Benarkah Tidak Ditanya di Alam Kubur?
Kita para du’at yang selama ini
mengajarkan ilmu kepada umat. Semoga kita semua termasuk orang-orang
yang mengajarkan kepada umat ilmu, kebaikan, dan sunnah.
Di antara keajaiban yang muncul di tengah-tengah du’at adalah: ditebarkannya syubhat yang hendak mengacaukan barisan salafiyyin.
Sebagaimana yang antum tahu, tidak ada
kelompok yang mengajarkan syari’at agama: – baik tauhid, aqidah,
akhlak,adab, muamalat – kecuali salafiyyin. Maka ketika salafiyyin
mengingatkan umat dari kebatilan dan para pengusung kebatilan,
dimunculkan syubhat:
Kamu di kubur tidak akan ditanya tentang Ihyaut Turats!! Kamu tidak akan ditanya di kubur tentang si fulan!!
Thoyyib, apakah kamu juga akan ditanya
di kuburmu tentang shalat? Apakah kamu akan ditanya di kuburmu tentang
jual beli haram? Makanan haram? Tidak ada, dalil hanya menyebutkan akan
ditanya dari 3 hal saja: Siapa Rabbmu, siapa Nabimu, dan apa agamamu.
Syubhat ini hanyalah filsasat saja.
Menampakkan pada manusia wara’ dan ibadah, padahal dia orang paling jauh
dari wara’ dan ibadah! Menampakkan pada manusia seolah orang yang
paling menjaga lisan, padahal dia orang paling jauh darinya. Mereka
menghendaki kacaunya ahlus sunnah, menghentikan ahlul haq dari amalan
mereka menjelaskan al-haq.
(dari dars ‘Aqidatu Ahlis Sunnah bersama asy-Syaikh Hani’ bin Braik hafizhahullah)
* * *
Pertanyaan: Tentang pernyataan, (“Kamu
di kubur tidak akan ditanya tentang Ihyaut Turats. Kamu tidak akan
ditanya di kubur tentang si fulan” ) mungkin pengucapnya memaksudkan
bahwa kita harus memulai dakwah dari yang terpenting…
Jawab: Tidak. Tanyakan kepada orang
berpengalaman wahai saudaraku. Tidak, sama sekali tidak (yakni
ucapan/syubhat tersebut bukan itu maksudnya). Aku bersumpah bahwa ucapan
(syubhat) tersebut merupakan uslub (cara) kaum hizbiyyin.
Kalau ucapan tersebut muncul dari
saudara kita yang berjalan di atas sunnah, maka dia telah terjatuh
kepada cara-caranya hizbiyyin. Dia harus rujuk darinya.
Benar, bahwa kita mengajarkan ushuluts
tsalatsah, tauhid, … dst, dan kita juga mengajarkan bahaya (kejelekan)
hizbiyyah!! Agar diwaspadai dan tidak terjatuh padanya.
Hati-hatilah!! Berjalanlah kamu di atas
sunnah, waspadalah dari hizbiyyah, waspadalah dari paham takfir,
waspadalah dari berbagai paham rusak yang ada sekarang. Berhati-hatilah.
Berpeganglah kepada metode para ‘ulama, dan jadikanlah tempat rujukanmu
adalah para ‘ulama besar. (Inilah tarbiyyah) Barangsiapa yang tumbuh di
atas tarbiyah yang demikian, maka dia tidak bisa digelincirkan oleh
hizbiyyin. Namun seorang anak yang tidak pernah ditarbiyyah dengan
metode di atas, tidak pernah mendengar peringatan (tahdzir) dari paham
takfir, tidak pernah mendengar peringatan dari Ikhwanul Muslimin,
hizbiyyah, … dst maka ketika dia besar, tatkala datang syubhat padanya
(misalnya, syubhat dengan menggunakan qaidah : “sesuatu yang tidak bisa
terwujud kewajiban kecuali dengannya, maka sesuatu itupun wajib.” Di
antara kewajiban adalah menerapkan syari’at. Tidak mungkin penerapan
syari’at tersebut terwujud kecuali dengan dibentuk kelompok … dst ) dan
berbagai syubhat lainnya yang belum pernah ia dengar (bantahannya pada
masa belajar dulu), maka dia bisa terseret kepadanya.
Syubhat di atas [1], apabila diucapkan
oleh saudara kita salafy, maka dia telah terjatuh kepada cara-cara
hizbiyyin. Maka dia wajib bertaubat dari ucapan tersebut.
(dari Tanya Jawab terakhir bersama asy-Syaikh Hani’ bin Braik hafizhahullah)
http://dammajhabibah.net/2013/09/02/permata-faidah-dari-dauroh-asatidzah-ix-1434-h-9/
Review / Koreksi