Oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits
Bulan Rajab tahun ke sembilan
hijrah. Panas menyengat kota Madinah. Pasir dan batu bagaikan bara api.
Tetapi pada saat itu buah-buahan sedang ranum-ranumnya untuk dipetik.
Sehingga betul-betul menggoda hati untuk tidak beranjak menikmati
teduhnya naungan, menanti panen.
Sebab-sebab Peperangan
Setelah jatuhnya Makkah ke
pangkuan Islam. Sirna pula keraguan terhadap risalah yang diemban
Manusia Agung, Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdul Muththalib Shallallahu ‘alaihi wasallam. Manusiapun memeluk Islam berbondong-bondong. Kaum musliminpun mulai tenang mempelajari syariat Islam di negeri-negeri mereka.
Tetapi, nun jauh di utara, di
luar bumi Hijaz. Satu kekuatan besar mengancam perkembangan agama yang
baru bersemi ini. Kekuatan Imperium Romawi.
Sebuah kekuatan imperium yang
menguasai belahan bumi bagian barat. Negara yang sudah memiliki strata
peradaban yang maju untuk ukuran dewasa itu. Jauh melampaui
negara-negara Arab yang ada. Bahkan kekuatan kabilah Arab yang ada
seperti Quraisy, tidak ada artinya di hadapan kekuatan imperium Romawi.
Setelah terbunuhnya utusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Al-Harits bin ‘Umair Al-Azdi di tangan Syurahbil bin ‘Amr Al-Ghassani,
beliaupun mengirim pasukan Zaid bin Haritsah hingga terjadi pertempuran
sengit di Mu’tah dengan gugurnya para panglima pasukan muslimin; Zaid
bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan ‘Abdullah bin Rawahah .
Akan tetapi peristiwa ini
tidak diperhitungkan oleh Heraklius, raja Romawi ketika itu. Sehingga
dia tidak merasa perlu melakukan perjanjian damai dengan kaum muslimin
untuk menjaga keamanan wilayah kekuasaannya.
Bagi kabilah Arab lainnya yang
menjadi jajahan Romawi, peristiwa Mu`tah telah memberi pengaruh begitu
dalam. Satu demi satu mereka melepaskan diri dari kekuasaan Romawi.
Setelah melihat kondisi inilah
Heraklius baru menyadari betapa perlunya menyiapkan pasukan untuk
menumpas gerakan kaum muslimin agar tidak mengganggu kekuasaan Romawi.
Maka Heraklius pun segera memobilisasi rakyatnya.
Sampailah berita ke kota
Madinah tentang persiapan tentara Romawi untuk menyerang kaum muslimin.
Berita ini cukup menggoncangkan para sahabat di Madinah. Kegoncangan ini
tampak dari dialog antara ‘Umar bin Al-Khaththab dan seorang sahabat
Anshar.
Pada saat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang memboikot isteri-isterinya selama satu bulan dan menyendiri di sebuah loteng (tingkat atas) rumah beliau.
Waktu itu, ‘Umar bin Al-Khaththab dan sahabat Anshar itu saling bergantian hadir di majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Suatu ketika sahabat Anshar itu datang mengetuk pintu ‘Umar dengan
kerasnya. ‘Umar langsung membuka pintu dengan bergegas dan berkata: “Ada
apa? Apakah pasukan Ghassan (Romawi) sudah menyerang?”
“Bukan. Ada yang lebih dahsyat dari itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menceraikan isteri-isteri beliau,” kata sahabat tersebut.
Inilah salah satu yang menunjukkan gentingnya keadaan saat itu.
Masjid Dhirar
Sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
hijrah ke Madinah, ada seorang tokoh dari Khazraj digelari Abu ‘Amir
Ar-Rahib (Si Pendeta). Di masa jahiliyah, dia memeluk agama Kristen dan
membaca ilmu ahli kitab. Dia rajin beribadah ketika itu dan mempunyai
kedudukan mulia di kalangan orang-orang Khazraj.
Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
tiba sebagai muhajir di Madinah, dan kaum muslimin bersatu mendukung
beliau, lalu Islam memiliki kemuliaan dan Allah menangkan mereka dalam
perang Badr, Abu ‘Amir merasa menelan kepahitan hingga diapun
menampakkan permusuhan dan lari bergabung dengan orang-orang kafir
Makkah, menghasut mereka agar memerangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia juga yang menggali lubang jebakan dalam peperangan hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamn jatuh di salah satu lubang jebakan tersebut.
Suatu ketika Abu ‘Amir mencoba
membujuk orang-orang Anshar agar mendukung dan membelanya. Tetapi dia
justeru menerima cercaan dari orang-orang Anshar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
sendiri pernah mengajaknya kepada Islam dan membacakan Al-Qur’an
kepadanya, namun dia menolak dan menentang. Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakannya mati sebatang kara terusir dari tanah airnya.
Hal itu menjadi kenyataan. Ketika dia melihat kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam semakin menjulang, dia lari ke Syam bergabung dengan Heraklius, meminta bantuan kepadanya memerangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Heraklius menjanjikan dan mengizinkannya tinggal di negerinya. Kemudian
Abu ‘Amir menulis surat kepada beberapa orang yang masih mendukungnya
dari kalangan Anshar yang munafik. Dia menjanjikan bahwa akan ada
bantuan untuk memerangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta mengembalikan kedudukannya di tengah-tengah kaumnya.
Untuk memuluskan rencananya,
Abu ‘Amir memerintahkan pendukungnya untuk membuat satu markas mengamati
keadaan kaum muslimin jika bantuan itu datang. Akhirnya merekapun
segera membangun sebuah masjid yang berdekatan dengan Masjid Quba.
Masjid itu selesai sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat menuju Tabuk.
Merekapun datang meminta agar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
mau shalat di masjid tersebut sebagai bukti bahwa beliau telah
merestui. Mereka memberi alasan bahwa masjid itu dibangun untuk
menampung kalau ada yang sakit dan kesulitan di malam musim dingin serta
orang-orang yang lemah.
Allah l menjaga beliau agar tidak shalat di sana, kata beliau: “Kami sedang dalam perjalanan. Kalau kami sudah kembali Insya Allah (kami akan shalat di sana).”
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
dalam perjalanan kembali dari Tabuk, tinggal sehari atau dua hari lagi
sebelum masuk ke Madinah, turunlah Jibril menerangkan keadaan masjid
dhirar tersebut. Bahwasanya mereka mendirikan masjid tersebut di atas
kekafiran, memecah belah kaum mukminin di masjid mereka. Akhirnya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim beberapa orang untuk meruntuhkan masjid itu menjelang kedatangan beliau di Madinah.
Allah Subhanahuwata’ala berfirman menerangkan keadaan masjid ini:
وَالَّذِينَ
اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ
الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِن
قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ
يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
“Dan (di antara orang-orang
munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan
kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk
memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan
orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu.
Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.”
Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta
(dalam sumpahnya).” (At-Taubah: 107)
Dalam ayat ini
Allah Subhanahuwata’ala menerangkan bahwa ada empat perkara yang
mendorong mereka mendirikan masjid tersebut, yaitu:
- Upaya menimbulkan mudarat bagi orang lain
- Kekafiran kepada Allah dan membanggakan diri terhadap kaum muslimin
- Memecah belah kaum mukminin
- Memata-matai untuk mereka yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, sebagai bantuan buat musuh-musuh Allah.
Allah Subhanahuwata’ala menggagalkan usaha mereka dan membuat tipu daya mereka sia-sia dengan memerintahkan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam agar meruntuhkan serta memusnahkan masjid tersebut.
Allah Subhanahuwata’ala juga melarang Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum mukminin shalat di masjid tersebut dengan larangan yang sangat keras. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
لَا
تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ
أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن
يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
“Janganlah kamu menegakkan
shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang
didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah
lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang
ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (At-Taubah: 108)
Adapun sumpah yang mereka ucapkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahuwata’ala tersebut:
وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ
Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.”
Justeru celaan terhadap mereka atas angan-angan keji dan kedustaan mereka. Maka sebab itulah Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
“Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.”
Dengan hancurnya masjid
dhirar, semakin sempitlah ruang gerak kaum munafik. Jati diri mereka pun
semakin jelas bagi kaum muslimin.
Persiapan Menuju Tabuk
Tabuk adalah daerah di pinggiran wilayah Syam ke arah kiblat (selatan), dari Madinah sekitar 12 marhalah(???).
Menurut Yaqut Al-Hamawi daerah ini terletak antara Wadil Qura dan
negeri Syam. Daerah ini termasuk jajahan Bizantium (Romawi) ketika itu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
bertekad untuk memerangi Romawi, padahal ketika itu musim panas begitu
hebat. Keadaan perekonomian sedang mengalami masa-masa sulit. Beliau
sengaja menampakkan kepada kaum muslimin keinginan tersebut. Bahkan
beliau mengajak kabilah-kabilah Arab dan orang-orang badui di sekitar
beliau agar berangkat bersama beliau. Maka terkumpullah pasukan cukup
besar, yaitu sekitar 30.000 orang. Namun masih ada beberapa orang yang
tertinggal tanpa alasan, di antaranya Ka’b bin Malik, Murarah bin
Ar-Rabi’ dan Hilal bin Umayyah yang akan diceritakan pada bagian lain Insya Allah.
Walaupun keadaan serba sulit, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
tetap mendorong kum muslimin bersiap-siap untuk berperang. Padahal
biasanya, apabila hendak berangkat berperang, beliau selalu menampakkan
seolah-olah bukan untuk berperang. Beliau membangkitkan semangat
orang-orang yang berharta agar berinfak di jalan Allah. Maka
berlomba-lombalah para hartawan mengeluarkan hartanya untuk membiayai Jaisyul ‘Usrah (Pasukan yang kesulitan) tersebut.
Az-Zuhri dan ulama lainnya menceritakan:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
biasanya kalau ingin berangkat berperang, melakukan serangkaian taktik.
Misalnya dengan membuat kiasan atau kata-kata sandi. Tetapi dalam
perang Tabuk ini, beliau justeru menyampaikan terang-terangan tujuan dan
sasarannya agar kaum muslimin bersiap-siap. Beliau sampaikan bahwa yang
dituju adalah Romawi.
Pada suatu hari dalam situasi persiapan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
berkata kepada Jadd bin Qais, salah satu keluarga kabilah Bani Salimah:
“Hai Jadd, apakah tahun ini engkau ada keinginan kepada kulit-kulit
Banil Ashfar (orang bule)?”
Jadd menukas: “Ya Rasulullah,
izinkanlah saya (tidak ikut berperang). Jangan anda jerumuskan saya
dalam fitnah. Demi Allah, kaumku semua tahu bahwa tidak ada laki-laki
yang paling besar kekagumannya kepada wanita daripada aku. Saya khawatir
kalau saya melihat wanita bule itu, saya tidak dapat bersabar.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun meninggalkannya sambil berkata: “Saya beri izin untukmu.”
Tentang Jadd inilah turun firman Allah Subhanahuwata’ala[1]:
وَمِنْهُم
مَّن يَقُولُ ائْذَن لِّي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ
سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ
“Di antara mereka ada orang
yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan
janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah”. Ketahuilah,
bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam
itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (At-Taubah: 49)
Ada pula dari kalangan kaum
munafikin yang mengatakan: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang)
dalam panas terik ini.” Mereka merasa tidak membutuhkan jihad serta
meragukan kebenaran dan menimbulkan kegoncangan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Allah Subhanahuwata’ala menurunkan firman-Nya:
فَرِحَ
الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَن
يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا
لَا تَنفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَّوْ
كَانُوا يَفْقَهُونَ
“Orang-orang yang
ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan
tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad
dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata:
“Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”.
Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas (nya)”, jikalau
mereka mengetahui.” (At-Taubah: 81)
(Insya Allah bersambung)
Review / Koreksi