OLeh Ustadz Kharisman
Pada artikel kali ini, kami akan
melanjutkan bab tentang KETINGGIAN ALLAH DI ATAS MAKHLUK SELURUHNYA (3)
yang sudah kami tampilkan pekan lalu.
dali yang Keenambelas: Nash-nash tentang penyebutan ‘Arsy dan sifatnya, dan seringnya diidhafahkan kepada Penciptanya yaitu Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berada di atasnya. Seperti disebutkan dalam ayat-ayat AlQur’an:
{رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ} [النمل: 26]
“Rabb Arsy yang Agung..”(Q.S AnNaml:126).
{وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ * ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ *} [البروج: 14 – 15]
“ Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Yang Memiliki Arsy yang mulya “(Q.S alBuruuj:14-15).
{رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ} [غافر: 15]
“(Allah)lah Yang Mengangkat derajat-derajat, yang memiliki ‘Arsy” (Q.S Ghafir:15).
Penyebutan bahwa Allah istiwa’ di atas ‘Arsy telah dikemukakan dalam sisi pendalilan kesepuluh di atas.
عنْ
أبي هريرةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم:
«إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فاسْأَلُوهُ الفِرْدَوسَ فإنَّهُ أوسطُ الجنَّةِ،
وأعلى الجنَّةِ، وفوقَهُ عرشُ الرَّحْمنِ»
Dari Abu Hurairah –semoga Allah
meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam
bersabda: Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus karena
sesungguhnya ia adalah tengah-tengah Jannah, dan Jannah yang paling
tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy ArRahmaan” (H.R al-Bukhari).
Ketujuhbelas: Aqidah
Nabi-nabi sebelumnya secara tegas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada
di atas. Hal ini sebagaimana dakwah Nabi Musa kepada Fir’aun, tetapi
Fir’aun menentangnya. Sebagaimana dikisahkan dalam AlQur’an:
{وَقَالَ
فِرْعَوْنُ يَاهَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الأَسْبَابَ
*} {أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي
لأََظُنُّهُ كَاذِبًا} [غافر: 36 – 37[
Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman,
buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke
pintu-pintu, yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan
Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta (Q.S
Ghafir/Mu’min: 36-37).
Ibnu Jarir atThobary menyatakan: maksud
ucapan (Fir’aun): Sesungguhnya aku memandangnya sebagai pendusta,
artinya: Sesungguhnya aku mengira Musa berdusta terhadap ucapannya yang
mengaku bahwasanya di atas langit ada Tuhan yang mengutusnya (Lihat tafsir AtThobary (21/387)).
Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan:
“Maka Fir’aun mendustakan Musa dalam
pengkhabarannya bahwa Rabbnya berada di atas langit… (I’laamul
Muwaqqi’in juz 2 halaman 317).
Kedelapanbelas: Pensucian Allah terhadap diriNya bahwa Ia terjauhkan dari segala aib, cela dan kekurangan maupun penyerupaan.
Al-Imam Ahmad rahimahullah ketika
membantah Jahmiyyah, beliau berdalil dengan ayat-ayat AlQur’an yang
menunjukkan bahwa setiap penyebutan keadaan ‘rendah’ selalu dalam
konteks celaan. Setelah menyebutkan dalil-dalil bahwa Allah berada di
atas ketinggian, beliau menyatakan:
“Maka ini adalah khabar dari Allah.
Allah mengkhabarkan kepada kita bahwa Ia berada di atas langit. Dan kami
dapati segala sifat rendah sebagai tercela. Sebagaimana firman Allah:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka..” (Q.S AnNisaa’: 145).
وَقَالَ
الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ
الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ
الْأَسْفَلِينَ
Dan orang-orang kafir berkata: “Ya
Rabb kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah
menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar kami
letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina” (Q.S Fusshilat:29)
(Lihat ArRadd ‘alal Jahmiyyah waz Zanaadiqoh karya Imam Ahmad bin Hanbal halaman 147).
Ibnu Batthoh juga menyatakan: Tuhan kita Allah Ta’ala mencela keadaan rendah dan memuji yang tinggi. Sebagaimana dalam firmanNya:
كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin”.(Q.S al-Muthoffifiin: 18).
’Illiyyin adalah langit ke tujuh…
Dan Allah Ta’ala juga menyatakan:
كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ
“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”(Q.S al-Muthoffifiin:7)
Sijjin yaitu lapisan bumi yang terbawah. (Lihat Ucapan Ibnu Batthoh tersebut dalam kitab al-Ibaanah juz 3 halaman 142-143).
Demikianlah, beberapa sisi pendalilan
yang bisa kami sebutkan dalam tulisan ini. Pada tiap sisi pendalilan,
terkandung banyak dalil dari AlQur’an maupun hadits yang shahih.
AQIDAH PARA SAHABAT NABI: ALLAH BERADA DI ATAS LANGIT
Setelah dikemukakan sisi-sisi pendalilan
berdasarkan AlQur’an dan hadits-hadits yang shahih, berikut ini akan
disebutkan ucapan-ucapan para Sahabat Nabi –ridlwaaanullaahi ‘alaihim ajmaiin- tentang keyakinan bahwa Allah berada di atas ‘ArsyNya atau di atas langit:
1) Abu Bakr as-Shiddiq radliyallaahu ‘anhu
Ketika Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam meninggal, Abu Bakr As-Shiddiq menyatakan:
أيها
الناس ! إن كان محمد إلهكم الذي تعبدون فإن إلهكم قد مات ، وإن كان إلهكم
الذي في السماء فإن إلهكم لم يمت ، ثم تلا (وما محمد إلا رسول قد خلت من
قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم) حتى ختم الآية
“ Wahai sekalian manusia! Jika Muhammad adalah sesembahan kalian yang kalian sembah, sesungguhnya sesembahan kalian telah mati. Jika sesembahan kalian adalah Yang berada di atas langit, maka sesungguhnya sesembahan kalian tidak akan mati. Kemudian Abu Bakr membaca firman Allah:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ
“ dan tidaklah Muhammad kecuali
seorang Rasul, telah berlalu sebelumnya para Rasul. Apakah jika ia
meninggal atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang(murtad)…”(Q.S
Ali Imran:144).
Sampai Abu Bakar menyelesaikan bacaan ayat tersebut”(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushonnafnya pada Bab Maa Ja-a fii wafaatin Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam nomor hadits 37021, al-Bazzar di dalam Musnadnya juz 1 halaman 183).
Riwayat perkataan Abu Bakr As-Shiddiq
tersebut adalah shahih. Abu Bakr bin Abi Syaibah meriwayatkan dari
Muhammad bin Fudhail dari ayahnya dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Semua
perawi tersebut (termasuk Abu Bakr bin Abi Syaibah yang merupakan guru
Imam al-Bukhari) adalah rijal (perawi) al-Bukhari.
2) Abdullah bin Mas’ud
Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud menyatakan:
ما
بين السماء الدنيا والتي تليها مسيرة خمسمائة عام ، وبين كل سماءين مسيرة
خمسمائة عام ، وبين السماء السابعة وبين الكرسي خمسمائة عام ، وبين الكرسي
إلى الماء خمسمائة عام ، والعرش على الماء ، والله تعالى فوق العرش ، وهو
يعلم ما أنتم عليه
“ Antara langit dunia dengan
(langit) berikutnya sejauh perjalanan 500 tahun, dan antara 2 langit
sejauh perjalanan 500 tahun, antara langit ke-7 dengan al-Kursiy 500
tahun, antara al-Kursiy dengan air 500 tahun, dan ‘Arsy di atas air, dan
Allah Ta’ala di atas ‘Arsy dalam keadaan Dia Maha Mengetahui apa yang
terjadi pada kalian” (diriwayatkan oleh Ad-Daarimi dalam kitab ArRaddu
‘alal Jahmiyyah bab Maa Bainas Samaa-id Dunya wallatii taliiha juz 1
halaman 38 riwayat nomor 34).
Riwayat perkataan Ibnu Mas’ud ini
shohih. AdDaarimi meriwayatkan dari jalur Musa bin Isma’il dari Hammad
bin Salamah dari ‘Ashim dari Zir (bin Hubaisy) dari Ibnu Mas’ud. Semua
perawinya adalah rijaal al-Bukhari.
3) Zainab bintu Jahsy
عَنْ
أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ زَيْنَبَ بِنت جَحْشٍ كَانَتْ تَفْخَرُ عَلَى
أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم تَقُولُ: «زَوَّجَكُنَّ
أَهَالِيكُنَّ وَزَوَّجَنِي اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سماوات» وفي
لفظٍ: كانتْ تقولُ: «إِنَّ اللهَ أَنْكَحَنِي فِي السَّمَاءِ»
Dari Anas –semoga Allah meridlainya-
bahwa Zainab binti Jahsy berbangga terhadap istri-istri Nabi yang lain,
ia berkata: “Kalian dinikahkah oleh keluarga kalian sedangkan aku
dinikahkan oleh Allah dari atas tujuh langit”. Dalam lafadz lain beliau
berkata: Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku di atas langit (H.R
al-Bukhari).
4) Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas)
Sahabat Nabi yang merupakan penterjemah
AlQur’an ini, ketika menafsirkan firman Allah tentang ucapan Iblis yang
akan mengepung manusia dari berbagai penjuru. Iblis menyatakan
sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam AlQur’an:
{ثُمَّ لآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ} [الأعراف: 17]
“Kemudian sungguh-sungguh aku akan
mendatangi mereka dari arah depan mereka, dan dari belakang mereka, dan
dari kanan dan kiri mereka” (Q.S al-A’raaf:17).
Abdullah bin Abbas menyatakan:
لم يستطعْ أنْ يقولَ: منْ فوقهم؛ عَلِمَ أنَّ الله منْ فوقهم
“ Iblis tidak bisa mengatakan :
(mendatangi mereka) dari atas mereka, karena dia tahu bahwa Allah berada
di atas mereka (diriwayatkan oleh AlLaa-likaa-i dalam Syarh Ushulis
Sunnah halaman 661 dengan sanad yang hasan).
5) Abdullah bin Umar
عن
زيدِ بنِ أَسْلَمٍ قالَ: مَرَّ ابنُ عمرُ براعٍ فقال: هلْ منْ جَزَرَةٍ؟
فقالَ: ليسَ هاهنا ربُّها، قالَ ابنُ عمر: تقولُ لهُ: أكلَهَا الذئبُ.
قالَ: فرفَعَ رأسَهُ إلى السَّماءِ وقالَ: فَأَيْنَ اللهُ؟ فقالَ ابنُ عمر:
أنا واللهُ أحقُّ أنْ أقولَ: أَيْنَ اللهُ؟ واشترى الراعي والغنمَ،
فأعتقهُ، وأعطاهُ الغنمَ
Dari Zaid bin Aslam beliau berkata:
Ibnu Umar melewati seorang penggembala (kambing), kemudian beliau
bertanya: apakah ada kambing yang bisa disembelih? Penggembala itu
menyatakan: Pemiliknya tidak ada di sini. Ibnu Umar menyatakan: Katakan
saja bahwa kambing tersebut telah dimangsa serigala. Kemudian
penggembala kambing tersebut menengadahkan pandangannya ke langit dan
berkata: Kalau demikian, di mana Allah? Maka Ibnu Umar berkata: Aku,
Demi Allah, lebih berhak untuk berkata: Di mana Allah? Sehingga kemudian
Ibnu Umar membeli penggembala dan kambingnya, memerdekakan penggembala
tersebut dan memberikan padanya satu kambing itu” (diriwayatkan oleh
Adz-Dzahaby dalam kitab al-‘Uluw halaman 860, dan Syaikh Muhammad
Nashiruddin menyatakan bahwa sanad hadist ini jayyid (baik)).
Demikianlah, sedikit
penjelasan dalil-dalil dari AlQur’an dan AsSunnah yang shohihah yang
menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy, di atas langit, di
atas seluruh makhlukNya. Telah dikemukakan pula beberapa ucapan para
Sahabat Nabi yang shorih (tegas) tentang aqidah tersebut.
Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan hidayahNya kepada kita semua
Review / Koreksi