Berkata pula Sahl At-Tustari sebagaimana yang disebutkan Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr dalam “hami bayanil ‘ilmi” (2/1085):
“tidaklah seseorang membuat sesuatu yang
baru dalam ilmu melainkan dia akan ditanya tentangnya pada hari
kiamat,jika mencocoki sunnah maka dia selamat,dan jika tidak maka
celaka.”
Berkata pula Imam Utsman bin Sa’id Ad-Darimi rahimahullah:
“sesungguhnya ilmu bukanlah dengan
banyak riwayat,namun cahaya yang Allah hunjamkan kedalam hati,syaratya
adalah: mengikuti (sunnah), dan menjauhi hawa nafsu dan bid’ah.”
(Siyaru a’laam an-nubala:13/323)
Berkata Al-Hafizh Ibnu Qudamah rahimahullah dalam dzammut ta’wil (38):
“Beliau –Shallallahu alaihi wa
aalihi wasallam- berada diatas halan yang lurus, maka orang yang
mengikuti jalannya pasti berada diatas jalan yang lurus ,maka wajib
mengikutinya dan berhenti pada sesuatu yang Beliau berhenti padanya, dan
diam dari sesuatu yang Beliau diam darinya.”
Apakah yang dimaksud jalan yang lurus
-wahai saudaraku sekalian- yang senantiasa diminta oleh setiap yang
shalat pada setiap raka’atnya baik yang wajib maupun yang sunnah agar
Allah membimbingnya ke arah sana?
Ungkapan para ulama dalam menjelaskan maknanya berdekatan,[1]
Telah dikeluarkan Imam Ibnu Jarir
Ath-Thabari dalam tafsirnya (1/75) dengan sanad yang hasan, bahwa Hamzah
bin Mughirah berkata: aku bertanya kepada Abul Aliyah –seorang tabi’I
yang mulia- tentang firman Allah Ta’ala:
اهْدِÙ†َا الصِّرَاطَ الْÙ…ُسْتَÙ‚ِيمَ
“tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Beliau menjawab: itu daalah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan dua sahabatnya setelah meninggalnya: Abu Bakar dan Umar.
Lalu akupun mendatangi Hasan (Al-Bashri)
dan kau kabarkan tentang hal ini? Beliau menjawab: Beliau telah benar
dan telah menasehati.”
Berkata Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam “zaadul ma’aad” (1/69-70):
“dari sinilah engkau mengetahui
kebutuhan seorang hamba melebihi kebutuhan lainnya adalah mengenal Rasul
Shallallahu alaihi wasallam dan apa yang beliau bawa, dan
membenarkannya terhadap setiap apa yang Beliau kabarkan, dan mentaatinya
terhadap setiap yang Beliau perintahkan, sebab tidak ada jalan menuju
kebahagiaan baik di dunia maupun diakhirat, kecuali melalui tangan para
rasul.
Tidak ada jalan untuk mengetahui yang
baik dan buruk secara rinci kecuali melalui mereka,tidak ada hidayah
melainkan petunjuk mereka dan apa yang mereka bawa, mereka adalah
timbangan yang benar yang mana setia ucapan,amalan, dan akhlak
ditimbangan dengannya.Dengan mengikuti mereka akan terpisahkan antara
orang yang mendapatkan hidayah dan orang yang sesat.
Kebutuhan terhadap mereka lebih dari
sekedar kebutuhan jasad terhadap ruhnya, kebutuhan mata terhadap
cahayanya, kebutuhan ruh terhadap kehidupannya, kebutuhan apa saja yang
diwajibkan bagi seorang hamba, maka kbutuhannya terhadap para rasul
melebihi semuanya …..”
Hingga beliau berkata: jika kebahagiaan
seorang hamba didua negeri (dunia dan kahirat) tergantung pada bimbingan
Nabi Shallallahu alaihi wasallam,maka wajib atas setiap ayng menasehati
dirinya dan senang akan keselamatan dan kebahagiannya, agarhendaknya
dia mengenal petunjuk sejarah dan perjalanan Beliau shallallahu alaihi
wasallam ,yang dengannya mengeluarkan seseorang dari tingkat
kejahilan,dan memasukkan kedalam kelompok para pengikut dan
pendukungnya. Manusia dalam hal ini ada yang mengmabil bagian yang
banyak dan ada pula yang sedikit, ada yang tidak megambil bagiannya, dan
semua keutamaan hanya ditangan Allah Azza wajalla, Allah berikan kepada
siapa yang dia kehendaki, dan Allah yang memiliki keutamaan yang
agung.”
(haqqun nabiy,Syaikh Al-Bukhari:32-34)
Alih Bahasa : AL-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal
[1] Lihat ucapan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (3/29-30)
(Sumber :
http://www.salafybpp.com/index.php?option=com_content&view=article&id=65:beberapa-atsar-ulama-salaf-dalam-menentang-para-penyelisih-sunnah-&catid=30:manhaj-salaf&Itemid=18)
Review / Koreksi