Sosok Pembaharu : Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah
Sulaiman ibnul Asy’ats
As-Sijistani yang lebih dikenal dengan kunyahnya Abu Dawud rahimahullahu
berkata: Sulaiman bin Dawud Al-Mahri telah menyampaikan kepadaku, ia
berkata: Ibnu Wahb telah menyampaikan kepadaku, ia berkata: Telah
mengabarkan kepadaku Sa’id bin Abi Ayyub, dari Syarahil bin Yazid
Al-Ma’afiri, dari Abu ‘Alqamah, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah bersabda:
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengutus bagi umat ini di penghujung setiap seratus tahun (seabad)
seseorang yang mentajdid (memperbaharui) agama umat ini.”
Hadits ini Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu
Dawud As-Sijistani rahimahullahu dalam Sunan-nya no. 4291. Dikeluarkan
pula oleh Al-Imam Abu ‘Amr Ad-Dani dalam As-Sunan Al-Waridah fil Fitan
no. 364, Al-Imam Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, 4/522, dan selain mereka
seperti Al-Imam Al-Baihaqi, Al-Khathib, dan Al-Harawi.
Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menshahihkan hadits ini dalam Shahih Abi Dawud, Ash-Shahihah no. 599, dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 1874.
Beliau berkata: “Sanad hadits ini shahih, para perawinya tsiqah (terpercaya), merupakan perawi yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (dalam Shahih-nya).” (Ash-Shahihah, 2/148)
Beliau juga mengatakan: “(Faidah): Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengisyaratkan shahihnya hadits ini. Adz-Dzahabi menyebutkannya dalam Siyar A’lam An-Nubala` (10/46): “Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu dari beberapa jalan periwayatan dari beliau: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan bagi manusia di penghujung setiap seratus tahun seseorang yang mengajari mereka sunnah-sunnah dan meniadakan/ menolak kedustaan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata lagi: “Maka kami pun melihat orang yang demikian sifatnya, ternyata pada akhir seratus tahun orang itu adalah Amirul Mukminin ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu dan pada akhir seratus tahun berikutnya (seratus tahun kemudian setelah seratus tahun yang pertama -pent.) orang itu adalah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu.” (Ash-Shahihah, 2/148-149)
Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menshahihkan hadits ini dalam Shahih Abi Dawud, Ash-Shahihah no. 599, dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 1874.
Beliau berkata: “Sanad hadits ini shahih, para perawinya tsiqah (terpercaya), merupakan perawi yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (dalam Shahih-nya).” (Ash-Shahihah, 2/148)
Beliau juga mengatakan: “(Faidah): Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengisyaratkan shahihnya hadits ini. Adz-Dzahabi menyebutkannya dalam Siyar A’lam An-Nubala` (10/46): “Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu dari beberapa jalan periwayatan dari beliau: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan bagi manusia di penghujung setiap seratus tahun seseorang yang mengajari mereka sunnah-sunnah dan meniadakan/ menolak kedustaan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata lagi: “Maka kami pun melihat orang yang demikian sifatnya, ternyata pada akhir seratus tahun orang itu adalah Amirul Mukminin ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu dan pada akhir seratus tahun berikutnya (seratus tahun kemudian setelah seratus tahun yang pertama -pent.) orang itu adalah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu.” (Ash-Shahihah, 2/148-149)
Makna Hadits
Yang dimaksud dengan umat dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia:
Yang dimaksud dengan umat dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia:
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengutus bagi umat ini…”
kata Al-Qari adalah ummat ijabah (umat Islam yang telah menerima dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), namun memungkinkan juga dimasukkannya ummat dakwah (mencakup non muslim yang didakwahi untuk masuk ke dalam Islam). Kata Al-Munawi rahimahullahu, yang dimaukan dalam hadits ini adalah ummat ijabah dengan dalil disandarkannya (di-idhafah-kan) kata ad-din (agama) kepada mereka dalam ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (agama umat ini). (Mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10)
Adapun maksud dari ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
kata Al-Qari adalah ummat ijabah (umat Islam yang telah menerima dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), namun memungkinkan juga dimasukkannya ummat dakwah (mencakup non muslim yang didakwahi untuk masuk ke dalam Islam). Kata Al-Munawi rahimahullahu, yang dimaukan dalam hadits ini adalah ummat ijabah dengan dalil disandarkannya (di-idhafah-kan) kata ad-din (agama) kepada mereka dalam ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (agama umat ini). (Mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10)
Adapun maksud dari ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Di penghujung setiap seratus tahun”,
adalah akhir dari seratus tahun atau awalnya, ketika sedikit ilmu dan
sunnah di tengah umat, sebaliknya kejahilan menyebar dan banyak
kebid’ahan. Namun yang tepat, yang dimaukan dalam hadits ini adalah
akhir dari seratus tahun, bukan awalnya. Dengan bukti dari Al-Imam
Az-Zuhri dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal serta selain keduanya dari
kalangan para imam yang terdahulu maupun yang belakangan rahimahumullah.
Mereka sepakat bahwa mujaddid yang muncul pada akhir seratus tahun yang
pertama [1] adalah Amirul Mukminin ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu.
Dan seratus tahun yang kedua [2] adalah Al-Imam Asy-Syafi’i
rahimahullahu.
Sementara ‘Umar bin Abdil ‘Aziz wafat
pada tahun 101 H dalam usia 40 tahun dan masa kekhilafahan beliau 2,5
tahun. Sedang Al-Imam Asy-Syafi’i wafat pada tahun 204 H dalam usia 54
tahun. (‘Aunul Ma’bud, kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil
Mi`ah)
Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Munawi rahimahullahu berkata: “Dimungkinkan perhitungan seratus tahun itu dari kelahiran Nabi, bi’tsah (diutusnya beliau sebagai Nabi), hijrah beliau ke Madinah, atau wafat beliau. Bila ada yang mengatakan bahwa yang kedua lebih dekat/tepat maka pendapat itu tidak jauh dari kebenaran. Akan tetapi As-Subki dan lainnya secara jelas menyatakan bahwa yang dimaukan adalah yang ketiga (perhitungan sejak hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah). (Mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10)
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Munawi rahimahullahu berkata: “Dimungkinkan perhitungan seratus tahun itu dari kelahiran Nabi, bi’tsah (diutusnya beliau sebagai Nabi), hijrah beliau ke Madinah, atau wafat beliau. Bila ada yang mengatakan bahwa yang kedua lebih dekat/tepat maka pendapat itu tidak jauh dari kebenaran. Akan tetapi As-Subki dan lainnya secara jelas menyatakan bahwa yang dimaukan adalah yang ketiga (perhitungan sejak hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah). (Mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10)
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Seseorang yang mentajdid
(memperbaharui) agama umat ini”, yakni orang itu menerangkan tentang
As-Sunnah sehingga jelas mana yang bid’ah. Ia menyebarkan ilmu, menolong
ahlul ilmi, mematahkan dan merendahkan ahlul bid’ah. (‘Aunul Ma’bud,
kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah)
Jumlah mujaddid yang Allah Subhanahu wa
Ta’ala tampilkan dalam setiap kurun bisa jadi hanya satu, namun bisa
pula berbilang. Mujaddid tersebut harus merupakan seorang alim yang
mengetahui ilmu agama secara dzahir maupun batin. Demikian faidah yang
diambil dari ucapan Al-Munawi. (Mukaddi-mah Faidhul Qadir, 1/10)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani
rahimahullahu berkata: “Pemahaman yang menyatakan bahwa jumlah mujaddid
di setiap kurun itu bisa berbilang, lebih dari satu, memiliki sisi
kebenaran. Karena terkumpulnya sifat-sifat yang dibutuhkan untuk
men-tajdid perkara agama ini tidak dapat dibatasi pada satu jenis
kebaikan saja. Dan tidak mesti seluruh perangai kebaikan dapat terkumpul
pada satu orang, kecuali bila orang itu semacam ‘Umar bin Abdil ‘Aziz
rahimahullahu, karena beliau bangkit menegakkan perkara agama ini pada
akhir seratus tahun yang pertama dalam keadaan beliau mempunyai seluruh
sifat-sifat kebaikan dan terdepan dalam sifat-sifat tersebut. Karena
itu, Al-Imam Ahmad rahimahullahu memutlakkan bahwa ahlul ilmi membawa
hadits tersebut atas ‘Umar bin Abdil ‘Aziz (yakni ‘Umar bin Abdil ‘Aziz
merupakan mujaddid yang dimaksud hadits tersebut, -pen.). Adapun
setelahnya adalah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu. Walaupun Al-Imam
Asy-Syafi’i memiliki sifat-sifat yang bagus, namun beliau bukan orang
yang menegakkan perkara jihad, dan bukan orang yang memegang kekuasaan
yang dapat memerintah/menghukumi dengan adil. [3] Berdasarkan hal ini,
maka setiap alim yang memiliki salah satu sifat-sifat yang demikian di
penghujung seratus tahun, maka dialah mujaddid yang diinginkan, baik
jumlahnya berbilang atau hanya satu.” (Fathul Bari, 13/361)
Makna tajdid sendiri adalah menghidupkan
apa yang telah terkubur ataupun runtuh berupa pengamalan terhadap
Al-Qur`an dan As-Sunnah. Ataupun menghidupkan hukum-hukum syariat yang
telah runtuh dan bendera-bendera As-Sunnah yang telah hilang dan
ilmu-ilmu agama yang dzahir maupun batin yang telah tersembunyi. [4]
Seorang mujaddid bukanlah seorang pengacau agama. Makna inilah yang dipahami kebanyakan orang, bahwa mujaddid adalah seseorang yang mengajarkan jalan baru dalam agama, yang sebenarnya lebih pantas dikatakan pengacau agama. Seperti kesalahpahaman orang Indonesia yang menyatakan Nurcholish Madjid sebagai mujaddid, ataupun Muhammad ‘Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani yang dianggap sebagai mujaddid. Bukan pula mujaddid adalah seorang politikus, sebagaimana anggapan sebagian orang bahwa mujaddid adalah seorang politikus ulung, seperti yang dikatakan orang terhadap Abul A’la Al-Maududi ataupun Dr. Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir. Demikian pula, mujaddid bukanlah seorang pemberontak yang memberontak terhadap pemerintah dan negara, seperti yang dikatakan orang terhadap Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, atau Sa’id Hawa. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa seorang mujaddid tidaklah membawa agama baru, pemikiran baru atau jalan baru. Tetapi ia mengajak manusia untuk kembali kepada agama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang murni setelah mereka melupakan agama Nabi mereka dan tenggelam dalam kebodohan, kebid’ahan, dan kesesatan.
Seorang mujaddid bukanlah seorang pengacau agama. Makna inilah yang dipahami kebanyakan orang, bahwa mujaddid adalah seseorang yang mengajarkan jalan baru dalam agama, yang sebenarnya lebih pantas dikatakan pengacau agama. Seperti kesalahpahaman orang Indonesia yang menyatakan Nurcholish Madjid sebagai mujaddid, ataupun Muhammad ‘Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani yang dianggap sebagai mujaddid. Bukan pula mujaddid adalah seorang politikus, sebagaimana anggapan sebagian orang bahwa mujaddid adalah seorang politikus ulung, seperti yang dikatakan orang terhadap Abul A’la Al-Maududi ataupun Dr. Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir. Demikian pula, mujaddid bukanlah seorang pemberontak yang memberontak terhadap pemerintah dan negara, seperti yang dikatakan orang terhadap Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, atau Sa’id Hawa. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa seorang mujaddid tidaklah membawa agama baru, pemikiran baru atau jalan baru. Tetapi ia mengajak manusia untuk kembali kepada agama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang murni setelah mereka melupakan agama Nabi mereka dan tenggelam dalam kebodohan, kebid’ahan, dan kesesatan.
Penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap Agama ini, di antaranya dengan Menampilkan para Mujaddid
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah lama wafat, namun agama beliau tetap terjaga sampai hari ini dan sampai nanti ketika datang hari kiamat. Al-Qur`an yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau tetap murni sebagaimana saat diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kali yang pertama. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan pemeliharaannya sebagaimana firman-Nya:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah lama wafat, namun agama beliau tetap terjaga sampai hari ini dan sampai nanti ketika datang hari kiamat. Al-Qur`an yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau tetap murni sebagaimana saat diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kali yang pertama. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan pemeliharaannya sebagaimana firman-Nya:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikra dan Kami juga yang akan menjaganya.” (Al-Hijr: 9)
Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Tidaklah dipalingkan satu makna dari makna-makna Al-Qur`an kecuali Allah akan mendatangkan orang yang akan menerangkan al-haq yang nyata pada Al-Qur`an tersebut.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 429)
Tidak hanya Al-Qur`an yang terjaga kemurniannya, namun juga Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan tafsir atau penjelasan dari Al-Qur`anul Karim. Para ulamalah yang dipilih Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meneruskan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh alam, karena mereka adalah pewaris ilmu para Nabi. Dengan keberadaan mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga agama-Nya.
Demikianlah setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan umat ini terus tenggelam dalam kebodohan, lupa akan petunjuk dan bimbingan agamanya. Di tengah umat ini selalu ada orang-orang yang Allah munculkan untuk mengadakan perbaikan ketika manusia membuat kerusakan. Di tengah mereka mesti ada Ath-Tha`ifah Al-Manshurah Al-Firqatun Najiyah. Dan di setiap penghujung seratus tahun atau satu abad dari perjalanan waktu, di tengah mereka mesti akan tampil seorang atau lebih ulama mujaddid yang akan mengajak mereka untuk kembali kepada ajaran agama Islam yang murni seperti yang dibawa Nabi umat ini Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana kemunculannya dipastikan dalam hadits yang telah kita bawakan di atas.
Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Tidaklah dipalingkan satu makna dari makna-makna Al-Qur`an kecuali Allah akan mendatangkan orang yang akan menerangkan al-haq yang nyata pada Al-Qur`an tersebut.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 429)
Tidak hanya Al-Qur`an yang terjaga kemurniannya, namun juga Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan tafsir atau penjelasan dari Al-Qur`anul Karim. Para ulamalah yang dipilih Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meneruskan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh alam, karena mereka adalah pewaris ilmu para Nabi. Dengan keberadaan mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga agama-Nya.
Demikianlah setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan umat ini terus tenggelam dalam kebodohan, lupa akan petunjuk dan bimbingan agamanya. Di tengah umat ini selalu ada orang-orang yang Allah munculkan untuk mengadakan perbaikan ketika manusia membuat kerusakan. Di tengah mereka mesti ada Ath-Tha`ifah Al-Manshurah Al-Firqatun Najiyah. Dan di setiap penghujung seratus tahun atau satu abad dari perjalanan waktu, di tengah mereka mesti akan tampil seorang atau lebih ulama mujaddid yang akan mengajak mereka untuk kembali kepada ajaran agama Islam yang murni seperti yang dibawa Nabi umat ini Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana kemunculannya dipastikan dalam hadits yang telah kita bawakan di atas.
Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu Sosok Pembaharu
Salah seorang sosok mujaddid yang Allah
Subhanahu wa Ta’ala munculkan di abad ke-12 Hijriyyah atau bertepatan
dengan abad ke-19 Masehi adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab
bin Sulaiman bin ‘Ali At-Tamimi Al-Hanbali rahimahullahu yang bertempat
di negeri Najd, Saudi Arabia. Beliau lahir pada tahun 1115 H dan wafat
pada tahun 1206 H. Banyak karya tulis yang berbicara tentang beliau yang
disifati sebagai seorang peng-ishlah (orang yang mengadakan perbaikan)
yang agung, seorang mujaddid Islam, seorang yang berada di atas petunjuk
dan cahaya dari Rabbnya dan banyak lagi kebaikan-kebaikannya yang sulit
untuk dihitung. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah Asy-Syaikh Ibnu
Baz, dalam pembahasan tentang Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab
Da’watuhu wa Siratuhu, 1/355)
Syaikh Mujaddid ini disifati demikian
tidak lain karena beliau seorang alim salafi dari sisi aqidah dan
manhaj, hingga pantas disifati dengan sifat-sifat kesempurnaan dan
disebut dengan sebutan yang merupakan perangai kebaikan dan amal
kebajikan. (Qathul Janiyil Mustathab Syarhu ‘Aqidah Al-Mujaddid Muhammad
bin Abdil Wahhab, hal. 7, karya Asy-Syaikh Al-Allamah Zaid bin Muhammad
bin Hadi Al-Madkhali). Barakah dakwah beliau terus dirasakan oleh umat
Islam sampai hari ini walaupun beliau telah wafat 221 tahun yang lalu
(dua abad lebih). Tidak sebatas di negerinya, tetapi juga sampai ke
seluruh negeri yang ada di berbagai belahan bumi ini, termasuk pula
negeri kita Indonesia. Kitab-kitab karya beliau tersebar ke segala
penjuru negeri, dibaca, dipelajari dan dijadikan rujukan oleh para
penuntut ilmu, seperti kitab Al-Ushuluts Tsalatsah, Kasyfusy Syubuhat,
Kitabut Tauhid, Masa`ilul Jahiliyyah dan masih banyak lagi.
Para ulama setelah beliau banyak yang
mensyarah karya-karya beliau menjadi satu atau beberapa kitab yang
tebal. Satu hasil nyata dari dakwah beliau adalah berdirinya kerajaan
tauhid Saudi Arabia dan tetap tegak sampai hari ini sebagai satu-satunya
negara yang mengibarkan bendera tauhid dan menyatakan perang terhadap
kesyirikan. Walillahil hamdu (Segala pujian yang sempurna hanyalah milik
Allah).
Pada awal dakwahnya, Syaikh yang mulia
ini melihat kebodohan tersebar di seluruh negerinya. Beliau melihat
manusia berbolak-balik menuju ke pelepah kurma dan kuburan untuk memohon
kepada penghuni kubur dan benda-benda mati dengan permintaan yang
semestinya tidak diminta kecuali kepada Pencipta langit dan bumi. Beliau
melihat manusia meminta ampunan dan kesembuhan kepada penghuni kubur,
sebagaimana mereka juga dikuasai oleh ketakutan yang sangat terhadap
para setan di mana hal itu membawa mereka untuk berlindung kepada setan.
Saat berkeliling negeri untuk menuntut
ilmu, beliau juga melihat umat Islam hidup dalam kejahiliyahan yang sama
dengan umat di negerinya. Di samping itu, beliau melihat Kitabullah
tidak lagi menjadi rujukan dalam pengambilan hukum, namun justru manusia
berhukum dengan selain hukum Allah. Inilah fenomena yang mendorong
Syaikh untuk mengadakan perbaikan aqidah dan hukum sehingga hukum hanya
milik Allah dan ibadah hanya ditujukan pada-Nya, demikian pula mutaba’ah
(mengikuti) hanyalah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau menyerang kejahiliyahan dan berseru dengan lantang kepada manusia
bahwa mereka tidak di atas agama Islam sedikitpun.
Beliau pun mengajak mereka untuk kembali
kepada Islam yang hakiki, beribadah kepada Allah saja, tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan agar ketaatan hanya ditujukan
kepada Rasul-Nya. Beliau mengajak mereka agar beribadah kepada Allah
dengan ajaran yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
tanpa mengadakan-adakan perkara baru dalam agama, dan agar hukum yang
diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul dijadikan sebagai pokok, bukan
sekedar pembungkus dalam pendapat-pendapat, undangundang atau adat.
Beliau membawa mushaf (lembaran Al-Qur`an) guna mengajak manusia agar
kembali kepadanya, merasa cukup dengannya dan dengan As-Sunnah sebagai
penjelas dan perinci apa yang global dalam Al-Qur`an.
Berawal dari sini, bangkitlah
orang-orang yang mendukung kehidupan jahiliyyah. Mereka pun bereaksi dan
berteriak bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab datang membawa
agama baru dan menganut madzhab yang kelima. Namun Syaikh tetap berlalu
dengan dakwah beliau tanpa mengindahkan apa yang mereka ucapkan dan
sebarkan. (Masyakilud Da’wah wad Du’ah fil ‘Ashril Hadits, sub judul
Da’watu Muhammad bin Abdil Wahhab wa Shumuduha lil Musykil, hal. 45-46,
karya Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad Aman bin ‘Ali Al-Jami)
Banyak sumbangsih yang diberikan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu kepada kaum muslimin
yang semestinya disyukuri. Namun ada saja orang yang hasad kepada beliau
atau orang yang dakwahnya berseberangan dengan dakwah yang beliau
tegakkan. Mereka menyimpan kebencian kepada beliau bahkan menyebarkan
ucapan-ucapan jelek dan tuduhan palsu tentang beliau dan dakwahnya.
Sehingga tidak sedikit orang awam yang termakan ucapan mereka. Akibatnya
beliau dibenci dan dicaci oleh mereka, dan dakwah seperti yang beliau
ajarkan dijauhi.
Ditempelkanlah gelar Wahabi kepada
pengikut dakwah beliau, seakan beliau dan pengikut dakwah beliau
berjalan di atas selain jalan yang haq dan membentuk madzhab yang kelima
dalam Islam. Padahal dakwah beliau adalah dakwah kepada tauhid yang
murni, memperingatkan dari kesyirikan dengan seluruh jenisnya, seperti
bergantung kepada orang-orang mati dan yang lainnya, baik berupa
pepohonan, bebatuan dan semisalnya.
Dalam masalah aqidah, beliau
rahimahullahu berada di atas madzhab As-Salafus Shalih, dalam fiqih
beliau berpegang dengan madzhab Al-Imam Ahmad rahimahullahu sebagaimana
ditunjukkan dalam kitab-kitab karya beliau, fatwa-fatwa beliau dan
kitab-kitab karya pengikut beliau dari kalangan anak dan cucu-cucunya
serta selain mereka.
Dengan demikian Wahabiyyah bukanlah
madzhab kelima seperti anggapan orang-orang bodoh dan orang-orang yang
benci. Dia hanyalah dakwah kepada aqidah salafiyyah dan memperbaharui
apa yang telah roboh dari bendera-bendera Islam dan tauhid di jazirah
Arab. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Asy-Syaikh Ibnu Baz,
1/374)
Aqidah dan Keyakinan Al-Imam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu
Tuduhan orang-orang yang benci ataupun
orang-orang bodoh bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab
rahimahullahu membawa agama baru dan menyimpang dari ajaran Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak terbukti. Bahkan bukti
yang ada menunjukkan bahwa beliau di atas al-haq, dan dakwah yang beliau
sampaikan adalah dakwah yang haq, mencocoki ajaran Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini kita bawakan aqidah yang
beliau yakini, guna menepis tuduhan dan membuang keraguan dari
orang-orang yang ragu.
Ketika penduduk Qashim menanyakan
tentang aqidah beliau, beliau menyatakan bahwa aqidah yang beliau yakini
adalah aqidah Al-Firqatun Najiyah, Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dan hal ini
beliau amalkan dan jalankan selama hidup beliau. Aqidah tersebut
berupa:
1. Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kebangkitan setelah mati dan iman terhadap takdir yang baik maupun yang buruk.
2. Termasuk iman kepada Allah adalah mengimani sifat-Nya yang yang disebutkan-Nya dalam kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa tahrif (mengubah) dan tanpa ta’thil (menolak), tanpa takyif (menanyakan hakikat) dan tamtsil (menyamakan dengan makhluk).
3. Al-Qur`an adalah Kalamullah, yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan makhluk. Al-Qur`an berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan kembali kepada-Nya.
4. Mengimani seluruh yang dikabarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa hal-hal yang terjadi setelah kematian, fitnah dan nikmat kubur, dikembalikannya ruh kepada jasad pada hari kiamat, adanya mizan, dibagikannya catatan amal para hamba, adanya telaga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang airnya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis daripada madu dan bejananya sejumlah bintang-bintang di langit, siapa yang meminumnya ia tidak akan haus selama-lamanya. Termasuk pula mengimani adanya shirath (jalan/jembatan) yang dibentangkan di atas dua tepi Jahannam yang akan dilewati manusia sesuai kadar amal mereka. Mengimani adanya syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adanya surga dan neraka yang telah diciptakan dan sekarang telah ada. Dan mengimani bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mata kepala mereka pada hari kiamat.
5. Mengimani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi dan rasul.
6. Meyakini bahwa shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling afdhal adalah Abu Bakr, kemudian ‘Umar, dan ‘Utsman yang berikutnya, kemudian ‘Ali. Setelahnya adalah enam shahabat yang tersisa dari 10 shahabat yang dijanjikan masuk surga (Al-’Asyrah Al-Mubasysyaruna bil jannah), [5] lalu para shahabat yang mengikuti perang Badar, berikutnya para shahabat yang berbai’at di bawah pohon (Bai’atur Ridhwan).
7. Beliau berloyalitas kepada para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebut mereka dengan kebaikan, ridha kepada mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, menahan diri dari menyebut kesalahan mereka, dan diam dari perselisihan yang pernah terjadi di antara mereka.
8. Sebagaimana beliau pun ridha kepada Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi) radhiyallahu ‘anhunna.
9. Menetapkan adanya karamah wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
10. Tidak mempersaksikan seseorang dari kaum muslimin dengan pernyataan ‘Fulan penduduk surga’ atau ‘Fulan ahlun nar (penduduk neraka)’, kecuali yang telah dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penduduk surga atau penduduk neraka.
11. Tidak mengkafirkan seseorang dari kaum muslimin karena dosa yang diperbuat dan tidak pula mengeluarkannya dari lingkaran Islam.
12. Beliau memandang jihad tetap berlangsung bersama setiap imam/pemimpin yang baik ataupun yang fajir/jahat.
13. Bolehnya shalat berjamaah di belakang pemimpin yang jahat.
14. Wajib mendengar dan taat kepada pemimpin kaum muslimin yang baik ataupun yang fajir, selama mereka tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
15. Siapa yang memegang khilafah, manusia berkumpul dan ridha padanya, atau ia menguasai mereka dengan pedang hingga menjadi khalifah, maka ia wajib ditaati dan haram memberontak padanya.
16. Beliau berpandangan harusnya memboikot ahlul bid’ah dan memisahkan diri dari mereka sampai mau bertaubat. Kita menghukumi mereka secara dzahir, adapun batin mereka diserahkan urusannya kepada Allah.
17. Meyakini bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam agama ini merupakan bid’ah.
18. Iman adalah ucapan dengan lisan, amalan dengan anggota badan dan pembenaran dengan hati, bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.
19. Beliau memandang wajibnya amar ma’ruf nahi mungkar sesuai bimbingan syariat. [Lihat Qathul Janiyil Mustathab Syarhu ‘Aqidah Al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab]
1. Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kebangkitan setelah mati dan iman terhadap takdir yang baik maupun yang buruk.
2. Termasuk iman kepada Allah adalah mengimani sifat-Nya yang yang disebutkan-Nya dalam kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa tahrif (mengubah) dan tanpa ta’thil (menolak), tanpa takyif (menanyakan hakikat) dan tamtsil (menyamakan dengan makhluk).
3. Al-Qur`an adalah Kalamullah, yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan makhluk. Al-Qur`an berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan kembali kepada-Nya.
4. Mengimani seluruh yang dikabarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa hal-hal yang terjadi setelah kematian, fitnah dan nikmat kubur, dikembalikannya ruh kepada jasad pada hari kiamat, adanya mizan, dibagikannya catatan amal para hamba, adanya telaga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang airnya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis daripada madu dan bejananya sejumlah bintang-bintang di langit, siapa yang meminumnya ia tidak akan haus selama-lamanya. Termasuk pula mengimani adanya shirath (jalan/jembatan) yang dibentangkan di atas dua tepi Jahannam yang akan dilewati manusia sesuai kadar amal mereka. Mengimani adanya syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adanya surga dan neraka yang telah diciptakan dan sekarang telah ada. Dan mengimani bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mata kepala mereka pada hari kiamat.
5. Mengimani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi dan rasul.
6. Meyakini bahwa shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling afdhal adalah Abu Bakr, kemudian ‘Umar, dan ‘Utsman yang berikutnya, kemudian ‘Ali. Setelahnya adalah enam shahabat yang tersisa dari 10 shahabat yang dijanjikan masuk surga (Al-’Asyrah Al-Mubasysyaruna bil jannah), [5] lalu para shahabat yang mengikuti perang Badar, berikutnya para shahabat yang berbai’at di bawah pohon (Bai’atur Ridhwan).
7. Beliau berloyalitas kepada para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebut mereka dengan kebaikan, ridha kepada mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, menahan diri dari menyebut kesalahan mereka, dan diam dari perselisihan yang pernah terjadi di antara mereka.
8. Sebagaimana beliau pun ridha kepada Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi) radhiyallahu ‘anhunna.
9. Menetapkan adanya karamah wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
10. Tidak mempersaksikan seseorang dari kaum muslimin dengan pernyataan ‘Fulan penduduk surga’ atau ‘Fulan ahlun nar (penduduk neraka)’, kecuali yang telah dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penduduk surga atau penduduk neraka.
11. Tidak mengkafirkan seseorang dari kaum muslimin karena dosa yang diperbuat dan tidak pula mengeluarkannya dari lingkaran Islam.
12. Beliau memandang jihad tetap berlangsung bersama setiap imam/pemimpin yang baik ataupun yang fajir/jahat.
13. Bolehnya shalat berjamaah di belakang pemimpin yang jahat.
14. Wajib mendengar dan taat kepada pemimpin kaum muslimin yang baik ataupun yang fajir, selama mereka tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
15. Siapa yang memegang khilafah, manusia berkumpul dan ridha padanya, atau ia menguasai mereka dengan pedang hingga menjadi khalifah, maka ia wajib ditaati dan haram memberontak padanya.
16. Beliau berpandangan harusnya memboikot ahlul bid’ah dan memisahkan diri dari mereka sampai mau bertaubat. Kita menghukumi mereka secara dzahir, adapun batin mereka diserahkan urusannya kepada Allah.
17. Meyakini bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam agama ini merupakan bid’ah.
18. Iman adalah ucapan dengan lisan, amalan dengan anggota badan dan pembenaran dengan hati, bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.
19. Beliau memandang wajibnya amar ma’ruf nahi mungkar sesuai bimbingan syariat. [Lihat Qathul Janiyil Mustathab Syarhu ‘Aqidah Al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab]
Demikianlah aqidah yang dianut oleh
Syaikh Mujaddid tersebut, yang secara jelas menggambarkan beliau adalah
seorang sunni salafi, yang berjalan di atas jalan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, para shahabat, tabi’in, atba’ut tabi’in, yakni jalan
As-Salafush Shalih. Semestinya tidak ada lagi keraguan akan kebenaran
dakwah beliau setelah adanya penjelasan ini. Dan silahkan gigit jari
orang-orang yang benci dan hasad kepada beliau dan kepada dakwah tauhid
yang haq ini.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Footnote :
1 Abad pertama Hijriyyah
2 Abad kedua Hijriyyah
3 Sebagaimana semua itu ada pada diri Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu
4 ‘Aunul Ma`bud, pada kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah dan mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10.
5 Sebagaimana semua itu ada pada diri Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu
6 ‘Aunul Ma`bud, pada kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah dan mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10.
1 Abad pertama Hijriyyah
2 Abad kedua Hijriyyah
3 Sebagaimana semua itu ada pada diri Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu
4 ‘Aunul Ma`bud, pada kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah dan mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10.
5 Sebagaimana semua itu ada pada diri Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu
6 ‘Aunul Ma`bud, pada kitab Al-Malahim, bab Ma Yudzkaru fi Qarnil Mi`ah dan mukaddimah Faidhul Qadir, 1/10.
(Dikutip dari http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=339)
Review / Koreksi