OLeh Ustadz Kharisman
Pada artikel kali ini, kami akan
melanjutkan bab tentang KETINGGIAN ALLAH DI ATAS MAKHLUK SELURUHNYA (II)
yang sudah kami tampilkan pekan lalu.
dalil yang Kesembilan: Persaksian
Nabi bahwa seorang budak wanita yang ditanya di mana Allah, kemudian
menjawab Allah di atas langit sebagai wanita beriman.
Sesuai dengan hadits Mu’awiyah bin al-Hakam:
فَقَالَ لَهَا: «أَيْنَ اللهُ؟»، قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: «مَنْ أَنَا؟»، قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: «أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤمِنَةٌ
“ Rasulullah shollallahu ‘alaihi
wasallam bertanya kepadanya: Di mana Allah? Dia menjawab: di atas
langit. Rasul bertanya: Siapa saya? Wanita itu menjawab: engkau adalah
utusan Allah. Maka Nabi bersabda: ‘Bebaskan dia, karena dia adalah
seorang (wanita) beriman” (H.R Muslim).
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh
Imam Asy-Syafi’i di dalam kitab al-‘Umm juz 5 halaman 298. Mengenai
periwayatan Imam Asy-Syafi’i tersebut Imam Abu Utsman Ash-Shoobuny
menyatakan di dalam kitabnya ‘Aqidatus Salaf Ashaabul Hadiits:
وإنما
احتج الشافعي رحمة الله عليه على المخالفين في قولهم بجواز إعتاق الرقبة
الكافرة بهذا الخبر ، لاعتقاده أن الله سبحانه فوق خلقه ، وفوق سبع سماواته
على عرشه ، كما معتقد المسلمين من أهل السنة والجماعة ، سلفهم وخلفهم ، إذ
كان رحمه الله لا يروي خبرا صحيحا ثم لا يقول به . وقد أخبرنا الحاكم أبو
عبد الله رحمه الله قال أنبأنا الإمام أبو الوليد حسان بن محمد الفقيه قال
حدثنا إبراهيم بن محمود قال سمعت الربيع بن سليمان يقول سمعت الشافعي رحمه
يقول : إذا رأيتموني أقول قولا وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم خلافه
فاعلموا أن عقلي قد ذهب
Asy-Syafi’i –semoga rahmat Allah
atasnya- berhujjah terhadap para penentang yang menyatakan bolehnya
memerdekakan budak kafir dengan khabar (hadits) ini karena keyakinan
beliau bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala di atas makhluk-makhlukNya, dan
di atas tujuh langit di atas ‘ArsyNya sebagaimana keyakinan kaum
muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah baik yang terdahulu maupun kemudian,
karena beliau (Asy-Syafi’i) tidaklah meriwayatkan khabar (hadits) yang
shahih kemudian tidak berpendapat dengan (hadits) tersebut. Telah
mengkhabarkan kepada kami al-Haakim Abu Abdillah rahimahullah (dia
berkata) telah mengkhabarkan kepada kami Abul Waliid Hasaan bin Muhammad
al-Faqiih (dia berkata) telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin
Mahmud dia berkata aku mendengar ArRabi’ bin Sulaiman berkata: Aku
mendengar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: Jika kalian melihat aku
mengucapakan suatu ucapan sedangkan (hadits) yang shahih dari Nabi
shollallaahu ‘alaihi wasallam bertentangan dengannya, maka ketahuilah
bahwasanya akalku telah pergi.
Jika ada yang
bertanya: Siapa Abu Utsman Ash-Shobuuny sehingga dia bisa tahu maksud
ucapan Imam Asy-Syafi’i? Maka kita jawab: Abu Utsman Ash-Shoobuny adalah
salah seorang ulama’ bermadzhab Asy-Syafi’i (sebagaimana dijelaskan
oleh al-Hafidz Adz-Dzahaby dalam Siyaar A’laamin Nubalaa’). Imam Al-Baihaqy menyatakan tentang Abu Utsman Ash-Shobuuny:
“Imam kaum muslimin yang sebenarnya, dan Syaikhul Islam yang sejujurnya”(Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 18 halaman 41).
Kami kemukakan ucapan Imam al-Baihaqy di
sini karena para penentang Ahlussunnah banyak memanfaatkan
ketergeliciran Imam al-Baihaqy dalam memahami Asma’ Was-Sifat.
Kesepuluh: Penjelasan bahwa Allah ber-istiwa’ di atas ‘Arsy. Lafadz istiwa’ diikuti dengan penghubung على sehingga bermakna ‘tinggi di atas’ ‘Arsy.
Sebagaimana disebutkan dalam AlQur’an
pada 8 tempat pada surat: Al-A’raaf:54, Yunus: 3, Yusuf:100, Ar-Ra’d:2,
Thaha:5, al-Furqaan:59, As-Sajdah:4, al-Hadid:4. Para Ulama menjelaskan
bahwa ‘Arsy adalah makhluk Allah yang terbesar dan tertinggi.
Kesebelas: Nabi mengisyaratkan ke atas saat meminta persaksian kepada Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir riwayat Muslim yang mengisahkan kejadian pada Haji Wada’:
وَأَنْتُمْ
تُسْأَلُونَ عَنِّي فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ قَالُوا نَشْهَدُ أَنَّكَ
قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ
يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ اللَّهُمَّ
اشْهَدْ اللَّهُمَّ اشْهَدْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
“(Nabi bersabda) “Dan kalian
akan ditanya tentang aku, apa yang akan kalian katakan? Para Sahabat
berkata: ‘Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan
(amanah), dan menyampaikan nasihat’. Maka Nabi mengisyaratkan dengan
mengangkat jari telunjuknya ke langit mengetuk-ngetukkannya ke hadapan
manusia (dan berkata) Ya Allah persaksikanlah (3 kali)(H.R Muslim).
Keduabelas: Disunnahkannya seorang yang berdoa menengadahkan tangan menghadap ke atas
Sebagaimana dalam hadits Umar bin al-Khottob yang mengisahkan kejadian pada perang Badr:
اسْتَقْبَلَ
نَبِيُّ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ
فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ: «اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي،
اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ
الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ
“Nabiyullah shollallaahu ‘alaihi
wasallam menghadap kiblat kemudian menengadahkan tangannya dan
berteriak kepada Rabb-nya: Ya Allah tunaikanlah apa yang Engkau janjikan
untukku, Ya Allah berikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah
jika Engkau membinasakan kelompok ini dari Ahlul Islam, Engkau tidak
akan disembah di bumi” (H.R Muslim).
عنْ
سلمانَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: «إنَّ
الله حَيِيٌّ كريمٌ، يَسْتَحْيِي إذا رَفَعَ الرَّجُلُ إليهِ يَدَيْهِ أن
يَرُدَّهُما صُفْرًا خَائِبَتَيْنِ
Dari Salman –semoga Allah
meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam
bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Pemalu lagi Mulya. Dia malu jika
seseorang mengangkat kedua tangan ke arahNya kemudian Allah
mengembalikan kedua tangan itu dalam keadaan nol sia-sia (H.R
atTirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh alAlbaany).
Ketigabelas: Penjelasan bahwa penduduk Jannah akan melihat Wajah Rabb-Nya
Para Ulama’ menjelaskan bahwa salah satu
dalil yang menunjukkan ketinggian Allah adalah bisa dilihatnya Allah
nanti oleh penduduk Jannah.
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ
جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ البجليِّ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا
لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ
ليلَةَ أَرْبَعَ عَشْرَةَ، فَقَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا
تَرَوْنَ هذَا لاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ
Dari Jarir bin Abdillah al-Bajaliy
–semoga Allah meridlainya- beliau berkata: “Kami duduk pada suatu malam
bersama Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau melihat pada
bulan pada malam tanggal 14 beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kalian akan
melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat (bulan) ini, tidaklah
berdesakan dalam melihatnya” (H.R al-Bukhari dan Muslim).
Keempatbelas: Penjelasan tentang turunnya Allah Subhaanahu Wa Ta’ala ke langit dunia setiap sepertiga malam yang terakhir.
عن
أبي هريرةَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم:
«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ
الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ، فَيَقُولُ: مَنْ
يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ
يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟»
Dari Abu Hurairah –semoga Allah
meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Tuhan kita Tabaaroka Wa Ta’ala turun ke langit dunia tiap
malam ketika telah tersisa sepertiga malam, kemudian Dia berkata:
Siapakah yang akan berdoa kepadaku, Aku akan kabulkan. Siapa yang
meminta kepadaku Aku akan beri, siapa yang memohon ampunan kepadaku, Aku
akan ampuni”(H.R al-Bukhari dan Muslim, hadits yang mutawatir).
Kelimabelas: Khabar dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bahwa
beliau pada waktu Isra’ Mi’raj setelah mendapatkan perintah sholat
bolak-balik ketika berpapasan dengan Musa kembali naik menuju Allah
untuk meminta keringanan bagi umatnya. Demikian terjadi beberapa kali.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits:
عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله
عليه وسلم: «… أَوْحَى اللهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى فَفَرَضَ عَلَيَّ
خَمْسِينَ صَلاَةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. فَنَزَلْتُ إِلَى مُوسَى
صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ:
خَمْسِينَ صَلاَةً. قَالَ: ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ
التَّخْفِيفَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ يُطِيقُونَ ذَلِكَ. فَإِنِّي قَدْ
بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ. قَالَ: فَرَجَعْتُ إِلَى
رَبِّي فَقُلْتُ: يَا رَبِّ! خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي. فَحَطَّ عَنِّي
خَمْسًا. فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقُلْتُ: حَطَّ عَنِّي خَمْسًا. قَالَ:
إِنَّ أُمَّتَكَ لاَ يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ
فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ. قَالَ: فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي
تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيْنَ مُوسَى عليه السلام حَتَّى قَالَ: يَا
مُحَمَّدُ! إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ. لِكُلِّ
صَلاَةٍ عَشْرٌ. فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلاَةً… قَالَ: فَنَزَلْتُ حَتَّى
انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ:
ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ. فَقُلْتُ: قَدْ رَجَعْتُ
إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ»
Dari Anas bin Malik –semoga Allah
meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “….Allah mewahyukan kepadaku apa yang Ia wahyukan. Maka Ia
mewajibkan kepadaku 50 sholat sehari semalam. Maka aku turun menuju Musa
shollallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian ia berkata: Apa yang Rabbmu
wajibkan bagi umatmu? Aku berkata: 50 sholat. Musa berkata: kembalilah
pada Tuhanmu, mintakanlah padanya keringanan, karena sesungguhnya umatmu
tidak akan mampu melakukannya. Karena sesungguhnya aku telah mencoba
Bani Israil dan aku mengerti keadaan mereka. Rasululullah berkata: Maka
aku kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, ringankanlah
untuk umatku. Maka dihapuskan dariku 5 sholat. Kemudian aku kembali ke
Musa dan berkata: Telah dihapuskan (dikurangi) untukku 5 sholat. Musa
berkata: sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup, kembalilah pada Tuhanmu
dan mintakanlah keringanan. Nabi bersabda: Senantiasa aku bolak-balik
antara Tuhanku Tabaroka Wa Ta’ala dengan Musa ‘alaihis salaam sampai
Allah berfirman: Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban sholat tersebut
adalah 5 kali sehari semalam. Setiap sholat dilipatgandakan 10 kali.
Maka yang demikian adalah (senilai) 50 sholat…..Nabi bersabda: Maka
kemudian aku turun sampai pada Musa shollallaahu ‘alaihi wasallam, maka
aku khabarkan kepadanya. Musa berkata: Kembalilah pada Rabmu dan
mintakanlah keringanan. Maka aku (Rasulullah) berkata: Aku telah kembali
pada Rabku, sampai aku merasa malu padaNya” (H.R al-Bukhari dan Muslim,
lafadz sesuai riwayat Muslim).
Review / Koreksi