Oleh : Al Ustadz Kharisman
Pertanyaan : Kapan terjadi kufur
akbar atau kemurtadan (keluar dari Islam)? Apakah hal itu khusus
terkait dengan keyakinan (i’tiqad) , penentangan, dan pendustaan saja
atau lebih umum dari itu?
Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi –semoga Allah mengampuninya- berkata:
Bismillaahirrohmaanir rohiim. Segala
puji bagi Allah Rabb semesta alam. Sholawat, salam, dan keberkahan
dari Allah semoga tercurah kepada hamba Allah dan RasulNya, Nabi kita
dan Imam, dan pemimpin kita, Muhammad bin Abdillah, dan kepada keluarga,
Sahabat, serta orang-orang yang mengikutinya hingga (mendekati) hari
kiamat. Amma ba’du :
Sesungguhnya kekafiran dan kemurtadan – wal-Iyaadzu billah- terjadi karena beberapa hal:
– Penentangan terhadap sesuatu yang sudah jelas dalam agama
– Melakukan perbuatan kufur
– Mengucapkan ucapan kufur
– Meninggalkan atau berpaling dari agama Allah Azza Wa Jalla
Bisa juga dalam bentuk kekufuran dalam
keyakinan, seperti jika seseorang berkeyakinan bahwa Allah memiliki
istri dan anak, atau berkeyakinan bahwa Allah memiliki sekutu dalam
KekuasaanNya, atau berkeyakinan bahwa bersama Allah ada pihak lain yang
mengatur segala sesuatu ini atau berkeyakinan bahwa ada pihak yang
berserikat dengan Allah dalam Nama dan Sifat-SifatNya, atau berkeyakinan
bahwa ada pihak lain yang berhak mendapatkan ibadah selain Allah, atau
berkeyakinan adanya pihak lain yang bersekutu dalam Rububiyyah Allah.
Maka orang yang demikian dikafirkan dengan keyakinan ini dengan
kekafiran yang keluar dari Islam.
Kekufuran juga bisa berupa perbuatan,
seperti seseorang yang bersujud kepada berhala, melakukan perbuatan
sihir, atau melakukan perbuatan kesyirikan seperti berdoa kepada selain
Allah, menyembelih untuk selain Allah, bernadzar untuk selain Allah,
atau thawaf di Baitullah sebagai bentuk taqorrub kepada selain Allah. Maka kekufuran juga bisa terjadi karena perbuatan sebagaimana pada ucapan.
Kekufuran dalam bentuk ucapan seperti seseorang yang mencela Allah atau mencela Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam atau mencela agama Islam atau mengejek Allah, KitabNya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam atau agamanya. Allah berfirman kepada sekelompok orang dalam perang Tabuk yang mengejek Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabatnya :
{ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ }{ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ }
Katakanlah : Apakah kepada Allah,
ayat-ayatNya, dan RasulNya kalian mengejek? Janganlah meminta maaf,
kalian telah kafir setelah keimanan kalian (Q.S atTaubah:65-66)
(Dalam ayat ini) Allah menetapkan
kekufuran bagi mereka setelah keimanan. Hal ini menunjukkan bahwa
kekufuran bisa terjadi dengan perbuatan, keyakinan, dan juga ucapan,
sebagaimana disebutkan dalam ayat (di atas) karena mereka menjadi kafir
dengan sebab ucapan.
Kekufuran bisa berupa penentangan.
Penentangan dan keyakinan bisa merupakan satu kesatuan. Kadang pula
diantara keduanya ada perbedaan. Bentuk penentangan misalkan: menentang
perkara yang sudah sangat jelas dalam agama, seperti menentang
Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah, menentang bahwa Allah adalah
satu-satunya yang berhak diibadahi, menentang salah satu Malaikat,
Rasul, Kitab yang diturunkan, menentang akan dibangkitkannya makhluk,
menentang Jannah, dan anNaar, pembalasan (dari Allah), Hisab
(perhitungan pada hari kiamat), menentang wajibnya sholat, zakat,
kewajiban haji, shaum (di bulan Ramadlan), kewajiban berbakti kepada
kedua orang tua, menyambung silaturrahmi, dan hal-hal selainnya yang
telah sangat jelas kewajibannya dalam agama secara dharuri. Selain
itu, menentang pengharaman zina, riba, meminum khamr, durhaka kepada
kedua orangtua, memutus silaturrahmi, pengharaman menyuap (risywah) , atau yang selainnya yang telah sangat jelas pengharamannya dalam agama.
Kekufuran juga bisa dalam bentuk
berpaling dari agama Allah, meninggalkan, menolak agama Allah, seperti
berpaling dari agama Allah, tidak mau mempelajarinya dan tidak mau
beribadah kepada Allah. Maka ia dikafirkan dari sikap berpaling ini.
Allah Ta’ala berfirman:
{ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ }
Dan orang-orang kafir berpaling dari peringatan (kepada mereka)(Q.S al-Ahqaaf:3)
Dan Allah Ta’ala berfirman :
{ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ }
Dan siapakah yang lebih dzhalim
daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya,
kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan
pembalasan kepada orang – orang yang berdosa (Q.S as-Sajdah:22)
Sehingga kekufuran bisa dalam bentuk
keyakinan, penentangan, perbuatan, ucapan, maupun sikap berpaling,
meninggalkan, dan menolak.
Barangsiapa yang dipaksa untuk
mengucapkan ucapan kekufuran atau untuk berbuat kekufuran, maka orang
tersebut mendapatkan udzur (tidak berdosa, pent) jika pemaksaan itu
benar-benar keras (dalam keadaan genting). Contoh: Seseorang yang mampu
untuk membunuhnya mengancam dengan ancaman bunuh atau meletakkan pedang
di lehernya maka orang yang (dipaksa) demikian mendapatkan udzur jika ia
melakukan kekufuran atau berkata dengan ucapan kekufuran, dengan syarat
hatinya tetap tenang dalam keimanan. Adapun jika hatinya tenang dalam
kekafiran, maka ia menjadi kufur sekalipun dalam kondisi terpaksa. Kita
meminta keselamatan dan afiat kepada Allah.
Orang yang melakukan perbuatan kekafiran ada 5 keadaan:
- Melakukan perbuatan kekafiran secara sungguh-sungguh, maka ini dikafirkan
- Melakukan perbuatan kekafiran dengan bergurau, maka ini dikafirkan
- Melakukan perbuatan kekafiran karena takut, maka ini dikafirkan
- Melakukan perbuatan kafir dalam kondisi dipaksa dan hatinya tenang dalam kekafiran, maka ini dikafirkan
- Melakukan perbuatan kekafiran dalam kondisi dipaksa sedangkan hatinya tenang dalam keimanan, maka orang semacam ini tidak dikafirkan berdasarkan firman Allah Ta’ala :
{
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ
وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ
صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ }{
ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ
وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ }
Barangsiapa yang kafir kepada Allah
sesudah dia beriman (ia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang
dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak
berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran,
maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar . Yang
demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan
di dunia lebih dari akhirat,, dan bahwasanya Allah tiada member petunjuk
kepada kaum yang kafir (Q.S anNahl: 107-108)
(As-ilah wa Ajwibah fil Iman wal kufr – arRaajihi halaman 7)
Review / Koreksi