thaif bersama
panglima mereka, Malik bin ‘Auf An-Nadhari. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun bergerak mengejar mereka setelah mengumpulkan ghanimah di Ji’ranah bulan itu juga.
Khalid bin Al-Walid bersama seribu prajurit mendahului di barisan pelopor. Kemudin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
menyusul ke Thaif. Dalam perjalanan itu pasukan muslimin diperintah
menghancurkan benteng Malik bin ‘Auf yang ada di Liyyah. Setelah tiba di
Thaif, mereka mengepung benteng tersebut hingga beberapa hari. Ada yang
mengatakan empat puluh hari, tapi ahli sejarah menyebutkan sekitar dua
puluh hari.
Dalam pengepungan ini terjadi saling
lempar batu dan panah. Pada awal pengepungan itu, kaum muslimin diserang
dari dalam benteng bertubi-tubi sehingga menyebabkan beberapa orang
terluka dan sekitar dua belas orang gugur. Akhirnya mereka pindah ke
tempat yang sekarang dibangun masjid Thaif dan bermarkas di sana.
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk melemparkan manjaniq (peluru
besi berapi) hingga melubangi dinding benteng. Beberapa pasukan
berusaha menerobos masuk dari bawah gerobak, tetapi disambut dengan
ranjau-ranjau besi yang membara. Akhirnya kaum muslimin keluar, dan
mereka diserang lagi dengan panah sehingga beberapa orang muslimin
gugur.
Melihat ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
memerintahkan agar menebang dan membakar ladang-ladang anggur mereka.
Hal ini membuat cemas orang-orang Tsaqif, lalu mereka meminta kepada
beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam demi Allah dan kasih sayang, agar beliau membiarkan tanaman tersebut. Beliau pun membiarkannya.
Setelah itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar diserukan bahwasanya siapa saja budak yang keluar dari benteng dan datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
maka dia merdeka. Mendengar ini, keluar 23 orang budak termasuk Abu
Bakrah. Dia memanjat dinding benteng dan turun dengan timba bulat yang
dipakai untuk mengambil air minum lalu menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia pun diberi kuniah Abu Bakrah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
membebaskan mereka dan menyerahkan masing-masing mereka kepada seorang
muslim untuk diberi santunan. Hal ini semakin menyusahkan penghuni
benteng.
Semakin lama pengepungan semakin berat
dan menyusahkan pasukan muslimin. Terlebih lagi para penghuni benteng
telah menyiapkan bekal untuk bertahan selama setahun. Akhirnya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bermusyawarah dengan para sahabatnya untuk meninggalkan benteng tersebut.
Naufal bin Mu’awiyah Ad-Daili
menyarankan kepada beliau: “Mereka itu seperti pelanduk di liangnya.
Kalau anda tetap mengepungnya niscaya anda dapat menangkapnya. Tapi
kalau anda membiarkannya, maka dia tidak akan merugikan anda.”
Saat itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
bertekad meninggalkan benteng. Beliau memerintahkan ‘Umar bin
Al-Khaththab bahwa mereka akan pulang besok, Insya Allah. Tetapi ada
sebagian sahabat yang tidak menerima dan merasa keberatan, kata mereka:
“Kita pergi dari sini padahal kita belum menaklukkan mereka?”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
pun menukas: “Kita berangkat untuk perang.” Maka keesokan paginya
mereka berangkat untuk menyerang, tetapi mereka malah mendapat serangan
hebat hingga jatuh korban. Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
berkata pula: “Kita bersiap untuk pulang besok, Insya Allah.” Tentu
saja hal ini menyenangkan para sahabat. Mereka pun tunduk menerima dan
mulai bertolak untuk pulang, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa.
Ada yang mengatakan kepada Rasulullah n: “Ya Rasulullah, doakanlah kejelekan terhadap Tsaqif.”
Kata Rasulullah n: “Ya Allah, berilah hidayah kepada Tsaqif dan datangkanlah mereka.”
Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
kembali ke Ji’ranah menunggu beberapa hari sebelum membagi-bagikan
ghanimah dengan harapan Hawazin akan datang dalam keadaan taubat dan
menerima Islam, lalu beliau akan menyerahkan kepada mereka harta dan
keluarga mereka. Akan tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang
datang menemui beliau hingga beliau pun membagi-bagikan ghanimah
tersebut.
Utusan Hawazin
Setelah membagi-bagikan ghanimah, tak
berapa lama datanglah utusan Hawazin. Mereka ada 14 orang dipimpin oleh
Zuhair bin Shurad termasuk Abu Burqan, paman susuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Mereka masuk Islam dan berbai’at lalu berkata: “Wahai Rasulullah.
Sesungguhnya di antara yang jadi tawanan anda ini adalah ibumu dan
saudara perempuanmu, ‘ammah (bibi dari pihak ayah) dan khalah (bibi dari pihak ibu, yakni dari susuan).”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
berkata kepada mereka: “Yang bersamaku adalah seperti yang kamu lihat.
Yang paling aku sukai adalah perkataan yang paling jujur. Anak istri
kalian yang lebih kalian sukai untuk dikembalikan ataukah harta kalian?”
Kata mereka: “Kami tidak akan menukar anak-anak dan istri-istri kami dengan harta sedikitpun.”
Beliau pun berkata: “Seusai shalat zhuhur datanglah dan katakan: ‘Kami mencari syafaat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapi kaum muslimin dan mengharap syafaat kepada kaum muslimin menghadapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam agar mengembalikan kepada kami tawanan yang ada’.”
Selesai shalat zhuhur, mereka berdiri dan mengucapkan hal itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
pun berkata: “Adapun yang di tanganku dan Bani ‘Abdil Muththalib maka
itu dikembalikan kepada kalian. Aku akan mintakan hak kalian kepada kaum
muslimin.”
Mendengar perkataan beliau, kaum Muhajirin dan Anshar berkata: “Apa yang ada di tangan kami maka itu untuk Rasulullah n.”
Al-Aqra’ bin Habis berkata: “Adapun saya dan Bani Tamim, tidak akan menyerahkan tawanan kami.”
‘Uyainah bin Hishn juga menukas: “Apa yang di tangan saya dan Bani Fazarah tidak akan kami serahkan.”
Al-‘Abbas bin Mirdas juga berucap: “Yang
di tanganku dan Bani Sulaim tidak akan kami serahkan.” Tetapi Bani
Sulaim justru mengatakan: “Apa yang di tangan kami maka itu milik
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Mendengar ini, Al-‘Abbas bin Mirdas berkata kecewa: “Kalian mempermalukanku.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
pun berkata: “Sesungguhnya mereka ini datang dalam keadaan muslim. Aku
sudah menjauhkan tawanan mereka dan memberi mereka pilihan. Tapi mereka
tidak akan menukar anak istri mereka dengan apapun. Maka siapa yang
masih menahan tawanan dan senang hatinya serta mau mengembalikan, itu
adalah haknya. Dan siapa yang mau menahan haknya hendaklah dia
mengembalikannya juga kepada mereka dan akan diganti haknya itu setiap
bagiannya dengan enam kali lipat dari fai’ yang pertama Allah
anugerahkan kepada kami.”
Akhirnya kaum muslimin pun berkata: “Kami senang menyerahkannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Kata beliau: “Kami tidak tahu siapa di
antara kamu yang rela dan yang tidak. Kembalilah hingga cerdik pandai di
kalangan kamu menyerahkan urusannya kepada kami.”
Akhirnya, mereka pun mengembalikan
anak-anak dan istri-istri orang-orang Hawazin tersebut. Tidak ada yang
tertinggal kecuali ‘Uyainah bin Hishn yang akhirnya menyerahkan juga
seorang wanita tua yang jadi tawanannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberi pakaian kepada setiap tawanan.
Setelah selesai membagi dan mengembalikan tawanan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
menuju Ji’ranah dan bersiap ‘umrah lalu kembali pulang ke Madinah.
Beliau tugaskan ‘Attab bin Usaid mengatur urusan kaum muslimin di
Makkah.
Di bulan Dzul Qa’dah tahun ke-8 hijriah, rombongan kaum muslimin mulai bertolak kembali ke Madinah.
Utusan Tsaqif
Sebelum tiba di Madinah, salah seorang pemuka Tsaqif yaitu ‘Urwah bin Mas’ud datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
setelah usai perang Thaif, di bulan Dzul Qa’dah. Dia masuk Islam lalu
kembali kepada kaumnya untuk mengajak mereka masuk Islam. Karena
kedudukannya sebagai pemuka yang ditaati di tengah-tengah kaumnya,
‘Urwah mengira mereka akan mengikuti pula jejaknya masuk Islam.
Tetapi, setelah dia mengajak mereka, ternyata mereka menembakinya dengan panah dari segala penjuru sampai akhirnya dia tewas.
Penduduk Tsaqif kembali seperti biasa
selama beberapa bulan. Kemudian mereka bermusyawarah melihat kenyataan
bahwa mereka tidak mungkin sanggup melawan kabilah ‘Arab di sekitar
mereka yang sudah masuk Islam dan berbai’at. Akhirnya mereka ingin
mengutus ‘Abd Ya Lail bin ‘Amr.
Tapi ‘Abd Ya Lail menolak. Dia khawatir
kejadian yang menimpa ‘Urwah akan dialaminya juga, dia pun berkata: “Aku
tidak mau kecuali kalian utus juga beberapa orang bersamaku.”
Mereka pun mengutus beberapa orang termasuk ‘Utsman bin Abil ‘Ash yang paling muda di antara mereka.
Ketika mereka menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
beliau sediakan kemah buat mereka di sudut masjid agar mereka mendengar
Al-Qur’an dan melihat kaum muslimin mengerjakan shalat.
Akhirnya, mereka tinggal di sana silih berganti menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu mengajak mereka kepada Islam. Hingga suatu ketika, pemimpin rombongan itu meminta agar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
membuat kesepakatan antara beliau dengan Tsaqif. Mereka minta agar
beliau mengizinkan mereka berzina, minum khamr, memakan riba, dan
membiarkan Al-Latta tetap jadi sesembahan mereka serta tidak mengerjakan
shalat. Mereka juga minta agar berhala mereka tidak dihancurkan oleh
tangan mereka sendiri.
Tapi, semua keinginan mereka itu ditolak oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Melihat ini, utusan Tsaqif kehabisan akal dan melihat tidak ada jalan
lain kecuali mereka harus menerima dan tunduk kepada Islam. Akhirnya
mereka masuk Islam dan minta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam agar menugaskan orang lain menghancurkan Al-Latta.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
mengabulkan keinginan mereka dan mengangkat ‘Utsman bin Abil ‘Ash
sebagai pemimpin mereka. Hal itu karena utusan tersebut setiap pagi
datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan meninggalkan ‘Utsman. Apabila mereka kembali dan tidur siang, maka ‘Utsman datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam minta dibacakan Al-Qur’an dan bertanya tentang Islam. Kalau dia dapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang tidur, dia datang menemui Abu Bakr dengan maksud yang sama, belajar tentang Islam.
Di kemudian hari, ‘Utsman menjadi orang yang paling besar mendatangkan keberkahan kepada kaumnya terlebih di zaman riddah (murtadnya
beberapa kabilah). Ketika penduduk Tsaqif juga ikut-ikutan ingin
murtad, dia berkata kepada mereka: “Wahai penduduk Tsaqif. Kalian adalah
orang yang paling akhir masuk Islam, maka janganlah kalian menjadi
orang yang pertama murtad.” Akhirnya mereka pun menyadari, dan tetap di
atas Islam. Semoga Allah l meridhainya.
Para utusan itu kembali tetapi
menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Mereka menakut-nakuti penduduk
lain bahwa mereka akan diserang dan dibunuh. Mereka nampakkan kesedihan
dan kepedihan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta mereka meninggalkan zina, khamr, riba dan sebagainya, kalau tidak dia akan memerangi mereka.
Hal itu mendorong bangkitnya sentimen
jahiliah penduduk Tsaqif, maka mereka menolak hal itu. Mereka tenang
selama dua atau tiga hari bersiap untuk perang. Kemudian Allah
Subhanahuwata’ala masukkan ke dalam hati mereka rasa takut. Mereka pun
menemui para utusan itu dan berkata: “Kembalilah kepadanya (Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam) dan berikan apa yang dimintanya.”
Saat itu juga para utusan itu memaparkan
yang sebenarnya. Mereka menunjukkan kesepakatan yang telah ditetapkan
antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mereka. Akhirnya, penduduk Tsaqif masuk Islam.
Allah Yang Maha pemurah, lagi Maha penyayang mengabulkan doa kekasih-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tak lama, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim beberapa orang untuk menghancurkan Al-Latta. Beliau mengangkat Khalid bin Al-Walid sebagai pemimpin rombongan.
Sesampai di sana, Al-Mughirah bin
Syu’bah memukulkan palu yang ditangannya, kemudian dia terjatuh. Ini
membuat penduduk Thaif ribut, dan berkata: “Semoga Allah jauhkan
Al-Mughirah, semoga dia dibunuh dewi itu (Al-Latta).”
Al-Mughirah melompat dan berkata: “Semoga Allah memburukkan kamu. Dia hanyalah benda hina, sebongkah batu dan bulu.”
Dia pun menghancurkan pintu dan naik ke
tembok tempat pemujaan. Lalu naik pula beberapa orang dan meruntuhkan
bangunan itu serta meratakannya dengan tanah sampai mencabut pondasinya.
Mereka keluarkan kain dan perhiasan pemujaan itu. Sementara orang-orang
Tsaqif terdiam, melihat pujaan mereka tidak berdaya apa-apa.
Setelah itu, rombongan Khalid kembali dan menyerahkan perhiasan tempat pemujaan itu dan dibagi-bagikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hari itu juga sambil memuji Allah Subhanahuwata’ala atas pertolongan-Nya kepada Nabi-Nya dan agama-Nya.
(Insya Allah bersambung)
Review / Koreksi