Para pembaca yang dirahmati
Allah, belakangan ini negeri kita Indonesia diguncang berbagai musibah.
Rangkaian bencana, gempa, tsunami, gunung meletus, banjir, dan lain
sebagainya telah menelan banyak korban, baik nyawa maupun harta benda.
Sedangkan yang selamat, tidak sedikit dari mereka yang harus tinggal di
pengungsian, bahkan terpisahkan dengan keluarga dan karib kerabat.
Beberapa kalangan pun ramai mengeluarkan
statement-statement terkait dengan sebab terjadinya musibah yang
melanda tersebut. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa musibah
merupakan peristiwa alam semata, tidak ada kaitannya dengan agama.
Sebagian lainnya mengatakan bahwa musibah merupakan ketentuan dan takdir
Allah Subhanallahu wa Ta’ala yang tidak ada kaitannya dengan dosa. Ada
lagi yang mengatakan bahwa musibah merupakan kejadian untuk membuat
takut manusia dan tiada kaitannya dengan dosa. Ada juga yang
menghubungkannya dengan perkara-perkara gaib. Dan banyak lagi
kepentingan-kepentingan duniawi dalam mengomentari terjadinya musibah
tersebut. Hanya kepada Allah saja kita memohon petunjuk. Untuk menjawab
semua itu, mari kita simak keterangan dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, agar
kita tidak semakin jauh dari bimbingan Allah dan Rasul-Nya.
Para pembaca yang dirahmati Allah,
ketahuilah bahwa semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini, termasuk
musibah yang melanda tersebut bukanlah murni peristiwa alam semata. Ia
merupakan ketentuan (takdir) dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Allah
Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:
مَا
أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي
كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ
يَسِيرٌ
“Tiada satu bencanapun yang menimpa
di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis
dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya
yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22)
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada satu musibahpun yang
menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang
beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.
Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)
Dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya
Allah takdirkan berbagai musibah tersebut sebagai peringatan
(menciptakan rasa takut) bagi para hamba (terkhusus yang durhaka) agar
sadar dan kembali kepada agama Islam yang lurus. Sebagaimana firman
Allah Subhanallahu wa Ta’ala (artinya):
وَإِن
مِّن قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ
مَسْطُورًا(Üß)
وَمَا
مَنَعَنَا أَن نُّرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَن كَذَّبَ بِهَا
الْأَوَّلُونَ ۚ وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا
بِهَا ۚ وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا(Üà)
“Tidak ada satu negeripun (yang
durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat
atau Kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. Yang
demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Dan
sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami mengirimkan (kepadamu)
tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah
didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud
unta betina itu (sebagai mu’jizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka
menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda itu melainkan
untuk menakuti.” (Al-Isra`: 58-59)
Para pembaca yang dirahmati Allah, sudah
menjadi ketetapan ilahi (sunnatullah) bahwa tidaklah sebuah bencana
ditimpakan kepada penduduk suatu negeri melainkan karena dosa dan
kezhaliman mereka. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Dan musibah apa pun yang menimpa
kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah
memaafkan sebagian besar (dari kesalahankesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ
“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan
membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang
yang berbuat kebaikan.” (Hud: 117)
Bisa juga karena mereka telah jauh dari
Allah dan syari’at-Nya yang mulia sehingga Allah turunkan musibah
tersebut sebagai peringatan. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman :
أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Dan tidakkah mereka (orang-orang
munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap
tahun, kemudian merekatidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil
pengajaran?” (At-Taubah: 126)
Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman pula mengisahkan tentang Nabi Yunus ‘alaihis salam:
فَلَوْلَا
كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ
لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ
“Dan mengapa tidak ada (penduduk)
suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain
kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari
mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri
kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (Yunus: 98)
Para pembaca yang mulia, sesungguhnya di
balik musibah terdapat hikmah dan pelajaran berharga. Ia berfungsi
sebagai nasehat agar kita selalu introspeksi diri atas berbagai dosa dan
kezhaliman yang ada. Demikian pula ia sebagai peringatan bahwa
kehidupan dunia ini tak pernah lengang dari ujian dan cobaan. Sehingga
manakala hal itu terjadi tiada jalan keluar kecuali kembali kepada Allah
Subhanallahu wa Ta’ala dengan bertaubat dan memohon ampun kepada- Nya,
bersabar, mengerjakan shalat, serta amalan-amalan shalih lainnya. Tidak
dengan kembali kepada petuah-petuah dukun, paranormal, ataupun orang
pintar, karena yang demikian itu diharamkan dalam agama Islam yang mulia
ini. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
وَلَا تَقُولُوا لِمَن يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِن لَّا تَشْعُرُونَ
وَلَنَبْلُوَنَّكُم
بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ
وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Hai orang-orang yang beriman,
mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan)
shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah
kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa
mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu
tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu,
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun’. Mereka itulah
yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan
mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah:153-157)
Para pembaca yang dirahmati Allah,
musibah benar-benar mengingatkan kita akan kekuasaan Allah Subhanallahu
wa Ta’ala, sehingga tidak boleh bagi kita merasa aman dari makar (adzab)
Allah. Allah Maha Kuasa untuk menurunkan musibah (adzab) saat manusia
terlelap tidur. Sebagaimana dalam firman- Nya :
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ
“Maka apakah penduduk negeri-negeri
itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari
di waktu mereka sedang tidur?” (Al-A’raf: 97)
Bahkan Maha Kuasa pula untuk menurunkannya saat mereka sedang bermain di waktu pagi. Sebagaimana dalam firman-Nya :
أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ
“Atau apakah penduduk negeri-negeri
itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu
mataharisepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (Al-A’raf: 98)
Siapapun dari kita pasti mengidamkan
kehidupan bahagia, aman, sentosa, bergelimang rahmat, dan jauh dari
musibah (adzab). Bagaimanakah agar kehidupan yang bahagia tersebut dapat
terwujud?
Untuk mengetahui jawabannya, simaklah firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala berikut ini:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن
“Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)
وَعَدَ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن
قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا
يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ
الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada
orangorang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang
shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka
bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah
diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan)
mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. (Dengan
syarat) mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu
apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji)
itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)
Demikianlah, keimanan yang jauh dari
kesyirikan, ketaqwaan yang jauh dari kemaksiatan, dan amal shalih yang
berkesinambungan dapat menghindarkan penduduk suatu negeri (dengan izin
Allah) dari musibah (adzab) yang menakutkan sehingga menjadi aman
sentosa. Bahkan akan menjadi sebab turunnya barakah dari langit dan
bumi, istiqamah diatas agama, dan berkuasa di muka bumi.
Semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala
memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk kembali kepada Allah, berhukum
dengan Kitabullah dan Sunnah (ajaran) Rasul-Nya, beramal shalih secara
berkesinambungan, berpegang teguh dengan keimanan yang jauh dari
kesyirikan, bid’ah, khurafat, serta menjaga ketakwaan yang jauh dari
berbagai dosa dan kemaksiatan.
Akhir kata, semoga Allah Subhanallahu wa
Ta’ala melindungi negeri yang kita cintai ini, membimbing rakyat dan
pemimpinnya kepada jalan yang lurus. Amin Ya Mujibas Sa`ilin…
Buletin Islam Al-Ilmu Edisi No: 45 / XII / VIII / 1431 H
Sumber: http://www.buletin-alilmu.com/hikmah-ilahi-di-balik-musibah-yang-melanda
Review / Koreksi