Membongkar Kedok JIL – Seruan Penyatuan Agama
Ada hikmah di balik diciptakannya kebatilan dan para pembelanya di tengah-tengah umat. Dengan kebatilan itu tampaklah jurang pemisah antara kebenaran dan kebatilan, Islam dan kufur, serta ketaatan dan kemaksiatan. Dengan itu pula Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan yang hak untuk menghancurkan yang batil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Allah telah membongkar niat-niat jahat dan keberadaan para penyokong kebatilan itu seperti dinyatakan dalam firman-Nya:
Berikut ini akan kami sebutkan orang-orang yang terlibat dan giat menyerukan penyatuan agama, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang mana mayoritas mereka terlanjur mendapatkan gelar “tokoh agama”. Apa yang kami sebutkan di sini tidak bermaksud membatasi, diantara mereka:
– Jamaluddin bin Shafdar Al-Afghani
– Muhammad ‘Abduh bin Hasan At-Turkumani. Diantara kegigihannya dalam menyebarkan propaganda setan ini, dia dan beberapa orang lainnya termasuk gurunya, Jamaluddin Al-Afghani, mendirikan sebuah organisasi di Beirut, yaitu organisasi “Persatuan dan Pendekatan” yang isinya pendekatan antara tiga agama. (Al-Ibthal, hal. 6)
– Hasan Al-Banna. Dia adalah pemimpin gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikannya pada abad ke-20 Masehi di Mesir, tepatnya Dzulqa’dah 1347 H di kota Ismailiyah, yang sebelumnya berupa “Lembaga Pendekatan antara Sunnah dan Syi’ah”. Bermula dari gagasan yang dikemukakannya, yaitu “Tolong-menolong dalam hal yang kita sepakati, dan saling mengormati (mutual respect) dalam hal yang kita berbeda”, maka dia mengatakan: “Permusuhan kita dengan Yahudi bukan karena agama.” (Ahdats Shana’at Tarikh, 1/409, dari Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 38)
Kaidah yang digagasnya ini membuka peluang bagi umat Islam untuk masuk ke dalam aliran apa saja, baik aliran yang menisbatkan kepada Islam, seperti Rafidhah ataupun selain Islam, seperti Yahudi dan Nashrani, sehingga dari kaidah syaithaniyyah inilah bertolak propaganda “Teologi Pluralis” dan “Dialog Lintas Agama”. (Ushul wa Qawa’id Fi Al-Manhaj As-Salafi, hal. 18 -20)
– Hasan bin Abdullah At-Turabi (pimpinan Front Islam Nasional – Sudan). Dalam kaset ceramahnya yang berjudul Ta’dilul Qawanin dia mengatakan, “Boleh bagi seorang muslim untuk menjadi seorang Yahudi atau Nashrani, seperti halnya mereka (Yahudi dan Nashrani) dibolehkan untuk menjadi seorang muslim.”
Di kesempatan lain dalam salah satu acara muhadharahnya, dengan tema “Ad-Daulah Baina Nazhariyah Wa Tathbiq” dia mengatakan, “Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengkafirkan Yahudi atau Nashrani.” (‘Isyruna Ma’khadzan ‘Ala As-Sururiyah, hal. 2)
– Thariq Suwaidan. Ia berasal dari Kuwait, menjadi asisten dosen di sebuah fakultas teknologi. Ia bergabung dengan gerakan Ikhwanul Muslimin dan menjadi salah seorang dainya. Kaset-kaset ceramah dan buku-bukunya dipenuhi dengan propaganda “Teologi Pluralis”. (Ushul wa Qawa’id, hal. 18-20)
– Dr. Yusuf Al-Qardhawi. Sejak kecil sang doktor ini dididik di lingkungan Ikhwanul Muslimin, bahkan berguru langsung kepada pimpinan utamanya Hasan Al-Banna, hingga akhirnya dia menjadi da’i besar Ikhwanul Muslimin sampai sekarang. Bertolak dari gagasan sang pimpinan, dia pun menjadi orang yang paling getol menyuarakan penyatuan agama. Hal ini terbukti dari sejumlah seminar yang dihadirinya, seperti seminar yang diselenggarakan di Libya tentang “Islam dan Kristen” pada tahun 1976, di Sudan pada tahun 1994 dengan tema “Teologi Pluralis dan Dialog Lintas Agama”, di Moskow pada tahun 1995 seputar “Islam dan Perundingan Agama-Agama Lain”, juga di Jerman pada tahun 1995. Diantara pernyataannya, dia mengatakan, “Sesungguhnya luasnya kehidupan itu meliputi agama, peradaban, dan kebudayaan. Dan sesungguhnya keberagaman ini termasuk dari maslahat manusia, tidaklah bertolak belakang dengan kemaslahatan manusia. Maka tidak bisa dipaksakan hanya ada satu peradaban dan satu agama saja di dunia ini.” (Ushul wa Qawa’id hal. 20, Raf’ul Litsam, hal. 78)
– Prof. Dr. Nurcholis Madjid. Laki-laki kelahiran Jombang, 17 Maret 1939 ini telah mempelopori gerakan sekularis di Indonesia sejak tahun 1970-an. Lewat buku “Pluralitas Agama” halaman 2 terbitan KOMPAS, dia menyuarakan teologi inklusif dan pluralis, katanya, “Umat Islam pun diperintahkan untuk senantiasa menegaskan bahwa kita semua para penganut kitab suci yang berbeda-beda itu, sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa, dan sama-sama pasrah (muslim) kepada-Nya.”
– Prof. Dr. Harun Nasution. Dia lulusan McGill University, Kanada. Melalui bukunya yang berjudul “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” yang kemudian dijadikan buku utama mahasiswa IAIN se-Indonesia dalam mata kuliah “Pengantar Ilmu Agama Islam”, dia mengatakan, “Jelaslah kelihatan bahwa agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah satu asal…” Masih dalam buku itu, ia juga mengatakan, “Tetapi dalam pada itu kemurnian tauhid hanya dipelihara oleh Islam dan Yahudi.” (Islam Liberal, hal. 27-28)
– Budy Munawar Rachman (Yayasan Paramadina, Jakarta). Tulisan-tulisannya yang mengarah kepada propaganda Teologi Pluralis sangatlah jelas, seperti dalam situs www.islamlib.com berjudul “Memudarnya Kerukunan Hidup Beragama, Agama Harus Berdialog.”
– Muhammad Ali (dosen IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta). Dalam harian KOMPAS (14 Juli 2000) dia meluncurkan sebuah artikel yang berjudul “Paradigma Baru Misi Agama-Agama” katanya, “Dalam paradigma lama, kegiatan misi agama-agama penuh dengan prasangka teologis seperti klaim satu-satunya kebenaran (claim of the only truth) dan label kufur terhadap agama lain, ungkapan tidak ada penyelamatan selain pada agamaku, dan sejenisnya. Dalam paradigma baru, sikap yang dikembangkan adalah saling menghormati (mutual respect), saling mengakui eksistensi (mutual recognition), serta pengayaan iman (enrichment of faith).
Sejalan dengan paradigma baru, sikap lain yang perlu dikembangkan adalah sikap relatively absolute atau absolutely relative, bahwa yang saya miliki memang benar, tetapi relatif bila dikaitkan dengan yang lain.” (Islam Liberal hal. 101)
– Said Agil Siraj (PBNU, Jakarta). Dari tulisannya yang berjudul “Laa Ilaha Illalloh juga”, dia mengatakan bahwa agama yang membawa misi tauhid adalah Yahudi, Nashrani, dan Islam. Dia juga mengatakan bahwa ketiga agama itu sama-sama memiliki komitmen untuk menegakkan tauhid. Tulisannya ini kemudian dimuat oleh Bambang Noorsena, tokoh Kristen Ortodoks-Syria dalam bukunya yang berjudul “Menuju Dialog Teologi Kristen – Islam”. (Islam Liberal, hal. 85)
– Seluruh tokoh-tokoh yang terlibat dan tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL), dimana mereka merumuskan gerakannya ke dalam beberapa hal, diantaranya:
Pertama: memperkokoh landasan demokrasi melalui penanaman nilai-nilai pluralisme, inklusifisme, dan humanisme.
Kedua: membangun kehidupan keberagamaan yang berdasarkan pada penghormatan atas perbedaan. (Islam Liberal, hal. 8)
Para pembaca, demikian itulah beberapa “tokoh” yang gencar melakukan propaganda penyatuan agama, agar kita senantiasa berhati-hati dari mereka dan dari propaganda-propagandanya. Selain itu, apa yang mereka serukan tersebut nyata-nyata hanyalah barang dagangan yang murahan dan kadaluwarsa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
Dan kita juga membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Para ahli batil itu akan terus melancarkan kerancuan-kerancuan dan kebatilan-kebatilannya, selaras dengan sumpah penggagasnya Iblis la’natullah ‘alaih, seperti dalam firman Allah:
Namun, tidak ada yang patut untuk kita takuti, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pelindung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Kita diperintahkan Allah untuk menghindar dan tidak menyambut baik propaganda-propagandanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ÙˆَÙƒَذَٰÙ„ِÙƒَ
Ø£َنزَÙ„ْÙ†َاهُ ØُÙƒْÙ…ًا عَرَبِÙŠًّا ۚ ÙˆَÙ„َئِÙ†ِ اتَّبَعْتَ Ø£َÙ‡ْÙˆَاءَÙ‡ُÙ…
بَعْدَÙ…َا جَاءَÙƒَ Ù…ِÙ†َ الْعِÙ„ْÙ…ِ Ù…َا Ù„َÙƒَ Ù…ِÙ†َ اللَّÙ‡ِ Ù…ِÙ† ÙˆَÙ„ِÙŠٍّ ÙˆَÙ„َا
Ùˆَاقٍ
“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai
peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti
hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali
tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.”
(Ar-Ra’d: 37)Wal ‘ilmu ‘indallah.
(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf, judul asli Tokoh-Tokoh Penyeru Penyatuan Agama, url sumber http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=189)
Review / Koreksi