Di Tulis Oleh Ustadz Kharisman
A. Pendahuluan
Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam. Petunjuk
beliau mencakup seluruh segi kehidupan bagi seseorang untuk mendapatkan
kebahagiaan di dunia dan akhirat. Salah satu kebutuhan dasar manusia
adalah perasaan aman dari segala macam marabahaya yang mengancam
keselamatan hidupnya.
Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam telah
memberikan bimbingan bagi kita tentang apa saja yang dilarang dan apa
yang seharusnya dilakukan. Sebagian manusia ingin mendapatkan
keselamatan itu dengan cara-cara yang terlarang, seperti memakai jimat, bertathoyyur, dan
minta tolong kepada Jin. Kadangkala, seseorang mendapatkan apa yang
diinginkan itu (keselamatan) di dunia meski ia melakukan sesuatu yang
terlarang secara syariat. Mereka kemudian menyangka bahwa apa yang
dilakukan itu telah diridhai oleh Allah, buktinya adalah apa yang mereka
inginkan tercapai. Contohnya, orang yang memakai jimat untuk
keselamatan. Atas taqdir Allah ia diselamatkan dari suatu marabahaya. Ia
kemudian menyangka bahwa dengan sebab jimat itu ia mendapatkan
keselamatan dan perbuatannya memakai jimat itu diridhai oleh Allah.
Padahal itu adalah bentuk ujian dan istidraj dari Allah.
إِذَا
رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا
يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ
فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا
أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ }
Jika engkau melihat Allah memberikan
kepada seorang hamba kenikmatan duniawi yang dia senangi dengan
melakukan kemaksiatan (pelanggaran syariat), sesungguhnya itu adalah
istidraj. Kemudian Rasulullah membaca ayat –yang artinya-: “Maka tatkala
mereka telah melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka,
Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga
apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka,
Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika iu mereka terdiam putus
asa (Q.S al-An’am:44)(H.R Ahmad)
Orang-orang mudah tertipu dengan
keberhasilan duniawinya. Ketika ia mendapat kebahagiaan, keselamatan,
kesehatan, dan semisalnya dengan cara tertentu, ia anggap itu adalah
bukti bahwa Allah meridhai caranya.. Padahal patokan utama seharusnya
adalah dalil syar’i AlQur’an dan Sunnah Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam yang
shahihah dengan pemahaman para Sahabat Nabi dan Ulama’ Ahlussunnah. Apa
yang dilarang dalam al-Quran dan as-Sunnah adalah sesuatu hal yang
terlarang dan dibenci Allah, meski bisa saja menimbulkan kenikmatan
duniawi. Namun itu adalah kenikmatan duniawi yang semu dan sementara,
tercabutnya berkah, dan bisa berakibat kesengsaraan di akhirat, wal iyaadzu billah…
Berikut ini adalah sebagian petunjuk
Nabi bagi seseorang yang ingin mendapatkan keselamatan dari marabahaya
di dunia. Kami bagi pembahasan menjadi 2 hal utama, yaitu: hal-hal yang
dilarang Nabi dan hal-hal yang disunnahkan. Untuk hal-hal yang
disunnahkan, khusus diambilkan untuk yang terkait dengan keselamatan.
Sebagai contoh, bacaan doa pagi petang ada banyak yang dicontohkan Nabi,
demikian juga doa/dzikir sebelum tidur dan selepas sholat Fardhu, namun
yang disebutkan di sini hanyalah sebagian yang terkait dengan
keselamatan dari marabahaya di dunia.
B. Menghindari Larangan Nabi
Larangan – larangan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bagi orang-orang yang mencari keselamatan
- Memakai Jimat
عَنْ
عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ إِلَيْهِ رَهْطٌ فَبَايَعَ تِسْعَةً
وَأَمْسَكَ عَنْ وَاحِدٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ بَايَعْتَ تِسْعَةً
وَتَرَكْتَ هَذَا قَالَ إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً فَأَدْخَلَ يَدَهُ
فَقَطَعَهَا فَبَايَعَهُ وَقَالَ مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
( رواه أحمد و الطبراني)
“ Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir al-Juhaniy
bahwasanya Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam didatangi oleh
sekelompok orang (berjumlah sepuluh), beliau membaiat 9 orang dan
membiarkan satu orang. Mereka bertanya : Wahai Rasulullah shollallaahu
‘alaihi wasallam, (mengapa) anda membaiat 9 dan membiarkan 1 orang ?
Rasul menjawab : Sesungguhnya ia menggunakan jimat. Maka orang tersebut
memasukkan tangannya (ke dalam bajunya) dan memutus jimatnya, sehingga
kemudian Rasul membaiatnya. Rasul bersabda : Barangsiapa yang menggantungkan jimat, sungguh dia telah berbuat syirik” (H.R Ahmad dan Thabarani)
2. Melakukan tathoyyur/ thiyarah : menganggap sial dengan adanya tanda-tanda tertentu yang bukan sebab-sebab syar’i ataupun qodari, seperti hari / bulan sial, kicauan burung, dsb.
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ
أَشْرَكَ (رواه أحمد)
“ Dari Abdullah bin ‘Amr beliau
berkata : Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Barangsiapa yang mengurungkan rencana keperluannya karena thiyaroh, maka
sungguh dia telah berbuat syirik” (H.R Ahmad)
3. Meminta bantuan Jin
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Dan bahwasanya ada beberapa orang
laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa
laki-laki dari kalangan jin maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa
dan kesalahan (Q.S al-Jin:6)
وَيَوْمَ
يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ
الْإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ
بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ
النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ
رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
Dan (ingatlah) hari di waktu Allah
menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman): Hai golongan jin
sesungguhnya kalian telah banyak menyesatkan manusia. Lalu berkatalah
kawan-kawan mereka dari kalangan manusia: Ya Tuhan kami sesungguhnya
sebagian kami telah mendapatkan kesenangan dari sebagian yang lain dan
kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami. Allah
berfirman: Neraka itulah tempat diam kalian. Kalian kekal di dalamnya,
kecuali atas kehendak Allah. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi
Maha Mengetahui (Q.S al-An’aam:128)
Review / Koreksi