Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Perjanjian Hudaibiyah antara kaum
muslimin dan musyrikin Quraisy akhirnya disepakati. Mulanya, butir-butir
dalam perjanjian itu menuai penentangan dari sebagian sahabat karena
lahiriahnya sangat merugikan kaum muslimin. Namun keyakinan yang kokoh
akan janji Allah menjadikan para sahabat menundukkan logika dan pendapat
pribadinya. Terbukti, di kemudian hari dengan perjanjian itu, kaum
musyrikin justru menangguk kerugian yang besar.
Kecemasan Quraisy
Setelah mendengar ucapan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, Budail pun berangkat menemui Quraisy.
Ketika tiba di hadapan mereka, dia berkata: “Kami datang dari laki-laki
ini dan kami sudah dengar apa yang diucapkannya. Jika kalian mau, kami
paparkan kepada kalian.” Orang yang paling dangkal pikirannya di antara
mereka berkata: “Kami tidak butuh beritamu sedikitpun.” Sedangkan yang
cerdik dari mereka mengatakan: “Ceritakan apa yang kau dengar.” Budail
pun berkata: “Aku dengar dia mengatakan demikian, demikian.” Lalu dia
menceritakan kepada Quraisy apa yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam.
‘Urwah bin Mas’ud pun menimpali: “Wahai
masyarakat Quraisy, bukankah kalian seperti anak (bagiku)?” Kata mereka:
“Benar.” Katanya lagi: “Bukankah aku (seperti) ayah?” Kata mereka:
“Benar.” Katanya pula: “Apakah kalian mencurigaiku?” Kata mereka:
“Tidak.” Katanya: “Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya aku pernah
mendorong penduduk ‘Ukkazh (membantu kalian) dan ketika mereka menolak,
aku pun datang bersama istri dan anakku serta orang-orang yang
mengikutiku.”
Kata mereka: “Benar.” Katanya lagi:
“Sesungguhnya orang ini sudah menawarkan hal yang positif, maka
terimalah dan biarkan aku menemuinya.”
Kata mereka: “Datangilah dia.”
‘Urwah pun berangkat menemui beliau dan
mulai berbicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab seperti yang beliau katakan
kepada Budail. Lalu kata ‘Urwah: “Hai Muhammad, apa pandanganmu kalau
engkau menghabisi urusan bangsamu, apakah engkau pernah mendengar ada
orang yang memusnahkan keluarganya sendiri sebelum engkau? Kalau yang
lain, maka demi Allah, aku benar-benar melihat wajah dan benar-benar
melihat betapa pantasnya manusia lari dan meninggalkanmu.” Berkatalah
Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu: “Hisaplah kemaluan Latta. Apakah kami akan
lari dan meninggalkannya?”
Kata ‘Urwah: “Siapa ini?” Kata mereka: “Abu Bakr.”
‘Urwah berkata: “Demi Yang jiwaku di
tangan-Nya, kalau bukan karena engkau pernah membantuku, tidak aku
biarkan engkau mengatakan ini, melainkan pasti aku balas.”
Dia pun mulai bicara dengan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap kali dia bicara dia coba
menyentuh janggut beliau. Sementara Al-Mughirah berdiri di dekat kepala
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pedang di tangan serta
mengenakan topi besi. Setiap kali ‘Urwah menjulurkan tangan ke arah
janggut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Mughirah pun memukul
tangan itu dengan hulu pedangnya dan berkata: “Jauhkan tanganmu dari
janggut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
‘Urwah menengadahkan kepalanya dan berkata: “Siapa ini?”
Para sahabat berkata: “Al-Mughirah bin
Syu’bah.” Serta merta ‘Urwah berkata: “Hai si curang. Bukankah aku yang
membereskan urusan kecuranganmu.” Dahulu Al-Mughirah adalah teman mereka
di masa jahiliah, lalu dia membunuh mereka dan mengambil harta mereka
dan masuk Islam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Adapun Islam, aku terima. Sedangkan harta, tidak ada urusanku padanya sedikit pun.”
Kemudian mulailah ‘Urwah memerhatikan
para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan matanya, dan
menggumam: “Sungguh, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
meludah melainkan jatuh ke tangan salah seorang dari mereka, lalu dia
gosokkan ke wajah dan kulitnya. Kalau beliau memerintahkan sesuatu,
dengan segera mereka laksanakan perintahnya. Jika beliau berwudhu`
mereka hampir saling membunuh mengambil sisa wudhunya. Dan jika beliau
bicara, mereka rendahkan suara serta tidak ada yang menajamkan
pandangannya ke arah beliau karena menghormati beliau.”
‘Urwah pun kembali kepada teman-temannya
dan berkata: “Hai kaumku, sungguh demi Allah, aku pernah mengunjungi
para raja, Kaisar, dan Kisra serta Najasyi (Negus). Demi Allah, tidak
pernah kulihat sama sekali seorang raja yang diagungkan oleh para
sahabatnya seperti para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
memuliakan Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam). Tidaklah dia
meludah melainkan jatuh ke tangan salah seorang dari mereka, lalu dia
gosokkan ke wajah dan kulitnya. Kalau dia memberi perintah, mereka
segera melaksanakan perintahnya. Jika dia berwudhu` mereka hampir
bunuh-bunuhan mengambil sisa wudhunya. Dan jika dia bicara, mereka
rendahkan suara serta tidak ada yang menajamkan pandangannya ke arahnya
karena menghormatinya. Sesungguhnya dia sudah menawarkan hal yang
positif, maka terimalah.”
Berkatalah seorang laki-laki Bani
Kinanah: “Biarkan aku mendatanginya.” Kata mereka: “Temuilah.” Setelah
dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya,
beliau berkata: “Ini si Fulan dari golongan yang menghormati budna (hewan korban), maka lepaskanlah.”
Lalu hewan-hewan korban itu dilepaskan dan utusan itu disambut oleh kaum muslimin yang sedang bertalbiyah (mengucapkan: Labbaika Allahumma labbaika).
Setelah melihat hewan-hewan korban itu, dia berkata: “Maha Suci Allah,
tidak sepantasnya mereka dihalangi dari Baitullah (Ka’bah).”
Dia pun kembali kepada teman-temannya
dan berkata: “Aku melihat hewan-hewan korban sudah diberi tanda. Dan aku
tidak sependapat kalau mereka dihalangi dari Baitullah.”
Lalu bangkitlah dari kalangan mereka
seorang bernama Mikraz bin Hafsh, katanya: “Biarkan aku mendatanginya.”
Kata mereka: “Datangilah.” Setelah dia melihat mereka, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata: “Ini Mikraz, dia laki-laki yang jahat.” Dia
pun mulai bicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika dia
sedang bicara datanglah Suhail bin ‘Amr.
Suhail bin ‘Amr delegasi Quraisy
Ketika Suhail bin ‘Amr tiba, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Semakin mudah urusan kalian,”
Kemudian dia berkata: “Marilah tulis suatu ketetapan antara kami dan
kalian.”
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil seorang penulis. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tulislah Bismillahirrahmanirrahim.” Kata Suhail: “Adapun Ar-Rahman, demi Allah aku tidak tahu apa ini, tapi tulislah ‘Bismikallahumma’ sebagaimana biasa kami menulis.” Kaum muslimin bersikeras: “Jangan tulis kecuali Bismillahirrahmanirrahim“, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tulislah ‘Bismikallahumma’,” kemudian beliau menambahkan: “Inilah yang disepakati oleh Muhammad Rasul Allah.”
Suhail menukas: “Demi Allah, kalau kami
tahu engkau adalah Rasul Allah, tentu tidaklah kami menghalangi engkau
dari Baitullah dan tidak pula memerangimu. Tulislah Muhammad bin
‘Abdullah.”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata: “Demi Allah, sungguh aku adalah Rasul Allah meskipun kalian
mendustakanku. Tulislah Muhammad bin ‘Abdullah.”
Az-Zuhri menjelaskan: Itu karena beliau
pernah mengatakan: “Tidaklah mereka memintaku satu perkara yang mereka
agungkan padanya kehormatan Allah, melainkan aku berikan kepada mereka.”
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata kepadanya: “Yaitu agar kalian biarkan kami thawaf di Ka’bah.”
Suhail segera menukas: “Demi Allah, (kalau demikian) tentulah
orang-orang Arab akan mengatakan kami ditekan (kalah). (Tidak), tapi
tahun depan.” Lalu keputusan ini dituliskan.
Kata Suhail: “Tidak ada yang datang
kepadamu seorang laki-laki dari kami meskipun dia seiman denganmu
melainkan harus kamu kembalikan kepada kami.”
Kaum muslimin pun ribut: “Maha Suci
Allah, bagaimana mungkin dia dikembalikan kepada kaum musyrikin padahal
dia datang sebagai muslim.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
hanya mengatakan: “Siapa yang mendatangi mereka dari pihak kita, semoga
Allah menjauhkannya. Dan siapa yang datang kepada kita dari pihak
mereka kita kembalikan kepada mereka, semoga Allah berikan kepadanya
jalan keluar dan kelapangan.”
Secara ringkas, isi perjanjian itu antara lain ialah:
- Tidak saling menyerang antara kaum muslimin dan penduduk Makkah selama sepuluh tahun,
- Kaum Muslimin masuk ke kota Makkah (‘umrah) pada tahun depan dan tidak membawa senjata kecuali pedang dalam sarungnya, serta senjata pengembara,
- Siapa saja yang datang ke Madinah dari penduduk Makkah harus dikembalikan ke Makkah,
- Dan siapa yang datang ke Makkah dari penduduk Madinah (muslim) tidak boleh dikembalikan ke Madinah,
- Kesepakatan ini disetujui kedua belah pihak dan tidak boleh ada pengkhianatan serta pelanggaran.
Termasuk dalam syarat pernjanjian itu,
siapa saja dari kabilah ‘Arab lain, boleh masuk dalam perjanjian Quraisy
atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Khuza’ah masuk
dalam perjanjian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
sedangkan Banu Bakr bergabung dalam perjanjian itu dengan Quraisy.
Dan perjanjian ini hanya berlaku bagi
kaum laki-laki, tidak termasuk wanita. Di saat mereka dalam keadaan
demikian, datanglah Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amr menyeret rantainya.
Dia keluar dari bawah kota Makkah sampai melemparkan dirinya di
tengah-tengah kaum muslimin.
Melihat hal ini, Suhail berkata: “Hai Muhammad, inilah kesepakatan pertama. Kamu harus kembalikan dia kepadaku.”
Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kami belum bisa memutuskan ketetapan ini.”
Kata Suhail: “Demi Allah, kalau begitu aku tidak akan berdamai denganmu lagi dalam urusan apa pun selamanya.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata: “Serahkan dia kepadaku.”
Katanya: “Aku tidak akan menyerahkannya kepadamu.”
Kata beliau: “Bahkan lakukanlah (berikanlah).”
Katanya: “Aku tidak akan serahkan.”
Kata Mikraz: “Bahkan kami serahkan dia kepadamu.”
Kata Abu Jandal: “Hai kaum muslimin,
apakah aku akan dikembalikan kepada kaum musyrikin padahal aku datang
sebagai muslim? Tidakkah kalian lihat apa yang kualami ini?”
Keadaannya memang mengenaskan, dia telah menerima siksaan yang sangat berat di jalan Allah.
‘Umar bin Al-Khaththab bercerita: “Aku
pun menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: ‘Bukankah
anda Nabi Allah sebenar-benarnya?’.”
Kata beliau: “Benar.”
Aku katakan: “Bukankah kita ini di atas al-haq? Dan musuh kita dalam kebatilan?”
“Benar,” kata beliau.
Aku berkata lagi: “Kalau begitu, mengapa kita berikan kehinaan kepada dien kita?”
Kata beliau: “Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah dan tidak mendurhakai-Nya. Allah pasti menolongku.”
Aku katakan: “Bukankah anda katakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan thawaf di sana?”
Kata beliau: “Benar. Tapi apakah aku katakan bahwa kita akan datang (thawaf) tahun ini?”
“Tidak,” jawab Aku.
Kata beliau: “Sesungguhnya engkau akan datang ke sana dan thawaf padanya.”
Kata ‘Umar pula: “Akupun menemui Abu Bakr. Dan Aku katakan: ‘Hai Abu Bakr, bukankah beliau ini benar-benar Nabi Allah?’.”
Kata Abu Bakr: “Benar.”
Aku katakan: “Bukankah kita ini di atas al-haq? Dan musuh kita dalam kebatilan?”
“Benar,” jawabnya.
Aku berkata lagi: “Kalau begitu, mengapa kita berikan kehinaan kepada dien kita?”
Kata Abu Bakr: “Hai kamu. Sesungguhnya
beliau benar-benar Rasul Allah dan tidak akan mendurhakai-Nya. Allah
pasti menolong beliau. Berpeganglah dengan ucapannya, demi Allah beliau
di atas al-haq.”
Aku menukas: “Bukankah beliau katakan kepada kita bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan thawaf di sana?”
Kata beliau: “Benar. Tapi apakah beliau mengatakan bahwa kita akan datang (thawaf) tahun ini?”
“Tidak,” jawabku.
Kata Abu Bakr: “Sesungguhnya engkau akan datang ke sana dan thawaf padanya.”
Kata ‘Umar: “Lalu aku pun mengerjakan amalan untuk (menebus) ucapan itu.”
Begitu selesai penulisan kesepakatan
itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para
sahabatnya: “Berdirilah, sembelihlah korban kemudian bercukurlah.”
Kata (rawi): “Demi Allah, tidak ada seorang pun yang berdiri sampai beliau ucapkan tiga kali.”
Ketika tidak ada dari mereka yang
berdiri seorang pun, beliau masuk menemui Ummu Salamah dan menceritakan
apa yang beliau terima dari sikap kaum muslimin.
Kemudian Ummu Salamah berkata: “Wahai
Nabi Allah, apakah anda suka hal itu (mereka melaksanakannya)?
Keluarlah, jangan bicara dengan siapa pun lalu sembelihlah korban,
panggil tukang cukurmu dan bercukurlah.”
Beliau pun keluar dan tidak bicara
dengan siapa pun sampai melakukan saran Ummu Salamah tersebut. Beliau
mulai menyembelih korbannya dan memanggil tukang cukurnya lalu bercukur.
Tatkala para sahabat melihat hal itu,
mereka segera bangkit dan menyembelih korban mereka dan sebagian
mencukur yang lain sampai hampir-hampir mereka bunuh-bunuhan karena
menyesal (tidak segera melaksanakan perintah beliau).
Tak lama kemudian, datanglah para wanita
yang sudah beriman kepada beliau. Di antaranya Ummu Kultsum bintu
‘Uqbah bin Abi Mu’ith. Lalu datang pula keluarganya menyusul dan meminta
kepada beliau agar Ummu Kultsum diserahkan kepada mereka. Namun beliau
tidak menyerahkannya kepada mereka. Allah Ta’ala menurunkan ayat:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ
(Hai orang-orang yang beriman,
apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka
hendaklah kamu uji (keimanan) mereka) sampai kepada ayat: بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ (Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir).
Pada waktu itu pula ‘Umar menceraikan kedua istrinya yang masih
musyrik. Kemudian salah seorang dinikahi oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan
dan yang lainnya dinikahi oleh Shafwan bin ‘Umayyah.
Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai bertolak kembali ke Madinah.
Saat kepulangan itulah turun surat Al-Fath (1-3):
إِنَّا
فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا*لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ
صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا*وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya
Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang
akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu
kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).”
Para sahabat pun bertanya: “Benarkah ini kemenangan, ya Rasulullah?”
“Ya,” sahut beliau. Kemudian kata
mereka: “Selamat untuk engkau, ya Rasulullah. Tapi mana untuk kami?”
Lalu Allah ‘Azza wa Jalla turunkan (ayat 4):
هُوَ
الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا
إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ
وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Dia-lah yang telah menurunkan
ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka
bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi, dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,”
Review / Koreksi