Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Setelah orang-orang Yahudi Quraizhah ditumpas, gangguan ahli kitab yang dirasakan kaum muslimin mulai berkurang. Walaupun
dimafhumi, mereka tentu masih menyimpan selaksa makar untuk menumpas
Islam dan muslimin, kapan dan di mana pun. Wallahul Musta’an.
Islamnya Tsumamah bin Utsal
Menjelang bulan Dzul Qa’dah tahun keenam hijriyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat
beberapa kali mengirim pasukan kecil, bahkan ikut terjun sebagai
panglima ke sejumlah daerah di jazirah Arab. Di antaranya, beliau pernah
mengirim pasukan berkuda ke arah Najd dan berhasil menangkap Tsumamah
bin Utsal Al-Hanafi, pemuka Bani Hanifah yang kemudian diikat di salah
satu tiang masjid.
Suatu kali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
melewatinya, dan bertanya: “Ada apa denganmu, ya Tsumamah?” Diapun
berkata: “Hai Muhammad, kalau engkau membunuh, maka engkau bunuh orang
yang punya darah.[1]
Kalau engkau memberi nikmat, berarti engkau menyenangkan orang yang
tahu berterima kasih. Kalau engkau butuh harta, mintalah. Pasti diberi
apapun yang engkau kehendaki.” Beliau lantas meninggalkannya.
Kemudian beliau melewatinya
sekali lagi dan Tsumamah mengatakan perkataan yang sama. Diapun
menjawabnya seperti yang pertama kali. Setelah itu, beliau melewatinya
untuk ketiga kalinya. Kata beliau: “Bebaskan Tsumamah.” Para sahabat pun
melepaskannya.
Selanjutnya, Tsumamah beranjak menuju kebun kurma dekat masjid, kemudian mandi. Setelah itu dia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan masuk Islam, katanya: “Demi Allah. Dahulu tidak ada di muka bumi
ini wajah yang paling kubenci dibandingkan wajahmu. Sungguh, sekarang,
wajah engkau adalah wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dahulu
tidak ada di muka bumi ini ajaran (keyakinan) yang paling aku benci
dibandingkan ajaranmu. Sungguh sekarang, dienmu adalah dien yang paling
aku cintai. Sebenarnya, pasukan berkudamu menangkapku ketika aku hendak
berangkat umrah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menggembirakannya dan memerintahkannya untuk umrah.
Setelah dia mendatangi
orang-orang musyrik Quraisy, mereka berkata: “Kau bertukar agama, hai
Tsumamah?” Katanya: “Tidak. Demi Allah. Tapi aku telah masuk Islam
bersama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan demi Allah, tidak akan pernah datang lagi kepada kalian butiran gandum dari Yamamah, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya.”
Waktu itu, Yamamah adalah
daerah penghasil makanan pokok yang menyuplai Makkah. Diapun kembali ke
negerinya dan melarang ekspor gandum ke Makkah hingga Quraisy mengalami
kekurangan pangan. Mereka pun menulis surat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
meminta beliau dengan hubungan kasih sayang agar menulis surat kepada
Tsumamah untuk membuka jalur pengiriman makanan kepada mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memenuhi permintaan mereka.
Beberapa Faedah dari Kisah Tsumamah
Dari kisah ini, kata Al-Hafizh Ibnu Hajar radhiyallahu anhu, dapat kita petik beberapa hal. Di antaranya:
– Bolehnya mengikat tawanan kafir di dalam masjid.
– Bolehnya berbuat baik kepada tawanan dan memaafkannya serta melepaskannya tanpa imbalan.
– Sikap lemah lembut kepada tawanan yang diharapkan keislamannya, apalagi bila dia diikuti orang banyak.
– Mandi ketika masuk Islam, dan sebagainya.
Bersiap-siap Umrah
Pada tahun keenam hijriyah, bulan Dzul Qa’dah, bertolaklah 1.500 orang dari Madinah dipimpin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menunaikan umrah. Demikian diceritakan Jabir radhiyallahu anhu seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Rombongan berangkat tanpa
menyandang senjata layaknya hendak berperang. Mereka membawa serta
beberapa ekor ternak untuk dikorbankan.
Setibanya mereka di Dzul Hulaifah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menggantungkan dan memberi tanda di leher ternaknya serta melakukan
ihram untuk umrah. Beliaupun mengirim seorang pengintai dari Khuza’ah
untuk mencari kabar tentang Quraisy.
Ketika rombongan mendekati
daerah Ghadir Asythath dekat ‘Usfan, datanglah pengintai tersebut,
katanya: “Saya tinggalkan Ka’b bin Lu`ai, mereka sudah mengumpulkan
pasukan gabungan untuk menyerangmu dan menghalangi engkau dari
Baitullah.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dengan para sahabatnya. Beliau bertanya kepada mereka: “Bagaimana
menurut kalian apakah mengalihkan sasaran kepada anak keturunan mereka
yang membantu orang-orang musyrik lalu menyerang mereka(???).
Kalau mereka berhenti, mereka berhenti dalam keadaan berduka. Kalau
mereka datang, jadilah seperti leher yang diputus oleh Allah. Atau
menurut kalian kita sengaja ke Baitullah. Siapa yang menghalangi kita,
maka kita perangi dia?”
Kata Abu Bakr: “Allah dan
Rasul-Nya lebih tahu. Wahai Nabi Allah, kita datang hanya untuk umrah,
bukan memerangi siapa pun. Tapi siapa yang menghalangi kita dari
Baitullah, kita perangi dia.” Mendengar saran ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tegas: “Kalau begitu berangkatlah.”
Mereka pun mulai bertolak.
Dalam riwayat ini (dalam Musnad Al-Imam Ahmad)
disebutkan pula oleh Az-Zuhri dari Abu Hurairah z bahwa tidak ada
manusia yang paling sering bermusyawarah dengan para sahabatnya
dibandingkan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.
Setibanya di sebagian jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata: “Sesungguhnya Khalid bin Al-Walid ada di sekitar Al-Ghamim
dalam rombongan pasukan berkuda Quraisy sebagai pengintai. Ambillah
jalan ke kanan.”
Demi Allah. Khalid tidak
menyadari keberadaan mereka sampai tiba-tiba mereka melihat debu bekas
pasukan. Dia pun memacu kudanya memberitahu orang-orang Quraisy.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
tetap berjalan hingga tiba di Tsaniyah, di mana mereka singgah di sana.
Tiba-tiba kendaraan beliau berlutut. Orang-orang berseru: “Hall, hall.” Tapi dia tetap demikian.
Para sahabat berkata: “Al-Qushwa bebal (ndableg, jw). Al-Qushwa bebal.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membantah: “Al-Qushwa tidak bebal. Itu bukan perilakunya, tapi dia ditahan oleh Yang menahan tentara bergajah.”
Kemudian beliau berkata: “Demi
Yang jiwaku di Tangan-Nya. Tidaklah mereka memintaku satu perkara yang
mereka agungkan padanya kehormatan Allah, melainkan aku berikan kepada
mereka.”
Beliau menghardik Al-Qushwa,
dan diapun melompat lalu berbelok hingga sampai di pedalaman Hudaibiyah
di telaga yang sedikit airnya. Rombongan hanya mengambil sedikit demi
sedikit dan tidak lama kemudian mereka pun sudah meninggalkannya. Mereka
mengeluh kehausan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliaupun mengambil panah dari kantungnya dan memerintahkan agar
meletakkannya di tempat air yang tinggal sedikit itu. Akhirnya, demi
Allah, pasukan itu tetap dalam keadaan segar sampai mereka meninggalkan
tempat itu.
Mendengar berita bahwa kaum muslimin ternyata telah singgah mendekati wilayah mereka, orang-orang Quraisy pun terkejut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bermaksud mengutus salah seorang sahabatnya kepada mereka. Beliaupun
memanggil ‘Umar bin Al-Khaththab untuk diutus kepada mereka. Tapi
katanya: “Wahai Rasulullah, di Makkah tidak ada lagi Bani Ka’b yang
membelaku bila aku disakiti. Utuslah ‘Utsman bin ‘Affan, karena di sana
ada familinya dan dia akan menyampaikan apa yang anda inginkan.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
pun memanggil ‘Utsman dan mengutusnya kepada Quraisy. Kata beliau:
“Sampaikan kepada mereka bahwa kita datang bukan untuk berperang, tapi
hanya untuk umrah. Ajak mereka kepada Islam.” Beliau juga
memerintahkannya untuk menemui beberapa orang mukmin di Makkah,
laki-laki dan perempuan, menyampaikan berita gembira berupa kemenangan.
Dan Allah akan memenangkan dien-Nya di Makkah hingga tidak ada lagi yang
harus menyembunyikan keimanannya di sana.
‘Utsman Diutus ke Makkah
Tibalah ‘Utsman di Makkah. Dia melewati rombongan Quraisy di Baldah. Kata mereka: “Mau ke mana kamu?”
Katanya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengutus saya mengajak kalian kepada Allah dan kepada Islam. Dan saya
sampaikan kepada kalian bahwa kami datang bukan untuk berperang, tapi
hanya untuk umrah.”
Kata mereka: “Kami sudah dengar apa yang kau katakan. Teruskan keperluanmu.”
Kemudian bangkitlah Aban bin
Sa’id bin Al-‘Ash mengucapkan selamat datang kepadanya dan menyodorkan
pelana kudanya lalu membawa ‘Utsman di atas kuda itu serta menjaga
keselamatannya. Aban memboncengnya hingga tiba di Makkah.
Sebelum ‘Utsman tiba kembali
di rombongan kaum muslimin, sebagian mereka (kaum muslimin) menduga
bahwa ‘Utsman sudah bebas thawaf di Ka’bah sebelum mereka. Maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membantah perkataan itu: “Aku tidak yakin dia thawaf di Ka’bah sementara kita terhalang.”
Kata mereka: “Apa yang
menghalanginya, wahai Rasulullah. Sementara dia sudah bebas?” Beliau
mengatakan: “Itulah dugaanku kepadanya, bahwa dia tidak akan thawaf di
Ka’bah sampai kita pun thawaf bersamanya.”
Memang. Mungkin saja akan
muncul dugaan seperti ini, dan ini wajar. Tapi benarkah dugaan mereka?
Pantaskah bagi Dzun Nurain menikmatinya sementara kekasihnya terhalang?
Di sinilah kita lihat betapa besar kesetiaan dan kecintaan para sahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau.
Kita tentu masih ingat Khubaib bin ‘Adi yang gugur di Bi`r Ma’unah. Dia ditawari bebas oleh Quraisy, asal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggantikan posisinya sebagai tawanan mereka. Apa jawabnya?
Kata Khubaib: “Demi Allah, seandainya aku sedang bersenang-senang di rumahku bersama keluargaku, aku tidak rela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami kesusahan meskipun hanya duri yang menusuk beliau.”
Kecintaan mereka bukan sekedar
hiasan bibir, tapi tampak dari sikap dan perilaku mereka dalam hidup
dan kehidupan mereka. Tidak ada yang lebih mereka cintai daripada
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.
Syahdan, terjadi juga
keributan antara kaum muslimin dan musyrikin tentang masalah perdamaian.
Salah seorang dari dua kelompok ini melempar salah seorang dari barisan
lain. Mereka saling panah dan melempar dengan bebatuan. Sampailah kabar
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ‘Utsman terbunuh, maka beliau pun menyerukan bai’at. Akhirnya kaum muslimin segera mendekati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang ada di bahwa sebatang pohon. ‘Umar menggenggam tangan beliau untuk
bai’at, sedangkan Ma’qil bin Yasar menjauhkan ranting pohon dari
beliau. Merekapun berbai’at untuk tidak akan lari.
Yang pertama berbai’at adalah
Abu Sinan Al-Asadi. Salamah bin Al-Akwa’ bai’at tiga kali, di kelompok
pertama, pertengahan, dan terakhir.
Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggenggam tangannya satu sama lain, seraya berkata: “Ini (bai’at) untuk ‘Utsman.”
Semuanya berbai’at kecuali Al-Jadd bin Qais.
Setelah selesai bai’at,
‘Utsman kembali ke tengah-tengah kaum muslimin, dan berkatalah mereka
kepadanya: “Sudah puaskah engkau, wahai Abu ‘Abdillah (kunyah Utsman bin
Affan), bisa thawaf di Ka’bah?”
‘Utsman tersentak dan segera
menukas: “Alangkah buruknya dugaan kalian kepadaku. Demi Yang jiwaku di
Tangan-Nya, seandainya aku menetap di sana selama setahun, sedangkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Hudaibiyah, aku tidak akan thawaf di Ka’bah selamanya sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga thawaf di Ka’bah. Memang Quraisy mengundangku thawaf di Ka’bah tapi aku tidak mau.”
Mereka pun berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang yang paling tahu di antara kita tentang Allah, dan paling baik sangkaannya daripada kita.”
Datangnya Delegasi Quraisy
Di saat mereka dalam keadaan
demikian, tiba-tiba datanglah Budail bin Warqa` Al-Khuza’i bersama
rombongan Bani Khuza’ah. Mereka adalah tempat menyimpan amanah dan
rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari penduduk
Tihamah. Budail mengatakan: “Saya tinggalkan Ka’b bin Lu`ai dan ‘Amir
bin Lu`ai sudah turun di aliran air daerah Hudaibiyah.[2]
Mereka membawa unta-unta yang penuh ambing susunya, serta diikuti
anak-anaknya. Quraisy sudah bersiap untuk menyerang dan menghalangi
engkau dari Baitullah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata: “Sesungguhnya kami tidak datang untuk berperang, tapi untuk
umrah. Dan sebetulnya orang-orang Quraisy itu sudah dilumpuhkan oleh
peperangan, itu membahayakan mereka. Kalau mereka mau aku beri waktu
mereka (tidak berperang antara kami dan mereka, -ed.), dan
biarkanlah aku dengan bangsa Arab lainnya. Kalau aku dikalahkan, ini
sudah menenangkan mereka. Dan kalau aku menang, dan mereka mau, mereka
bisa masuk ke dalam apa yang dianut oleh orang banyak (Islam, –ed.).
Dan kalau tidak, mereka sudah bersatu padu. Tapi kalau mereka tidak mau
juga selain berperang, maka demi Yang jiwaku di Tangan-Nya, sungguh
pasti aku perangi mereka karena urusanku ini (Islam) sampai aku mati
atau betul-betul Allah laksanakan ketetapan-Nya.”
(bersambung, insya Allah)
[1]
Maknanya diperselisihkan, ada yang berpendapat bahwa punya darah ini
ialah kalau orang membunuhnya akan memperoleh kedudukan karena yang
dibunuhnya adalah seorang pemuka, atau semakna dengan itu. Lihat syarah
An-Nawawi terhadap Shahih Muslim tentang hadits ini. Wallahu a’lam.
[2]
Ini mengisyaratkan bahwa di Hudaibiyah itu sebetulnya airnya banyak.
Tapi karena orang-orang Quraisy sudah lebih dahulu turun di Hudaibiyah
di sebelah hulu, mereka menahan aliran airnya sehingga kaum muslimin
kekurangan air. Lihat Fathul Bari tentang penjelasan hadits ini. Wallahu a’lam.
radhiyallahu anhu
Review / Koreksi