Oleh Al Ustadz Khasrisman
(Disampaikan pada kajian Jumat malam Sabtu ba’da Maghrib 08 Januari 2009 di Surau Thariqul Jannah jalan Cokroaminoto Probolinggo)Dalil ke-1:
في الصحيح عن أبي بشير الأنصاري رضي الله عنه أنه كان مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في بعض أسفاره، فأرسل رسولاً: “أن لا يُبقين في رقبة بعير قلادة من وَتَر، أو قلادة إلاَّ قُطِعت
Dalam hadits yang shahih dari Abu
Basyir al-Anshory –semoga Allah meridlainya- bahwasanya ia pernah
bersama Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam pada sebagian safar
beliau, kemudian Rasul mengutus utusan (untuk menyampaikan perintah) :
‘Jangan biarkan ada kalung dari tali busur panah di leher unta, atau
kalung (apapun) kecuali diputus/ dipotong’
Sumber Periwayatan Hadits
Hadits ini adalah muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh alBukhari dan Muslim
Hadits ini adalah muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh alBukhari dan Muslim
Sebab Larangan
Para Ulama’ menyebutkan 3 sebab larangan tersebut:
1. Keyakinan bahwa dengan mengalungkan tali busur panah di leher unta tersebut bisa menolak ‘ain. Ini adalah pendapat Imam Malik bin Anas (riwayat Muslim). Dalilnya adalah hadits Uqbah bin ‘Amir yang marfu’ riwayat Abu Dawud
Para Ulama’ menyebutkan 3 sebab larangan tersebut:
1. Keyakinan bahwa dengan mengalungkan tali busur panah di leher unta tersebut bisa menolak ‘ain. Ini adalah pendapat Imam Malik bin Anas (riwayat Muslim). Dalilnya adalah hadits Uqbah bin ‘Amir yang marfu’ riwayat Abu Dawud
2. Tali busur panah yang dikalungkan tersebut menyakitkan bagi unta. Ini adalah Muhammad bin al-Hasan, Sahabat Abu Hanifah.
3. Sesuatu yang dikalungkan tersebut
adalah lonceng. Terdapat larangan mengalungkan lonceng pada hewan.
AlHafidz menyatakan bahwa sepertinya Imam al-Bukhari cenderung pada
pendapat ini sehingga menamakan bab diletakkannya hadits tersebut dengan
: Apa yang dikatakan tentang lonceng dan semisalnya pada leher unta.
(Lihat Penjelasan tentang hal tersebut
dalam Kasyful Musykil min Hadiitsi ash-Shahihain juz 1 halaman 451 karya
Ibnul Jauzi, dan Fathul Baari karya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany
juz 6 halaman 142).
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menyatakan
bahwa sebab larangan tersebut bisa jadi mencakup 3 hal itu sekaligus
(Syarh Sunan Abi Dawud ). Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab meletakkan
hadits ini dalam bab ini karena kesesuaian dengan pendapat Imam Malik di
atas.
Imam Malik bin Anas menyatakan bahwa
sebab larangan tersebut adalah mereka suka mengalungkan (tali busur
panah) di leher unta untuk menolak bahaya ‘ain (bahaya seperti penyakit
atau semisalnya yang disebabkan oleh pandangan mata, pent.)(Penjelasan
Imam Malik tersebut bisa dilihat pada Shahih Muslim juz 11 halaman 33
hadits ke 3951 bab karoohatu qilaadati watr fii roqobati ba’iir).
Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi
wasallam melarang hal tersebut untuk menghilangkan aqidah-aqidah yang
batil dari para Sahabatnya, dan supaya mereka memurnikan tawakkal dan
keyakinannya kepada Allah bahwa tidak ada sesuatupun yang bisa mencegah
dan menghilangkan marabahaya kecuali Allah Subhanaahu Wa Ta’ala.
Sesuatu yang dikalungkan pada hewan bukanlah penghalang dari marabahaya, bukan pula sesuatu yang Allah jadikan sebab untuk menghilangkan atau mencegah marabahaya.
Sesuatu yang dikalungkan pada hewan bukanlah penghalang dari marabahaya, bukan pula sesuatu yang Allah jadikan sebab untuk menghilangkan atau mencegah marabahaya.
وَإِنْ
يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ
يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ
عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (الأنعام:17)
Jika Allah menimpakan suatu
kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan
Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha
Kuasa atas tiap-tiap sesuatu (Q.S al-An’aam:17)
Dalil ke-2:
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَْيهْ ِوَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
رواه أحمد وأبو داود
Dari Ibnu Mas’ud: Aku mendengar
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya ruqyah,
tamimah, dan tiwalah adalah syirik (riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Derajat Hadits
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Hakim.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Hakim.
Shahih, dishahihkan oleh : Ibnu Hibban,
al-Hakim menyatakan bahwa sanadnya shahih berdasarkan syarat al-Bukhari
dan Muslim(disepakati oleh adz-Dzahaby), dishahihkan pula oleh Syaikh
al-Albany dalam Silsilah al-Ahaadits as-Shahiihah (1/648)).
Riwayat dari Ibnu Hibban dan al-Hakim
adalah shohih, namun riwayat Ahmad dan Abu Dawud dilemahkan oleh
sebagian ulama’. Di dalamnya terdapat perawi yang mubham sekaligus
majhul yaitu anak saudara laki-laki Zainab istri Ibnu Mas’ud.
Sebagaimana hal itu diisyaratkan oleh Ibnul Mundzir.
Kisah Terkait Hadits Tersebut
Diriwayatkan oleh al-Hakim kisah sebagai berikut:
Diriwayatkan oleh al-Hakim kisah sebagai berikut:
عَنْ
زَيْنَبَ امْرَأَةِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّهَا أَصَابَهَا حُمْرَةٌ فِي
وَجْهِهَا، فَدَخَلَتْ عَلَيْهَا عَجُوزٌ، فَرَقَتْهَا فِي خَيْطٍ،
فَعَلَّقَتْهُ عَلَيْهَا، فَدَخَلَ ابْنُ مَسْعُودٍ- رضي الله عنه- فَرَآهُ
عَلَيْهَا، فَقَالَ: مَا هَذَا؟ فَقَالَتْ: اسْتَرْقَيْتُ مِنَ
الْحُمْرَةِ، فَمَدَّ يَدَهُ فَقَطَعَهَا، ثُمّ قَالَ: إِنَّ آلَ عَبْدِ
اللَّهِ لأَغْنِيَاءُ عَنِ الشِّرْكِ، قَالَتْ: ثُمَّ قَالَ: إِنَّ رَسُولَ
اللَّهِ- صلى الله عليه وسلم- حَدَّثَنَا: “إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ
وَالتَّوْلِيَةَ شِرْكٌ” قَالَ: فَقُلْتُ: مَا التَّوْلِيَةُ؟ قَالَ:
التَّوْلِيَةُ: هُوَ الَّذِي يُهَيِّجُ الرِّجَالَ
Dari Zainab istri Abdullah (Ibnu
Mas’ud), bahwasanya ia terkena al-humroh (sejenis penyakit) pada
wajahnya. Kemudian masuklah seorang wanita tua ke tempatnya. Kemudian
wanita tua itu meruqyah pada sebuah benang dan diikatkan pada
(tangan)nya. Kemudian Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridlainya- melihatnya
dan bertanya: Apa ini? Kemudian (istrinya) berkata: Aku minta diruqyah
karena terkena al-humroh. Kemudian Ibnu Mas’ud menjulurkan tangannya dan
memotong benang (pada tangan istrinya) tersebut. Kemudian ia berkata:
Sesungguhnya keluarga Abdullah (Ibnu Mas’ud) sangat-sangat tidak butuh
dari (yang mengandung) kesyirikan. Kemudian beliau menyatakan:
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan kepada kita
: Sesungguhnya ruqyah, tamiimah, dan tawliyah adalah syirik. Kemudian
aku (Zainab) berkata: apa tawliyah itu? Beliau berkata: Ia adalah
sesuatu yang membangkitkan (perasaan cinta) laki-laki (diriwayatkan oleh
al-Hakim dan beliau menyatakan bahwa hadits tersebut sanadnya shahih
sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim, dan disepakati oleh adz-Dzahaby).
Penjelasan tentang Ruqyah, Tamimah, dan Tiwalah yang Merupakan Kesyirikan
1. Ruqyah
Ruqyah adalah lafadz-lafadz tertentu yang dibacakan kepada orang sakit dengan keyakinan sebagai penyebab kesembuhan.
Ruqyah tidak seluruhnya merupakan kesyirikan. Dalam sebuah hadits disebutkan:
1. Ruqyah
Ruqyah adalah lafadz-lafadz tertentu yang dibacakan kepada orang sakit dengan keyakinan sebagai penyebab kesembuhan.
Ruqyah tidak seluruhnya merupakan kesyirikan. Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ
عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِي فِي
الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ
فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ
يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ
Dari Auf bin Malik al-‘Asyja’i
beliau berkata: Kami dulu biasa meruqyah di masa Jahiliyyah, maka kami
berkata: Wahai Rasulullah,bagaimana pendapat anda tentang hal itu? Nabi
bersabda: Tunjukkan padaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa ruqyah
selama tidak mengandung kesyirikan (riwayat Muslim).
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany berkata:
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany berkata:
قد
أجمع العلماء على جواز الرقى عند اجتماع ثلاثة شروط أن يكون بكلام الله أو
بأسمائه وصفاته وباللسان العربي وبما يعرف معناه وأن يعتقد أن الرقية لا
تؤثر بذاتها بل بتقدير الله
Para Ulama telah sepakat tentang
bolehnya ruqyah jika terkumpul 3 syarat: (i) Bacaan berupa Kalaamullah
(AlQur’an) atau dengan Nama-namaNya dan Sifat-SifatNya, (ii) dengan
bahasa Arab yang dikenal maknanya, (iii) Berkeyakinan bahwa ruqyah tidak
memberikan pengaruh dengan sendirinya tapi dengan taqdir Allah (Fathul
Baari juz 10 halaman 195).
2. Tamimah
Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan, diikatkan pada tangan, dipakai sebagai sabuk, diselipkan pada kopyah, atau digantungkan di dekat pintu rumah, pada mobil, atau semisalnya dengan anggapan bahwa ia adalah sebab dalam mencegah bahaya atau mendatangkan kemanfaatan. (Disarikan dari penjelasan Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh dalam atTamhiid lisyarhi Kitaabit Tauhid). Dalam bahasa Indonesia banyak disebut dengan ‘jimat’.
Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan, diikatkan pada tangan, dipakai sebagai sabuk, diselipkan pada kopyah, atau digantungkan di dekat pintu rumah, pada mobil, atau semisalnya dengan anggapan bahwa ia adalah sebab dalam mencegah bahaya atau mendatangkan kemanfaatan. (Disarikan dari penjelasan Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh dalam atTamhiid lisyarhi Kitaabit Tauhid). Dalam bahasa Indonesia banyak disebut dengan ‘jimat’.
Jika tamimah yang dikalungkan tersebut berupa AlQur’an, terdapat perbedaan pendapat dari para Sahabat Nabi,
Pendapat pertama : boleh.
Yang berpendapat demikian adalah : Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash dan riwayat dari ‘Aisyah
Pendapat pertama : boleh.
Yang berpendapat demikian adalah : Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash dan riwayat dari ‘Aisyah
Pendapat yang memperbolehkan mengalungkan/ memakai sesuatu sebagai semacam tamimah ini dengan syarat:
1. Berupa ayat-ayat al-Quran
2. Berupa kalimat-kalimat yang ditulis dalam bahasa Arab, bukan ‘ajam (bahasa non Arab) dan bukan dengan tulisan yang tidak bisa dibaca
3. Berkeyakinan bahwa kesembuhan dari Allah, bukan dari sesuatu yang digantungkan tersebut.
(Lihat I’anatul Mustafiid bisyarhi Kitaabit Tauhid karya Syaikh Sholih al-Fauzan juz 1 halaman 269).
4. Dipakai bukan untuk mencegah sesuatu yang belum terjadi, tapi sebagai bentuk pengobatan terhadap hal yang sedang diderita.
Tambahan syarat yang ke-4 ini adalah pendapat dari Aisyah –radliyallaahu ‘anha- dan dikuti oleh Imam Malik.
Sedangkan ‘Aisyah berpendapat bahwa yang termasuk kategori tamimah (yang dilarang Nabi) adalah yang dipakai untuk mencegah datangnya musibah (bahaya atau penyakit). Jika dipakai setelah terkena musibah, seperti dipakai oleh orang yang sakit untuk meredakan rasa sakitnya, karena yang dikalungkan berisi AlQuran (untuk mengharapkan keberkahan), maka tidak mengapa.
Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Aisyah:
1. Berupa ayat-ayat al-Quran
2. Berupa kalimat-kalimat yang ditulis dalam bahasa Arab, bukan ‘ajam (bahasa non Arab) dan bukan dengan tulisan yang tidak bisa dibaca
3. Berkeyakinan bahwa kesembuhan dari Allah, bukan dari sesuatu yang digantungkan tersebut.
(Lihat I’anatul Mustafiid bisyarhi Kitaabit Tauhid karya Syaikh Sholih al-Fauzan juz 1 halaman 269).
4. Dipakai bukan untuk mencegah sesuatu yang belum terjadi, tapi sebagai bentuk pengobatan terhadap hal yang sedang diderita.
Tambahan syarat yang ke-4 ini adalah pendapat dari Aisyah –radliyallaahu ‘anha- dan dikuti oleh Imam Malik.
Sedangkan ‘Aisyah berpendapat bahwa yang termasuk kategori tamimah (yang dilarang Nabi) adalah yang dipakai untuk mencegah datangnya musibah (bahaya atau penyakit). Jika dipakai setelah terkena musibah, seperti dipakai oleh orang yang sakit untuk meredakan rasa sakitnya, karena yang dikalungkan berisi AlQuran (untuk mengharapkan keberkahan), maka tidak mengapa.
Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Aisyah:
التَّمَائِمُ مَا عُلِّقَ قَبْلَ نُزُوْلِ الْبَلاَءِ وَ مَا عُلِّقَ بَعْدَهُ فَلَيْسَ بِتَمِيْمَةٍ
Tamimah (yang terlarang ) itu adalah
yang dikalungkan sebelum datangnya bala’ (musibah), sedangkan yang
dikalungkan setelahnya bukanlah tamimah (riwayat al-Hakim dalam
al-Mustadrak dishahihkan olehnya dan disepakati oleh adz-Dzahaby).
Terkait poin syarat yang kedua, bahwa harus berupa kalimat-kalimat / untaian kata-kata dalam bahasa Arab, sesuatu yang digantungkan tersebut tidak boleh berupa huruf-hurf yang terpotong (meskipun ia adalah huruf Arab).
Disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany:
Terkait poin syarat yang kedua, bahwa harus berupa kalimat-kalimat / untaian kata-kata dalam bahasa Arab, sesuatu yang digantungkan tersebut tidak boleh berupa huruf-hurf yang terpotong (meskipun ia adalah huruf Arab).
Disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany:
وسئل بن عبد السلام عن الحروف المقطعة فمنع منها ما لا يعرف لئلا يكون فيها كفر
Ibnu AbdisSalaam ditanya tentang
huruf-huruf yang terpotong, maka ia melarangnya selama tidak diketahui
(maknanya), agar tidak (terjerumus) pada kekufuran (Fathul Baari juz 10
halaman 197).
Pendapat Kedua: Tidak Boleh.
Tidak diperbolehkan menggantungkan sesuatu semisal jimat, baik yang tertulis adalah AlQuran atau bukan.
Ini adalah pendapat Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Hudzaifah Ibnul Yaman, ‘Uqbah bin ‘Amir, dan Ibnu Ukaim.
Alasan tidak diperbolehkannya perbuatan tersebut:
1. Larangan Nabi dalam hadits tersebut bersifat umum.
Tidak diperbolehkan menggantungkan sesuatu semisal jimat, baik yang tertulis adalah AlQuran atau bukan.
Ini adalah pendapat Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Hudzaifah Ibnul Yaman, ‘Uqbah bin ‘Amir, dan Ibnu Ukaim.
Alasan tidak diperbolehkannya perbuatan tersebut:
1. Larangan Nabi dalam hadits tersebut bersifat umum.
2. Sebagai upaya saddun lidzdzari’ah
(menutup pintu untuk mencegah terjadinya hal-hal lain yang mengarah pada
larangan atau kemudharatan yang lebih besar).
Jika pada awalnya hanya diperbolehkan untuk yang berisi ayat-ayat al-Quran, secara berangsur-angsur manusia akan terseret untuk bermudah-mudahan, sehingga diperbolehkan juga tulisan-tulisan yang tidak mengandung AlQur’an. Selain itu, hal tersebut bisa dijadikan sekedar kedok untuk menutupi kesyirikan. Kebanyakan tamimah adalah sesuatu yang terbungkus rapat dan terjahit dengan kuat dan tidak terlihat apa yang ada di dalamnya. Ketika seseorang menggunakan tamimah yang tidak mengandung AlQur’an, dia bisa mengelak dan mengatakan bahwa di dalamnya adalah AlQuran. Atau, bisa saja, seseorang mengurungkan niatnya untuk memberikan nasihat kepada seseorang yang memakai tamimah, sekedar karena ia berpikiran: ‘mungkin tulisan yang ada di dalamnya adalah Al-Qur’an’, padahal sebenarnya bukan (disarikan dari penjelasan Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh dalam atTamhiid lisyarhi Kitaabit Tauhid).
Jika pada awalnya hanya diperbolehkan untuk yang berisi ayat-ayat al-Quran, secara berangsur-angsur manusia akan terseret untuk bermudah-mudahan, sehingga diperbolehkan juga tulisan-tulisan yang tidak mengandung AlQur’an. Selain itu, hal tersebut bisa dijadikan sekedar kedok untuk menutupi kesyirikan. Kebanyakan tamimah adalah sesuatu yang terbungkus rapat dan terjahit dengan kuat dan tidak terlihat apa yang ada di dalamnya. Ketika seseorang menggunakan tamimah yang tidak mengandung AlQur’an, dia bisa mengelak dan mengatakan bahwa di dalamnya adalah AlQuran. Atau, bisa saja, seseorang mengurungkan niatnya untuk memberikan nasihat kepada seseorang yang memakai tamimah, sekedar karena ia berpikiran: ‘mungkin tulisan yang ada di dalamnya adalah Al-Qur’an’, padahal sebenarnya bukan (disarikan dari penjelasan Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh dalam atTamhiid lisyarhi Kitaabit Tauhid).
3. Mengalungkan atau menggantungkan
sesuatu dari AlQuran mengandung unsur merendahkan derajat AlQuran
dari kadar yang semestinya. AlQuran diturunkan Allah untuk dibaca, bukan
untuk dikalungkan pada sesuatu. Lebih-lebih jika digantungkan pada anak
kecil (sebagaimana yang diriwayatkan dari perbuatan Abdullah bin ‘Amr
bin al-Ash), peluang terhinakannya ayat-ayat al-Quran lebih besar. Sulit
menjaga anak kecil untuk tidak mengotori sesuatu yang dikalungkan
tersebut dari air liurnya, kebiasaannya yang bermain-main di tempat yang
basah dan kotor, dan semisalnya.
Pendapat kedua ini adalah pendapat yang rajih (lebih kuat).
4. Tiwalah/ Tawliyah
Tiwalah adalah sesuatu yang dipakai untuk semakin menambah perasaan cinta seorang istri kepada suaminya, dan sebaliknya. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Padahal tiwalah tersebut bukanlah sebab syar’i maupun qodari.
Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin memberikan contoh, tukar cincin sepasang suami istri yang disertai dengan keyakinan bahwa selama cincin itu masih melekat pada kedua mempelai, akan mempererat jalinan hubungan keduanya. (Lihat al-Qoulul Mufiid syarh Kitaabit Tauhid).
Syariat dalam Islam sangat menganjurkan hal-hal yang bisa semakin merekatkan hubungan dan meningkatkan perasaan cinta kasih di antara suami istri, namun hal-hal itu tidak ditempuh dengan hal-hal yang mengandung unsur kesyirikan, kebid’ahan, maupun kemaksiatan.
Tiwalah adalah sesuatu yang dipakai untuk semakin menambah perasaan cinta seorang istri kepada suaminya, dan sebaliknya. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Padahal tiwalah tersebut bukanlah sebab syar’i maupun qodari.
Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin memberikan contoh, tukar cincin sepasang suami istri yang disertai dengan keyakinan bahwa selama cincin itu masih melekat pada kedua mempelai, akan mempererat jalinan hubungan keduanya. (Lihat al-Qoulul Mufiid syarh Kitaabit Tauhid).
Syariat dalam Islam sangat menganjurkan hal-hal yang bisa semakin merekatkan hubungan dan meningkatkan perasaan cinta kasih di antara suami istri, namun hal-hal itu tidak ditempuh dengan hal-hal yang mengandung unsur kesyirikan, kebid’ahan, maupun kemaksiatan.
Wallaahu Ta’ala A’lam Bisshowaab
Review / Koreksi