Al-Ustadz Idral
Perlahan tapi
pasti, Islam mulai memasuki rumah-rumah penduduk Makkah. Mulailah
terbuka mata mereka, bahwa ini bukan main-main, dan pasti menjadi
ancaman terhadap kedudukan mereka selama ini di mata seluruh kabilah
Arab.
Pada mulanya penduduk Makkah memang tidak menggubris seruan dakwah ini. Akan tetapi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bangkit secara terang-terangan menyatakan celaan terhadap sesembahan
dan keyakinan mereka, barulah mereka melakukan balasan dan tekanan.
Berbagai upaya mereka lakukan untuk membendung dakwah Islam.
Di antara mereka ada yang mencoba membujuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui
pamannya yang selama ini menjadi pelindung sekaligus sebagai ganti
ayahandanya. Mereka minta kepada Abu Thalib agar menahan kegiatan
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah.
Akhirnya mereka mengutus
‘Utbah bin Rabi’ah dan saudaranya Syaibah, Abu Sufyan Shakhr bin Harb,
Abu Jahl ‘Amr bin Hisyam dan lain-lain, menemui Abu Thalib dan
mengatakan, “Wahai Abu Thalib, keponakanmu mulai mencaci maki sesembahan
kami, mencela agama kami, membodoh-bodohi dan menganggap sesat pemimpin
dan nenek moyang kami. (Terserah padamu), apakah engkau akan menahannya
dari kami atau kamu serahkan urusannya kepada kami…”
Abu Thalib memberi jawaban dengan tutur kata yang lembut dan bahasa yang menarik sehingga mereka pun berlalu meninggalkannya.
Ada pula yang kisah yang
menyebutkan, setelah mereka mengungkapkan apa yang mereka rasakan kepada
Abu Thalib, maka diapun segera memanggil Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menemuinya, Abu Thalib berkata, “Hai anak saudaraku, mereka ini adalah
para pemuka dan pemimpin kaummu. Mereka minta agar engkau menahan diri
jangan mencaci maki sesembahan mereka dan mereka pun akan membiarkan
engkau bersama sesembahanmu.”
Muhammad pun menjawab, “Wahai
paman, mengapa tidak kau ajak mereka kepada yang lebih baik dari itu?”
Kata Abu Thalib, “Apa yang akan engkau serukan kepada mereka?”
Beliaupun berkata, “Saya akan
mengajak mereka untuk mengucapkan satu kalimat yang (kalau mereka
ucapkan), maka seluruh kabilah Arab akan tunduk kepada mereka, dan
bahkan mereka akan menjadi raja pula bagi orang-orang ‘ajam (non Arab).”
Tiba-tiba Abu Jahl berkata, “Kalimat apa itu, kami akan berikan kepada kamu sepuluh kali lipat dari itu?”
Beliau menjawab, “Agar kalian mengucapkan (Tidak ada ilah selain Allah).” Serta merta mereka berpaling dan berkata, “Mintalah yang lain.”
Kata beliau pula, “Seandainya
kalian letakkan matahari di tanganku sehingga menghanguskannya, saya
tetap tidak akan meminta kepada kalian apapun selain kalian mengucapkan
kalimat ini.”
Akhirnya mereka berdiri dan
pergi dalam keadaan murka sambil mengancam, “Demi Allah, kami pasti akan
mencaci-makimu dan sesembahanmu yang menyuruhmu melakukan hal ini.”
Pergilah para pemuka itu
kepada kaumnya seraya berkata, “Teruslah dan bersabarlah kalian
beribadah kepada sesembahan kalian, sesungguhnya ini benar-benar sesuatu
yang dikehendaki.”
Kaum Quraisy pun benar-benar melaksanakan ancamannya. Beberapa orang shahabat dari kalangan fuqara’ dan
para budak menjadi sasaran mereka. Bilal bin Rabah, mendapat siksaan
hebat dari majikannya Umayyah bin Khalaf. Setiap kali siksaan itu
semakin hebat, Bilal hanya mengatakan, “Ahad (Allah Maha Esa), Ahad.”
Khabbab bin Al-Aratt disiksa
oleh majikannya Ummu ‘Ammar Al Khuza’iyah, bahkan sampai hati memanggang
kepala Khabbab dengan besi panas membara. Juga ‘Ammar bin Yasir, ibunya
Sumayyah dan ayahnya Yasir, tak luput dari penindasan dan siksaan
sampai akhirnya Sumayyah gugur sebagai syuhada wanita pertama dalam
Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
sendiri tidak luput dari perlakuan keji orang-orang kafir Quraisy.
Setiap kali ada pemuka Quraisy yang bertemu dengan beliau, selalu mereka
meludahi wajah beliau yang mulia, mengumpat beliau dan menaburkan
kotoran ke wajah beliau. Pernah pula beliau dicekik dan dibanting oleh
sebagian pemuka tersebut.
Kadang apabila beliau dalam
keadaan sujud punggung beliau dilumuri kotoran unta. Atau dilempari
benda-benda najis. Namun Allah tetap menjaga dan memelihara beliau, dan
menjadikan pamannya yang masih menganut agama kaumnya sebagai pembela
dan penolong.
Adapun shahabat yang lain yang
berasal dari kalangan budak dan orang-orang miskin, kalau mereka punya
kerabat, maka itulah yang membela mereka, adapun yang tidak memiliki
kerabat, semuanya merasakan gangguan keji dari para pemuka Quraisy itu.
Namun semua ini adalah sunnatullah (ketetapan Allah) yang berlaku pada hamba-hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
مَّا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدْ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبْلِكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ
“Tidaklah ada yang
dikatakan kepadamu melainkan adalah apa yang juga sesungguhnya telah
dikatakan kepada para Rasul sebelum kamu.” (Fushshilat: 43)
كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ
أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
“Demikianlah tidak seorang
Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan
mereka mengatakan: ‘Ia adalah tukang sihir atau orang gila.’ Apakah
mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka
adalah kaum yang melampaui batas.” (Adz-Dzariyat: 52-53)
Dengan semua ujian ini, Allah subhanahu wa ta’ala menaikkan derajat Nabi-Nya dan para pengikutnya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
أَمْ
حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ
الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ
وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ
آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ
قَرِيبٌ
“Apakah kamu mengira bahwa
kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti
yang dialami orang-orang sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka
dan kesengsaraan, serta digoncangkan sehingga berkatalah Rasul dan
orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah (datangnya) pertolongan
Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.” (Al-Baqarah: 214)
الم
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَن يَسْبِقُونَا ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ
وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ
وَوَصَّيْنَا
الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا
لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ
فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُدْخِلَنَّهُمْ فِي الصَّالِحِينَ
وَمِنَ
النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ
جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِن جَاءَ نَصْرٌ مِّن
رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ ۚ أَوَلَيْسَ اللَّهُ
بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ
“Alif laam miim. Apakah
manusia itu mengira bahwa ia dibiarkan saja mengatakan ‘Kami telah
beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah
menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui
orang-orang yang benar dan Dia mengetahui pula orang-orang yang
berdusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira
bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka
tetapkan itu.Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka
sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah
Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan barangsiapa yang
berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya
sendiri.Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan
sesuatu) dari semesta alam.Dan orang-orang yang beriman dan beramal
saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan
benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang
mereka kerjakan.Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua
orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan
Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka
janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu
Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.Dan orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka
ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh.Dan di antara manusia ada
orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia
disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia
itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari
Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah
besertamu”. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada
semua manusia?. Dan sungguh Allah benar-benar mengetahui orang-orang
yang beriman dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang munafik.” (Al-‘Ankabut: 1-11)
Maka hendaklah setiap orang
memperhatikan susunan ayat ini yang sarat dengan mutiara hikmah
Ilahiyah. Karena pada hakekatnya, apabila diutus kepada manusia
rasul-rasul, mereka berada di antara dua keadaan. Mengatakan “Kami
beriman” atau tidak mengatakan demikian, bahkan terus-menerus di atas
kesesatan dan kekafiran.
Dengan demikian, siapa yang
mengatakan “Kami beriman”, maka Allah pasti mengujinya. Dan siapa yang
tidak mengatakan hal ini, maka janganlah dia menyangka bahwa dia telah
mengalahkan dan mengungguli Allah.
Siapa yang beriman kepada para
Rasul dan mentaati mereka, maka musuh-musuhnya akan menyerang dan
menyakitinya. Sedangkan kalau dia tidak beriman dan tidak mentaati para
Rasul tersebut, maka pasti dia akan menerima balasan yang buruk di dunia
dan akhirat. Akan tetapi kesudahan yang baik hanyalah bagi mereka yang
beriman dan bertakwa.
(Dinukil dari asysyariah.com/ibrah)
Review / Koreksi