Langsung ke isi
Al-Qawi
Al-Qawi, Yang Mahakuat, adalah salah satu nama Allah Yang Agung. Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan nama ini dalam beberapa ayat-Nya.
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ
“Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Hud: 66)
اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ
“Allah Mahalembut terhadap para
hamba-Nya, Dia memberi reaeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
Dialah Yang Mahakuat dan Mahaperkasa.” (asy-Syura: 19)
إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Sesungguhnya Dia Mahakuat lagi Mahakeras hukuman-Nya.” (Ghafir: 22)
Asy-Syaikh Muhammad Khalil al-Harras mengatakan, “Asma Allah al-Qawi bermakna yang memiliki kekuatan. Kekuatan Allah Subhanahu wata’ala tidak akan tertimpa oleh kelemahan, kejenuhan, dan kehilangan yang menimpa kekuatan para makhluk. Allah Subhanahu wata’ala tidak akan merasa lemah karena menciptakan sesuatu, keletihan juga tidak akan menimpa-Nya.”
Sementara itu, semua kekuatan makhluk
pada hakikatnya adalah milik- Nya. Dialah yang menyimpan
kekuatankekuatan pada makhluk-makhluk itu. Apabila Allah Subhanahu wata’ala berkehendak mencabutnya, tentu Dia mampu. Telah disebutkan dalam hadits bahwa kalimat berikut ini,
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ؛ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ
“Tiada kemampuan untuk mengubah suatu keadaan dan tiada pula kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah l,” adalah salah satu simpanan dari simpanan-simpanan dalam surga. (Sahih, HR . al-Bukhari dan yang lain)
Dalam kisah pemilik dua kebun yang disebutkan dalam surat al-Kahfi, seseorang menasihati saudaranya,
وَلَوْلَا
إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا
بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا
“Mengapa kamu tidak mengucapkan
tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Masya Allah, laa quwwata illa billah
(Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali
dengan pertolongan Allah).’ Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit
darimu dalam hal harta dan keturunan. (al-Kahfi: 39)
Demikian pula dalam surat al- Baqarah,
وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Seandainya orang-orang yang berbuat
zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat),
bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat
siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (al-Baqarah: 165)
Buah Mengimani Nama Allah al-Qawi
Allah Subhanahu wata’ala
sesembahan kita Mahakuat. Kekuatan kita berasal dari-Nya. Oleh karena
itu, kita senantiasa memohon kekuatan dari-Nya dan mensyukuri
pemberian-Nya. Tanpa bantuan-Nya, kita adalah makhluk yang sangat lemah.
Kita juga harus menyadari bahwa selaku makhluk Allah Subhanahu wata’ala, kita tidak boleh merasa sombong dengan kekuatan yang dimiliki. Sebesar apa pun kekuatan kita, toh itu adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala. Suatu saat nanti, Allah Subhanahu wata’ala akan mencabutnya dari kita.
Lihatlah nasib raja-raja yang sombong di
muka bumi ini, Fir’aun, Namrud, dan yang lainnya. Lihatlah nasib para
diktator di muka bumi ini. Di manakah mereka sekarang? Menjadi apa
mereka sekarang? Itulah kekuatan manusia. Oleh karena itu, janganlah
seseorang semena-mena dengan kekuatan yang dia miliki lantas menindas
orang-orang yang lemah dan menzalimi sesama manusia.
Hanya Allah Subhanahu wata’ala lah yang memiliki kekuatan yang mutlak, Dialah sembahan kita. Adapun sembahan selain Allah Subhanahu wata’ala, dia lemah, tidak memliki kekuatan yang hakiki. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ
تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا
لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ () مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ
ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Hai manusia, telah dibuat
perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya
segala yang kamu seru selain Allah sekalikali tidak dapat menciptakan
seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika
lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya
kembali dari lalat itu.Amat lemahlah yang menyembah danamat lemah
(pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan
sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi
Mahaperkasa.” (al-Hajj: 73—74)
Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.Akikah dengan Selain Kambing
Apakah akikah dapat digantikan dengan hewan lain selain kambing? Jika bisa, apakah ada dasarnya? Syukran.Abu Hafidh s*******@ymail.com
Akikah dengan selain kambing tidak boleh, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan dengan kambing. Ini yang dipahami oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagaimana dalam riwayat berikut ini.
عَنْ
عَطَاءٍ قَالَ: قَالَتِ امْرَأَةٌ عِنْدَ عَائِشَةَ: لَوْ وَلَدَتِ
امْرَأَةُ فَلَانٍ نَحْرَنَا عَنْهُ جَزُورًا. قَالَتْ عَائِشَةُ: لاَ،
وَلَكِنَّ السُّنَّةَ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ
وَاحِدَةٌ
Dari ‘Atha, seseorang berkata di
hadapan Aisyah, “Seandainya istri fulan melahirkan, kami akan
menyembelihkan seekor unta untuknya.” Aisyah berkata, “Tidak, sunnahnya
untuk anak laki-laki dua ekor kambing, sedangkan untuk anak wanita satu
ekor.”
Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Ucapan Aisyah, ‘Tidak,’ adalah penegasan bahwa akikah tidak boleh dengan selain kambing.” (ash-Shahihah, no. 2720)
Dalam riwayat lain, dari jalan Ibnu Abi Mulaikah, ia mengatakan,
نُفِسَ
لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ غُلَامٍ،فَقِيلَ لِعَائِشَةَ: يَا
أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، عِقِي عَنْهُ جَزُورًا. فَقَالَتْ: مَعَاذَ اللهِ،
وَلَكِنْ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ.
Anak Abdurrahman bin Abi Bakr lahir.
Dikatakan kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, akikahilah dengan seekor
unta.” Aisyah berkata, “Aku berlindung kepada Allah, tetapi (bukankah)
Rasulullah mengatakan, ‘Dua kambing yang seimbang?’.”
Ada pendapat lain yang mengatakan
bolehnya akikah dengan unta atau sapi. Pendapat ini diriwayatkan dari
Anas bin Malik dan sahabat Abu Bakrah lalu dipegangi oleh mayoritas para
ulama. Diriwayatkan bahwa Anas dan Abu Bakrah mengakikahi anaknya
dengan unta. Dasar pendapat ini—menurut Ibnul Mundzir—bisa jadi karena
Nabi bersabda,
…فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا …
“Maka tumpahkanlah darah untuknya.”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
tidak menyebutkan darah hewan tertentu. Hewan apapun yang disembelih
untuk akikah anak itu maka mencukupi. Dasar yang kedua, hadits,
مَنْ وُلِدَ لَهُ غُلَامٌ فَلْيَعُقَّ عَنْهُ مِنَ الْإِبِلِ أَوْ الْبَقَرِ أَوِ الْغَنَمِ
“Barang siapa yang dilahirkan seorang anak laki-laki baginya, akikahilah dia dengan unta, sapi, atau kambing.”
Jawaban atas dalil tersebut adalah sebagai berikut.
Adapun yang pertama, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
tersebut masih global. Sementara itu, riwayat yang menyebutkan kambing
telah menerangkan maksud darah tersebut, yaitu darah kambing. Tentu saja
dalil yang menjelaskan dan memperinci lebih utama dipakai.
Adapun dalil kedua adalah hadits yang batil karena dalam sanadnya ada rawi bernama Mas’adah, dia adalah rawi yang kadzdzab (pendusta) sebagaimana dikatakan oleh al-Haitsami. (ash-Shahihah, no. 2720, Tuhfatul Maudud dan sumber lainnya)
PASIEN MEMINTA DIAKHIRI HIDUP NYA (EUTA NASIA )
Saya meminta fatwa kepada
Anda—dengan izin Allah—tentang sebuah pembahasan yang saya dengar dari
sebuah program siaran kesehatan yang saya dengarkan. Apakah boleh orang
yang mengidap penyakit yang secara medis tidak ada harapan sembuh untuk
meminta dipercepat kematiannya? Apakah boleh permintaannya itu
dikabulkan dalam rangka meringankan rasa sakit yang dideritanya?
Narasumber waktu itu mengatakan bahwa penderita kanker—misalnya—yang
tidak memiliki harapan sembuh lebih baik dia mati. olehkah permintaan si
sakit dikabulkan dan kita membunuhnya untuk meringankan sakit dan
derita yang berkepanjangan? Narasumber membicarakan tentang sebuah buku
yang berjudul “Hak-Hak Asasi”. Dia mengatakan bahwa di antara hak asasi
manusia adalah menentukan sendiri kapan hidupnya berhenti—apabila
kehidupannya menyiksa dan menjadi derita bagi dirinya serta orang lain.
Bagaimana pandangan agama tentang masalah ini? Jazakumullah khairan.
Al-Lajnah ad-Daimah menjawab: Orang yang
sakit diharamkan mempercepat kematiannya baik dengan cara bunuh diri
maupun menggunakan obat-obatan yang menyebabkan kematian. Haram pula
hukumnya bagi dokter atau petugas medis lainnya untuk mengabulkan
permintaannya, meski penyakitnya tidak memiliki harapan sembuh. Siapa
yang menolongnya melakukan perbuatan tersebut, sungguh telah berserikat
menanggung dosanya. Sebab, dia telah sengaja dan tanpa hak menjadi sebab
terbunuhnya jiwa yang tidak boleh dibunuh.
Dalil-dalil dengan tegas menunjukkan diharamkannya perbuatan membunuh jiwa tanpa hak. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (al-An’am: 151)
وَلَا
تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا () وَمَن
يَفْعَلْ ذَٰلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا ۚ
وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu;
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa
berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan
memasukkannya ke dalam neraka. Yangmdemikian itu adalah mudah bagi
Allah.” (an-Nisa: 29—30)
Dalam sebuah hadits sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ
قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجْأَبُهَا بِهَا
فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
وَمَنْ شَرِبَ سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ
جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ
فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَرَدَّى فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا
مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
“Barang siapa membunuh dirinya dengan
sebuah benda tajam, benda itu akan berada di tangannya membelah
perutnya di neraka Jahannam dalam waktu yang sangat lama. Barang siapa
membunuh dirinya dengan meminum racun, dia senantiasa meminumnya di
neraka Jahannam dalam jangka waktu yang sangat lama. Barang siapa
membunuh dirinya yang menjatuhkan diri dari puncak gunung, dia akan
senantiasa menjatuhkan dirinya di neraka Jahannam dalam waktu yang
sangat lama.” (Muttafaqun ‘alaih)
Diriwayatkan dari Abu Qilabah, dari Tsabit bin adh-Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan diazab dengan benda itu pada hari kiamat.” (HR. al- Jamaah)
Jundub bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
كَانَ
فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا
فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللهُ
تَعَالَى: بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Pada umat sebelum kalian ada seorang
lelaki yang terluka. Dia merasa putus asa lantas mengambil pisau untuk
memotong tangannya. Darah pun terus mengalir hingga ia mati. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah lancang mendahului-Ku dalam hal jiwanya. Aku haramkan surga atasnya’.” (Muttafaqun ‘alaih, dan ini lafadz al-Bukhari)
Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang menginginkan kematian disebabkan musibah yang menimpanya dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لاَ
يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ ل
بُدَّ فَاعِلًا، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ
خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَت الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
ِ
“Janganlah salah seorang dari kalian
menginginkan kematian karena musibah yang menimpanya. Apabila memang dia
harus melakukannya, katakanlah, ‘Ya Allah, hidupkanlah aku apabila
hidup memang lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian
lebih baik bagiku’.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim, ini lafadz al-Bukhari)
Al-Bukhari juga mengeluarkan sebuah riwayat dengan lafadz yang berbeda dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَ
يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ
يَزْدَادَ خَيْرًا وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ
“Janganlah salah seorang dari kalian
menginginkan kematian. Bisa jadi, dia telah berbuat baik (selama ini)
sehingga akan bertambah kebaikannya (dengan tetap hidup); bisa jadi
pula, dia selama ini berbuat buruk sehingga (dengan tetap hidup) akan
bisa memperbaiki diri.”
Apabila sekadar menginginkan kematian dan memintanya kepada Allah Subhanahu wata’ala
itu dilarang, terlebih lagi seseorang sengaja mengajukan diri agar
dirinya dibunuh atau ikut serta dalam proses pembunuhan itu. Hal ini
tentu melanggar batasan Allah dan merusak kehormatan- Nya. Sebab,
melakukan perbuatan ini berarti tidak sabar dan menentang terhadap
ketentuan dan takdir-Nya. Selain itu, perbuatan ini juga mengandung
makna lancang dan mendahului hikmah Allah ketika memberi musibah berupa
kebaikan dan keburukan dalam rangka menguji hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (al-Anbiya: 35)
Allah l telah menguji sebagian hamba-Nya
dengan sakit—dan Dia Maha Memiliki hikmah dalam segala perbuatan- Nya,
Mahatahu apa yang terbaik bagi hamba—yang justru hal itu lebih baik bagi
hamba, menambah perbuatan baiknya dan kekuatan imannya, lebih
mendekatkan dirinya kepada AllahS ubhanahu wata’ala dengan rasa tenang, tunduk, merendahkan diri di hadapan-Nya, tawakal dan berdoa hanya kepada-Nya.
Karena itu, apabila seseorang ditimpa
musibah berupa penyakit, seyogianya dia (1) mengharap pahala dan (2)
bersabar terhadap musibah yang menimpanya— karena di antara jenis-jenis
kesabaran adalah sabar terhadap musibah yang menimpa. Dengan demikian,
dirinya akan diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala,
ditambah bagi amalan baiknya, diangkat derajatnya di akhirat. Semua ini
ditunjukkan oleh riwayat Shuhaib z, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عَجِبْتُ
مِنْ أَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَ الْمُؤْمِنِ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ
وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ
شَكَرَ كَانَ ذَلِكَ لَهُ خَيْرًا وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ فَصَبَرَ
كَانَ ذَلِكَ لَهُ خَيْرًا
“Aku kagum dengan keadaan seorang
mukmin. Sungguh, urusan seorang mukmin itu baik seluruhnya, dan hal ini
tidak didapatkan oleh seorang pun selain seorang mukmin. Apabila
mendapat kesenangan, ia bersyukur; hal ini baik baginya. Apabila ditimpa
musibah, dia bersabar; ini pun baik baginya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, Ahmad dalam al-Musnad, dan ini lafadz al- Imam Ahmad)
Hal ini juga ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ
“Orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka.” (al-Hajj: 35)
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa
musibah, mereka mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (al- Baqarah: 155—156)
وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ
“Laki-laki dan perempuan yang sabar.” (al-Ahzab: 35)
Demikian pula ditunjukkan oleh hadits Anas, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ
عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَم الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ
قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ
السَّخَطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Sungguh, apabila Allah Subhanahu wata’ala mencintai
suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa ridha (terhadap ujian
itu), dia akan mendapatkan ridha (Allah) juga. Barang siapa marah
(terhadap ujian itu), dia pun mendapatkan kemarahan (Allah).” (HR. at-Tirmidzi dalam Jami’-nya, beliau mengatakan, “Hasan gharib dari jalur ini.”)
Demikian pula hadits Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,
قُلْتُ:
يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ:
الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ
عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ
وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا
يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى
الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
Aku berkata, “Wahai Rasulullah,
manusia manakah yang paling keras cobaannya?” Beliau menjawab, “Para
nabi, kemudian yang semisalnya, kemudian yang semisalnya. Seseorang
diuji sesuai dengan kekuatan agamanya. Apabila agamanya kuat, ujian yang
menimpanya pun keras. Apabila agamanya ada kelemahan, dia diuji sesuai
dengan keadaan agamanya. Senantiasa cobaan menimpa seorang hamba hingga
menjadikannya berjalan di muka bumi tanpa ada satu (dosa) kesalahan pun
pada dirinya.” (HR. at-Tirmidzi, beliau katakan, “Ini hadits hasan sahih.”)
Demikian pula yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا
يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ
وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Senantiasa cobaan menimpa seorang
mukmin dan mukminah, pada dirinya, anaknya, dan hartanya; hingga ia
bertemu Allah tanpa membawa satu kesalahan pun.” (HR. at-Tirmidzi)
Oleh karena itu, seseorang yang tertimpa
musibah penyakit diharamkan berusaha membunuh dirinya. Sebab, kehidupan
dirinya bukanlah miliknya. Kehidupannya itu milik Allah yang telah
menentukan berbagai takdir dan jangka waktu. Selain itu, jika telah
mati, seorang hamba tidak lagi bisa beramal. Dari kehidupan yang
dijalaninya, seorang mukmin diharapkan mendapatkan yang lebih baik. Bisa
jadi, ia akan bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala
dari dosa-dosanya yang telah lalu, kemudiaan mempersiapkan bekal amal
saleh: shalat, puasa, zakat, haji, zikir, berdoa kepada Allah, dan
membaca al-Qur’an. Dengan demikian, dia akan mencapai derajat tertinggi
di sisi Allah.
Di samping itu pula, seorang yang sakit
akan dituliskan baginya pahala amalan yang biasa ia lakukan semasa
sehatnya. Hal ini disebutkan oleh haditshadits yang sahih. Adapun dokter
dan tenaga medis yang mau menerima permintaan si sakit untuk membunuh
dirinya dan menolongnya melakukannya, mereka berdosa.
Pandangan mereka sangat pendek, ini
menunjukkan kebodohan mereka. Sebab, mereka hanya memandang kehidupan
manusia dan kelanjutannya dari sisi kelayakan dan kekuatan hidup secara
fisik, memiliki kemampuan, bisa bersenang-senang, dan berlaku sombong.
Mereka tidak memandang kehidupannya akan
berlanjut hingga bertemu Rabbnya dengan membawa bekal amal saleh, kalbu
yang lembut luluh, tunduk, tenang, dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
Keadaan hamba yang seperti ini lebih disukai dan lebih dekat kepada
Allah daripada seseorang yang sombong, melampaui batas, dan menggunakan
kekuatan fisiknya dalam hal yang dimurkai oleh Allah. Allah Subhanahu wata’ala
pun Mahamampu untuk menyembuhkannya. Apa yang sekarang mustahil menurut
pandangan manusia, bisa jadi mudah pengobatannya pada masa yang akan
datang, dengan takdir Allah, Dzat yang tidak ada sesuatu pun di langit
dan di bumi yang mampu melemahkan-Nya. Wabillahi at-taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi shahbihi wa sallam.
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil: Abdul Aziz Alu asy-Syaikh;
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Shalih al-Fauzan, Bakr Abu Zaid. (Fatawa al- Lajnah 25/85—91, fatwa no. 19165)
BEDAH MAYAT & OTOPSI JENAZAH
Kami mengharapkan jawaban tentang
hukum Islam terhadap mahasiswa kedokteran yang ketika masa kuliahnya
melakukan praktikum bedah mayat. Selain itu mereka harus menyingkap
aurat wanita atau sebagiannya. Mereka mengatakan bahwa hal tersebut
dalam rangka mempelajari kedokteran dan harus dilakukan agar mereka
tidak menjadi dokter yang bodoh (tentang anatomi) dan tidak bisa
mengobati penyakit yang diderita wanita. Apabila ini terjadi, tentulah
para wanita muslimah akan ditangani oleh dokter-dokter Nasrani atau yang
lain.
Al-Lajnah ad-Daimah menjawab: Pertama;
tentang operasi bedah mayat, telah keluar ketetapan dari Haiah Kibarul
Ulama (Dewan Ulama Besar) Kerajaan Arab Saudi yang garis besarnya
sebagai berikut. Masalah ini terbagi tampak memiliki tiga keadaan:
a. Bedah mayat (otopsi) untuk meneliti sebuah kasus kriminalitas.
b. Otopsi untuk meneliti sebuah penyakit
yang mewabah dalam rangka menemukan prosedur perlindungan (masyarakat)
dari penyakit tersebut.
c. Bedah mayat untuk kepentingan ilmu
pengetahuan, yakni kegiatan belajar dan mengajar. Setelah komisi yang
terkait bertukar pikiran, beradu argumentasi, dan mempelajari masalah di
atas, forum mengeluarkan ketetapan sebagai berikut. Tentang dua
keadaan yang pertama (yakni poin a dan b), forum memandang bahwa
pembolehannya bisa mewujudkan banyak maslahat dalam bidang keamanan dan
pengadilan, serta perlindungan masyarakat dari penyakit yang mewabah.
Efek negatif tindakan otopsi tersebut akan tertutup oleh sekian banyak
maslahat yang nyata dan berdampak luas.
Oleh karena itu, forum sepakat
menetapkan bolehnya pembedahan mayat untuk dua tujuan ini, baik mayat
tersebut terlindungi (oleh hukum syariat, –pent.) maupun tidak.
Adapun terkait dengan jenis bedah mayat yang ketiga, yaitu untuk
kepentingan ilmiah, dengan mempertimbangkan bahwa:
• syariat Islam membawa terwujudnya maslahat dan memperbanyaknya,
• syariat Islam mencegah mafsadat dan mempersedikitnya,
• bolehnya dilakukan sebuah tindakan yang lebih kecil kerusakannya untuk menghilangkan hal yang kerusakannya lebih besar,
• apabila dua hal yang bermaslahat ternyata kontradiktif, dipilih yang lebih banyak efek positifnya,
• pembedahan terhadap hewan tidak bisa menggantikan pembedahan mayat,
• operasi bedah mayat berefek positif
terhadap kemajuan berbagai bidang ilmu kedokteran; maka forum memandang
bolehnya operasi bedah mayat manusia secara global. Di sisi lain, forum
mempertimbangkan:
• perhatian syariat Islam terhadap
kemuliaan seorang muslim yang telah meninggal sebagaimana saat hidupnya;
sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, Abu Dawud, dan
Ibnu Majah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
كَسْرُ عَظْم الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا
“Mematahkan tulang mayat (hukumnya) seperti mematahkannya saat ia hidup.”
• pembedahan mayat mengandung perendahan terhadap kemuliaan seorang muslim,
• kebutuhan operasi bedah mayat muslim
bisa diganti dengan mayat yang tidak dilindungi (oleh syariat); maka
forum memandang hendaknya dicukupkan dengan operasi bedah terhadap mayat
yang semacam ini dan tidak melakukannya terhadap mayat yang dilindungi
(oleh syariat), dalam keadaan yang telah disebutkan.
Wallahul muwaffiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Haiah Kibarul Ulama
Kedua; tentang menyingkap aurat wanita,
apabila ada wanita lain yang bisa melakukannya, seorang lelaki tidak
boleh melakukannya. Apabila tidak ada wanita yang bisa
melakukannya—sementara ada faktor yang mengharuskan aurat si wanita
disingkap—seorang lelaki muslim boleh melakukannya sekadarnya, dalam
rangka mengetahui penyakit si wanita. Apabila mayatnya adalah wanita
nonmuslim atau yang tidak dilindungi (oleh syariat), tidak ada halangan
auratnya disingkap dalam rangka kegiatan belajar mengajar dan mengetahui
penyakit-penyakit yang diderita wanita sekaligus cara penyembuhannya,
berdasarkan ketetapan Haiah Kibarul Ulama yang disebutkan di atas.
Wabillahi at-taufiq, wa shallallahu
ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam. Al-Lajnah
ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta (Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa)
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Wakil: Abdur Razzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud (Fatawa al-Lajnah 25/93—95,
pertanyaan ke-4 dari fatwa no. 3685)
Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, LcKehidupan Dunia Menurut Generasi Salaf
Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,
“Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari harta dengan cara yang
baik, membelanjakannya dengan sederhana, dan memberikan sisanya.
Arahkanlah sisa harta ini sesuai dengan
yang diarahkan oleh Allah. Letakkanlah di tempat yang diperintahkan oleh
Allah. Sungguh, generasi sebelum kalian mengambil dunia sebatas yang
mereka perlukan. Adapun yang lebih dari itu, mereka mendahulukan orang
lain.
Ketahuilah, sesungguhnya kematian amat
dekat dengan dunia hingga memperlihatkan berbagai keburukannya. Demi
Allah, tidak seorang berakal pun yang merasa senang di dunia. Karena
itu, berhati-hatilah kalian dari jalan-jalan yang bercabang ini, yang
muaranya adalah kesesatan dan janjinya adalah neraka.
Aku menjumpai sekumpulan orang dari generasi awal umat ini. Apabila
malam telah menurunkan tirai kegelapannya, mereka berdiri, lalu
(bersujud) menghamparkan wajah mereka. Air mata mereka berlinangan di
pipi. Mereka bermunajat kepada Maula (yakni Rabb) mereka agar
memerdekakan hamba-Nya (dari neraka).
Apabila melakukan amal saleh, mereka gembira dan memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut. Sebaliknya, apabila melakukan kejelekan, mereka bersedih dan memohon kepada Allah agar mengampuni kesalahan tersebut.”
Apabila melakukan amal saleh, mereka gembira dan memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut. Sebaliknya, apabila melakukan kejelekan, mereka bersedih dan memohon kepada Allah agar mengampuni kesalahan tersebut.”
(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 41—42)
Segalanya Mudah dengan Sabar
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
Hidup tak selamanya mulus. Setiap saat,
kesulitan atau ujian hidup bisa datang menghampiri, baik itu berupa
musibah maupun godaan berbuat maksiat. Lebih-lebih, di zaman yang konon
katanya serbasulit, godaan untuk menempuh jalan pintas dalam mencari
rezeki demikian kuat. Demikian pula di zaman yang penyalahgunaan
teknologi sudah mengepung, kemaksiatan pun seakan dalam genggaman.
Tinggal mencet keypad handphone
atau keyboard komputer, kerusakan dengan mudah kita akses. Bahkan,
saking rusaknya manusia dan jauhnya umat dari ajaran Islam, menjalankan
ketaatan pun butuh kesabaran ekstra. Yang menjalankan ketaatan siap-siap
dituding sesat, eksklusif, tekstual, tidak berjiwa kebangsaan, dianggap
suka benar sendiri, dan sebagainya.
Itulah di antara saat-saat kesabaran
kita diasah. Betapa sabar laksana memegang bara api. Dipegang panas,
tidak dipegang akan membakar semuanya. Akan tetapi, sabar juga ibarat
matahari, bersifat panas namun mampu menumbuhkan tanaman di muka bumi.
Oleh karena itu, muncullah anekdot, orang yang sabar jiwanya akan subur, dan orang yang tidak sabaran akan cepat masuk kubur.
Lepas dari itu, orang yang beriman
memang harus meyakini bahwa manusia pasti diuji. Dia pun harus bersedia
menerima ujian dari Allah Subhanahu wata’ala dan memupuk
kekuatan untuk bersabar. Kita juga perlu merenungi, ujian yang kita
terima belum ada apa-apanya dibandingkan dengan orang-orang sebelum
kita. Betapa banyak contoh ujian berat yang dialami para nabi. Bagaimana
pula dengan kisah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang disiksa karena keimanan mereka?
Seberat apa pun ujian itu, sesungguhnya
Allah adalah Dzat Yang Mahasabar kepada hamba-Nya. Walaupun hamba-Nya
bergelut kemaksiatan, namun Allah Subhanahu wata’ala masih saja memberikan kita banyak kenikmatan. Kalau toh ada
sekelompok manusia yang diberi azab, itu lebih karena manusianya yang
sudah bertindak melampaui batas. Memang, sabar mudah diucapkan, namun
tidak mudah dipraktikkan. Saking sulitnya bersikap sabar, Allah Subhanahu wata’ala pun menjanjikan banyak ganjaran bagi orangorang yang bersabar, di antaranya janji surga dan ampunan dosa.
Adapun di dunia, banyak hal yang bisa
kita petik kala kita bisa bersabar. Orang yang bersabar tidak akan mudah
putus asa dengan suatu masalah yang sedang dihadapi, bahkan masalah
lebih bisa teratasi dengan baik. Selanjutnya, dia akan lebih hati-hati
dan tetap semangat dalam menghadapi masalah hidup. Dengan sabar, kita
juga bisa menumbuhkan empati atau merasakan penderitaan orang lain,
sehingga tumbuh rasa syukur bahwa ternyata kita masih lebih beruntung
daripada orang lain. Konflik rumah tangga yang biasanya “diselesaikan”
dengan kekerasan dan sikap tidak mau kalah pun, bisa dicairkan dengan
sikap sabar.
Intinya, sebagaimana dalam hadits, tiada pemberian yang Allah Subhanahu wata’ala
berikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas manfaatnya
daripada kesabaran. Dengan kesabaran, jiwa seseorang akan tenang dan
tidak akan goyah saat mendapat cobaan. Sabar juga menjadi ukuran iman
dan takwa seseorang. Semakin tinggi keimanan seseorang, semakin tinggi
pula tingkatan masalah yang dihadapi, dan semakin besar pula kesabaran
yang dibutuhkan. Oleh karena itu, jangan sekali-kali “mencari masalah”.
Namun, apabila ada masalah, kita harus siap menghadapinya. Yakin dan
percayalah, dengan bersabar, kitaakan mendapat pemecahan dan
kemudahan.Di sinilah letak kesabaran itu diuji,sehingga kita berharap
dapat menjadi pribadi yang kokoh dan tangguh, serta tidak mudah tergiur
dengan hal-hal yang memupus kesabaran yang telah kita pupuk.
والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته
Surat Pembaca Edisi 94
Tema Teroris
Masyarakat sering salah paham dengan cara berpakaian dan penampilan Ahlus Sunnah yang katanya identik dengan teroris (memakai gamis panjang, berjanggut, celana di atas mata kaki, dll). Mohon dalam edisi berikutnya membahas tentang teroris di negara kita dan menjelaskan siapa sebenarnya kelompok tersebut agar masyarakat umum bisa membedakan paham Ahlus Sunnah dengan teroris. Teguh-085293xxxxxx
Tema teroris sudah beberapa
kali kami angkat sebagai tema utama dalam beberapa edisi yang telah lalu, di antaranya edisi 8, 13, dan 86. Namun, insya Allah, dalam kesempatankesempatan mendatang, dalam artikel atau tema-tema yang masih terkait, kami akan selalu menekankan perbedaan ajaran Islam yang benar dengan ajaran teroris. Jazakumullahu khairan.
Tentang Bunga Bank
Mohon dikupas tuntas tentang haramnya bunga bank karena masih banyak saudara-saudara yang belum tahu manfaat dan mudaratnya uang riba sehingga mereka masih berbisnis dengan uang riba dan diulas pula fatwa MUI tentang hal tersebut. 081235xxxxxx
Masalah seputar perbankan pernah kami angkat sebagai tema utama pada edisi 28, 29, dan 53. Namun, tidak menutup kemungkinan tema bunga bank akan kembali diangkat dengan sudut pandang yang berbeda dengan edisi-edisi tersebut, insya Allah.
Salah Ketik
Asy-Syariah edisi terbaru halaman 62 salah ketik, harusnya “qod aflakha” bukan “fad aflakha”. Hlm. 1 “Permata Salaf” ada salah letak dalam penulisan rahimahumallah. 089670xxxxxx
Anda benar, jawaban ini sekaligus sebagai ralat. Jazakumullahu khairan.
Dimuat Ulang?
Pada rubrik SHI vol. 8 no. 93 Posisi Kedua Tangan Saat Tasyahud isinya sama dengan Asy-Syariah vol. 8 no. 91 Isyarat Telunjuk Saat Tasyahud. Apakah memang demikian, ataukah ada kesalahan cetak? 085743xxxxxx
Anda benar, terjadi kesalahan fatal pada edisi 93 sebagaimana dimaksud. Kami dari Redaksi memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para Pembaca atas kesalahan ini. Barakallahu fikum.
Masyarakat sering salah paham dengan cara berpakaian dan penampilan Ahlus Sunnah yang katanya identik dengan teroris (memakai gamis panjang, berjanggut, celana di atas mata kaki, dll). Mohon dalam edisi berikutnya membahas tentang teroris di negara kita dan menjelaskan siapa sebenarnya kelompok tersebut agar masyarakat umum bisa membedakan paham Ahlus Sunnah dengan teroris. Teguh-085293xxxxxx
Tema teroris sudah beberapa
kali kami angkat sebagai tema utama dalam beberapa edisi yang telah lalu, di antaranya edisi 8, 13, dan 86. Namun, insya Allah, dalam kesempatankesempatan mendatang, dalam artikel atau tema-tema yang masih terkait, kami akan selalu menekankan perbedaan ajaran Islam yang benar dengan ajaran teroris. Jazakumullahu khairan.
Tentang Bunga Bank
Mohon dikupas tuntas tentang haramnya bunga bank karena masih banyak saudara-saudara yang belum tahu manfaat dan mudaratnya uang riba sehingga mereka masih berbisnis dengan uang riba dan diulas pula fatwa MUI tentang hal tersebut. 081235xxxxxx
Masalah seputar perbankan pernah kami angkat sebagai tema utama pada edisi 28, 29, dan 53. Namun, tidak menutup kemungkinan tema bunga bank akan kembali diangkat dengan sudut pandang yang berbeda dengan edisi-edisi tersebut, insya Allah.
Salah Ketik
Asy-Syariah edisi terbaru halaman 62 salah ketik, harusnya “qod aflakha” bukan “fad aflakha”. Hlm. 1 “Permata Salaf” ada salah letak dalam penulisan rahimahumallah. 089670xxxxxx
Anda benar, jawaban ini sekaligus sebagai ralat. Jazakumullahu khairan.
Dimuat Ulang?
Pada rubrik SHI vol. 8 no. 93 Posisi Kedua Tangan Saat Tasyahud isinya sama dengan Asy-Syariah vol. 8 no. 91 Isyarat Telunjuk Saat Tasyahud. Apakah memang demikian, ataukah ada kesalahan cetak? 085743xxxxxx
Anda benar, terjadi kesalahan fatal pada edisi 93 sebagaimana dimaksud. Kami dari Redaksi memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para Pembaca atas kesalahan ini. Barakallahu fikum.
Meraih Pahala Dengan Bersabar
Tak ada seorang pun yang menginginkan
hidup dalam keadaan sulit. Tidak ada seorang pun menginginkan musibah
terjadi atas dirinya. Namun, kenyataan hidup berbeda dengan apa yang
diinginkan oleh setiap manusia. Hidup manusia tak selalu diwarnai dengan
kebahagiaan dan kesenangan. Tidak pula hidup selalu diliputi
kesuksesan. Terkadang manusia harus jatuh bangun menghadapi kehidupan.
Ia harus menghadapi sekian banyak cobaan. Beruntunglah orangorang yang
sabar.
Apa itu Sabar?
Secara bahasa sabar adalah
الْحَبْسُ وَالْمَنْعُ
Artinya, menahan atau mencegah.
Adapun secara istilah dimaknai:
حَبْسُ
اللِّسَانِ عَنِ التَّشَكِّي وَالتَّسَخُّطِ وَالنَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ
وَالْجَوَارِحِ عَنْ لَطْم الْخُدُودِ وَشَقِّ الْجُيُوبِ
Artinya, kemampuan seseorang untuk
menahan lisan, mengendalikan diri (jiwa), serta menahan anggota tubuh
dari memukul wajah dan merobek kerah baju (pakaian). (It-hafu al-’Uqul bi Syarhi Tsalati al-Ushul, asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri)
Penyebutan “memukul wajah dan merobek
kerah baju (pakaian)” dalam definisi di atas, terkait dengan kebiasaan
orang-orang Arab jahiliah (sebelum Islam datang) ketika ditimpa musibah
kematian orang yang dicintai. Mereka menunjukkan perilaku memukul-mukul
wajah dan merobek kerah baju. Ini dilakukan sebagai wujud kesedihan yang
mendalam.
Berdasar definisi di atas, sabar
memiliki tiga unsur pokok: pengendalian diri (jiwa), pengendalian lisan,
dan pengendalian anggota tubuh. Kesabaran seseorang akan tecermin dari
sejauh mana tingkat dan kemampuan dirinya melakukan pengendalian diri,
lisan, dan anggota tubuhnya.
Seseorang belum dikatakan bersabar
manakala tangan atau kakinya melakukan aksi perusakan saat dirinya emosi
menghadapi ketidakpuasan. Dia melakukan tindakan agresif secara membabi
buta. Seseorang belum juga dikatakan bersabar manakala dirinya ditimpa
musibah lantas lisannya mengeluarkan kata-kata kekufuran atau
kesyirikan, kata-kata tidak terpuji, umpatan atau sumpah serapah, caci
maki, dan yang sejenis.
Seseorang juga belum bisa dikatakan
bersabar saat dirinya didera musibah lantas jiwanya goncang dan hilang
kontrol diri. Dia tidak bisa mengendalikan diri, dan justru menampakkan
kemarahan dan sikap emosi. Lebih dari itu, dalam keadaan goncang,
dirinya terjatuh pada perbuatan syirik atau bid’ah. Dirinya tak sabar
menghadapi kesulitan hidup lantas mendatangi dan meminta-minta kepada
yang ada di dalam kubur atau mendatangi dukun, wal ’iyadzu billah.
Maka dari itu, seseorang bisa dikatakan bersabar manakala dirinya mampu
mengendalikan dan mengontrol emosi, lisan, dan segenap anggota badannya
saat menghadapi musibah atau situasi tidak menyenangkan yang
menimpanya. Ia tetap dalam garis ketaatan seraya tawakal (berserah diri)
dan memohon pertolongan-Nya.
Macam Kesabaran
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahumallah menyebutkan bahwa kesabaran itu meliputi tiga macam.
1. Bersabar dalam rangka menaati Allah Subhanahu wata’ala. Ini sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wata’ala,
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ
“Perintahlah keluargamu untuk menegakkan shalat dan bersabarlah dalam menunaikannya.” (Thaha: 132)
Firman-Nya pula,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنزِيلًا () فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ
“Sesungguhnya Kamilah yang telah
menurunkan al-Qur’an kepadamu secara bertahap, maka bersabarlah dalam
menetapi hukum Rabb-mu.” (al-Insan: 23—24)
Sabar dalam menaati Allah Subhanahu wata’ala ialah bentuk kesabaran merealisasikan perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala.
2. Bersabar dari berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala
Bentuk kesabaran ini sebagaimana
telah dicontohkan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihissalam. Saat seorang wanita
berkedudukan dan terpandang mengajaknya melakukan perbuatan maksiat,
Nabi Yusuf ‘Alaihissalam justru menghindar. Nabi Yusuf ‘Alaihissalam
bersabar (menahan) diri untuk tidak terseret pada perilaku durhaka. Dia
memilih untuk mendekam dalam penjara daripada harus melakukan
kedurhakaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman mengungkapkan kisah itu,
قَالَ
رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا
تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ
الْجَاهِلِينَ
“Yusuf berkata, ‘Wahai Rabbku,
penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak
Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk
(memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh’.”
(Yusuf: 33)
3. Bersabar atas segala takdir Allah Subhanahu wata’ala.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ
“Bersabarlah engkau (Muhammad)
sebagaimana kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati, dan
janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka.” (al-Ahqaf:
35)
Termasuk kesabaran ini ialah
kesabaran ketika menyampaikan risalah dan menghadapi berbagai gangguan
yang dilancarkan oleh anggota masyarakat.
Ujian Hidup Pasti Ada
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُم
بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ
وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا
أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ
رَاجِعُونَ () أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ
ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan
buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang
sabar. Yaitu, orangorang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan
‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami milik Allah
dan kepada-Nyalah kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh
ampunan dan rahmat dari Rabbnya (yaitu, Allah Subhanahu wata’ala) dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 155—157)
Di dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wata’ala menegaskan
bahwa setiap manusia akan mendapat ujian di dalam kehidupannya. Ujian
tersebut bisa dalam bentuk gagal panen, kehilangan modal usaha (harta),
kehilangan orang yang dicintai (kematian), atau hilangnya rasa aman
(ketakutan), dan lainnya. Meski demikian, orang-orang yang beriman, akan
menyikapi semua ujian hidup tersebut dengan penuh kesabaran. Orang yang
beriman memiliki keyakinan bahwa musibah yang menimpanya akan
memberikan kebaikan pada dirinya.
Betapa tidak, dengan musibah itu dia harus bersabar. Manakala dirinya bisa bersabar, maka Allah Subhanahu wata’ala akan memberikan pahala. Misal, seseorang yang diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala
dengan rasa sakit. Jika dirinya bersabar dengan apa yang menimpanya,
niscaya dia akan mendapat ganjaran. Dia akan mendapat ampunan, yaitu
dosa-dosanya dihapus dan mendapat rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala Dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَاهَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa
kepayahan, sakit (yang berkepanjangan/lama), kecemasan (gundah),
kesedihan, kesakitan, dan dukacita hingga (ditimpa musibah) tertusuk
duri, kecuali Allah l akan menghapuskan dosa-dosanya.” ( HR. al-Bukhari,
no. 5642 dan Muslim, no. 52, 2573)
Demikianlah, ujian hidup itu pasti ada. Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ فَقَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ رَقِيقَ الدِّينِ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ ذَاكَ، وَإِنْ كَانَ صُلْبَ الدِّينِ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ ذَاكَ. قَالَ: فَمَا تَزَالُ الْبَلَايَا بِالرَّجُلِ حَتَّى يَمْشِيَ فِي الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah manusia yang paling berat mendapat ujian?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallampun
lantas menjawab, “Para nabi lalu yang semisal dengan mereka kemudian
yang semisal dengan mereka. Seseorang akan mendapat ujian sesuai dengan
keadaan agamanya. Jika agamanya kokoh, keras pula ujiannya. Bila keadaan
agamanya lemah, ia akan diuji sebanding dengan keadaan agamanya. Ujian
itu tak akan terlepas dari seseorang hingga dirinya berjalan di muka
bumi dengan tanpa dosa.” ( HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan selainnya.
Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah
ash-Shahihah, no. 143)
Sabar Menghadapi Ujian dalam Dakwah
Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
berupaya mengembangkan dakwah ke wilayah Thaif, yang beliau temui
bukanlah sambutan yang baik. Beliau bersama seorang sahabat mendapat
cercaan, hinaan, dan kekerasan fisik. Beliau dilempari batu. Tubuh
beliau yang mulia terluka. Dari wajah beliau mengucur darah. Mengajak
manusia menuju kebaikan malah dibalas kejelekan.
Betapa kejahilan yang begitu akut telah
melekat pada masyarakat Thaif kala itu. Kejahiliahan yang ada pada
mereka sedemikian menggulita sehingga tak mampu mencerna isi ajakan yang
disampaikan manusia pilihan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hati mereka buta dan tuli, tiada mampu membedakan kebaikan dan keburukan.
Meski demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
tetap bersabar. Lisan beliau terjaga, tidak membalas umpatan dan caci
maki dengan yang semisal. Demikian pula anggota tubuh beliau tak
membalas dengan balasan yang semisal. Jiwa beliau tetap kokoh, tak
lantas goncang, dan berputus asa dari menebar kebaikan. Kesabaran
terhunjam kukuh pada diri beliau. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu pernah bertutur bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita,
“Ada seorang nabi dari kalangan nabi-nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim dipukul oleh kaumnya. Lantas mengucurlah darahnya. Nabi itu pun mengusap darah dari wajahnya seraya berdoa,
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
‘Ya Allah, ampunilah kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui.’ (HR. al-Bukhari, no. 3477 dan Muslim, no. 1792).”
Dikisahkan pula dari Abu Abdillah Khabbab bin al-Aratt radhiyallahu ‘anhu. Katanya,
أَتَيْنَا رَسُولَ اللهِ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ فَقُلْنَا: أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو اللهَ لَنَا؟ فَجَلَسَ مُحْمَرًّا وَجْهُهُ فَقَالَ قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُجْعَلُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ فِرْقَتَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ عَظْمِهِ مِنْ لَحْمٍ وَعَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِه وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ وَحَضْرَمُوتَ مَا يَخَافُ إِلَّا اللهَ تَعَالَى وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَعْجَلُونَ
“Kami mengeluh kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
yang kala itu tengah berbantal dengan kain burdahnya di bawah Ka’bah.
Kami sampaikan, ‘Mengapa engkau tidak memintakan tolong dan mendoakan
kami?’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
‘Ada seorang laki-laki yang hidup sebelum kalian ditangkap dan ditanam
di dalam tanah. Kemudian gergaji diletakkan di kepalanya sehingga
terbelahlah kepala laki-laki itu menjadi dua. Dengan sisir dari besi,
kepala itu pun disisir sehingga terkelupas daging dan tulangnya. Semua
itu tak lantas memalingkan dirinya dari agamanya. Demi Allah, sungguh
Allah Subhanahu wata’ala akan menyempurnakan perkara ini
(Islam) hingga orang yang berkendara dari Shan’a ke Hadramaut tidak ada
yang ditakuti kecuali hanya Allah Subhanahu wata’ala dan serigala yang mengancam kambingnya. Akan tetapi, kalian begitu tergesa-gesa’.” (HR. al-Bukhari, no. 2943, 3852)
Demikianlah ujian itu akan senantiasa
ada. Telah menjadi tabiat dalam dakwah adanya beragam tantangan
menghadang. Terkhusus, bagi para da’i yang menyerukan dakwah salafiyah.
Beragam upaya untuk meruntuhkan sendi-sendi dakwah akan senantiasa
dilakukan. Mulai dari upaya melakukan taqrib, upaya mendekatkan
antarjamaah, hingga upaya pengaburan pemahaman dengan melalui berbagai
media yang ada. Mereka bersinergi untuk mengoyak dakwah nan mulia ini.
Mereka tuduh orang-orang yang bersikukuh di atas manhaj yang haq sebagai
kelompok garis keras atau pernyataan yang semisal. Selama hawa nafsu
mereka belum tercapai, mereka akan terus menggerogoti dakwah ini dengan
berbagai syubhat dan syahwat. Nas’alullahu as-salamah (Kita memohon
keselamatan kepada Allah Subhanahu wata’ala).
Terkait adanya ujian ini, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
أَحَسِبَ
النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ()
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ
الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka
tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang
sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang
benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orangorang yang dusta.”
(al-Ankabut: 2—3)
Dalam berbagai keadaan, kesabaran
harus senantiasa ada. Saat menghadapi masalah, apabila tidak disertai
kesabaran, niscaya akan bisa mengarah pada keadaan yang lebih buruk.
Dengan sikap sabar, seseorang akan mampu mengendalikan diri dan
mengambil tindakan yang lebih baik (dengan izin Allah Subhanahu wata’ala). Sikap sabar akan mengantarkan seseorang pada kebaikan. Disebutkan dari Abi Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Menakjubkan untuk urusan yang
menimpa seorang mukmin. Sungguh, seluruh urusannya membawa kebaikan.
Tidaklah yang demikian itu bisa diperoleh seseorang kecuali hanya oleh
seorang mukmin. Jika dirinya mendapatkan kesenangan lantas bersyukur,
sikap syukurnya itu membawa kebaikan baginya. Jika dirinya ditimpa
musibah lantas bersabar, sikap sabarnya itu membawa kebaikan baginya.”
(HR. Muslim)
Dengan sikap sabar seseorang bisa meraup pahala nan tak terkira. Wallahu a’lam.
Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip SyafruddinRahasia Di Balik Kata Sabar
Sabar merupakan sebuah kata yang
ringan diucapkan, namun sangat bermakna dalam kehidupan. Dengannya,
perjalanan hidup seseorang akan selalu terbimbing di atas kebenaran.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ
“Kesabaran itu adalah cahaya.” (HR. Muslim no. 223, dari sahabat Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)
Al-Hafizh an-Nawawi rahimahumallah
berkata, “Sesungguhnya kesabaran adalah amalan yang terpuji dan
pelakunya akan selalu terbimbing di atas kebenaran.” (Syarh Shahih
Muslim 3/101)
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahumallah berkata, “Sebuah petunjuk (al-huda) tidak akan
diraih melainkan dengan ilmu, sedangkan kemudahan untuk beramal dengan
ilmu (ar-rasyad) tidak akan diraih melainkan dengan kesabaran.” (Majmu’
Fatawa 10/40)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah
berkata, “Sesungguhnya Allah l menjadikan sabar sebagai kuda tunggangan
yang tak kenal lelah, pedang yang tak pernah tumpul, prajurit yang
pantang menyerah, benteng kokoh yang tak bisa dihancurkan dan ditembus.
Sabar merupakan saudara kandung kemenangan. Di mana ada kesabaran, di
situ ada kemenangan.” (Uddatush Shabirin, hlm. 4)
Secara etimologis, sabar mempunyai arti
menahan. Maksudnya, menahan kalbu dari rasa kesal terhadap ketentuan
Allah Subhanahu wata’ala (takdir), menahan lisan dari berkeluh kesah,
dan menahan anggota badan dari perbuatan maksiat, seperti
menampar-nampar pipi, merobekrobek baju, mencabut-cabut rambut, dan yang
semisalnya. Di atas tiga asas itulah kesabaran dibangun. (al-Wabilush
Shayyib karya al-Imam Ibnul Qayyim, hlm. 5)
Adapun hakikat sabar itu sendiri adalah
sebuah budi pekerti luhur yang dapat menahan seseorang dari perbuatan
yang tidak baik. Sabar termasuk salah satu dari kekuatan batin (psikis)
yang dapat menstabilkan jiwa seseorang sehingga menjadi baik dan lurus.
(Uddatush Shabirin, hlm. 11)
Di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, sabar disebutkan dalam beberapa bentuk lafadz yang mempunyai kandungan makna berbeda-beda;
1. Shabr ( صَبْرٌ ): kesabaran yang dilakukan dengan mudah.
2. Tashabbur ( تَصَبُّرٌ ): kesabaran yang dilakukan dengan upaya dan perjuangan.
3. Ishthibar ( اِصْطِبَارٌ ): puncak
dari tashabbur ( تَصَبُّرٌ ). Maksudnya, puncak dari kesabaran yang
dilakukan dengan upaya dan perjuangan.
4. Mushabarah ( مُصَابَرَةٌ ): kesabaran
yang dilakukan di medan laga saat berhadapan dengan musuh. (Lihat
Uddatush Shabirin, hlm. 15—16)
Ditinjau dari sisi keterkaitannya dengan Allah Subhanahu wata’ala, sabar terbagi menjadi tiga,
1. Sabar dengan Allah Subhanahu wata’ala
( ashshabru billah). Maksudnya, memohon pertolongan kepada Allah
Subhanahu wata’ala dan meyakini bahwa Dia-lah Dzat yang menjadikan
seorang hamba bersabar. Betapa pun seseorang mampu bersabar maka semua
itu berkat pertolongan dari Allah Subhanahu wata’ala, bukan kemampuan
dirinya semata. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (an-Nahl: 127)
Makna ayat di atas, jika Allah Subhanahu
wata’ala tidak memberikan pertolongan kepadamu untuk bersabar, niscaya
engkau tidak akan mampu bersabar.
2. Sabar karena Allah Subhanahu
wata’ala( ashshabru lillah). Maksudnya, kesabaran yang dilakukan karena
kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala, menginginkan wajah-Nya, dan
taqarub kepada-Nya. Bukan untuk menonjolkan diri, ingin dipuji orang,
dan tujuan buruk lainnya.
3. Sabar bersama Allah Subhanahu wata’ala (ashshabru ma’allah).
Artinya, kesabaran seorang hamba bersama
syariat Allah l dan segala ketentuan hukum-Nya secara berkesinambungan,
berteguh diri di atas syariat dan hukum tersebut, berjalan di atasnya,
serta menjalankan segala konsekuensinya. Hidupnya selalu dikendalikan
oleh syariat dan hukum tersebut, kapan saja dan di mana saja ia berada.
Demikianlah kondisi seseorang yang
bersabar bersama Allah Subhanahu wata’ala. Ia senantiasa menjadikan
dirinya berada di atas segala yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu
wata’ala dan dicintai-Nya. Kesabaran yang seperti ini adalah jenis
kesabaran yang paling berat dan sulit. Itulah kesabaran yang ada pada
diri ash-shiddiqin (orangorang yang sangat kuat keyakinannya kepada
Allah Subhanahu wata’ala). (Madarijus Salikin karya al-Imam Ibnul
Qayyim, 2/157)
Dalam ranah kehidupan beragama, para ulama mengklasifikasi sabar menjadi tiga,
1. Sabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya Subhanahu wata’ala.
2. Sabar dari perbuatan maksiat, selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala.
3. Sabar atas segala musibah yang
menimpa. (Lihat Qaidah fish Shabr karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
hlm. 90—91, Syarh Shahih Muslim karya al-Hafizh an-Nawawi 3/101,
Madarijus Salikin 2/156, dll.)
Perbuatan apa sajakah yang dapat
meniadakan (menafikan) kesabaran? Menurut al-Imam Ibnul
Qayyim rahimahumallah dalam Uddatush Shabirin (hlm. 228), hal-hal yang
menafikan kesabaran adalah rasa kesal dalam kalbu, berkeluh kesah dengan
lisan kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, dan melakukan perbuatan
maksiat, seperti menampar-nampar pipi, merobek-robek baju,
mencabut-cabut rambut, dan yang semisalnya.
Bagaimana halnya dengan berkeluh kesah
kepada Allah Subhanahu wata’ala, apakah menafikan kesabaran? Berkeluh
kesah kepada Allah Subhanahu wata’ala, tidak menafikan kesabaran. Hal
ini sebagaimana yang terjadi pada diri Nabi Ya’qub q yang berkeluh kesah
kepada Allah Subhanahu wata’ala,
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Ya’qub menjawab, ‘Sesungguhnya hanyalah
kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku
mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya’.” (Yusuf: 86)
Meski demikian, Allah Subhanahu wata’ala menyitir ucapan Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam yang lainnya,
فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَن يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Maka kesabaran yang baik itulah
(kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya
kepadaku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”
(Yusuf: 83)
Adapun menyampaikan kesulitan yang
dihadapi (curhat) kepada makhluk, jika untuk meminta bimbingan dan
bantuan untuk menghilangkan kesulitan tersebut, tidak menafikan
kesabaran. Misalnya, keluhan pasien kepada dokter, orang yang dizalimi
kepada seseorang yang dapat membelanya, atau curhat seseorang yang
sedang mengalami problem kepada orang lain yang diharapkan bisa
memberikan solusinya.
Bagaimanakah dengan rintihan di kala
sakit? Menurut al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah dalam Uddatush
Shabirin (hlm. 229), rintihan di kala sakit ada dua macam; rintihan yang
mengandung keluh kesah maka hukumnya makruh, sedangkan rintihan untuk
melepas kegundahan dan menghibur diri maka tidak mengapa.
Wallahu a’lam.
Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin SulaimiMendulang Kesabaran dari Kitab Suci Al-Qur’an
Sabar merupakan budi pekerti luhur
yang sering disebut dalam Kitab Suci al-Qur’an. Lebih dari sembilan
puluh kali perihal sabar diangkat dalam kitab suci yang mulia itu.
Demikianlah penuturan al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahumallah. Sabar
merupakan setengah dari iman. Setengah berikutnya adalah syukur. Umat
Islam sepakat bahwa sabar merupakan kewajiban bagi setiap insan. Di
dalam Kitab Suci al-Qur’an, ada enam belas bentuk pemaparan tentang
sabar.
1. Perintah untuk bersabar.
Firman Allah Subhanahu wata’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman,
bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap
siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah, supaya
kalian beruntung.” (Ali Imran: 200)
2. Larangan melakukan lawan dari kesabaran.
Firman Allah Subhanahu wata’ala,
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ
“Maka bersabarlah kamu seperti kesabaran
orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari kalangan rasul-rasul dan
janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (al-Ahqaf: 35)
3. Pujian Allah Subhanahu wata’ala terhadap pelaku kesabaran.
Firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَالصَّابِرِينَ
فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ
صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang
yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
(al-Baqarah: 177)
4. Kecintaan Allah Subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang bersabar.
Firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)
5. Meraih kebersamaan Allah Subhanahu wata’ala yang bersifat khusus, berupa pertolongan-Nya, pembelaan-Nya, dan penjagaan-Nya.
Firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“ Dan bersabarlah kalian , sesungguhnya Allah bersama orangorang yang sabar.” (al-Anfal: 46)
6. Berita dari Allah Subhanahu wata’ala bahwa kesabaran itu lebih baik bagi para pelakunya.
Firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ
“Akan tetapi, jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (an- Nahl: 126)
7. Pemberian balasan pahala yang terbaik kepada para pelaku kesabaran.
Firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya Kami akan memberi balasan
kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa
yang telah mereka kerjakan.” (an- Nahl: 96)
8. Mendapat balasan pahala tanpa batas.
Firman Allah Subhanahu wata’ala,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10)
9. Adanya kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.
Firman Allah Subhanahu wata’ala
وَلَنَبْلُوَنَّكُم
بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ
وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan
kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,
jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang
yang sabar.” (al-Baqarah: 155)
10. Jaminan pertolongan dan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala untuk orangorang yang bersabar.
Firman Allah Subhanahu wata’ala,
بَلَىٰ
ۚ إِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا
يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ
مُسَوِّمِينَ
“Ya (cukup), jika kalian bersabar dan
bersiap siaga, dan mereka datang menyerang kalian dengan seketika itu
juga, niscaya Allah menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang
memakai tanda.” (Ali Imran: 125)
11. Penegasan dari Allah Subhanahu wata’ala bahwa para pelaku kesabaran adalah orang-orang yang mempunyai keutamaan besar.
Firman Allah Subhanahu wata’ala
وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Tetapi orang yang bersabar dan
memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal
yang diutamakan.” (asy-Syura: 43)
12. Penegasan dari Allah
Subhanahu wata’ala bahwa tidak ada yang mampu melakukan amalan saleh dan
meraih balasan yang tinggi serta keutamaan yang agung melainkan
orang-orang yang sabar.
Firman Allah Subhanahu wata’ala
وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
“Kecelakaan yang besarlah bagi kalian,
pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal
saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang- orang yang
sabar.” (al-Qashash: 80)
13. Penegasan dari
Allah Subhanahu wata’ala bahwa orang-orang yang mampu meresapi ayat-ayat
Allah Subhanahu wata’ala dan mengambil pengajaran darinya adalah para
pelaku kesabaran.
Firman Allah Subhanahu wata’ala,
فَقَالُوا
رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ
فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِي
ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
“Mereka berkata, ‘Ya Rabb kami,
jauhkanlah jarak perjalanan kami’, dan mereka menganiaya diri mereka
sendiri; maka Kami jadikan mereka buah bibir dan Kami hancurkan mereka
sehancurhancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tandatanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi
bersyukur.” (Saba’: 19)
14. Penegasan dari
Allah Subhanahu wata’ala bahwa kesuksesan yang dicari, keselamatan dari
marabahaya, dan masuk ke dalam al-jannah (surga), tidaklah diraih
melainkan dengan kesabaran.
Firman Allah Subhanahu wata’ala
جَنَّاتُ
عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ
وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ
بَابٍ () سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“(Yaitu) Surga Aden yang mereka masuk ke
dalamnya bersama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapak mereka,
istri-istri mereka dan anak cucu mereka, sedangkan malaikat-malaikat
masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan),
‘Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atas kalian berkat
kesabaran kalian).’ Alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (ar-Ra’ad:
23—24)
15. Kesabaran mewariskan kepemimpinan bagi pelakunya.
Firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika
mereka sabar, dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (as-Sajdah: 24)
16. Sabar sering disebutkan secara beriringan dengan amalanamalan yang mulia dalam Islam. Di antaranya sebagai berikut,
• Beriringan dengan keyakinan yang teguh, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika
mereka sabar, dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (as-Sajdah: 24)
• Beriringan dengan ketakwaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ
“Jika kamu bersabar dan bertakwa,
niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan
kepadamu.” (Ali Imran: 120)
• Beriringan dengan tawakal, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,
نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ () الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Itulah sebaik-baik pembalasan bagi
orang-orang yang beramal. (Yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada
Rabb mereka.” (al-Ankabut: 58—59)
• Beriringan dengan syukur, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
“Sesungguhnya pada hal itu benar benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi
bersyukur.” (Saba: 19)
• Beriringan dengan amal saleh, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,
إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
“Kecuali orang-orang yang sabar
(terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu
mendapatkan ampunan dan pahala yang besar.” (Hud: 11)
• Beriringan dengan kasih sayang, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
ﯨ ﯩ
“Dia (tidak pula) termasuk orangorang
yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan
untuk berkasih-sayang.” (al-Balad: 17)
(Diringkas dari kitab Madarijus Salikin karya al-Imam Ibnul Qayyim 2/152— 155, dengan beberapa tambahan)
Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin SulaimiMemupuk Diri di Atas Kesabaran
Sabar adalah anugerah besar dari Allah Subhanahu wata’ala. Siapa yang meraihnya berarti telah mendapatkan sesuatu yang besar dalam hidupnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِنْ عَطَاءٍ خَيْرٌ وَأَوْسَعُ مِنَ الصَّبْرِ
“Tidak ada sebuah anugerah yang lebih baik dan lebih besar bagi seseorang daripada kesabaran.” (HR. Muslim no. 1053, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dengan kesabaran, kami dapat merasakan nikmatnya kehidupan.” (Shahih al-Bukhari, bab “Ash-Shabru ‘an Maharimillah”)
Betapa mulianya orang-orang yang bersabar manakala Allah Subhanahu wata’ala berseru untuk mereka,
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (al-Baqarah: 155)
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang
mendapatkan berkah yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka (Allah),
dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (dari Allah, pen.).” (al-Baqarah: 157)
Tak mengherankan apabila Allah Subhanahu wata’ala memerintah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia dan segenap kaum mukminin untuk senantiasa bersabar. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَاصْبِرْ
نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ
يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن
ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu bersama- Meraih
Kebahagian dengan Kesabaran sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb
mereka di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan
janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan
perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya
telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya
dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (al-Kahfi: 28)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman,
bersabarlah kalian, kuatkanlah kesabaran kalian, tetaplah bersiap siaga
(di perbatasan negeri kalian), dan bertakwalah kepada Allah, supaya
kalian beruntung.” (Ali Imran: 200)
Dengan demikian, memupuk diri di atas kesabaran merupakan kewajiban bagi kita semua. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah,
seorang imam besar yang hidupnya diliputi kesabaran, meninggalkan
mutiara kata untuk kita tentang titian menuju kesabaran dalam kitab
beliau yang indah, Qaidah fish Shabri (hlm. 94—103).
Mutiara kata yang sangat berharga
sebagai bekal untuk memupuk diri di atas kesabaran. Berikut ini
ringkasan dan intisari dari mutiara kata tersebut, semoga benarbenar
menjadi titian indah bagi diri kita untuk menuju kesabaran.
1. Meyakini bahwa segala musibah yang menimpa adalah kehendak Allah Subhanahu wata’ala Pencipta alam semesta, sedangkan diri ini hanyalah hamba-Nya yang berada dalam kehendak dan ketentuan-Nya.
2. Meyakini bahwa musibah yang menimpa
adalah akibat dari perbuatan dosa yang dilakukan. Dengan demikian,
dirinya akan terpalingkan dari kesedihan (terhibur) dengan bertobat dan
memperbanyak istighfar.
3. Meyakini bahwa pahala yang besar akan diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya yang bersabar dan berlapang dada.
4. Meyakini bahwa sikap memaafkan dan
berbuat baik kepada orang lain akan mewariskan jiwa yang bersih,
menghilangkan sifat curang, licik, dendam, dan keinginan untuk berbuat
jelek.
5. Meyakini bahwa tidaklah seseorang melakukan balas dendam untuk dirinya melainkan Allah Subhanahu wata’ala akan menghinakannya, dan tidaklah seseorang memaafkan orang lain melainkan Allah Subhanahu wata’ala akan memuliakannya.
6. Meyakini bahwa kejelekan yang
menimpanya adalah balasan atas kezaliman yang pernah dilakukan, dan
meyakini pula bahwa siapa yang memaafkan orang lain niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memaafkannya dan siapa yang memohon ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala maka Dia Subhanahu wata’ala akan mengampuninya.
7. Menyadari bahwa seseorang yang
tersibukkan dengan membalas kejelekan yang ditujukan kepadanya akan
habis waktu dan pikirannya untuk itu. Bahkan, banyak kemaslahatan yang
terlewatkan darinya karenanya.
8. Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak pernah membalas dendam untuk diri beliau.
9. Meyakini bahwa siapa yang disakiti karena menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan meninggalkan perbuatan maksiat, lantas bersabar dan tidak membalasnya, ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah Subhanahu wata’ala.
10. Meyakini bahwa kebersamaan AllahS ubhanahu wata’ala
yang bersifat khusus (pertolongan dan pembelaan-Nya), kecintaan-Nya,
dan keridhaan-Nya, akan selalu menyertai hamba-Nya yang bersabar.
11. Meyakini bahwa sabar adalah setengah
dari keimanan, sehingga ia tidak rela apabila setengah dari keimanannya
menjadi korban untuk membela dirinya. Justru dengan bersabar, keutuhan
imannya akan senantiasa terpelihara.
12. Meyakini bahwa kesabaran yang dilakukan merupakan pendidikan dan pelatihan terhadap jiwa.
13. Meyakini bahwa siapa yang bersabar pasti akan ditolong oleh Allah Subhanahu wata’ala.
14. Meyakini bahwa sikap sabar yang
dilakukan terhadap orang yang berbuat zalim justru akan menghentikan
kezaliman tersebut. Berikutnya, akan muncul celaan dari orang-orang
terhadap si pelaku kezaliman tadi, sehingga membuatnya malu dan
menyesali perbuatannya. Bahkan, bisa jadi dia akan menjadi kawan dekat
di kemudian hari.
15. Membalas kezaliman yang ada
terkadang dapat membuat lawan semakin semena-mena. Dalam kondisi semacam
ini, yang diutamakan adalah bersabar dan tidak membalasnya. Betapa
banyak pembalasan yang dilakukan justru mengakibatkan kerugian besar
pada jiwa, harta, dan kedudukan.
16. Orang yang selalu berambisi untuk
membalas kejelekan yang ditujukan kepadanya dan tak bisa bersabar
darinya pasti akan terjatuh pula ke dalam perbuatan zalim. Sebab, jiwa
manusia seringkali berlebihan sehingga melampaui batas-batas keadilan
dan tidak dapat menimbang dengan baik haknya yang harus didapatkan.
17. Meyakini bahwa bersabar terhadap kezaliman menjadi sebab diampuninya kesalahan dan diangkatnya derajat.
18. Sikap memaafkan dan sabar merupakan
bala tentara seseorang yang paling tangguh untuk menundukkan lawannya.
Seorang yang memaafkan dan bersabar akan disegani dan ditakuti oleh
musuhnya. Lebih dari itu, orang lain akan membelanya walaupun dia
berdiam diri.
19. Ketika seseorang memaafkan lawannya,
akan tertanam keyakinan pada diri lawan tersebut bahwa dia (orang yang
memaafkannya itu) berada pada sebuah tingkatan yang lebih tinggi
darinya.
20. Sikap memaafkan adalah amal kebaikan
yang akan mewariskan kebaikan-kebaikan lainnya. Demikianlah beberapa
titian menuju kesabaran, semoga menjadi bekal utama bagi kita untuk
memupuk diri di atas kesabaran.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
“Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (al-A’raf: 126)
Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin SulaimiBersabar di Atas Kebenaran Kewajiban Insan yang Beriman
Kebenaran adalah mutiara kehidupan yang sangat berharga bagi setiap
insan. Titian jalannya mengantarkan kepada kebahagiaan. Keberadaannya
di tengah kehidupan, laksana pelita dalam kegelapan. Cahayanya
terang-benderang menerangi loronglorong kehidupan sepanjang zaman.
Berpegang teguh dengannya adalah kemuliaan, sedangkan mengabaikannya
adalah kebinasaan. Kebenaran adalah anugerah agung dari Allah Subhanahu wata’ala untuk para hamba-Nya yang beriman. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
Kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wata’ala itu tercermin pada agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan diterapkan oleh para sahabat yang mulia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala menyeru seluruh umat manusia untuk mengikuti kebenaran tersebut dengan sebaikbaiknya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
Tak terlewatkan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), Allah Subhanahu wata’ala menyeru mereka kepada kebenaran tersebut yang sekaligus sebagai peringatan bahwa jalan hidup yang mereka tempuh selama ini adalah batil. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kebenaran itu bukan akal, bukan rajutan hawa nafsu, dan bukan pula budaya warisan leluhur. Kebenaran adalah agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan diterapkan oleh para sahabat yang mulia. Itulah jalan hidup (manhaj) yang penuh berkah dan diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Jalan hidup yang dicatat oleh para ulama dengan sebutan manhaj salaf. Barang siapa mengikuti manhaj tersebut dengan baik kemudian istiqamah di atasnya, niscaya akan beruntung hidupnya di dunia dan di akhirat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
Konsekuensi Kebenaran
Mengetahui kebenaran, mengikutinya, dan istiqamah di atasnya menghadirkan konsekuensi besar dalam kehidupan. Secara sunnatullah, siapa saja yang mengetahui kebenaran, mengikutinya, dan istiqamah di atasnya pasti akan mendapatkan ujian dan cobaan. Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman,
Ujian dan cobaan itu pun beragam bentuknya. Terkadang dalam bentuk keburukan dan terkadang pula dalam bentuk kebaikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah berkata, “Maksudnya, Kami (Allah Subhanahu wata’ala) akan menguji kalian, kadang dengan musibah dan kadang dengan kenikmatan, untuk Kami nilai siapa yang bersyukur dan siapa pula yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa pula yang berputus asa. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‘Maksud dari ayat (yang artinya) [Kami akan menguji kalian] adalah Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kelapangan, sehat dan sakit, kecukupan dan kemiskinan, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan…’.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Ketika Ujian & Cobaan Menerpa
Sesungguhnya, ragam ujian dan cobaan dalam kehidupan beragama telah lama ada. Para rasul terdahulu dan umatnya yang beriman benar-benar telah mengalami beragam ujian dan cobaan tersebut. Karena itu, ketika ujian dan cobaan menerpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, datanglah berita dari langit menghibur mereka semua. Di antaranya firman Allah Subhanahu wata’ala,
Tak jarang pula, Allah Subhanahu wata’ala memberitakan tentang ujian dan cobaan yang menerpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, sebagai teladan dalam kesabaran sekaligus sebagai hiburan bagi orang-orang yang berteguh diri di atas kebenaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepada kalian ketika datang kepada kalian tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kalian melihatnya, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (kalian) dan hati kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hati mereka) dengan goncangan yang dahsyat.” (al- Ahzab: 9—11)
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa ragam ujian dan cobaan pasti menerpa kehidupan orang yang beriman. Tiada bimbingan ilahi dalam menghadapi ragam ujian dan cobaan itu kecuali dengan bersabar di atasnya meski sadar sepenuhnya bahwa hal itu sangat berat dilakukan. Goncangan hati dan dentuman urat saraf benar benar menegangkan.
Namun, itulah hikmah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wata’ala Dzat Yang Maha Penyayang. Karena itu, balasan yang mulia Allah Subhanahu wata’ala peruntukkan bagi hamba-Nya yang bersabar di atas kebenaran itu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),
“Dan Dia (Allah) memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (berupa) surga dan (pakaian) sutra. Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang menggigit. Naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkanmemetiknya semudah-mudahnya. Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe, (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda, apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengiramereka adalah mutiara yang bertaburan. Apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikann kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untuk kalian, dan usaha kalian adalah disyukuri (diberi balasan).” (al-Insan: 12—22)
Demikianlah buah kesabaran. Buah yang tangkainya dihiasi bunga-bunga yang indah. Tiada seindah kata yang patut diucapkan melainkan lantunan doa,
Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi
الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
“Kebenaran itu (datang) dari Rabbmu, karena itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (al-Baqarah: 147)Kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wata’ala itu tercermin pada agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan diterapkan oleh para sahabat yang mulia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Dialah (Allah Subhanahu wata’ala) yang telah
mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar, agar
Allah memenangkan agama tersebut atas semua agama yang ada, walaupun
orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (ash-Shaff: 9)
وَمَن
يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ
وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan
mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman1, Kami biarkan ia
leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(an-Nisa’: 115)Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
سَتَفْتَرِقُ
أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثَةٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ
إِلاَّ وَاحِدَةً. قِيلَ: مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ الَّهلِ؟ قَالَ: مَا أَنَا
عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ
“Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk
neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya, ‘Siapakah dia wahai
Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Golongan) yang berada di atas jalan
hidup (manhaj) yang aku dan para sahabatku berada’.” (HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya; “Kitabul Iman”, bab “Iftiraqul Hadzihil Ummah”, dari ‘Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhu)Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
فَإِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا،
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْرَّاشِدِيْنَ
الْمَهْدِيِيْنَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku
nanti, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak (dalam memahami
agama ini). Maka dari itu, kalian wajib berpegang teguh dengan sunnah
(bimbingan)ku dan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin yang terbimbing.
Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian (maksudnya, berpeganglah
erat-erat dengannya, –pen.)… (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Darimi, Ibnu Majah, dan yang lainnya dari al- ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Lihat Irwaul Ghalil, hadits no. 2455)Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala menyeru seluruh umat manusia untuk mengikuti kebenaran tersebut dengan sebaikbaiknya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِن رَّبِّكُمْ
فَآمِنُوا خَيْرًا لَّكُمْ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu
kepada kalian dengan (membawa) kebenaran dari Rabb kalian maka
berimanlah kalian, itulah yang lebih baik bagi kalian. Jika kalian
kafir, (kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena
sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah,
dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa’: 170)Tak terlewatkan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), Allah Subhanahu wata’ala menyeru mereka kepada kebenaran tersebut yang sekaligus sebagai peringatan bahwa jalan hidup yang mereka tempuh selama ini adalah batil. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
يَا
أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا
مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ۚ قَدْ
جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ () يَهْدِي بِهِ اللَّهُ
مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ
الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ
مُّسْتَقِيمٍ
“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami,
menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan
dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada
kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan
kitab itulah Allah menunjuki orang-orangyang mengikuti keridhaan-Nya
kepada Meraih Kebahagian dengan Kesabaran jalan keselamatan. Dan (dengan
kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan
menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki
mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kebenaran itu bukan akal, bukan rajutan hawa nafsu, dan bukan pula budaya warisan leluhur. Kebenaran adalah agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan diterapkan oleh para sahabat yang mulia. Itulah jalan hidup (manhaj) yang penuh berkah dan diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Jalan hidup yang dicatat oleh para ulama dengan sebutan manhaj salaf. Barang siapa mengikuti manhaj tersebut dengan baik kemudian istiqamah di atasnya, niscaya akan beruntung hidupnya di dunia dan di akhirat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
الَّذِينَ
يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ
مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم
بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ
الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ
إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ
آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي
أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti rasul, nabi yang ummi yang
(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di
sisi mereka, menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf (baik), melarang
mereka dari mengerjakan yang mungkar (buruk), menghalalkan bagi mereka
segala yang baik, mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, serta
membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada
mereka. Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya,
dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an),
mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raf: 157)
وَالسَّابِقُونَ
الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ
اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari
kalangan sahabat Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha
kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga (al-Jannah)
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya.
Itulah kesuksesan yang agung.” (at-Taubah: 100)Konsekuensi Kebenaran
Mengetahui kebenaran, mengikutinya, dan istiqamah di atasnya menghadirkan konsekuensi besar dalam kehidupan. Secara sunnatullah, siapa saja yang mengetahui kebenaran, mengikutinya, dan istiqamah di atasnya pasti akan mendapatkan ujian dan cobaan. Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman,
الم () أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُو
Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, “Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” (al-‘Ankabut: 1—2)Ujian dan cobaan itu pun beragam bentuknya. Terkadang dalam bentuk keburukan dan terkadang pula dalam bentuk kebaikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji
kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah berkata, “Maksudnya, Kami (Allah Subhanahu wata’ala) akan menguji kalian, kadang dengan musibah dan kadang dengan kenikmatan, untuk Kami nilai siapa yang bersyukur dan siapa pula yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa pula yang berputus asa. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‘Maksud dari ayat (yang artinya) [Kami akan menguji kalian] adalah Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kelapangan, sehat dan sakit, kecukupan dan kemiskinan, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan…’.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Ketika Ujian & Cobaan Menerpa
Sesungguhnya, ragam ujian dan cobaan dalam kehidupan beragama telah lama ada. Para rasul terdahulu dan umatnya yang beriman benar-benar telah mengalami beragam ujian dan cobaan tersebut. Karena itu, ketika ujian dan cobaan menerpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, datanglah berita dari langit menghibur mereka semua. Di antaranya firman Allah Subhanahu wata’ala,
قَدْ
نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ ۖ فَإِنَّهُمْ لَا
يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ ()
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا
وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ
اللَّهِ ۚ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِن نَّبَإِ الْمُرْسَلِينَ
“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu
menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka
sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim
itu mengingkari ayat-ayat Allah. Sesungguhnya telah didustakan (pula)
rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan
dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang
pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah
kalimat-kalimat (janjijanji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang
kepadamu sebagian dari beritan rasul-rasul itu.” (al-An’am: 33—34)
أَمْ
حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ
الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ
وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ
آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ
قَرِيبٌ
“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang
kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum
kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta
digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul
dan orangorang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan
Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (al-Baqarah: 214)Tak jarang pula, Allah Subhanahu wata’ala memberitakan tentang ujian dan cobaan yang menerpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, sebagai teladan dalam kesabaran sekaligus sebagai hiburan bagi orang-orang yang berteguh diri di atas kebenaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepada kalian ketika datang kepada kalian tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kalian melihatnya, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (kalian) dan hati kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hati mereka) dengan goncangan yang dahsyat.” (al- Ahzab: 9—11)
الَّذِينَ
اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِن بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ () الَّذِينَ
قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ
فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ ()
فَانقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ
وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ
“(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya
sesudah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). bagi orang-orang yang
berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang
besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada
mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia (kafir
Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu
takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu justru membuat keimanan
mereka bertambah lalu mereka pun menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi
penolong Kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’ Maka mereka
kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak
mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah, dan Allah
mempunyai karunia yang besar.” (Ali Imran: 172—174)Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa ragam ujian dan cobaan pasti menerpa kehidupan orang yang beriman. Tiada bimbingan ilahi dalam menghadapi ragam ujian dan cobaan itu kecuali dengan bersabar di atasnya meski sadar sepenuhnya bahwa hal itu sangat berat dilakukan. Goncangan hati dan dentuman urat saraf benar benar menegangkan.
Namun, itulah hikmah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wata’ala Dzat Yang Maha Penyayang. Karena itu, balasan yang mulia Allah Subhanahu wata’ala peruntukkan bagi hamba-Nya yang bersabar di atas kebenaran itu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),
“Dan Dia (Allah) memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (berupa) surga dan (pakaian) sutra. Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang menggigit. Naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkanmemetiknya semudah-mudahnya. Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe, (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda, apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengiramereka adalah mutiara yang bertaburan. Apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikann kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untuk kalian, dan usaha kalian adalah disyukuri (diberi balasan).” (al-Insan: 12—22)
Demikianlah buah kesabaran. Buah yang tangkainya dihiasi bunga-bunga yang indah. Tiada seindah kata yang patut diucapkan melainkan lantunan doa,
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami dari orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 250)Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi
Menengok Kesabaran Diri Kala Ujian dan Cobaan Menerpa
Tak ada jalan yang tak berkelok Tak
ada lautan yang tak berombak. Tak ada ladang yang tak beronak. Di mana
ada kehidupan pasti di situ ada ujian dan cobaan. Demikianlah sekelumit
tentang sketsa kehidupan dunia yang fana ini. Allah Subhanahu wata’ala menjadikannya sebagai medan tempaan (darul ibtila’), untuk menguji kualitas kesabaran dan penghambaan segenap hamba-Nya.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala
menguji hamba-Nya yang beriman tidak untuk membinasakannya, tetapi
untuk menguji sejauh manakah kesabaran dan penghambaannya. Sebab,
sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala wajib diibadahi dalam kondisi sulit dan dalam hal-hal yang tidak disukai (oleh jiwa), sebagaimana pula Dia Subhanahu wata’ala wajib diibadahi dalam hal-hal yang disukai. Kebanyakan orang siap mempersembahkan penghambaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala
dalam hal-hal yang disukainya. Karena itu, perhatikanlah penghambaan
kepada-Nya dalam hal-hal yang tak disukai. Sebab, di situlah letak
perbedaan yang membedakan kualitas para hamba. Kedudukan mereka di sisi
Allah Subhanahu wata’ala pun sangat bergantung pada perbedaan kualitas tersebut.” (al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 5)
Ujian dan Cobaan dalam Ranah Kehidupan Beragama
Setiap muslim sejati tentu menyadari
bahwa ragam ujian dan cobaan pasti menerpa kehidupannya. Tiada bimbingan
ilahi dalam menghadapi ragam ujian dancobaan itu melainkan dengan
bersabar atasnya meski disadari bahwa kesabaran itu sangat berat
dilakukan. Namun, itulah hikmah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wata’ala
Dzat Yang Maharahman. Dalam ranah kehidupan beragama, ada tiga jenis
ujian dan cobaan yang tak mungkin seorang muslim lepas darinya.
Bagaimana pun situasi dan kondisinya, pasti dia akan menghadapinya. Tiga
jenis ujian dan cobaan itu adalah sebagai berikut,
1. Perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala yang wajib ditaati.
2. Larangan-larangan Allah Subhanahu wata’ala (kemaksiatan) yang wajib dijauhi.
3. Musibah yang menimpa (takdir buruk).
Para ulama sepakat bahwa senjata utama untuk menghadapi tiga jenis ujian dan cobaan itu adalah kesabaran, yaitu;
1. Sabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya Subhanahu wata’ala.
2. Sabar dari perbuatan maksiat, dengan selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala.
3. Sabar atas segala musibah yang menimpa dengan diiringi sikap ikhlas dan ridha terhadap takdir yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala. (Lihat Qa’idah fish Shabr karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [hlm. 90—91], Syarh Shahih Muslim karya al-Hafizh an-Nawawi [3/101], dan Madarijus Salikin [2/156], dll.)
Sejauh manakah kesabaran dan penghambaan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala terkait dengan tiga jenis ujian dan cobaan itu? Sudahkah kita bersabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya?
Sudahkah kita bersabar dari perbuatan maksiat dengan selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala? Sudahkah kita bersabar atas segala musibah yang menimpa dengan ikhlas dan ridha terhadap takdir yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala?
Marilah kita menengok kesabaran diri masing-masing. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menutupi segala kekurangan kita dan mengampuni segala kesalahan kita. Wallahul musta’an.
Dalam menjalani kehidupan beragama,
setiap muslim tak bisa dipisahkan dengan lingkungan tempat hidupnya.
Lingkungan yang bersifat majemuk baik dari sisi karakter, latar belakang
keluarga dan pendidikan, maupun pemahaman agama. Di situlah seorang
muslim akan diberi ujian dan cobaan oleh Allah Subhanahu wata’ala terkait dengan tiga jenis kesabaran di atas. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
الم () أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُو
“Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” (al-‘Ankabut: 1—2)
Ujian dan cobaan itu pun beragam bentuknya. Terkadang dalam bentuk keburukan dan terkadang pula dalam bentuk kebaikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan
“Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, ‘Kami telah
beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)
Di antara ujian dan cobaan itu adalah
adanya orang-orang jahat yang tidak suka terhadap orang-orang yang
istiqamah di atas jalan kebenaran. Mereka mencela, menghina, mencibir,
bahkan memusuhi orang-orang yang istiqamah itu. Kondisi semacam ini
bahkan telah dialami oleh para nabi terdahulu yang mulia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا
“Dan seperti itulah, telah Kami
adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dariorang-orang yang berdosa. Cukuplah
Rabb-mu sebagai pemberi petunjuk dan penolong.” (al-Furqan: 31)
Maka dari itu, siapa saja dari hamba Allah Subhanahu wata’ala
, baik muslim maupun muslimah yang berupaya istiqamah, dengan meniti
jejak Rasulullah n dan para sahabatnya (bermanhaj salaf) akan mengalami
ujian terkait dengan keistiqamahannya itu. Tudingan sok alim, eksklusif,
merasa benar sendiri, bertentangan dengan adat dan tradisi masyarakat,
teroris, dan ujung-ujungnya vonis sesat, kerap kali menerpa. Semua itu
Allah Subhanahu wata’ala tetapkan untuk menguji kesabaran para hamba- Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا
“Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain, maukah kalian bersabar? Dan adalah Rabb-mu Maha Melihat.” (al-Furqan: 20)
Dengan demikian, tiada jalan keselamatan
dari segala ujian itu selain bersabar di atas kebenaran dengan
mengedepankan sikap ilmiah, berpijak di atas hikmah, tidak mengedepankan
hawa nafsu ataupun perasaan, penuh kehatihatian dalam menilai dan
melangkah (ta’anni), tidak mudah bereaksi, dan tidak serampangan bertindak. Tentu saja, tidak lupa memohon pertolongan dari Allah Subhanahu wata’ala Penguasa alam semesta dan berkonsultasi dengan para ulama yang mulia.
Satu hal penting yang patut dicatat,
patokan kebenaran bukanlah banyaknya\ jumlah pengikut atau orang yang
mengerjakan sebuah amalan. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata,
“Di antara prinsip kaum jahiliah adalah menilai kebenaran dengan jumlah
mayoritas dan kesalahan dengan jumlah minoritas. Jadi, segala sesuatu
yang diikuti kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti
segelintir orang berarti salah. Inilah patokan mereka dalam hal menilai
kebenaran dan kesalahan. Padahal patokan tersebut tidak benar, karena
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَإِن
تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن
يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
“Dan jika kamu menuruti mayoritas
orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu
dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan
belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (al-An’am: 116)
وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Tetapi mayoritas manusia itu tidak mengetahui.” (al-A’raf: 187)
وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِم مِّنْ عَهْدٍ ۖ وَإِن وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ
“Dan Kami tidak mendapati mayoritas
mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka
orangorang yang fasik.” (al-A’raf: 102)
dan sebagainya.” (Syarh Masail al-Jahiliyah, hlm. 60)
Dari keterangan di atas dapat
disimpulkan bahwa sedikitnya pengikut suatu dakwah, tidak lazimnya cara
ibadah yang dilakukan (tidak seperti kebanyakan orang), atau penampilan
yang berbeda dengan keumuman, bukanlah alasan untuk memvonis salah atau
sesatnya sebuah dakwah, lebih-lebih manakala dakwah tersebut berpijak di
atas bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para
sahabatnya. Bukankah dakwah para rasul yang mulia—di awal kemunculannya—
tidak umum dan tidak lazim di mata kaumnya?! Bukankah tidak sedikit
dari para rasul tersebut yang dimusuhi dan ditentang dakwahnya? Sebagian
mereka hanya diikuti oleh segelintir orang, bahkan sebagian lainnya
tidak mempunyai pengikut! Namun, itu semua tak mengurangi nilai dakwah
yang mereka emban dan tak menjadikan dakwah mereka divonis salah atau
sesat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ
“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (Hud: 40)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عُرِضَتْ
عَلَيَّ اْلأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ،
وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ
مَعَهُ أَحَدٌ
“Telah ditampakkan kepadaku beberapa
umat, maka aku melihat seorang nabi yang bersamanya kurang dari 10
orang, seorang nabi yang bersamanya satu atau dua orang, dan seorang
nabi yang tidak ada seorang pun yang bersamanya.” (HR. al-Bukhari no. 5705, 5752, dan Muslim no. 220, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu)
Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alusy Syaikh rahimahumallah
berkata, “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang yang
berdalil dengan hukum mayoritas dan beranggapan bahwa kebenaran itu
selalu bersama jumlah yang banyak. Padahal tidaklah demikian adanya.
Yang semestinya adalah seseorang mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah
bersama siapa saja dan di mana saja.” (Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm.106)
Fenomena Syahwat dan Syubhat
Di era globalisasi modern ini, syahwat
dan syubhat menjadi ujian tersendiri bagi setiap muslim yang istiqamah
di atas kebenaran. Ragam ujian itu pun benar-benar membutuhkan
perjuangan dan kesabaran yang sangat tinggi. Godaan syahwat demikian
gencarnya menerpa iman dan jiwa seseorang. Wanita dengan berbagai model
dan aksen selalu mengiringi derap langkah manusia sepanjang zaman.
Penampilan yang norak dan pakaian serba minim telah merambah putri-putri
kaum muslimin.
Tak hanya kawula muda, para ibu rumah
tangga sekalipun tak luput darinya. Akibatnya, mental dan rasa malunya
setahap demi setahap terkikis seiring dengan lajunya arus modernisasi.
Tak mengherankan apabila mereka menjadi ikon utama dalam dunia iklan,
baik di media cetak maupun media elektronik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku sebuah godaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2741, dari Usamah bin Zaid rahimahumallah)
Betapa banyak para pemuda yang tak bisa
bersabar terhadap godaan wanita. Betapa banyak para suami yang tak mampu
bersabar di atas ketaatan karena godaan sang istri. Enggan untuk
istiqamah karena tak disetujui oleh istri. Tak mau hadir di
majelis-majelis taklim karena “takut” dengan istri. Bahkan, terkadang ia
siap melakukan perbuatan maksiat; wirausaha dengan cara yang haram,
mencuri, merampok, menipu, dan semisalnya demi memenuhi tuntutanistri.
Dunia dan akhiratnya rusak akibat godaan wanita. Wallahul musta’an.
Di antara godaan syahwat yang juga
berbahaya bagi kehidupan beragama seorang muslim adalah harta. Slogan
“waktu adalah uang” menjadi prinsip hidup sebagian orang. Berpegang
teguh dengan agama akan mewariskan kemiskinan dan kesengsaraan, dianggap
suatu keniscayaan. Tak mengherankan apabila sebagian orang ada yang
menjadikan harta sebagai tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan.
Fenomena ini sungguh telah terjadi pada diri Qarun, seorang konglomerat
di masa Nabi Musa ‘Alaihissalam yang dibinasakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Menurut Qarun, limpahan harta yang ada pada dirinya merupakan bukti kesuksesan dan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala kepadanya, sedangkan Nabi Musa q dan yang bersamanya tidak mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wata’ala karena tak sukses dari sisi harta. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala membantah persangkaan Qarun yang batil itu dengan firman-Nya Subhanahu wata’ala,
أَوَلَمْ
يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ
هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن
ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ
“Apakah dia tidak mengetahui bahwa
Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat
daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu
ditanya kepada orang-orang yang jahat itu tentang dosa-dosa mereka.” (al-Qashash: 78)
Ujian harta ternyata tidak hanya menerpa
orang awam atau anak jalanan semata, tetapi orang berilmu pun nyaris
terancam manakala orientasi hidupnya adalah dunia. Di mana ada “lahan
basah” dia pun ada di sana, walaupun harus mengikuti keinginan big boss-nya yang
kerap kali tak sesuai dengan syariat dan hati nuraninya. Syahdan,
ketika hawa nafsu telah membelenggu fitrah sucinya, ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala
(agama) dia jual dengan harga yang murah dan manhaj (prinsip agamanya)
pun dia korbankan demi meraih kelayakan hidup atau kemapanan ekonomi.
Dengan tegas Allah Subhanahu wata’ala memperingatkan orang-orang berilmu dari perbuatan yang tercela itu, sebagaimana firman-Nya,
إِنَّ
الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ
بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ
إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا
يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ () أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا
الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا
أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ
“Sesungguhnya orang-orang yang
menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab dan
menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya
tidak memakan (tidak menelan) ke dalamperutnya melainkan api. Allah
tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan
mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih. Mereka itulah
orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan (membeli) siksa
dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menghadapi api neraka!” (al-Baqarah: 174—175)
Ada hal penting yang patut diperhatikan.
Sikap selektif dan sensitif dalam mendapatkan harta harus selalu
dimiliki oleh setiap muslim, baik untuk kehidupan pribadi maupun
kepentingan dakwahnya. Tidak asal comot. Tidak pula pakai prinsip “aji
mumpung”. Mumpung ada dana, diterima sajalah!? Tanpa mencermati dari
mana datangnya dana tersebut, apa latar belakangnya, dan apa pula efek
setelah mendapatkannya, baik yang berkaitan dengan dirinya maupun dakwah
secara umum.
Langkah-langkah di atas seyogianya
ditempuh oleh setiap muslim sekalipun dana tersebut berasal dari
lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau bahkan yang
mengatasnamakan Ahlus Sunnah. Betapa banyak lembaga/yayasan yang
bergerak di bidang keagamaan atau yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah,
realitasnya jauh panggang dari api. Sudahkah kita bersabar menghadapi
kondisi yang semacam ini? Marilah kita menengok kesabaran diri,
mudahmudahan taufik dan inayah Allah Subhanahu wata’ala selalu bersama kita. Amiin…
Adapun godaan syubhat yang berupa
kerancuan berpikir tak kalah dahsyatnya dengan godaan syahwat.
Aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan Islam bermunculan, kesyirikan
dipromosikan tanpa ada halangan, para dukun alias orang pintar dijadikan
rujukan, ngalap berkah di kuburan para wali menjadi tren wisata
religius (agama), dan praktik bid’ah (sesuatu yang diada-adakan) dalam
agama meruak dengan dalih bid’ah hasanah. Semua itu mengingatkan kita
akan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
بَادِرُوا
بِا عْألَْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِم،ِ يُصْبِحُ
الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ
كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bergegaslah kalian untuk beramal,
(karena akan datang) fitnah-fitnah (ujian dan cobaan) layaknya
potongan-potongan malam. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman
dan sore harinya dalam keadaan kafir. Di sore hari dalam keadaan beriman
dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan
sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim no.118, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al- Madkhali hafizhahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seorang yang jujur lagi tepercaya telah memberitakan kepada kita dalam banyak haditsnya, termasuk hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
(di atas, -pen.) tentang bermunculannya ragam ujian di tengah umat.
Sungguh, telah datang berbagai ujian besar yang sangat kuat menghempas
akidah dan manhaj (prinsip beragama) umat Islam, mencabik-cabik keutuhan
mereka, menyebabkan pertumpahan darah antarmereka, dan menjatuhkan
kehormatan mereka. Bahkan, benarbenar telah menjadi kenyataan (pada umat
ini) apa yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
لَتَتَّبِعُنَّ
سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وَذِرَاعاً بِذِرَاعٍ
حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَتَبِعْتُمُوْهُمْ
‘Sungguh kalian akan mengikuti jalan/jejak orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani, -pen.)
sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta1. Sampai-sampai
jika mereka masuk ke liang binatang dhab (sejenis biawak yang hidup di
padang pasir, -pen.) pasti kalian akan mengikutinya’.”
Lebih lanjut, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata,
“Saat ini di banyak negeri kaum muslimin muncul berbagai keburukan,
seperti komunis, liberal, sekuler, sosialis, dan demokrasi dengan segala
perangkatnya. Kelompok sesat Syiah Rafidhah dan Khawarij pun semakin
gencar mengembuskan racun-racun yang dahulu mereka sembunyikan.
Sebagaimana pula telah muncul kelompok sesat Qadiyaniah dan Bahaiah.” (Haqiqah al-Manhaj al- Wasi’ ‘Inda Abil Hasan, hlm. 2)
Di era globalisasi modern ini,
keberadaan ujian syahwat dan syubhat semakin mengglobal. Terpaannya pun
semakin dahsyat terhadap iman dan jiwa seseorang. Bagaimana tidak?!
Ragam godaan syahwat dan syubhat dari manca negara dengan mudah dapat
disaksikan di berbagai kanal televisi. Terlebih lagi di internet,
semuanya dapat diakses secara bebas dan mudah. Bahkan, di dunia maya,
semua orang—termasuk “pegiat dakwah”—dapat berkenalan dan bertemandengan
siapa saja secara bebas dalam ajang FB (facebook) yang
mengerikan itu. Para pencinta syahwat terfasilitasi untuk mengumbar
syahwatnya. Demikian pula para penjaja syubhat terfasilitasi untuk
menjajakan syubhatnya. Betapa banyak kasus perselingkuhan, perceraian,
dan kasus-kasus rumah tangga lainnya terjadi akibat pertemanan bebas di facebook.
Betapa banyak pula orangorang yang sebelumnya istiqamah di atas manhaj
yang lurus menjadi melenceng akibat pertemanan bebas di facebook itu. Wallahul musta’an.
Akhir kata, semoga Allah Subhanahu wata’ala
menganugerahkan kesabaran diri kepada kita sehingga dimudahkan untuk
istiqamah di atas kebenaran kala ujian dan coban menerpa. Amiin, Ya Mujibas sailin….
Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi
Mereka adalah Teladan dalam Kesabaran
Di antara hamba Allah Subhanahu wata’ala
ada orang-orang yang bersabar kala ujian dan cobaan menerpa. Mereka
adalah para rasul yang mulia dan orang-orang yang meniti jejak mereka
dengan sebaik-baiknya. Kisah-kisah mereka ada yang Allah Subhanahu wata’ala abadikan dalam Kitab Suci al-Qur’an sebagai pengajaran dan teladan terbaik bagi umat manusia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
لَقَدْ
كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ
حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ
وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya pada kisah-kisahmereka
itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an
itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan membenarkan
(kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan
sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf: 111)
Dengan merenungi kisah-kisahmereka, akan terhunjam kesabaran dalam jiwa dan bersemi bunga-bunganya dalam kehidupan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَكُلًّا
نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ
وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan semua kisah dari para rasul itu
Kami ceritakan kepadamu, ialah kisahkisah yang dengannya Kami teguhkan
hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran, pengajaran,
dan peringatan bagi orang-orang yangberiman.” (Hud: 120)
Di antara para rasul yang menjaditeladan
dalam kesabaran adalah yang bergelar Ulul Azmi (orang-orang yang
mempunyai keteguhan hati). Tidak hanya teladan bagi kaum muslimin,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun diperintahkan oleh Allah luntuk meneladani kesabaran mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ ۚ
“Maka bersabarlah kamu seperti
kesabaran orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para rasul dan
janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (al-Ahqaf: 35)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah
ketika menafsirkan ayat di atas menyebutkan bahwa pendapat yang paling
masyhur tentang para rasul Ulul Azmi itu adalah Nabi Nuh ‘Alaihissalam,
Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, Nabi Musa ‘Alaihissalam, Nabi Isa
‘Alaihissalam, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)
Terkait kesabaran para rasul Ulul Azmi selain Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh telah disebutkan secara rinci oleh Allah Subhanahu wata’aladalam
banyak ayat al-Qur’an. Simaklah sepenggal dari kisah mereka berikut
ini, Nabi Nuh ‘Alaihissalam adalah rasul pertama yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala
di muka bumi ini. Beliau berdakwah di tengah-tengah kaumnya selama 950
tahun. Tiada yang menyambut dakwah beliau itu kecuali sedikit dari
mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ
“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (Hud: 40)
Mayoritas mereka sangat kuat
penentangannya terhadap Nabi Nuh ‘Alaihissalam. Waktu yang sangat
panjang, bukti-bukti kebenaran yang cukup banyak, dan pendekatan yang
maksimal telah ditempuh oleh beliau. Namun, sambutan mereka hanyalah
penentangan dan permusuhan belaka. Dengan sombong mereka mengancam,
لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَا نُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ
“Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti, hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (asy-Syu’ara: 116)
Permusuhan mereka yang keras itu dapat pula dilihat dari keluh kesah Nabi Nuh ‘Alaihissalam kepada Allah Subhanahu wata’ala,
قَالَ
رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا () فَلَمْ يَزِدْهُمْ
دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا () وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ
لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ
وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا
“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku
telah menyeru kaumku malam dan siang. Seruanku itu hanyalah menambah
mereka lari (dari kebenaran). Sesungguhnya setiap kali aku menyeru
mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan
anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya)
dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (Nuh: 5—7)
Meski demikian, Nabi Nuh ‘Alaihissalam
tetap bersabar dalam dakwahnya meskipun badai permusuhan dari kaumnya
menerpa dengan dahsyat. Karena itu, Allah Subhanahu wata’ala memuliakan beliau dan membinasakan musuh-musuhnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَكَذَّبُوهُ
فَنَجَّيْنَاهُ وَمَن مَّعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ
وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۖ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ
عَاقِبَةُ الْمُنذَرِينَ
“Lalu mereka mendustakan Nuh, maka
Kami selamatkan Dia dan orangorang yang bersamanya di dalam bahtera, dan
Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan
orang-orang yang mendustakan ayatayat Kami. Perhatikanlah bagaimana
kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (Yunus: 73)
Adapun Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, beliau adalah ayah para nabi setelahnya (abulanbiya’).
Beliau benar-benar diberi ujian dan cobaan yang sangat besar. Hampir
sepanjang hidupnya dipenuhi oleh ujian dan cobaan yang sangat berat.
Namun, beliau dapat menjalaninya dengan penuh kesabaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَإِذِ
ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ
إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ
لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji
oleh Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu
Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan
menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya
mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak
mengenai orang yang zalim’.” (al-Baqarah: 124)
Dalam kehidupan beragama, dakwah tauhid
yang beliau lakukan ditentang keras oleh ayah beliau sendiri. Tak luput
pula penentangan dari kaumnya yang didukung oleh sang raja, penguasa
saat itu. Terjadilah kesepakatan mereka untuk membakar beliau
hidup-hidup dengan tumpukan kayu bakar yang menggunung. Beliau ditangkap
dan digiring oleh massa menuju tumpukan kayu bakar yang tengah
menyala-nyala. Beliau tetap tegar dan bersabar atas semua itu hingga
dilemparkanlah tubuh beliau ke dalam kobaran api yang sangat dahsyat
itu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
قَالُوا
حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ () قُلْنَا يَا
نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ () وَأَرَادُوا بِهِ
كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ () وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى
الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ
“Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan
bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.’
Kami berfirman, ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah
bagi Ibrahim.’ Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami
menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Kami selamatkan
Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk
sekalian manusia (negeri Syam, termasuk di dalamnya Palestina, -pen.).” (al-Anbiya’: 68—71)
Dalam kehidupan rumah tangga, beliau
diuji dengan hampanya keturunan dalam waktu yang cukup lama. Manakala
dikaruniai keturunan seorang anak lelaki dari istri beliau, Hajar , yang
dinantikan itu, Allah Subhanahu wata’ala menguji beliau
agar menempatkan si buah hati, Ismail, dan ibunya di Makkah, lembah yang
kering kerontang dan tak berpenghuni kala itu. Dengan penuh kesabaran,
beliau jalani ujian tersebut.
Waktu berjalan, Ismail si buah hati pun
tumbuh berkembang menyejukkan siapa saja yang memandangnya. Kemudian
datanglah ujian berikutnya dari Allah Subhanahu wata’ala agar menyembelih si buah hati. Subhanallah, dengan penuh kesabaran ujian yang sangat berat itu beliau jalani. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَنَادَيْنَاهُ
أَن يَا إِبْرَاهِيمُ () قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ
نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ () إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ()
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ () وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
() سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ () كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Tatkala keduanya telah berserah diri
dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran
keduanya). Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah
membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu
ujian yang nyata. Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang
besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan
orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan
atas Ibrahim’.” (ash- Shaffat: 103—109)
Adapun Nabi Musa ‘Alaihissalam, kisah Meraih Kebahagian dengan Kesabaran kesabaran
dan ketegaran beliau di atas kebenaran telah diabadikan dalam beberapa
surat al-Qur’an. Beliau yang berasal dari bani Israil diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk menyampaikan dakwah tauhid kepada Fir’aun, Raja Mesir yang sangat kejam, diktator, dan sangat benci kepada bani Israil.
Para wanita bani Israil diperlakukan
secara tak senonoh, bayi-bayi mereka disembelih secara massal, sedangkan
kaum lelakinya dijadikan budak. Kendati demikian, beliau jalankan tugas
kerasulan dengan penuh kesabaran. Dakwah tauhid beliau sampaikan kepada
Fir’aun dengan segala risikonya. Hari-harinya dipenuhi dengan
ketegangan, berhadapan dengan Fir’aun dan bala tentaranya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَلَمَّا
تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ ()
قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ () فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ
مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ
فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ () وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ ()
وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ () ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ
“Setelah kedua golongan itu saling
melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, ‘Sesungguhnya kita
benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab, ‘Sekalikali tidak akan
tersusul, sesungguhnya Rabb-ku bersamaku, kelak Dia akan memberi
petunjuk kepadaku.’ Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu
dengan tongkatmu.’ Terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti
gunung yang besar. Di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain (Fir’aun
dan bala tentaranya, -pen.). Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya semuanya dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.” (asy-Syu’ara’: 61—66)
Seiring dengan kejamnya musuh yang
dihadapi, Nabi Musa ‘Alaihissalam harus menghadapi umatnya yang sangat
bandel dan sulit diatur. Berbagai gangguan, ungkapan kekecewaan, dan
pembangkangan seringkali mereka tujukan kepada beliau. Namun, semua itu
beliau hadapi dengan penuh kesabaran. Di antaranya adalah sebagaimana
dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,
قَالُوا
أُوذِينَا مِن قَبْلِ أَن تَأْتِيَنَا وَمِن بَعْدِ مَا جِئْتَنَا ۚ قَالَ
عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي
الْأَرْضِ فَيَنظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
“Kaum Musa berkata, ‘Kami telah
ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu
datang.’ Musa menjawab, ‘Mudahmudahan Allah membinasakan musuh kalian
dan menjadikan kalian khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat
bagaimana perbuatan kalian’.” (al- A’raf: 129)
قَالُوا
يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا أَبَدًا مَّا دَامُوا فِيهَا ۖ
فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ
“Mereka berkata, ‘Hai Musa, kami
sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di
dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah kamu
berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja’.” (al-Maidah: 24)
Kesabaran Nabi Musa ‘Alaihissalam terhadap gangguan dan pembangkangan umatnya telah diakui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
رَحِمَ اللهُ مُوسَى، قَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ
“Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati Nabi Musa ‘Alaihissalam, sungguh telah disakiti lebih banyak dari ini, namun beliau bersabar.” (HR. al-Bukhari no. 4336 dan 6059, dari Abdullah bin Mas’ud z)
Adapun Nabi Isa ‘Alaihissalam, beliau diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala
kepada bani Israil untuk memperingatkan mereka yang telah menyimpang
dari agama Nabi Musa ‘Alaihissalam. Mereka telah apriori terhadap
keabsahan nasab beliau. Klaim sebagai anak zina pun mereka tujukan
kepada beliau. Sudah tentu, seseorang yang tersisihkan dari kaumnya
karena sebuah klaim nista (walaupun dusta), amat berat baginya secara
psikis untuk tampil sebagai pegiat dakwah yang mengajak mereka kepada
kebenaran dan memperingatkan mereka dari segala penyimpangan yang ada.
Namun, tugas kerasulan yang mulia itu beliau jalani dengan penuh
ketaatan dan kesungguhan. Beliau pun bersabar atas segala permusuhan dan
cercaan kaumnya. Dengan itulah, Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan mukjizat dan kenikmatan yang besar kepada beliau. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),
“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan,
‘Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat- Ku kepadamu dan kepada ibumu di
waktu aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus, kamu dapat berbicara
dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan
(ingatlah) di waktu aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil,
dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk)
yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu
bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin- Ku. Dan
(ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang dilahirkan dalam
keadaan buta dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan
(ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi
hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu aku menghalangi bani
Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan
kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir
diantara mereka berkata, ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata’.” (al-Maidah: 110)
Demikianlah para rasul Ulul Azmi yang mulia. Karena itu, Allah Subhanahu wata’ala mengabadikan nama sebagian mereka sebagai nama surat al-Qur’an, seperti surat Ibrahim dan surat Nuh. Sebagaimana pula Allah Subhanahu wata’ala mengabadikan nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk sebuah surat al- Qur’an, yaitu surat Muhammad. Sejauh manakah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam meneladani kesabaran para rasul Ulul Azmi sebelum beliau itu, sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk dari mereka, bahkan menjadi yang paling mulia di antara mereka?
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjalankan perintah Rabbnya (meneladani kesabaran para rasul Ulul Azmi). Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabar dengan kesabaran yang belum pernah dicapai oleh seorang nabi
pun sebelumnya. Ketika para musuh menggalang perlawanan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam secara serempak, bersatu padu menghalau dakwah ilallah yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan, serta menjalankan segala aksi permusuhan dan penyerangan yang dimampui oleh mereka, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap tegar di atas perintah Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam, terus maju menghalau musuh-musuh Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabar atas segala gangguanyang mendera, hingga akhirnya Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengokohkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam di muka bumi ini, memenangkan agamanya atas seluruh agama, dan memenangkan umatnya atas semua umat.” (Taisirul Karimirrahman, hlm. 784)
Dalam kesempatan lain, ketika menafsirkan surat al-Muddatstsir: 1—7, asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersegera menjalankan perintah Rabbnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan peringatan kepada umat manusia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan kepada mereka semua permasalahan agama dengan ayat-ayat (bukti-bukti) yang nyata. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala dan menyeru umat manusia untuk mengagungkan-Nya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersihkan segenap amalan yang zahir dan yang batin dari kejelekan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berpaling dari segala sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari Allah Subhanahu wata’ala; berhala dan para pemujanya, serta kejelekan dan para pelakunya.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berjasa bagi umat manusia—setelah jasa dari Allah Subhanahu wata’ala—tanpa menuntut pamrih dan balasan dari mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ikhlas dalam kesabarannya itu dengan kesabaran yang sempurna; bersabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala , bersabar dari perbuatan maksiat, dan bersabar atas segala takdir Allah Subhanahu wata’ala yang buruk. Tak mengherankan apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akhirnya mengungguli semua Ulul Azmi dari para rasul. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada mereka semua.” (Taisirul Karimirrahman, hlm. 895)
Di antara para rasul selain Ulul Azmi yang juga menjadi teladan dalam kesabaran adalah:
• Nabi Ismail ‘Alaihissalam, Nabi Idris’ Alaihissalam, dan Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang bersabar.” (al- Anbiya’: 85)
• Nabi Ayyub ‘Alaihissalam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَاذْكُرْ
عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ
بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ () ارْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ
وَشَرَابٌ () وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً
مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ () وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا
فَاضْرِب بِّهِ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ
الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub
ketika ia menyeru Rabb-nya, ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan
kepayahan dan siksaan.’ (Allah berfirman), ‘Hantamkanlah kakimu; Inilah
air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ Kami anugerahkan kepadanya
(dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada
mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi
orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat
(rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.
Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah
sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabb-nya).” (Shad: 41—44)
• Nabi Yusuf ‘Alaihissalam dan ayah
beliau, Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam. Surat Yusuf menjadi bukti atas
kesabaran mereka. Nabi Yusuf ‘Alaihissalam bersabar atas musibah yang
menimpa diri beliau manakala saudara-saudaranya bersepakat untuk
membuang beliau ke dalam sumur. Lalu ada sekelompok musafir yang menimba
air dari sumur itu dan beliau pun terangkut naik ke atas sumur, hingga
dijuallah beliau kepada seorang penguasa negeri Mesir dengan harga yang
sangat murah (beberapa dirham saja) layaknya hamba sahaya. Semua itu
beliau hadapi dengan penuh kesabaran.
Manakala beliau telah tumbuh dewasa di
rumah ayah pungutnya yang penguasa itu, dengan perawakan yang bagus dan
wajah yang sangat tampan, ternyata istri sang penguasa itu tergoda
dengan kebagusan dan ketampanan beliau. Ketika tak ada orang lain di
dalam rumah itu selain mereka berdua, wanita itu pun menutup rapat-rapat
semua pintu, kemudian merayu beliau untuk melakukan perbuatan yang tak
senonoh. Dengan petunjuk dari Allah Subhanahu wata’ala
beliau mampu menahan diri (bersabar) dari perbuatan maksiat. Beliau
tetap tegar dan tak luluh dengan rayuan wanita bangsawan lagi rupawan
itu.
Bahkan, beliau lari menuju pintu untuk
bisa keluar dari rumah tersebut dan lolos dari jeratjerat setan. Wanita
yang sedang gelap mata itu pun terus memburu beliau dan berhasil menarik
baju beliau dari belakang hingga terkoyak. Di situlah mereka kepergok
oleh suami si wanita yang tak lain adalah penguasa negeri Mesir. Namun,
berkat kepandaian dan kedudukannya, si wanita berkilah di hadapan
suaminya. Ia menyalahkan Nabi Yusuf ‘Alaihissalam dan
membenarkan dirinya. Akhirnya, Nabi
Yusuf ‘Alaihissalam dijebloskan ke dalam penjara karenanya. Semua itu
beliau hadapi dengan penuh kesabaran seraya mengadukan permasalahannya
hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Firman-Nya,
ۀ ۀ ہ ہ ہ ہ ھ ھ ھ ھ ے
“Yusuf berkata, ‘Wahai Rabb-ku,
penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku, dan
jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan
cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk
orang-orang yang bodoh.’ Rabbnya pun mengabulkan doa Yusuf dan Dia
menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Kemudian timbul pikiran pada mereka
setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus
memenjarakannya sampai waktu tertentu (untuk mengesankan bahwa Yusuflah
yang bersalah dalam kasus itu).” (Yusuf: 33—35)
Manakala Nabi Yusuf ‘Alaihissalam keluar dari penjara, Allah Subhanahu wata’ala
memuliakan beliau hingga dipercaya menduduki jabatan penting di negeri
Mesir. Dalam kondisi demikian , dengan segala hikmah-Nya, Allah Subhanahu wata’ala
mempertemukan beliau dengan saudara-saudara beliau yang dahulu berbuat
jahat kepada beliau (membuang beliau ke dalam sumur). Apakah beliau
membalas kejahatan mereka? Tidak, beliau memaafkan mereka semua dan tak
membalasnya sedikit pun. Allah l mengabadikan kisah mulia itu di dalam
al-Qur’anul Karim,
قَالَ
رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا
تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ
الْجَاهِلِينَ () فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ () ثُمَّ بَدَا لَهُم مِّن بَعْدِ مَا
رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّىٰ حِينٍ
“Yusuf berkata, ‘Apakah kalian
mengetahui (kejelekan) apa yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf dan
saudaranya ketika kalian tidak mengetahui (akibat) perbuatan kalian
itu?’ Mereka berkata, ‘Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?’ Yusuf
menjawab, ‘Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah
melimpahkan karunia-Nya kepada kami.’ Sesungguhnya barang siapa bertakwa
dan bersabar, sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orangorang yang
berbuat baik.’ Mereka berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah telah
melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
bersalah (berdosa).’ Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tak ada
cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni (kalian), dan
Dia adalah Dzat Yang Maha Penyayang’.” (Yusuf: 89—92)
Adapun Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam, beliau
adalah teladan yang baik dalam hal bersabar atas segala musibah yang
menimpa. Beliau bersabar dan bertawakal manakala seorang putra yang
sangat disayanginya, yakni Nabi Yusuf ‘Alaihissalam, hilang tak menentu.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَجَاءُوا
عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ
أَنفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ
مَا تَصِفُونَ
“Mereka datang membawa baju gamis
Yusuf (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata, ‘Sebenarnya
diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu.
Maka dari itu, kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Allah sajalah
yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan’.” (Yusuf: 18)
Setelah beberapa tahun dari “kepergian”
Nabi Yusuf ‘Alaihissalam, disusul kepergian adik kandung Nabi Yusuf
‘Alaihissalam ke negeri Mesir sebagai persyaratan bagi
saudara-saudaranya yang lain (anak-anak Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam) untuk
mendapatkan persediaan bahan makanan dari pemerintah negeri Mesir.
Namun, sang adik ternyata harus ditahan di sana dan tak bisa turut
pulang bersama yang lain, karena tertuduh mengambil piala (gelas minum)
raja. Semua itu dihadapi oleh Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam dengan penuh
kesabaran. Beliau tiada berkeluh kesah selain hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),
“Ya’qub berkata, ‘Hanya diri kalian
sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka
kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudahmudahan Allah
mendatangkan mereka semuanya kepadaku; Sesungguhnya Dia-lah yang Maha
Mengetahui lagi Mahabijaksana.’ Ya’qub berpaling dari mereka
(anak-anaknya) seraya berkata, ‘Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf.’ Kedua
matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang
menahan amarahnya (terhadap anakanaknya). Mereka berkata, ‘Demi Allah,
senantiasa kamu mengingati Yusuf hingga kamu mengidap penyakit yang
berat atau termasuk orang-orang yang binasa.’ Ya’qub menjawab,
‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan
kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada tahu’.”
(Yusuf: 83—86)
Mahabenar Allah Subhanahu wata’ala dengan segala firman-Nya manakala berfirman,
لَّقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِّلسَّائِلِينَ
“Sesungguhnya ada beberapa tandatanda
kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi
orang-orang yang bertanya.” (Yusuf: 7)
Demikianlah secercah cahaya dari kisah
kesabaran para teladan yang mulia. Semoga menjadi lentera yang menerangi
jalan hidup kita dan menjadi titian emas menuju kesabaran. Amin….
Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin SulaimiTanya Jawab Ringkas edisi 94
Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al- Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.
Hadits Puasa
Ada hadits yang bunyinya, “Pembeda antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim, Ashabu as-Sunan, dan Ahmad)
Jika kita biasa mengerjakan puasa sunnah tanpa mengerjakan makan sahur, salahkah seperti itu? 08998XXXXXX
Hadits itu hanya menunjukkan makan sahur sunnah, tidak wajib. Lihat lebih lengkap buku kami Fikih Puasa Lengkap.
Mengubur Ari-Ari
Apakah menguburkan ari-ari bayi harus dibungkus dengan kain kafan? Bagaimanakah cara yang syar’i? 085740XXXXXX
Ari-ari bayi dikuburkan begitu saja di sembarang tempat tanpa dikafani.
Anak Meninggal Usia 11 Tahun
Jika anak meninggal di usia sekitar 11 tahun dan belum diajari shalat, apakah nantinya akan ditanya di akhirat? 085260XXXXXX
Anak yang belum balig belum mukallaf,
tetapi diwajibkan bagi walinya atau pendidik yang dipercayanya untuk
mengajarinya shalat sejak dia mumayyiz. Anak yang meninggal sebelum
balig termasuk penghuni surga jika kedua orang tuanya atau salah satunya
muslim, menurut jumhur ulama. Ini hukum yg bersifat umum.
Namun, secara adab jangan memastikan anak tertentu (fulan atau allan) bahwa ia masuk surga, sebagaimana yang diajarkan Nabi n kepada ‘Aisyah ketika memastikan seorang anak yang meninggal bahwa anak itu masuk surga (HR. Muslim).
Menikahi Mantan Istri Saudara
Saya mempunyai saudara kembar meninggal 4
bulan lalu dengan meninggalkan seorang istri dan bayi. Bagaimana
hukumnya saya menikahi janda kakak kembar saya? Mohon penjelasannya. 087764XXXXXX
Boleh menikahi janda saudara kembar Anda yang ditinggal mati olehnya setelah masa iddahnya berakhir, yaitu 4 bulan 10 hari.
Hak Orang Tua sebagai Wali
Seorang wanita yang hendak menikah harus
dengan persetujuan wali (ayah) jika memang walinya masih ada. Bagaimana
jika wali tersebut tidak penah memberi nafkah dan tidak bertanggung
jawab hampir seumur hidup wanita tersebut? 081217XXXXXX
Hal itu tidak menggugurkan hak kewalian dia atas anaknya.
Menghadiri Undangan
Bagaimana hukumnya memenuhi undangan seorang muslim selain walimah? Misalnya acara syukuran. 085377XXXXXX
Menghadiri undangan sesama muslim adalah hak muslim yang mengundang. Rasulullah n bersabda,
“Jika ia mengundangmu, penuhilah undangannya.” Hukum menghadiri
undangan selain walimahan diperselisihkan apakah wajib atau sunnah.
Penerima Zakat Karena Utang
Saya mempunyai utang untuk usaha dan
renovasi rumah. Sekarang saya kesulitan melunasi. Apa saya digolongkan
orang yang berhak menerima zakat? Apakah boleh meminta-minta zakat? 085239XXXXXX
Anda tergolong orang yang berhak
menerima zakat untuk membayar utang, bukan untuk nafkah. Jika pada saat
yang sama Anda miskin, Anda berhak pula mendapatkan zakat untuk nafkah
Anda.
Belum Melaksanakan Nazar
Sebelum saya mengetahui nazar muqayyad, saya
pernah melakukannya. Pada waktu saya sakit, saya bernazar untuk puasa
sekian hari jika sembuh, Ketika sembuh, saya belum melaksanakan nazar
saya tepat pada waktu saya sembuh. Apakah saya harus membayar kafarat
nazar saya atau melaksanakan nazar saya? 083190XXXXXX
Kewajiban Anda adalah melaksanakan
nazar itu sekarang, berpuasalah sejumlah hari yang Anda nazarkan
sekarang juga, tanpa menundanya lagi agar tanggung jawab Anda terlepas
dan meraih pahala menunaikan nazar.
Berdoa Pada Sujud Terakhir
Bolehkah berdoa saat sujud terakhir pada shalat fardhu? Doa apakah yang boleh dilafadzkan? 08987XXXXXX
Disyariatkan banyak berdoa dalam
sujud baik pada shalat sunnah maupun shalat wajib dengan doa yang
bermanfaat untuk dunia akhirat. Tidak ada dalil pengkhususan pada sujud
terakhir saja, tetapi pada seluruh sujud.
Jual Beli Kredit yang Mengandung Ribawi
Apakah proses jual beli motor secara kredit sebagaimana yang ada pada zaman sekarang ini termasuk dalam praktik ribawi? 085730XXXXXX
Akad jual beli motor/mobil dengan cara kredit yang ada pada zaman sekarang adalah riba, dari dua sisi:
1. Ada syarat denda pada akad bagi
yang menunggak. Tidak bisa dikatakan boleh dengan alasan dia akan
membayarnya tanpa menunggak sehingga tidak terkena denda. Sebab, hal itu
adalah akad riba dari asalnya walaupun dengan niat akan melunasinya
tanpa denda. Lagi pula, siapa yang bisa memastikan peminjam tidak akan
menunggak?
2. Angsuran dibayarkan ke lembaga
pembiayaan (leasing) yang menalangi setiap motor/mobil yang dicicil
nasabah, bukan ke dealer (penjual). Hal itu karena motor/mobil yang
dikreditkan oleh dealer telah dibayar tunai oleh lembaga pembiayaan
tersebut. Artinya, pembeli sebenarnya diutangisecara tidak langsung oleh
lembaga pembiayaan tersebut agar bisa membeli motor/mobil yang
diinginkan. Lalu pembeli membayar utang itu kepadanya dengan nilai lebih
besar (harga cicil) Ini adalah rekayasa riba yang dikenal dengan
istilah ‘inah model tiga pihak. Wallahu a’lam.
Ingat Kena Najis Setelah Shalat
Saat kita shalat, kita lupa bahwa
pakaian kita kena najis dan baru ingat setelah shalat, apakah shalat
tersebut harus diulangi lagi? 085381XXXXXX
Jika ingat terkena najis setelah
shalat, hal itu dimaafkan dan shalat Anda sah. Adapun lupa wudhu, hal
itu tidak dimaafkan dan shalat itu wajib diulangi.
Uang Pinjaman Dikembalikan dari Hasil Judi
Bismillah. Jika kita meminjamkan uang
kepada seseorang, kemudian uang tersebut dikembalikan kepada kita dengan
wujud hasil keuntungan judi, bagaimana hukum uang tersebut? 08561XXXXXX
Pada asalnya, keharaman uang dari
penghasilan yang haram adalah bagi pemiliknya, tidak bagi orang lain.
Hal ini ditegaskan oleh Ibnu ‘Utsaimin dalam tafsirnya. Berdasarkan hal
ini, boleh menerima pembayaran utang itudari hasil judinya. Sikap wara’
adalah menolaknya dan minta dibayar dengan harta selainnya.
Suami Suruh Gugurkan Kandungan
Jika suami menyuruh istri untuk
menggugurkan kandungan yang berusia satu setengah bulan, apakah
diperbolehkan? Sebab, pendapatan suami sedikit, banyak utang, dan masih
mempunyai anak-anak kecil. 085732XXXXXX
Tidak boleh menuruti kemauan suami
untuk menggugurkan kandungan, karena tidak ada kebutuhan mendesak yang
menuntut. Adapun kesulitan nafkah dan mengurus anak tidak bisa dijadikan
alasan.
Ambil Gaji di Bank
Saya bekerja di satu perusahaan dan
penggajiannya melalui bank. Apakah tidak termasuk riba jika gaji saya
simpan di bank dalam jangka waktu lama? Saya hanya mengambil gaji saya
dan bunganya tidak saya ambil? 087841XXXXXX
Hal itu bukan riba. Akan tetapi, tidak boleh menabung di bank kecuali jika uang Anda tidak aman ketika disimpan sendiri.
Menggenggam Bara Kesabaran
Berdasarkan wahyu ilahi, lebih dari seribu tahun yang lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan sebuah kenyataan di akhir zaman dalam sabda beliau,
يَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ
“Akan tiba suatu masa pada manusia, siapa di antara mereka yang bersikap sabar demi agamanya, ia ibarat menggenggam bara api.”
Seputar Hadits Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi (2/42) dan Ibnu Baththah di dalam al-Ibanah (1/173/2) dari sahabat mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Sanad hadits di atas memang dhaif,hanya
saja ditemukan beberapa hadits lain yang bisa menguatkannya. Setelah
menjelaskan hadits-hadits penguat, asy-Syaikh al-Albani (Silsilah Shahihah 2/682)
menerangkan, ”Kesimpulannya, hadits di atas dihukumi shahih tsabit dengan
adanya haditshadits penguat. Sebab, tidak ada satu pun perawi di
seluruh jalur periwayatan hadits yang patut dicurigai. Apalagi at-
Tirmidzi dan ulama lainnya menyatakan hadits ini hasan. Wallahu a’lam.”
Hadits di atas termasuk salah satu keajaiban dalam kitab Sunan karya al-Imam at-Tirmidzi. Sebab, hadits ini adalah satu-satunya sanad tsulatsi (antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan penulis kitab hanya dipisahkan oleh tiga perawi) di dalam Sunan at-Tirmidzi. Bayangkan
saja! Al-Imam at- Tirmidzi meninggal dunia pada tahun 279 H. Lebih dari
200 tahun jarak antara beliau dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi sanad beliau sangat indah, hanya dipisahkan oleh tiga perawi saja. Tidak seluruh kitab-kitab hadits memuat sanad tsulatsi. Di dalam Shahih al-Bukhari terdapat 22 sanad tsulatsi. Adapun dalam Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan Sunan an-Nasa’i tidak terdapat satu pun sanad tsulatsi. Ada lima sanad tsulatsi di dalam Sunan Ibnu Majah. Yang paling banyak, sanad tsulatsi ditemukan di dalam al-Musnad karya al-Imam Ahmad, sebanyak 331 sanad. (Tahqiqur Raghbah lil Khudair)
Menggenggam Bara Api?
Sebagai bentuk kesempurnaan iblagh risalah (penjelasan tugas kerasulan), Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam
seringkali menjelaskan sesuatu dengan contoh nyata yang disaksikan di
dalam kehidupan seharihari. Dengan demikian, maksud dari risalah dan
nubuwah dapat dimengerti dan dipahami dengan baik. Salah satu contohnya
adalah hadits Anas bin Malik di atas. Beliaum memberitakan tentang
kondisi pengikut setia beliau di akhir zaman, yang mesti berkorban besar
demi berdiri kokoh di atas kebenaran. Masa-masa yang dipenuhi dengan
godaan syahwat dan syubhat, kejahilan yang semakin merata, ilmu yang
dicabut dengan wafatnya para ulama, dan semakin lemahnya semangat untuk
mencari kebenaran hakiki. Dalam kondisi semacam itu, seorang hamba yang
bertekad menegakkan dinul islam secara utuh dan kaffah harus menjalani hari-hari sulit. Sulit dan beratnya menggenggam kebenaran diibaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sulit dan beratnya menggenggam bara api. Nas’alullahul i’anah.
Al-Imam al-Munawi rahimahumallah (Faidhul Qadir 6/590) menjelaskan hadits di atas, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
memberikan perumpamaan tentang sesuatu yang abstrak dengan hal yang
nyata. Artinya, seorang hamba yang bersikap sabar untuk melaksanakan
hukum-hukum al-Qur’an dan as-Sunnah, pasti akan merasakan permusuhan dan
kebencian dari kalangan ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok sesat. Hal
ini disamakan dengan seseorang yang menggenggam bara api dengan telapak
tangannya, bahkan lebih dahsyat lagi. Hadits ini termasuk mukjizat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, beliau memberitakan tentang sesuatu yang bersifat gaib dan kemudian benar-benar terjadi.”
Ath-Thibi rahimahumallah (Marqatil Mafatih 15/307)
menjelaskan, “Makna hadits di atas, sebagaimana halnya seseorang yang
menggenggam bara api tidak mampu bersabar karena tangannya akan
terbakar, demikianlah pula seorang hamba yang ingin menegakkan agama
sepenuhnya. Ia akan merasa kesulitan untuk tetap tegar di atas agamanya.
Sebab, maksiat lebih dominan dan mayoritas manusia adalah para pelaku
maksiat. Demikian pula kefasikan telah menyebar, ditambah lagi dengan
lemahnya keimanan.”
Bukan Sebatas Berita
Apakah hadits ini hanya sebatas berita saja? Tidak! Alangkah sayang dan cintanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
kepada umat ini. Beliau mewariskan sebuah nasihat emas untuk umat agar
mereka benar-benar mempersiapkan diri sebaik-baiknya di dalam menghadapi
kenyataan pahit ini. Jangan terkejut! Jangan kaget! Jangan bersedih!
Melewati hari-hari di dunia dalam keterasingan demi menegakkan al-Qur’an
dan as-Sunnah adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari.
Jika Anda dibenci, dimusuhi, dijauhi,
dan dikucilkan hanya karena ingin menjalankan ibadah sesuai tuntunan
al-Qur’an, as-Sunnah, dan pemahaman Salafus Shalih, berbahagialah. Tidak
perlu berkecil hati dan tidak usah bergundah gulana. Mengapa harus
berkecil hati? Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda di dalam hadits Abu Hurairah
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam mulai dalam keadaan terasing.
Islam pasti akan kembali terasing sebagaimana permulaannya. Maka, Thuba
untuk mereka yang terasing.” (HR. Muslim)
An-Nawawi rahimahumallah (dalam Syarah Shahih Muslim) menyebutkan beberapa penafsiran dari kata Thuba.
Ada yang mengartikannya dengan kebahagiaan, penyejuk mata, kebaikan,
surga, sebuah pohon di dalam surga, dan beberapa makna lain. Lalu
an-Nawawi rahimahumallah menyimpulkan, “Semua pendapat di atas sangat mungkin untuk dipahami dari hadits di atas. Wallahu a’lam.”
Berbahagialah Anda yang hidup dalam keterasingan karena memilih hidup di dunia sebagaimana yang dituntunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kehidupan yang telah dijalani dan diteladankan pula oleh para sahabat,
tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para pengikut mereka dengan baik.
Para Nabi Pun Merasakan
Seberat dan sesulit apapun cobaan dan
ujian yang mesti dihadapi oleh seorang muslim demi menegakkan tauhid dan
as-Sunnah, hakikatnya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan
cobaan yang pernah dihadapi dan dirasakan oleh para nabi. Ya, para nabi
lebih berat cobaannya. Mereka didustakan oleh kaumnya, diusir, diancam,
disakiti secara fisik, dituduhdengan keji, bahkan tidak sedikit dari
mereka yang dibunuh. Oleh sebab itu, sering-seringlah membaca kisah para
nabi dan rasul di dalam berdakwah menyampaikan kebenaran. Sungguh,
membaca kisah-kisah mereka akan menyejukkan hati, terkhusus kisah Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَإِذْ
يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ
يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ
الْمَاكِرِينَ
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang
kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan
memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya
dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas
tipu daya.” (al-Anfal: 30)
Jika Anda diancam untuk dipenjarakan,
diusir, bahkan dibunuh hanya karena Anda ingin menegakkan agama Islam
sesuai dengan tuntunan Rasulullah n, janganlah bersedih dan berkecil
hati. Sungguh, Allah pasti membela hamba-Nya yang ingin membela
agama-Nya!
Pandangan Manusia Umumnya Adalah Dunia, Jangan Terpukau!
Salah satu faktor yang dapat membantu
seorang muslim untuk tetap kokoh, tegar, dan tabah di atas kebenaran
adalah tidak terpukau dan silau dengan kehidupan duniawi di
sekelilingnya. Biarlah “keindahan” duniawi mereka kejar dengan penuh
ambisi dan nafsu angkara. Adapun baginya, kehidupan akhirat lebih baik.
Umar bin al-Khaththab (Shahih Muslim no. 1479) pernah menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam ruang khusus beliau. Melihat kesederhanaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bekas tikar kasar yang tampak terlihat di pinggang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar radhiyallahu ‘anhu pun menangis.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
bertanya kepada Umar tentang sebab dia menangis. Umar lalu menyampaikan
kepada Rasulullah tentang kehidupan Raja Persia dan Raja Romawi yang
penuh dengan kesenangan dan kelezatan duniawi. Sementara itu, beliau
adalah seorang hamba terpilih dan utusan Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda,
أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمَا الدُّنْيَا وَلَكَ الْآخِرَةُ
“Apakah engkau tidak ridha? Dunia untuk mereka sementara kenikmatan di akhirat nanti untukmu?”
Benar. Seorang muslim yang sungguh-sungguh ingin mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
pasti merasakan kesempitan duniawi. Bukankah memang dunia adalah
penjara bagi seorang mukmin? Namun,kesempitan duniawi itu tidaklah
berarti setitik pun dibandingkan ketenteraman jiwa selama hidup di dunia
dan kebahagiaan hakiki di surga Allah Subhanahu wata’ala kelak. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَلَا
تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ
زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ
خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Dan janganlah kamu tujukan kedua
matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari
mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka
dengannya.Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahumallah menjelaskan ayat di atas, “Allah lberfirman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam,
‘Janganlah engkau terpukau dengan mereka, kaum yang berlebihan materi
dan hidup dalam kemewahan, dan yang semisal mereka. Sebab, semua itu
hanyalah bunga-bunga kehidupan yang akan sirna dan kenikmatan yang
sementara. Kami hanya ingin menguji mereka, dan alangkah sedikitnya
hamba- Ku yang pandai bersyukur’.”
Sikap Seorang Muslim
Ketika hati terasa sempit dan dada
menjadi sesak karena menyaksikan pahitnya ujian dan cobaan di dunia. Ia
ingin mengamalkan ajaran Islam seutuhnya, namun ternyata tidak semudah
membalikkan telapak tangan. Sikap apa yang harus dipilih oleh seorang
muslim dalam kenyataan semacam ini? Ia tidak boleh putus asa dari rahmat
Allah Subhanahu wata’ala. Ia harus yakin dan berprasangka baik bahwa Allah Subhanahu wata’ala pasti membalas dengan ganjaran terbaik. Ia harus tetap beribadah semaksimal mungkin dan memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Demi Allah, Dia tidak akan menyelisihi janji Nya.
Sebagai khatimah, marilah kita resapi
nasihat indah penyejuk jiwa dari asy- Syaikh Abdurrahman as-Sa’di
berikutini. Setelah menerangkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas (dalam Bahjah Qulubil Abrar), beliau menutup kajian hadits dengan menyimpulkan, “Dalam kondisi semacam ini, seorang mukmin hanyalah bisa berdoa,
لَا
حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ
الوَكِيْلُ،عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا، اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ،
وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَبِكَ الْمُسْتَغَاثُ
وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْم
“Tidak ada usaha dan kekuatan selain
dengan izin Allah. Cukuplah Allah bagi kami, Dialah sebaik-baik Dzat
yang dipasrahi (urusan), kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Allah,
milik-Mulah segala pujian, kepada-Mulah tempat mengadu, Engkaulah Dzat
yang dimintai pertolongan, kepada-Mulah diminta kebebasan dari
kesempitan. Tidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah, Yang
Mahatinggi dan Mahaagung.”
Kemudian, ia berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk menegakkan keimanan, nasihat, dan dakwah. Ia berusaha untuk bersikap qanaah dengan
hasil yang sedikit jika tidak memungkinkan hasil yang banyak. Ia juga
berusaha untuk menghilangkan keburukan dan meminimalkannya, jika selain
itu tidak memungkinkan.
Barang siapa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, pasti Dia akan menunjukkan jalan keluar untuknya. Barang siapa bertawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala cukup untuknya. Barang siapa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, pasti Allah Subhanahu wata’alaakan memudahkan seluruh urusannya.”
Wallahul muwaffiq ila ahdas sabil.
Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai
Sabar Tidak Berarti Diam Dari Kemungkaran
Sabar itu pahit, namun akibatnya lebih manis daripada madu. Ungkapan
yang sangat indah dan memesona apabila dicermati dan dikaji. Sabar itu
memang pahit, bagaikan menggenggam bara api dan seperti diiris sembilu.
Bagaimana tidak, di saat kita dihadapkan pada sesuatu yang disenangi
oleh hawa nafsu, kesempatan dan peluang terbuka lebar untuk
melampiaskannya, kemampuan untuk melaksanakannya ada, tidak ada mata
manusia yang melihatnya, gejolak nafsu membara, oleh Allah Subhanahu wata’ala kita diperintahkan untuk mengerem diri dan menahannya. Sungguh, betapa berat.
Di saat kita berada dalam amal saleh dan
ketaatan, bisa jadi amal itu berisikopada hilangnya nyawa, harta benda,
dan keturunan, kita diperintahkan untuk tegar di atasnya. Tidak boleh
mundur dan goyah, menerima segala kemungkinan yang akan terjadi dalam
pelaksanaannya. Lebih-lebih, ketaatan tersebut sangat tidak disenangi
oleh hawa nafsu serta dibenci oleh iblis dan bala tentaranya dari
kalangan manusia dan jin. Sungguh, betapa berat sabar di atasnya. Di
saat kita mengerahkan segala kemampuan untuk mengejar sebuah cita-cita
dalam hidup ini, pengorbanan yang tidak sedikit telah dikeluarkan, usaha
dengan segala cara sudah ditempuh, segala yang dibutuhkan untuk
mengejar cita-cita tersebut telah dikerahkan, keberhasilan sudah di
ujung tanduk dan di pelupuk mata—menurut perkiraan—, teman teman dan
saudara telah menyaksikan akan terjadinya sebuah keberhasilan, sanjungan
dan pujian kerap kali menyapa dan menggiurkan seolah-olah dunia berada
dalam genggaman, tiba-tiba tanpa diduga terjadi sebaliknya. Kegagalan
yang sangat dalam. Luluh lantak segala usaha yang kita bangun. Setelah
itu Allah Subhanahu wata’ala memerintah kita untuk
bersabar dan menerimanya dengan lapang dada. Itulah sabar, betapa
beratnya. Sungguh, pahit dan berat, namun akibatnya di kemudian hari
akan manis nan indah.
Sabar, Lentera Jiwa
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ
“Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya petunjuk di dalam hatinya.” (at-Taghabun: 11)
Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan
Abu Hatim dari Alqamah, ia berkata, “Yaitu seseorang yang ditimpa oleh
sebuah musibah dan dia mengetahui bahwa semuanya datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala, lalu dia ridha dan menerimanya.”
Saudaraku, adakah nikmat yang lebih
besar daripada nikmat hidayah yang telah merasuk dalam sanubari? Adakah
nikmat yang lebih besar daripada hati yang telah dilumuri hidayah Allah Subhanahu wata’ala? Tentu, tidak ada akhir dan akibat dari kesabaran selain kebahagiaan dan kelezatan. Allah Subhanahu wata’ala akan menggantikan dunia yang telah luput darinya dengan petunjuk di dalam hati, keyakinan yang penuh kejujuran. Allah Subhanahu wata’ala pun akan mengganti apa yang telah diambil-Nya.
Al-Imam Ahmad rahimahumallah berkata, “Allah Subhanahu wata’ala telah menyebutkan sabar dalam sembilan puluh tempat di dalam kitab-Nya.”
Sabar, Senjata yang Ampuh dan Berharga
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Majmu’ Fatawa (10/48),
menjelaskan, “Musibah-musibah adalah nikmat. Sebab, ia akan menghapus
dosa-dosa dan mendorong seseorang untuk bersabar sehingga mendapatkan
ganjaran. Musibah akan mengajakseseorang untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala
dan merendah diri di hadapan-Nya, berpaling dari makhluk (yang
tidakmampu berbuat apa-apa, -pen.), dan berbagai maslahat lain. Cobaan
itu sendiri berfungsi menghapuskan segala dosa dan kesalahan, dan ini
sendiri sudah termasuk nikmat yang sangat besar.”
Musibah-musibah adalah rahmat dan nikmat
bagi seluruh manusia, kecualiapabila musibah itu menyeretnya ke dalam
kubangan maksiat, tentu ini adalah musibah yang lebih besar lagi
dibanding sebelumnya. Dari sisi inilah, yaitu akibat yang akan merusak
agamanya, musibah itu menjadi kejelekan baginya. Di antara manusia ada
yang ditimpa oleh kefakiran, penyakit, atau rasa sakit lalu timbullah
pada dirinya kemunafikan, keluh kesah, penyakit di dalam hati,
meninggalkan beberapa kewajiban, dan melaksanakan hal-hal yang
diharamkan. Ini mengakibatkan kemudaratan bagi agamanya.
Karena itu, sehat lebih baik baginya
ditinjau dari musibah yang terjadi setelahnya, bukan ditinjau dari
esensi musibah itu sendiri. Sebagaimana halnya jika musibah itu
membuahkan kesabaran dan ketaatan, berarti di dalamnya terkandung nikmat
agama. Musibah itu merupakan perbuatan Allah Subhanahu wata’ala yang akan menjadi rahmat bagi si makhluk.
Allah Maha Terpuji atas semuanya. Barang siapa diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala
dengan musibah dan diberi kesabaran, kesabaran itu menjadi sebuah
nikmat dalam agamanya. Setelah kesalahankesalahannya dihapuskan, niscaya
dia akan mendapatkan taburan rahmat. Bila dia memuji Allah Subhanahu wata’ala atas ujian yang dia derita, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memujinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ
“Mereka mendapatkan shalawat dan rahmat dari Rabb mereka.” (al- Baqarah: 157)
Dia akan memetik buahnya, yaitudiampuni
kesalahan-kesalahannya dan diangkat derajatnya. Karena itu, barang siapa
menerima musibah itu dengan kesabaran yang wajib, niscaya dia akan
memperoleh semuanya.”
Sabar dan Cinta, Teman Sejoli?
Ibnul Qayyim rahimahumallah dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/162) menjelaskan, “Sesungguhnya kesabarandalam menanggung beban derita untuk mengejar keinginan yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala adalah bukti kebenaran cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dari sinilah, bisa dikatakan bahwa cinta mayoritas orang adalah dusta.
Sebab, mereka mengaku cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala, namun saat Allah Subhanahu wata’ala
menguji mereka dengan sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka lepas
dari hakikat cinta dan tidak ada yang kokoh bersama-Nya, selain
orang-orang yang bersabar. Kalaulah tidak sabar memikul segala beban
berat dan yang tidak disukai, niscaya cinta mereka adalah dusta.
Jelaslah bahwa orang yang paling tinggi tingkat cintanya adalah yang
paling besar tingkat kesabarannya. Berdasarkan hal ini, Allah Subhanahu wata’ala memuji secara khusus para wali dan kekasih-Nya dengan kesabaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, tentang kekasih-Nya Ayyub ‘Alaihissalam,
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Sesungguhnya Kami dapati dia dalam
keadaan bersabar, dia adalah sebaik-baik hamba dan sesungguhnya dia
orang yang banyak bertobat.” (Shad: 44)
Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan hamba- Nya yang terbaik untuk bersabar terhadap segala hukum-Nya. Allah Subhanahu wata’alamemberitakan pula bahwa Dia yang telah menjadikan beliau bersabar. Allah Subhanahu wata’ala memuji orang-orang yang bersabar dengan sebaik-baik pujian dan telah menjamin dengan ganjaran yang besar. Allah Subhanahu wata’ala menjadikan ganjaran selain orang-orang yang bersabar terbilang, sedangkan ganjaran untuk mereka tidak terbatas. Allah Subhanahu wata’ala
menggandengkan sabar dengan Islam, iman, dan ihsan.Allah menjadikan
sabar sebagai saudara yakin, tawakal, iman, amalan-amalan, dan takwa.
Allah Subhanahu wata’ala
memberitakan bahwa orang yang bersabarlah yang akan mengambil manfaat
dari ayat-ayat-Nya. Da memberitakan juga bahwa kesabaran itu benar-benar
sebuah keberuntunganbagi pemiliknya, dan para malaikat mengucapkan
salam kepada mereka di dalam surga karena kesabaran mereka.”
Kesabaran Sebagian Ulul ‘Azmi
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَاصْبِرْ
كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ ۚ
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا
سَاعَةً مِّن نَّهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ
الْفَاسِقُونَ
“Maka bersabarlah kamu seperti
orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul. Janganlah
kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat
azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal
(di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran
yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (al-Ahqaf: 35)
As-Sa’di rahimahumallah menjelaskan, “Kemudian Allah Subhanahu wata’ala
memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk bersabar dari gangguan para
pendusta dan penentang agar beliau terus mendakwahi mereka ke jalan
Allah Subhanahu wata’ala dan mengambil ibrah dengan
kesabaran ulul azmi dari para rasul—para pemimpin makhluk ini. Mereka
adalah orang-orang yang memiliki azam dan keinginan yang tinggi,
kesabaran yang mendalam, keyakinan yang sempurna. Mereka paling berhak
untuk diteladani, diikuti langkahlangkahnya dan diterima bimbingan
mereka. Rasulullah n melaksanakan perintah Rabbnya, lalu bersabar dengan
kesabaran yang tidak pernah terwujud pada nabi dan rasul sebelum
beliau.
Para musuhnya melemparkan panahnya dari satu busur. Mereka bangkit untuk menghadapi beliau dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka berbuat apa saja yang bisa mereka lakukan sebagai bentuk permusuhan dan peperangan. Namun, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa tabah melaksanakan perintah Allah Subhanahu wata’ala, terus maju menghalau musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala, bersabar menanggung beban gangguan hingga Allah Subhanahu wata’ala
mengokohkan beliau di muka bumi, memenangkan agamanya atas seluruh
agama, dan memenangkan umatnya atas seluruh umat. Shalawat dan salam
atas beliau. Jangan engkau tergesa-gesa terhadap para pendusta yang
menantang azab Allah Subhanahu wata’ala disegerakan.
Ini merupakan bukti kejahilan dan
ketololan mereka. Jangan pula sekali-kali engkau berputus asa karena
kejahilan mereka. Jangan pula permintaan mereka untuk disegerakannya
azab Allah Subhanahu wata’ala menyebabkanmu mendoakan kebinasaan mereka. Sesungguhnya apa yang pasti datang itu adalah dekat.
Di saat mereka melihat apa yang telah
dijanjikan, mereka merasa tinggal di dunia ini hanyalah sesaat.
Janganlah engkau sedih karena bernikmat-nikmatnya mereka di dunia,
padahal mereka sedang berjalan menuju azab yang sangat pedih. Sementara
itu, dunia ini, kenikmatan di dalamnya, syahwat-syahwatnya, hanya
sementara dan penghilang dahaga yang berkamuflase. Kami telah jelaskan
al-Qur’an yang agung ini dengan terang dan gamblang sebagai bekal kalian
(di dunia) serta sebagai bekal untuk ke negeri akhirat. Sebaik-baik
bekal adalah bekal yang akan menyampaikan ke negeri kenikmatan dan yang
menjaga dari azab yang pedih.
Sungguh, al-Qur’an merupakan sebaik-baik bekal bagi setiap makhluk dan nikmat teragung yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala
kepada mereka. Tidaklah akan binasa dengan azab dan hukuman kecuali
orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang tidak memiliki kebaikan.
Mereka telah keluar dari ketaatan kepada Rabb mereka dan tidak mau
menerima kebenaran yang dibawa oleh para rasul. Allah Subhanahu wata’ala
telah memberikan uzur kepada mereka dan memberikan peringatan, namun
setelah itu mereka terus-menerus berada dalam pendustaan dan kekafiran.
Kita meminta dari Allah Subhanahu wata’ala perlindungan.” (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 729)
Kesabaran Nabi Nuh ‘Alaihissalam
Allah Subhanahu wata’ala
banyak bercerita di dalam al-Qur’an tentang kepribadian Nabi
Nuh’Alaihissalam sebagai rasul pertama kali di muka bumi ini. Ayat-ayat
tersebut menggambarkan kepribadian yang tangguh, kesabaran yang tinggi,
semangat yang kuat, dan tawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala. Umur panjang yang dianugerahkan oleh Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam, 950 tahun, dipergunakan untuk melaksanakan tugas-tugas yangsuci, siang dan malam tanpa rasa lelah dan bosan.
Di sisi lain, keluarga beliau, yaitu
istri dan anak, bangkit melakukan manuver-manuver penentangan dan
pembangkangan terhadap segala yang dibawanya. Begitu pula mayoritas kaum
beliau, menentang seruan beliau. Yang ada hanya kesedihan dan pasrah
atas semuanya itu. Sebab, apa yang bisa diperbuat tatkala keputusan
Allah Subhanahu wata’ala berbeda dengan keinginan diri. Beban derita yang didapatinya dalam mengemban amanat Allah Subhanahu wata’ala
tidak menyebabkan beliau putus asa dalam tugas yang berat itu. Justru
sebaliknya, hal itu menambah keyakinan dan semangat beliau akan
datangnya pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Beragam
ejekan, olokan, dan cemoohan kaumnya datang silih berganti, namun tidak
menggoyahkan beliau sedikit pun. Kegigihan beliau berdakwah kepada Allah
Subhanahu wata’ala dan kesabaran menanggung beban derita
di jalan dakwah tidak menjadi penghalang beliau untuk menegakkan amar
ma’ruf nahi mungkar.
Kesabaran Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah sosok nabi yang tabah dan sabar. Hal itu tergambar dalam sirah (sejarah) hidupnya yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam al-Qur’an.
Tatkala bertambah umur dan belum dikaruniai keturunan, beliau bermunajat kepada Allah Subhanahu wata’ala agar mendapatkan keturunan. Allah Subhanahu wata’ala mendengar dan mengabulkan permintaannya. Tatkala si buah hati tumbuh berkembang hingga menjadi dewasa, Allah Subhanahu wata’ala menguji
beliau. Allah perintahkan si buah hati yang diidam-idamkannya
disembelih. Bagaimanakah beliau menyikapi perintah tersebut?
Ternyata, perintah itu sedikit pun tidak menggoyahkan keimanan beliau kepada Allah Subhanahu wata’ala, tidak melemahkan dan menodai cintanya kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Perintah itu beliau junjung tinggi dan laksanakan tanpa keraguan
sedikit pun. Sungguh, sangat berat ujian menimpa beliau. Beliau lulus
dan berhasil menjalani ujian tersebut. Itulah akhir bagi orang-orang
yang bertakwa.
Allah Subhanahu wata’ala
menguji beliau dengan kekafiran sang bapak dan penentangan kaumnya yang
sangat besar. Beliau menghadapi semuanya dengan penuh keberanian,
kesabaran, ketabahan, dan tawakal yang tinggi kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Sang bapak mengancam untukmerajam dan mengusirnya jika tidak berhenti
dari seruannya. Kaumnya sendiri dengan angkara murka mengobarkan api
menggunung untuk membakarnya. Semua itu tidak menjadikan beliau berhenti
mengingkari kemungkaran dan menyeru kepada kebaikan.
Kesabaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam
Beliau adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala. Beliau adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelah beliau. Allah Subhanahu wata’ala
menyempurnakan agama-Nya dengan pengutusan beliau sekaligus sebagai
penyempurna atas agama yang lain. Nasib beliau dalam dakwah tidaklah
berbeda dengan para rasul sebelumnya. Bahkan, beliau mendapatkan ujian
yang lebih berat dibandingkan dengan para nabi dan rasul sebelum beliau.
Orang yang pernah membaca sirah beliau pasti mengetahuinya.
Siang dan malam, tanpa rasa lelah dan bosan beliau menyeru umatnya untuk menyembah Allah Subhanahu wata’ala
semata. Keluarga terdekat beliau bangkit menghadang dakwahnya. Celaan
dan caci makian bertubi-tubi datang dengan berbagai bentuk. Bahkan,
tindak kekerasan dan ancaman kerap menimpa beliau. Sekali lagi,
kemenangan bagi hamba-Nya yang bertakwa. Semuanya tidak menjadikan
beliau takut untuk menyuarakan wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala.
Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasululah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para
nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian setelah mereka, kemudian
setelah mereka dari kalangan manusia. Seseorang akan diuji sesuai dengan
agamanya. Jika agamanya kokoh, bertambahlah ujian itu. Jika pada
agamanya kelemahan, dikurangi ujiannya. Terus-menerus ujian itu
menyertai seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi ini tanpa
membawa kesalahan.” ( HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selain mereka, dinyatakan sahih oleh asy- Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Ahadits Shahihah no. 143)
Contoh Ujian yang Menimpa Ulama
Umat Rasulullah adalah umat terbaik di
tengah umat-umat yang ada. Mereka umat terakhir, namun menjadi umat yang
pertama kelak di akhirat, sebagaimana halnya nabi dan rasul mereka
adalah yang terbaik dan imam para rasul. Kemurnian dan kesempurnaan
agama yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dijaga dan dipelihara oleh Allah Subhanahu wata’ala sampai akhir zaman. Allah Subhanahu wata’ala
membangkitkan tokoh umat ini sebagai tentara-Nya untuk mengawal dan
menjaga kesempurnaan serta kemurnian agama-Nya. Dia membangkitkan para mujaddid yang akan melakukan pembaruan terhadap syariat Allah Subhanahu wata’ala yang telah dirusak, dinodai, dikotori, dan dimatikan.
Tepatnya pada abad ke-3 H, Allah Subhanahu wata’ala memunculkan sederetan mujaddid dan mujtahid,
di antaranya al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Abu
Abdillah. Beliau harus berhadapan dengan tiga penguasa bani Abbasiah
yang telah terperosok ke jurang kesesatan, yaitu pemahaman bahwa
al-Qur’an adalah makhluk. Tiga pengausa itu adalah al- Ma’mun,
al-Mu’tashim, dan al-Watsiq. Al-Baihaqi berkata, “Tidak ada khalifah
sebelumnya (al-Ma’mun) kecuali berada di atas mazhab dan manhaj salaf.”
Hidup di bawah kekuasaan mereka, al-Imam Ahmad rahimahumallah mendapatkan teror, ancaman, dan penyiksaan.
Mereka memaksa agar al-Imam Ahmad mau mengikrarkan, “Al-Qur’an itu makhluk.” Al-Imam Ahmad rahimahumallah
kokoh dalam prinsip, “Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk.”
Beliau tampil menghadapi ancaman tanpa rasa gentar dan takut, bagaikan
kokohnya gunung batu yang menjulang tinggi. Bak pohon yang akarnya kokoh
menancap di bumi, tidak diombang-ambingkan oleh badai. Bagaikan karang
menggunung di lautan, tidak tergoyahkan oleh ombak yang dahsyat.
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah dalam kitab beliau al-Bidayah wa an-Nihayah (14/396—399)
menceritakan perjalanan pahit hidup al-Imam Ahmad di bawah tekanan tiga
penguasa bani Abbasiah tersebut. Semuanya menunjukkan tanda kebesaran
Allah Subhanahu wata’ala di umat ini dan akhir yang baik bersama orang-orang yang bertakwa. Allah Subhanahu wata’ala menjadi saksi. Ulamaulama di masa al-Imam Ahmad rahimahumallah,
serta umat ini turut menyaksikan kekokohan, kekuatan, kesabaran,
keberanian, kecerdasan, keilmuan, kezuhudan, ketakwaan, ketawadhuan,
serta berbagai sifat agung dan mulia lainnya. Kesabaran beliau
menanggung beban hidup dalam memperjuangkan kebenaran tidak menghalangi
beliau untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Wallahu a’lam.
Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Abu UsamahAgar Tetap Sabar
Kesabaran menghadapi berbagai problem
kehidupan adalah kunci keselamatan dan kebahagiaan seorang hamba di
dunia fana ini dan di akhirat nanti. Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan keutamaan bagi mereka di dunia.
وَلَنَبْلُوَنَّكُم
بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ
وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا
أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ
رَاجِعُونَ () أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ
ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar. (Yaitu) orangorang yang apabila ditimpa musibah,
mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka
itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb
mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-Baqarah: 155—157)
Allah Subhanahu wata’ala Yang Maha Penyayang juga mengabarkan tentang kemuliaan yang akan mereka dapat di akhirat nanti,
أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا
“Mereka itulah orang yang dibalasidengan martabat yang tinggi (dalam Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (al- Furqan: 75)
Di samping itu, orang-orang yang sabar
adalah golongan yang senantiasa mendapatkan pertolongan, perlindungan,
dan pembelaan dari Pencipta-Nya karena Dia mencintai mereka. Hal ini
sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala beritakan di dalam firman-Nya,
وَكَأَيِّن
مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا
أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Berapa banyak nabi yang berperang
bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa.
Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan
Allah, tidak lesu, dan tidak (pula) menyerah kepada musuh. Allah
menyukai orangorang yang sabar.” (Ali ‘Imran: 146)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,
…وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ
“Sesungguhnya pertolongan itu (akan datang) bersama dengan kesabaran.” (HR. Ahmad)
Kesabaran, Bukti Kesempurnaan Iman Hamba
Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahumallah menjelaskan , “ Sesungguhnya kesempurnaan seseorang itu tergantung pada dua hal:
1. Mengilmui kebenaran sehingga terbedakan dari kebatilan,
2. Lebih memilih kebenaran daripada kebatilan.
Tidaklah akan terbedakan kedudukan para hamba di sisi Allah Subhanahu wata’ala, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali karena perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal ini. Dengan keduanya, Allah Subhanahu wata’ala menguji para nabi-Nya, sebagaimana firman-Nya,
وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami:
Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar
dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (Shad: 45)
Al-aidi adalah kekuatan dalam merealisasikan kebenaran (di dalam amalan), sedangkan al-abshar adalah
pandangan hati terhadap kebenaran. Allah menyebutkan dua sifat mereka,
yaitu kesempurnaan dalam memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam
merealisasikannya.” (al-Jawabul Kafi, hlm. 139)
Adapun yang berkaitan dengan kesabaran, al-Imam Ibnu Qayyim rahimahumallah menjelaskan, karena sabar adalah suatu perkara yang diperintahkan, Allah Subhanahu wata’ala
menjadikan kesabaran itu mempunyai sebab-sebab yang akan memudahkannya
sekaligus mengantarkan (seorang hamba) untuk mendapatkan derajat
kesabaran (yang mulia).
Demikianlah, tidaklah Allah Subhanahu wata’ala
memerintahkan suatu hal kecuali Dia akan menolong dan mempersiapkan
berbagai sebab yang akan membantu dan memudahkannya, sebagaimana Dia
tidaklah menakdirkan suatu penyakit kecuali pasti telah menentukan obat
baginya, sekaligus menjamin kesembuhan orang yang menggunakan obat itu.
Sabar, walaupun sulit dan berat bagi jiwa, namun sangat mungkin untuk
didapatkan. Sebab atau cara untuk mendapatkannya harus memenuhi dua
syarat, yaitu ilmu dan amal. Kedua unsur ini adalah asal seluruh terapi
yang dipakai untuk mengobati (penyakit) hati dan jasad: unsur ilmu dan
amal. Dua unsur ini akan teramu menjadi obat yang sangat ampuh dan
sangat bermanfaat untuk pengobatan.
Adapun unsur ilmu, maknanya adalah
memahami dan mengerti hikmah yang terkandung pada segala sesuatu yang
diperintahkan, seperti kebaikan, kemanfaatan, kenikmatan, kesempurnaan.
Di samping itu, memahami dan mengerti tentang hikmah yang terkandung
pada segala sesuatu yang dilarang, seperti kejelekan, kerugian, atau
kekurangan. Apabila seorang hamba telah memahami dan mengerti dua hal
ini sebagaimana mestinya, diiringi oleh keinginan yang kuat, cita-cita
yang tinggi, semangat, dan menjaga kehormatan, terbentuklah ramuan
antara hal yang pertama dan yang kedua yang mengantarkannya mendapatkan
derajat kesabaran. Berbagai kesulitan akan menjadi mudah, yang pahit
akan berubah menjadi manis, dan kesusahan pun berubah menjadi
kenikmatan. (‘Uddatu ash-Shabirin, hlm. 46)
Kalau kita perhatikan dan simpulkan penjelasan al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah, kesabaran itu akan menjadi mudah dan ringan kala terpenuhi tiga unsur: ilmu, amal, dan mujahadah (perjuangan dan kesungguh-sungguhan). Hanya saja, semua itu akan terwujud setelah adanya hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala.
Sebab-Sebab yang Memudahkan Kita Bersabar
Setelah memahami penjelasan al- Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah
di atas, kita akan mengulas secara terperinci tentang sebabsebab yang
memudahkan seorang hamba untuk senantiasa bersabar menghadapi berbagai
problem kehidupannya. Faktorfaktor tersebut akan mengantarnya
mendapatkan keridhaan dan ampunan Allah Subhanahu wata’ala berdasarkan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman salafus shalih.
1. Hidayah taufik dari Rabb-Nya
Seorang hamba tidak mampu melakukan dan
mendapatkan suatu kebaikan sekecil apa pun, baik dalam urusan dunia
maupun akhirat, kecuali dengan petunjuk Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, Dia Subhanahu wata’ala memerintah para hamba-Nya untuk senantiasa berdoa dalam setiap rakaat shalat dengan doa yang paling mulia dan sempurna.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Berilah kami hidayah ke jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 5)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah
menjelaskan tafsir ayat di atas, “Ya Allah, tunjukilah kami, bimbinglah
kami, dan karuniakanlah hidayah taufik kepada kami ke jalan yang lurus
(jalan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh), jalan yang jelas yang mengantarkan (orangorang yang berjalan di atasnya) kepada Allah Subhanahu wata’ala dan ke jannah-Nya, yaitu jalan (orang-orang yang) mengilmui kebenaran dan mengamalkannya.” (Tafsir as-Sa’di)
Para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh adalah orangorang yang senantiasa bersabar di atas agama yang mulia. Karena itu, Allah Subhanahu wata’alamemerintah para hamba-Nya untuk meneladani kesabaran mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَاصْبِرْ
كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ ۚ
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا
سَاعَةً مِّن نَّهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ
الْفَاسِقُونَ
“Bersabarlah kamu seperti orangorang
yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan
janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka
melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak
tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu
pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.”
(al-Ahqaf: 35)
Dari Abu Abdillah Khabbab bin al- Aratt radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami mengadukan (perlakuan orang-orang musyrikin Quraisy terhadap kaum muslimin) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
pada waktu beliau sedang tiduran berbantal burdah di bawah naungan
Ka’bah. Kami katakan, ‘Tidakkah Anda memohon pertolongan Allah Subhanahu wata’ala untuk kami? Tidakkah Anda berdoa untuk kami?’
Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Sungguh,
orang-orang sebelum kalian ada yang disiksa dengan dikubur hidup-hidup.
Ada yang digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah menjadi dua. Ada
pula yang disisir dengan sisir besi hingga terpisahlah antara daging
dan tulangnya. Namun, hal itu tidak menggesernya dari agamanya’.” (HR. al-Bukhari)
2. Ilmu
Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yang membuahkan khasyah (rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala semata). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah menjelaskan, “Semakin seseorang mengenal Allah Subhanahu wata’ala
(nama, sifat, dan perbuatan-Nya yang mulia), niscaya akan semakin takut
kepada-Nya. Sebab, ilmu itu akan mengharuskan dia takut kepada-Nya
sehingga dia menahan diri dari berbagai maksiat. Selain itu, ia akan
terus berusaha mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dzat yang dia
takuti (yaitu Allah Subhanahu wata’ala). Hal ini adalah dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu.” (Tafsir as-Sa’di)
Di samping membuahkan rasa takut (khasyah), ilmu juga akan membuahkan raja’ (harapan), mahabbah (kecintaan), dan haya’ (rasa malu) terhadap Allah Subhanahu wata’ala. Semua itu akan memudahkan seorang hamba senantiasa sabar di atas agama. Contohnya:
• Rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala menyebabkan seorang hamba mampu menahan hawa nafsunya sehingga tidak jatuh ke dalam hal yang dimurkai oleh Rabb-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” (an-Nazi’at: 40)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
dalam hadits sahih tentang kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua,
menyebutkan bahwa salah seorang dari mereka bertawasul dengan amal
salehnya ketika memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala
dengan berucap, “Ya Allah, sungguh dahulu aku mencintai seorang gadis
yang cantik, ia adalah anak perempuan pamanku. Dia adalah seorang wanita
yang paling aku cintai. Aku menginginkannya (bergaul layaknya seorang
suami istri bersamanya).
Akan tetapi, dia tidak mau. Sampailah
saat kemarau panjang menimpanya (jatuh miskin) hingga dia datang
kepadaku. Aku memberinya 120 dinar kepadanya dengan syarat dia mau
berduaan denganku. Dia pun mau melakukannya. Saat aku sudah duduk di
antara kedua kakinya, dia berkata kepadaku, ‘Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wata’ala
dan janganlah kau jatuhkan kehormatanku kecuali dengan haknya (yaitu
menikahiku).’ Lalu aku tinggalkan dia padahal dia adalah seorang yang
sangat aku cintai. Aku tinggalkan pula uang dinar (emas) yang telah aku
berikan.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu)
• Raja’ (mengharapkan) pertemuan
dengan-Nya dan mendapatkan ampunan serta keridhaan-Nya akan
menyebabkannya bersemangat untuk beramal saleh dan menganggap ringan
berbagai ujian dan cobaan yang menimpanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“ Barangsiapa mengharap perjumpaan
dengan Rabbnya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah
ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (al-Kahfi: 110)
Allah Subhanahu wata’ala menghibur Rasul-Nya dan para sahabat yang tertimpa luka-luka tatkala berjihad di jalan-Nya,
وَلَا
تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ
فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا
لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Janganlah kamu berhati lemah dalam
mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, sesungguhnya
mereka pun menderita kesakitan (pula) sebagaimana kamu menderitanya,
sedangkan kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan
adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa: 104)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah menjelaskan di dalam tafsirnya, “Kalian (wahai para mujahidin fi sabilillah)
dan mereka (musuh kalian) sama-sama terkena luka dan penderitaan karena
perang. Namun, (yang berbeda adalah) kalian mengharapkan pahala,
pertolongan, dan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala
sebagaimana yang telah Dia janjikan dalam kitab-Nya dan melalui lisan
Rasul-Nya, sedangkan janji-Nya adalah benar. Adapun musuh-musuh kalian
tidak memiliki harapan sedikit pun terhadap hal tersebut. Jadi, kalian
adalah golongan yang lebih pantas untuk berjihad/berperang daripada
mereka, lebih pantas bersemangat dalam berjihad, menegakkan dan
meninggikan kalimatullah.”
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,
ia berkata, “Seseorang bertanya kepada Nabi n pada waktu Perang Uhud,
‘Beri tahukanlah kepadaku, apabila aku terbunuh, di mana tempat
tinggalku nanti?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,
‘Di surga.’ Lalu orang itu melemparkan beberapa butir kurma yang ada di
genggaman tangannya, kemudian berperang sampai terbunuh.” (Muttafaqun
‘alaih)
• Mahabbah (kecintaan) kepada Allah Subhanahu wata’ala dan segala sesuatu yang dicintai oleh-Nya.
Hal ini juga akan meringankan berbagai kesulitan dan keberatan di dalam menaati Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)
Allah Subhanahu wata’ala
menceritakan sikap orangorang yang berilmu dari kaum Nabi Musa
‘Alaihissalam ketika mendengar komentar orang-orang yang diperbudak oleh
dunia. Ketika itu, mereka menyaksikan penampilan Qarun dengan
perhiasanperhiasannya. Firman-Nya,
فَخَرَجَ
عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ
الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو
حَظٍّ عَظِيمٍ () وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ
اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا
الصَّابِرُونَ
Keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam
kemegahannya. Berkatalah orangorang yang menghendaki kehidupan dunia,
“Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada
Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu,“Kecelakaan yang besarlah
bagimu, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan
beramal saleh. Dan tidak diperoleh pahala itu kecuali olehorang-orang
yang sabar.” (al-Qashash: 79—80)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah menjelaskan, “Sebagian salaf berkata, ‘Bagaimana aku tidak sabar, padahal Allah Subhanahu wata’ala
sungguh telah menjanjikan untukku—kalau aku sabar—tiga hal (shalawat,
rahmat, dan petunjuk), yang masing-masing lebih baik daripada dunia dan
seisinya’.” (‘Uddatu ash-Shabirin, hlm. 61)
• Rasa malu Seorang hamba yang beriman akan yakin bahwa Allah Subhanahu wata’ala
senantiasa dekat dengan para hamba-Nya; senantiasa melihat, mendengar,
dan mengetahui apa yang mereka lakukan. Ini akan menjadikan hamba
tersebut malu tatkala terbetik di dalam hatinya keinginan untuk
melakukan atau mengucapkan suatu hal yang dibenci atau dimurkai oleh
Rabb-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
“Dia mengetahui apa yang ada di
langit dan di bumi, dan mengetahui apayang kamu rahasiakan dan apa yang
kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (at-Taghabun: 4)
Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,
يَسْتَخْفُونَ
مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ
يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا
يَعْمَلُونَ مُحِيطًا
“Mereka bersembunyi dari manusia,
tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah bersama
mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang
Allah tidak ridhai. Dan Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa
yang mereka kerjakan.” (an-Nisa: 108)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kita tentang keutamaan rasa malu karena Allah Subhanahu wata’ala, dengan sabdanya,
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِ بِخَيْرٍ
“Rasa malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Muslim)
Dari Atha’ bin Abi Rabah rahimahumallah,
ia berkata, “Ibnu Abbas c berkata kepadaku, ‘Maukah aku tunjukkan
seorang wanita calon penghuni surga kepadamu?’ Aku menjawab, ‘Tentu.’
Beliau berkata, ‘Suatu hari, seorang perempuan hitam datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
dan berkata, [Sesungguhnya aku terkena penyakit ayan (epilepsi). Jika
kambuh, auratku akan tersingkap. Berdoalah kepada Allah untuk
kebaikanku]. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, [Kalau
kamu mau bersabar, kamu akan mendapatkan jannah. Namun, kalau yang kamu
inginkan adalah aku berdoa kepada Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam
agar menyembuhkanmu, (maka aku doakan).] Wanita itu berkata, ‘Aku akan
berusaha sabar, tetapi aku khawatir jika penyakitku kambuh, tersingkap
auratku. Berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala agar tidak tersingkap auratku.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakannya.” (Muttafaqun ‘alaih)
3. Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala
Sadarilah bahwa kita tidak mungkin mampu
bersabar di atas ketaatan, sabar menahan diri dari berbagai
kemaksiatan, dan sabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang Allah Subhanahu wata’ala
takdirkan menimpa diri, keluarga, anak keturunan, harta, atau usaha
kita. Kita yakin bahwa tidak mungkin kita bisa bersabar kecuali dengan
pertolongan Allah Subhanahu wata’ala semata karena kita adalah makhluk yang lemah.
Allah Subhanahu wata’alaberfirman,
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Bersabarlah (hai Muhammad), dan tiadalah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah.” (an-Nahl: 127)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لْمُؤْمِنُ
الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ
وَلَا تَعْجَزْ
“Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala daripada
orang mukmin yang lemah. Namun, masing-masing memiliki kebaikan.
Semangatlah untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu (baik
urusan dunia maupun agama). Mohonlah pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan jangan malas.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
4. Beriman terhadap takdir
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah yang menimpa
seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah,
niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.” (at- Taghabun: 11)
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “(Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah Subhanahu wata’ala) maknanya ‘dengan kehendak dan takdir- Nya’. (Barang siapa beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala, niscaya Dia akan menunjuki hatinya), maknanya barang siapa ditimpa oleh suatu musibah dan yakin bahwa musibah itu terjadi dengan ketentuan Allah Subhanahu wata’ala, niscaya Allah Subhanahu wata’ala
akan menunjuki hatinya dan akan mengganti urusan dunia yang hilang dari
dirinya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya’.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Beriman kepada takdir Allah Subhanahu wata’ala akan membuahkan sikap yang menakjubkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عَجَبًا
لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ
لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ
خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang
yang beriman. Sesungguhnya seluruh urusannya baik. Namun, hal itu tidak
dimiliki oleh seorang pun kecuali yang beriman saja. Apabila dia
mendapat segala sesuatu yang menyenangkan, dia bersyukur, dan hal itu
lebih baik baginya. Apabila dia ditimpa oleh perkara yang
merugikan/menyedihkan, dia bersabar, dan itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim)
5. Berbaik sangka terhadap Allah Subhanahu wata’ala
Husnuzhan (berbaik sangka terhadap Allah Subhanahu wata’ala) adalah salah satu hal mulia. Ia adalah buah dari iman kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Dengannya, hati seorang hamba senantiasa tenang dan sabar menghadapi
problem kehidupannya; dalam keadaan kaya, miskin, senang, susah, sehat,
sakit, sukses, gagal, dan sebagainya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Sungguh, janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala.” (HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)
Ketahuilah, tidaklah Allah Subhanahu wata’ala
menakdirkan satu musibah pun kepada kita kecuali karena dosa-dosa kita.
Itupun demi kebaikan kita, yaitu Dia l ingin menghapus dosa-dosa kita
itu dengannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا
أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي
الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ
بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Apabila Allah Subhanahu wata’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, dia akan menyegerakan balasan bagi perbuatan dosanya di dunia ini. Apabila Allah Subhanahu wata’ala menghendaki
kejelekan bagi seorang hamba, Dia akan menahan (tidak segera membalas)
perbuatan dosanya sampai Dia akan membalasnya nanti pada hari kiamat.” (HR. at-Tirmidzi)
Ketahuilah, musibah itu akan menghapus dosa dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
مَا
يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ
وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Ujian itu akan terus-menerus
dihadapi oleh seorang mukmin atau mukminah; baik pada diri, anak, maupun
hartanya, hingga dia akan bertemu dengan Allah Subhanahu wata’ala dalam keadaan tidak ada dosa padanya.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
6. Teman dan lingkungan yang baik
Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya tentang sifat rahmat-Nya yang sempurna,
يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (an-Nisa:28)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah
menjelaskan di dalam tafsirnya, “(Keringanan tersebut) karena
rahmat-Nya yang sempurna, kebaikan- Nya juga menyeluruh; karena ilmu dan
hikmah-Nya (yang mengetahui) tentang kelemahan manusia dari berbagai
sisi: lemah fisik, lemah keinginan, lemah tekad, lemah iman, dan lemah
kesabaran. Karena itu, keadaan tersebut cocok dengan keringanan yang
Allah Subhanahu wata’ala karuniakan kepada mereka.”
Karena kita adalah makhluk yang lemah
keimanan, kesabaran, dan kekuatan, kita membutuhkan bantuan,
pertolongan, dan kepedulian dari saudara-saudara kita lainnya.
Ringkasnya, agar senantiasa sabar, kita membutuhkan teman dan lingkungan
yang baik sehingga hal-hal tersebut bisa terealisasi. Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ
“Dan saling menolonglah pada kebaikan dan ketakwaan, dan jangan saling menolong pada perbuatan dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
mengisahkan nasihat seorang alim terhadap seorang yang telah membunuh
100 jiwa dalam rangkanmerealisasikan tobatnya kepada Allah Subhanahu wata’ala,
انْطَلِقْ
إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ
فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ
سَوْءٍ
“Pergilah ke desa dengan ciriciri demikian dan demikian karena masyarakatnya beribadah kepada Allah Subhanahu wat
Review / Koreksi