Berpenampilan indah di hari raya Ied
Dari Ibnu Umar Radhliallahu ‘anhuma ia berkata : Umar mengambil
sebuah jubah dari sutera tebal yang dijual di pasar, lalu ia datang
kepada Rasulullah dan berkata (Yang artinya) : “ Ya Rasulullah, belilah
jubah ini agar engkau dapat berdandan dengannya pada hari raya dan saat
menerima utusan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
kepada Umar :’Ini adalah pakaiannya orang yang tidak mendapat bahagian
(di akhirat-pent)’. Maka Umar tinggal sepanjang waktu yang Allah
inginkan. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan
kepadanya jubah sutera. Umar menerimanya lalu mendatangi Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata : ‘Ya Rasulullah, engkau
pernah mengatakan : ‘Ini adalah pakaiannya orang yang tidak mendapat
bahagian’, dan engkau telah mengirimkan padaku jubah ini’. Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar :’Juallah jubah ini
atau engkau penuhi kebutuhanmu dengannya”. [Hadits Riwayat Bukhari
886,948,2104,2169, 3045, 5841,5891 dan 6081. Muslim 2068, Abu Daud 1076.
An-Nasaa’i 3/196 dan 198. Ahmad 2/20,39 dan 49]
Berkata Al-Allamah As-Sindi.
“Dari hadits ini diketahui bahwa berdandan (membaguskan penampilan) pada hari raya merupakan kebiasaan yang ditetapkan di antara mereka, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkarinya, maka diketahui tetapnya kebiasaan ini”. [Hasyiyah As Sindi ‘alan Nasa’i 3/181].
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata.
“Ibnu Abi Dunya dan Al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih yang sampai kepada Ibnu Umar bahwa Ibnu Umar biasa memakai pakaiannya yang paling bagus pada hari Idul Fithri dan Idul Adha”.[Fathul Bari 2/439]
Beliau juga menyatakan :
“Sisi pendalilan dengan hadist ini adalah takrir-nya (penetapan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar berdasarkan asal memperbagus penampilan itu adalah untuk hari Jum’at. Yang beliau ingkari hanyalah pemakaian perhiasan semisal itu karena ia terbuat dari sutera”. [Fathul Bari 2/434].
Dalam ‘Al-Mughni’ (2/228) Ibnu Qudamah menyatakan :
“Ini menunjukkan bahwa membaguskan penampilan di kalangan mereka pada saat-saat itu adalah masyhur”.
Malik berkata :
“Aku mendengar ulama menganggap sunnah untuk memakai wangi-wangian dan perhiasan pada setiap hari raya”.
Berkata Ibnul Qayyim dalam “Zadul Ma’ad” (1/441).
“Nabi memakai pakaiannya yang paling bagus untuk keluar (melaksanakan shalat) pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. Beliau memiliki perhiasan yang biasa dipakai pada dua hari raya itu dan pada hari Jum’at. Sekali waktu beliau memakai dua burdah (kain bergaris yang diselimutkan pada badan) yang berwarna hijau, dan terkadang mengenakan burdah berwarna merah (Lihat “Silsilah As-Shahihah 1279), namun bukan merah murni sebagaimana yang disangka sebagian manusia, karena jika demikian bukan lagi namanya burdah. Tapi yang beliau kenakan adalah kain yang ada garis-garis merah seperti kain bergaris dari Yaman.
(Dikutip dari Ahkaamu Al’ Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Pustaka Al-Haura’, penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Hussein)
Berkata Al-Allamah As-Sindi.
“Dari hadits ini diketahui bahwa berdandan (membaguskan penampilan) pada hari raya merupakan kebiasaan yang ditetapkan di antara mereka, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkarinya, maka diketahui tetapnya kebiasaan ini”. [Hasyiyah As Sindi ‘alan Nasa’i 3/181].
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata.
“Ibnu Abi Dunya dan Al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih yang sampai kepada Ibnu Umar bahwa Ibnu Umar biasa memakai pakaiannya yang paling bagus pada hari Idul Fithri dan Idul Adha”.[Fathul Bari 2/439]
Beliau juga menyatakan :
“Sisi pendalilan dengan hadist ini adalah takrir-nya (penetapan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar berdasarkan asal memperbagus penampilan itu adalah untuk hari Jum’at. Yang beliau ingkari hanyalah pemakaian perhiasan semisal itu karena ia terbuat dari sutera”. [Fathul Bari 2/434].
Dalam ‘Al-Mughni’ (2/228) Ibnu Qudamah menyatakan :
“Ini menunjukkan bahwa membaguskan penampilan di kalangan mereka pada saat-saat itu adalah masyhur”.
Malik berkata :
“Aku mendengar ulama menganggap sunnah untuk memakai wangi-wangian dan perhiasan pada setiap hari raya”.
Berkata Ibnul Qayyim dalam “Zadul Ma’ad” (1/441).
“Nabi memakai pakaiannya yang paling bagus untuk keluar (melaksanakan shalat) pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. Beliau memiliki perhiasan yang biasa dipakai pada dua hari raya itu dan pada hari Jum’at. Sekali waktu beliau memakai dua burdah (kain bergaris yang diselimutkan pada badan) yang berwarna hijau, dan terkadang mengenakan burdah berwarna merah (Lihat “Silsilah As-Shahihah 1279), namun bukan merah murni sebagaimana yang disangka sebagian manusia, karena jika demikian bukan lagi namanya burdah. Tapi yang beliau kenakan adalah kain yang ada garis-garis merah seperti kain bergaris dari Yaman.
(Dikutip dari Ahkaamu Al’ Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Pustaka Al-Haura’, penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Hussein)