Sesungguhnya orang yang meneliti
sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam merenungkan dan
memikirkannya. Begitu juga dengan jalan para sahabat serta orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik, niscaya akan melihat bahwa mereka
betul-betul mempunyai manhaj yang kokoh. Dalam sikap mutaba’ah ini
terdapat garis tegas yang memisahkan dakwah orang yang jahil dan ahli
bid’ah serta orang-orang yang mengikuti hawa nafsu (dengan dakwah
Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam dan para pengikutnya -ed).
Perbedaan sangat menyolok terjadi antara
mereka yang kesalahannya itu karena kejahilan dan orang-orang yang
berjalan di atas manhaj ahli bid’ah, yang akibatnya adalah kesalahan dan
ketergelinciran.
Maka, kita lihat para pendahulu kita
biasanya mengajari orang yang jahil, dan menegakkan hujjah di hadapan
ahli bid’ah yang keras kepala dan sombong.
Mari kita perhatikan bagaimana nash-nash dari ayat dan hadits berikut ini untuk memahami hal ini:
Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya
dari hadits Anas , katanya:”tatkala kami duduk di masjid bersama
Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam, tiba-tiba datang seorang Arab
badui (dusun) kemudian bawl (buang air kecil) di dalam masjid. Para
sahabat Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam menegur:”Hus. Hus.” Anas
berkata lagi:”Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam bersabda:
“Jangan kalian putuskan dia (dari
bawlnya). Biarkan dia.” Merekapun membiarkannya sampai selesai. Kemudian
Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam memanggilnya dan berkata
kepadanya:” Sesungguhnya mesjid ini tidak layak baginya apapun seperti
bawl dan kotoran. Mesjid ini adalah untuk dzikir mengingat Allah ,shalat
dan membaca Al-Quran.” (HR. Muslim ).
Coba perhatikan manhaj nabawi yang lurus
ini. Bagaimana beliau memulai melalui pendidikan dan bimbingan karena
jahilnya mad’u dan tidak memiliki ilmu tentang hukum syari’at dalam
masalah tersebut.
Demikian juga yang disebutkan oleh Imam Muslim dari hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As Sulami . ia berkata:
“Ketika saya sedang shalat bersama
Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam, tiba-tiba ada seseorang yang
bersin, segera saya berkata : (semoga Allah merahmatimu). Ternyata
mereka melihat kepada saya, lalu saya berkata:”Aduh, malangnya ibuku.
Apa urusan kalian melihat kepada saya?”Mereka memukulkan tangan ke paha
mereka masing-masing. Setelah Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam
selesai shalat. Sungguh bapak dan ibukujadi tebusan beliau, saya tidak
pernah melihat seorang pendidik sebelum dan sesudah beliau yang lebih
baik didikannya dibandaingkan beliau. Demi Allah beliau tidak
membentakku, tidak memukulku dan tidak pula mencercaku. Beliau berkata:
“Sesungguhnya shalat ini tidak pantas di dalamnya sedikitpun ucapan
manusia. Shalat itu isinya tasbih, takbir dan membaca Al Quran.”
Perhatikanlah wahai para da’i. Bagaimana
kebiasaan Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam bersama kaum muslimin
yang (masih) jahil yang terjerumus ke dalam hal-hal yang dilarang oleh
Allah. Atau melakukan sesuatu yang menyelisihi syari’at Islam karena
kebodohan mereka. Maka sudah menjadi kebiasaan beliau
Shalallahu’alaihiwassalam untuk memberikan pendidikan kepada mereka,
menerangkan al haq beserta dalil-dalilnya dengan sikap lemah lembut.
Oleh sebab itu wajib bagi seorang da’i
untuk menjadi seorang yang penyayang, pengasih dan santun kepada para
mad’unya. Tetap mengharapkan hidayah buat mereka. Senantiasa bermuamalah
dengan sesama manusia sesuai menurut keadaan mereka masing-masing.
Sebagaimana Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam yang patut diteladani.
Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam
betul-betul seorang yang paling besar kasih sayangnya kepada sesama
manusia. Ketika seorang Arab badui tiba-tiba berada di hadapan
Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam yang sedang tidur, lalu
menghunuskan pedangnya sambil berkata: “ siapa yang akan menyelamatkanmu
dari saya?”
Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam berkata:”Allah.”
Pedang di tangan badui itu
terlepas,segera Rasulullah shalallahu’alaihiwassalam mengambilnya dan
berkata: “Siapa yang akan menyelamatkanmu dari saya?”
Ternyata Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam tidak menghukumnya bahkan memaafkannya. Akhirnya dia masuk islam.
Perhatikanlah bagaimana kasih sayang
Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam kepada mad’u, besar keinginan
beliau agar mereka memperoleh kebaikan, sehingga hal ini kemudian
menjadi salah satu sebab mendapat hidayahnya orang yang diajaknya
(kepada islam). Selanjutnya, kejadian ini menjadi satu metode yang
sangat berpengaruh dan bermanfaat untuk diterimanya sebuah dakwah. Maka,
tidak mungkin membuka hati manusia menerima dakwah kecuali dengan
cara-cara nubuwwah yang bersumber dari rasa cinta agar manusia itu
memperoleh kebaikan dan mendapat hidayah.
Jadi , kalau didikan dengan cara lemah
lembut kepada orang yang jahil,berdialog bersama mereka dengan cara
yang baik dalam setiap hal akan mendorong disambutnya dakwah, maka wajib
bagi seorang da’i untuk menempuh metode yang demikian. Sebab tidak akan
sempurna satu kewajiban dalam dakwah ini kecuali dengan perkara
tersebut, maka perkara tersebut menjadi wajib pula hukumnya.
( Dikutip dari buku Manhaj Dakwah Salafiyah, Pustaka Al HAURA)
Review / Koreksi