HAMBA SENANTIASA MEMBUTUHKAN KESABARAN
HAMBA SENANTIASA MEMBUTUHKAN KESABARAN
?Seorang hamba tidak terlepas dari
menjalankan perintah yang wajib dia laksanakan, larangan yang wajib
untuk dia tinggalkan, takdir yang pasti terjadi, dan kenikmatan yang
wajib dia syukuri kepada Pemberinya. Karena semua keadaan ini tidak
mungkin lepas darinya, dia pun wajib bersabar sampai meninggal.
?Setiap yang dihadapi oleh hamba di
dunia ini tidak terlepas dari dua keadaan: sesuai dengan keinginan hawa
nafsunya atau bertentangan dengannya. Dia selalu membutuhkan kesabaran
dalam setiap keadaan.
?Keadaan yang sesuai dengan keinginannya
misalnya kesehatan, keselamatan, kedudukan, harta, dan segala bentuk
kenikmatan yang mubah. Seorang hamba lebih membutuhkan kesabaran
menghadapi keadaan ini, ditinjau dari beberapa sisi:
?Tidak akan mampu bersabar atas kenikmatan kecuali orang yang shiddiqun. Sebagian salaf berkata,
الْبَلَاءُ يَصْبِرُ عَلَيْهِ الْمُؤْمِنُ وَالْكَافِرُ، وَ يَصْبِرُ عَلَى الْعَافِيَةِ إِلاَّ الصِّدِّيقُونَ
“Bersabar atas musibah mampu dilakukan
oleh seorang mukmin atau kafir. Bersabar atas kenikmatan tidak mampu
dilakukan kecuali oleh shiddiqun.”
?Abdur Rahman bin Auf radhiallahu ‘anhu berkata,
ابْتُلِينَا بِالضَّرَّاءِ فَصَبَرْنَا وَابْتُلِينَا بِالسَّرَّاءِ فَلَمْ نَصْبِرْ
“Ketika kami diuji dengan musibah, kami
mampu bersabar. Akan tetapi, ketika kami diuji dengan kenikmatan, kami
tidak mampu bersabar.” (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani
rahimahullah)
?Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla mengingatkan hamba-Nya dari fitnah (ujian) harta, istri, dan anak,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (al-Munafiqun: 9)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (al-Munafiqun: 9)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٰجِكُمۡ وَأَوۡلَٰدِكُمۡ عَدُوّٗا لَّكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡۚ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (at-Taghabun: 14)
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (at-Taghabun: 14)
?Pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas
radhiallahu ‘anhuma tentang ayat ini. Beliau radhiallahu ‘anhuma
menjawab, “Mereka adalah sebagian penduduk Makkah yang telah masuk Islam
dan ingin mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi dicegah
oleh istri dan anak mereka. Ketika mereka mendatangi Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyaksikan orang-orang telah
memperdalam ilmu agama, mereka bertekad memberi hukuman kepada istri dan
anak mereka.”
Kemudian Allah ‘azza wa jalla menurunkan,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٰجِكُمۡ وَأَوۡلَٰدِكُمۡ عَدُوّٗا لَّكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡۚ
(HR. at-Tirmidzi dan beliau berkata, “Hasan sahih.”; dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)
(HR. at-Tirmidzi dan beliau berkata, “Hasan sahih.”; dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)
?Betapa banyak hamba yang terluput dari kemuliaan dan kebaikan karena istri dan anaknya. Dalam hadits disebutkan,
الْوَلَدُ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ
“Anak dapat menyebabkan kebakhilan dan sifat pengecut.” (Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)
“Anak dapat menyebabkan kebakhilan dan sifat pengecut.” (Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)
?Seorang sahabat yang mulia, Buraidah
radhiallahu ‘anhu, pernah bercerita, “Dahulu ketika Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di depan kami, datanglah Hasan
dan Husain radhiallahu ‘anhuma yang mengenakan gamis merah. Keduanya
berjalan lalu tersandung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun
turun dari mimbar lalu menggendongnya seraya meletakkan di depan beliau.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Sungguh benar
firman Allah ‘azza wa jalla,
إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu).” (at-Taghabun: 15)
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu).” (at-Taghabun: 15)
Aku tidak mampu bersabar melihat kedua
anak ini berjalan lalu tersandung sehingga aku memutus khotbahku dan
menggendong keduanya’.” (HR. Ahmad, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh
al-Albani rahimahullah)
Ini menunjukkan kasih sayang,
kelembutan, dan cinta beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak
kecil; untuk mengajari umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya
memiliki sifat kasih sayang, lemah lembut, dan mencintai anak kecil.
?Sabar kala mendapat kenikmatan itu
lebih sulit, karena dia memiliki pilihan. Orang yang lapar namun tidak
memiliki makanan tentu lebih mampu bersabar dibandingkan ketika makanan
terhidang. Seseorang lebih mampu bersabar menahan nafsu kala tidak ada
wanita di hadapannya, daripada ketika ada wanita di depannya.
?(Diambil dari kitab ‘Uddatu ash-Shabirin, karya Ibnul Qayyim rahimahullah, hlm. 65—66 dengan sedikit perubahan)
?http://asysyariah.com/hamba-senantiasa-membutuhkan-kesabaran/[truncated by WhatsApp]